
Seusai jam mengajar di siang hari, Sean dengan sangat terpaksa bersiap-siap untuk pergi ke pelosok desa. Titik lokasi yang hampir berdekatan dengan hutan perbatasan. Ia pergi dengan dua orang nya ke tempat di mana Egbert mencium aroma darah yang familiar. Sekitar tiga jam perjalanan, sampailah mereka di sebuah desa.
"Cari sebuah rumah yang lokasinya terasing dari penduduk lain" Ucap Sean pada orang bayarannya yang duduk mengemudi. Sedang ia duduk di belakang memperhatikan kiri-kanan sekitar dari jendela mobil.
"Baik tuan"
Hingga mereka pun menemui sebuah rumah yang penampilannya cukup mencolok dari rumah penduduk lain di desa itu. Sean pun membatin, 'Pasti rumah ini yang Egbert maksudkan'.
Pada saat itu Annette sedang berada di dalam rumah menyiapkan kota makan siang seperti biasa untuk Parker. Kali ini ia menyiapkan dua kotak agar mereka bisa makan bersama.
"Aldrich, apa kamu lapar hum?" Tanya Annette pada bayi kecilnya yang berada dalam gendongannya. Ia sangat bersyukur karena bayinya yang selalu dalam keadaan tenang dan tidak rewel. Bayinya itu paling hanya menangis ketika haus dan hanya itu.
"Bagaimana kalau siang ini kita makan bersama dengan paman Parker di rumah sakit?" Tanya Annette lagi.
Tampak mata hitam besar bayi Aldrich menatap kearah ibunya lurus dan berkedip tanpa ekspresi.
Annette yang melihatnya, merasa itu sangat menggemaskan, "Ah, kenapa kau imut sekali hum.." Annette menjawil lembut pipi bayinya. Tapi bayi Aldrich masih menatapnya datar dan mata hitam besar itu hanya berkedip beberapa kali.
"Kenapa kau tidak tersenyum?"
"Ayolah tersenyum sekali saja, aku ingin melihatnya.."
"Senyumm.."
Lelah Annette melebarkan kedua sudut bibirnya tapi bayi kecilnya itu hanya bergeming dan menatapnya diam seakan mengekspresikan, 'Ibu, apa yang sedang kau lakukan?'
Hingga terdengar suara dentingan bel dari luar. Annette teringat pesan Parker untuk tidak membukakan pintu jika ada yang datang. Tapi bel terus ditekan berkali-kali hingga Annette berpikir, "Apa mungkin ada hal penting?"
Ia menatap pada bayi kecilnya dan memutuskan untuk ke kamar dan meletakkannya bayinya di atas ranjang. Tak lupa ia menaruh dua bantal di kedua sisi bayinya buat jaga-jaga. Sebelum pergi tak lupa Annette berpesan pada bayinya, "Aldrich, jangan bergerak ke samping. Tetap berbaring lurus seperti ini, oke?"
Bayi Aldrich hanya menatap kearah ibunya masih dengan tatapan seperti sebelumnya. Tapi mata hitamnya yang bulat besar itu sungguh membuat Annette gemas melihatnya sekalipun bayinya itu tidak tersenyum sama sekali, "Aku akan pergi sebentar dan akan segera kembali"
Annette pun bergegas pergi ke pintu depan. Telinganya rasanya mau pecak karena bunyi bel yang tak henti-henti. Sebelum membuka pintu, ia pergi mengintip lewat pintu jendela.
'Loh, bukannya itu pak Sean?'
Annette tentunya masih ingat dengan Sean yang tak lain adalah dosen ter-tampan di kampus nya dulu.
'Buat apa pak Sean kemari?' Annette beberapa saat tenggelam dalam pikiran bingung. Tapi mengingat itu adalah mantan dosennya, ia tak punya firasat buruk soal tamunya. Ia pun pergi membukakan pintu.
"Kamu!" Sean terkejut ketika seseorang yang baru saja membukakan pintu tak lain adalah Annette. Mantan anak didiknya dan istri kecilnya Egbert.
'Ternyata hari itu, aroma darah yang dianggap Egbert begitu mirip dengan Annette, sungguh memang milik gadis itu'
"Pak Sean" Sapa Annette, tersenyum sopan.
"Maaf ada keperluan apa ya anda kemari?" Dalam hati Annette bertanya-tanya, apa dosennya itu memiliki hubungan dengan Parker?
"Ah, saya perlu bertemu dengan mu"
"Dengan saya?" Annette menautkan sepasang alisnya terkejut.
"Ya. Pihak kampus menyuruhku mencari mu. Mengingat kamu adalah mahasiswi yang sangat berprestasi yang mereka punya, mereka ingin memberikan mu kesempatan untuk kembali"
"Ah, begitu"
"Eum, jadi bagaimana jika kau ikut dengan ku sekarang? Karena ada serangkaian hal yang haru kau urus"
"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan berganti pakaian"
"Eum"
Annette kembali masuk kedalam dan menutup pintu. Kemudian ia bersandar di sana dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.
'Bohong!'
'Hah! Aku bukan satu-satunya, jadi kenapa mereka harus repot-repot melakukan ini?'
Annette bergegas berlari ke dalam kamarnya dan mendapati bayi kecilnya yang masih dalam posisi seperti sebelum ia tinggal pergi. Ia tersenyum mendapati bayi kecilnya yang tampak begitu patuh. Lalu pikirannya kembali teralih pada kedatangan Sean yang sangat mencurigakan.
"Pak Sean kemari karena ingin bertemu dengan ku. Memang dari mana ia mengetahui tempat ku tinggal?" Sedangkan sejauh ini tidak ada seorang pun yang tau bahwa ia telah tinggal bersama Parker.
Annette pun kembali teringat dengan cerita Parker hari itu. Tentang seorang tamu aneh yang datang dan pergi begitu saja tanpa maksud apa-apa.
"Kulit yang begitu putih hingga memperlihatkan garis-garis urat hijau yang begitu mencolok.." Itu jelas warna kulit yang sama miripnya dengan Egbert.
"Jangan-jangan.."
Annette bergegas mengambil bayinya dan dengan panik pergi meninggalkan rumah dari pintu belakang. Ia berlari secepat mungkin untuk melesat pergi dari kediaman. Ia sungguh takut jika Sean adalah vampir yang diam-diam datang dengan alasan karena utusan kampus padahal nyatanya ingin mengambil bayi kecilnya.
Di sisi lain Sean telah menunggu begitu lama di depan pintu. Awalnya ia masih berpikir positif. Mengingat gadis manusia yang cukup lama jika soal berganti pakaian. Karena memilih pakaian saja, mereka bisa menghabiskan beberapa menit lamanya belum lagi di tambah dengan make up dan sejenisnya.
Tapi sekitar dua puluh menit berlalu, sama sekali tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Perasaan Sean pun seketika buruk. Segera ia mengirim sinyal agar dua orang yang ada di dalam mobil bergegas datang.
"Ada apa tuan?"
"Cepat dobrak pintunya"
"Baik"
Brak!
Bruk!
Brak!
Pintu pun terbuka.
"Temukan gadis yang ada didalam dan bawa keluar"
"Baik tuan"
Dua orang itupun bergegas masuk kedalam dan menggeledah seluruh isi ruang. Tapi mereka sama sekali tidak menemukan wujud Annette ada didalamnya. Mereka pun kembali dengan tangan kosong dan berkata, "Maaf tuan, sama sekali tidak ada orang di dalam"
"Sial" Sesaat Sean mengutuk dirinya yang begitu bodoh. Jika tau Annette akan melarikan diri, ia pasti akan tidak membiarkannya pergi begitu saja tadi
......................
Parker merasa bingung karena hingga sore, sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan Annette. Padahal perutnya sudah sangat lapar merindukan masakan buatan Annette yang sangat lezat. Mengingat saja, cacing-cacing dalam perutnya terus saja berbunyi.
Hingga ketika malam tiba, ia dengan terburu-buru pergi meninggalkan rumah sakit berpikir apakah ada sesuatu yang telah terjadi di rumah. Karena beberapa hari ini Annette sama sekali tidak pernah absen mengantarkan kotak makan siang untuknya.
Dan benar saja...
Sesampai di kediaman. Ia melihat pintu rumahnya terbuka. Tak ada kekacauan di dalamnya juga tak ada barang yang hilang. Hanya..
"Annette"
"Apa kau ada di dalam?"
"Annette"
Ibu muda itu dan bayinya sama sekali tidak ada di rumah.
"Tidak!"
"Sebenarnya kemana mereka pergi?"
Sejak hari itu Parker tidak pernah melihat Annette dan bayinya yang begitu saja hilang tanpa kabar.