Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|94|. Tidak Tulus Menganggapku Sebagai Istri



Di hutan perbatasan negri Merland, Emma turun dari kereta kuda dengan simbol teratai mekar yang tak lain itu adalah kereta milik kediaman Duke Rajeev. Ia di bantu dengan salah seorang penjaga yang dengan sopan meminta izin untuk menyentuh tangannya dan menuntunnya turun menginjak bumi.


"Terimakasih" Emma membungkuk anggun mengucapkan rasa terimakasih yang formal.


"Sama-sama nona Emma. Tidak perlu begitu sungkan, adalah kewajiban saya melakukannya" Setelah mengatakan itu, penjaga bertubuh tegap itu pergi menurunkan koper milik Emma yang ada di bawah tempat duduk kereta.


"Koper anda"


"Ya" Emma mengambil koper nya sekali membungkuk sopan sebagai bentuk terimakasihnya. Sikap nya yang begitu santun dan bermartabat, pantas saja membuat dua pria terkemuka di negri Merland jatuh hati dapa pesonanya yang mulia.


"Ini adalah alamat sebuah kediaman di negri manusia yang Duke Rajeev pesan untuk menyerahkannya pada mu"


Emma menerima selembar kertas coklat kekuningan dalam kondisi terlipat, yang penjaga itu sodorkan padanya. Ia membukanya dan melihatnya sekilas.


"Duke Rajeev berpesan, nantinya anda dapat tinggal di negri manusia secara gratis di sana"


"Baik, aku mengerti" Emma dengan anggun melipat kertas itu kembali dan menyelipkannya di bawah lengan bajunya.


"Nanti setelah anda menyeberang, akan ada mobil yang datang untuk menjemput anda pergi"


Emma mengangguk kesekian kalinya dengan senyum terukir mempesona melengkapi kecantikannya, "Tuan Duke benar-benar sudah sangat repot menyiapkan semua ini untukku. Tolong sampaikan rasa terimakasih ku kepadanya"


"Baik nona Emma, akan saya sampaikan"


Emma tidak berbicara apa-apa lagi. Ia menyeret kopernya dan mengangkat kartu pass ke udara tepat di pertengahan garis perbatasan. Tidak lama kemudian, sebuah gerbang samar-samar muncul. Ia membuka pintu gerbang tersebut dan masuk.


Di dalam sana, Emma merasakan angin berhembus kencang dan secepatnya sebuah kekuatan muncul dari depan, datang menariknya ke dalam belahan dunia lain.


......................


Annette menatap tak berkedip pada hidangan yang tersaji didepannya. Itu adalah sekelompok potongan daging dengan tingkat kematangan tidak merata. Bagian bawah mereka semua hangus dan bagian atasnya merah muda setengah matang. Ia menelan liur dalam ketidakpercayaan, "Apa kau yakin ini bisa dimakan?"


"Ya" Egbert mengiyakan dengan bangganya.


Melihat Annette yang sedikit pun tidak berinisiatif untuk mengambil garpu dan makan. Ia dengan murah hati melakukannya sebagai gantinya, "Ayo, cicipi!"


Egbert sudah menancapkan ujung garpu ke salah satu potongan daging dan menyodorkannya tepat kedepan mulut Annette. Tanpa sepengetahuan dua orang itu, para pelayan bergerombolan di sebalik dinding, mereka rela berdesakan hanya untuk menonton romansa tuan vampir dengan istri manusianya.


Annette menggigit bibir bawahnya, menatap ragu pada sepotong daging yang bergantung di ujung garpu. Melihat penampilannya saja, ia langsung menjadi cemas membayangkan proses pembuatannya.


"Err.. bagaimana jika kau mencicipi nya lebih dulu?" Annette menjilat bibir bawahnya dan melanjutkan, "Bagaimanapun ini adalah masakan pertama mu, tentu kau adalah orang pertama yang harus mencicipinya" Annette terlihat tersenyum dengan murah hati.


"Tidak" Egbert menggeleng dalam ketidaksetujuan, "Aku memasak ini untukmu. Sudah seharusnya kau orang yang pertama mencicipi ini"


"Begitu ya?" Annette tersenyum dengan ekspresi wajah menangisi nasibnya.


"En" Egbert mengangguk, masih berdiri dengan sabar di samping Annette, "Ayo buka mulut mu"


Ragu-ragu, Annette membuka mulutnya. Menyambut sepotong daging yang ia jelas ragu apakah itu benar-benar bisa dimakan atau tidak.


Baru saja kunyahan pertama, mata Annette langsung membelalak dan, "Ugh!"


Cepat-cepat Annette mengambil selembar tisu dan memuntahkan sepotong daging yang ada dalam mulutnya. Tak sampai di situ, ia mengambil segelas air untuk menyapu rasa aneh yang tersisa di lidah.


Melihat reaksi Annette, para pelayan seketika bergidik, "Melihat ekspresi nyonya, aku yakin sajian yang tuan buat sangat buruk"


"Kau benar. Nyonya bahkan tampak sangat frustasi setelah mencicipinya"


Egbert yang melihat tindakan Annette yang langsung saja memuntahkan masakan buatannya, jelas merasa itu adalah penghinaan keras baginya. Ia sudah menyiapkannya dengan susah payah, sampai merendahkan martabatnya sebagai putra mahkota yang tak pernah menyentuh dapur, menjadi melakukannya dengan sukarela. Tapi apa? Wanita ini tidak menghargainya sama sekali.


"Annette, aku sungguh tidak menerima perbuatan mu ini. Beraninya kau memuntahkan makanan buatanku?"


Annette menyingkirkan piring itu ke samping dan melipat kedua tangannya di atas meja. Ia mengangkat kepalanya kearah Egbert, "Apa kau yakin itu dapat disebut makanan?"


"Kau—" Wanita ini semakin berani dan berani menantang garis batasnya.


"Aku yakin kau sama sekali belum menonton tutorial memasak di Y*uTu*be" Annette menghela nafas melanjutkan, "Aku ingin kau pergi menonton dan mempelajarinya sekarang. Malam ini, aku ingin sajian makanan yang benar-benar dapat aku makan"


Para pelayan seketika terperanjat dengan keberanian Annette. Tatapan mereka langsung tertuju kearah tuan mereka, penasaran dengan reaksinya. Akankah tuan mereka yang angkuh akan meledak marah di tempat?


"Jika kau benar-benar ingin makan, sana suruh pelayan bagian dapur menyiapkannya untukmu. Jangan membuang waktu ku dengan omong kosong seperti ini"


"Ah, jadi kau menganggap melayani permintaan istrimu sendiri adalah omong kosong hum?" Annette menunjukkan ekspresi kecewa di wajahnya. Siapapun yang melihat, jelas langsung mengetahuinya kalau wanita itu hanya akting belaka.


"Sepertinya, kau sama sekali tidak tulus menganggap ku sebagai istri"


Ucapan yang Annette tuturkan, dalam telinga para pelayan adalah luapan kesedihan. Tapi dalam pendengaran Egbert, jelas itu adalah ancaman yang tersirat.


Tidak hanya menantang harga diri ku yang mulia...


Tapi wanita ini juga mulai berani mengancam ku secara halus?


"Baik, aku akan menonton dan mempelajarinya. Yakinlah malam ini aku tidak akan mengecewakan mu istriku" Egbert mencoba tersenyum dengan sangat lebar ketika mengatakan itu.


Segera para pelayan menutup rapat mulut mereka agar tidak berteriak, 'Tidakk..'


'Sejak kapan tuan kita berubah menjadi begitu manis?'


"Baik, kalau begitu aku akan menantikannya suamiku" Annette berkedip dalam senyum penuh kemenangan.


......................