Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|126|. Tidak Akan Kubiarkan Siapapun Melukaimu



"Cepat lindungi yang mulia..."


Terdengar teriakan para pengawal yang bergerombolan mendatangi tempat lokasi serangan. Mereka mengeluarkan pedang dari sabuknya dan membantai panas-panas yang terus berdatangan. Mereka dengan gesit mematahkan panah-panah tersebut dengan hunusan pedang yang tajam. Panah-panah pun berjatuhan ke tanah.


Annette kali pertama berhadapan dengan situasi tersebut. Mendapati dirinya sangat ketakutan. Ia meringkuk di bawah tubuh Egbert dan jantung nya berdentum cepat. Rasa cemas berada dalam posisi antara hidup dan mati, membuat pelipisnya di penuhi titik-titik keringat dingin.


Egbert menunduk kam kepalanya ke bawah, matanya menggelap tak senang melihat tubuh kurus Annette yang tampak gemetaran di bawahnya. Ia tau wanita itu sangat ketakutan dengan situasi tersebut.


"Mereka di sana"


"Cepat kejar mereka!"


Hujanan anak panah sudah berhenti. Para pengawal menemukan sekelompok pemanah dari kejauhan, secepat kilat mereka berlari mengejar mereka.


Saat itu Egbert bangkit dari atas tubuh Annette dan membantu wanita itu bangun. Wajah cantik Annette terlihat memucat. Matanya berkedip dalam kekosongan. Hati Egbert merasa sakit melihat pemandangan itu. Ia tidak mengira pamannya akan bergerak secepat itu. Urat hijaunya bangun saat tangannya terkepal keras. Matanya yang menatap tajam pada arah Utara istana— titik dari mana panah berasal, itu berkilat dingin dan membunuh.


"I—itu..ap-apa itu tadi?" Bulu mata Annette berkibar resah kala bertanya.


Egbert tersentak. Haras membunuhnya yang begitu membara, hampir saja membuatnya terlupa ada wanita lemah di sisinya yang masih belum pulih dari rasa syok.


"Mereka datang untuk membunuhmu" Egbert memberitahu kan kebenarannya.


Annette membelalak kan matanya. Tak dapat membantu, bola mata hitamnya yang besar itu bergetar resah, "K-kenapa? Kenapa mereka ingin membunuh ku? Apa mereka tau aku adalah gadis manusia? I-itu kenapa—"


Sekujur tubuh Annette menjadi kaku, ketika Egbert mendekapnya erat. Annette dapat merasakan telapak tangan Egbert yang besar datang menggosok lembut punggungnya. Hatinya yang bergetar ketakutan, sedikit menjadi tenang karenanya.


"Bukan...bukan karena itu.."


Annette mengeratkan dirinya lebih jauh ke dalam pelukan Egbert, "Lalu karena apa?"


Egbert masih menggosok punggung Annette, "Itu karena aku. Mereka menargetkan mu karena aku.."


"Apa maksud mu?" Annette mengeluarkan wajahnya dari dekapan Egbert. Kepalanya mendongak ke atas, menatap wajah Egbert.


"Aku akan menjelaskan lebih detailnya nanti. Sekarang aku harus membawa mu bersembunyi di suatu tempat"


Egbert perlahan bangun sambil membantu Annette berdiri. Tapi rasa takut tak terkendali dan syok yang belum sepenuhnya pulih, membuat lutut Annette melemas dan begitu saja ia tersungkur kembali ke tanah.


"A-aku—"


"Biarkan aku menggendong mu" Egbert dengan sigap mengangkat tubuh Annette yang ringan itu dan berjalan pergi meninggalkan taman belakang istana.


Belinda baru saja mendengar berita tersebut, tak dapat membantu. Wanita tua itu terus menjadi panik dan segera mencari di mana Egbert. Ia pergi bertanya kepada para pelayan yang dijumpainya di lorong. Hingga tampak seorang pelayan lewat di hadapannya dengan membawa nampan yang di atasnya ada segelas air putih.


"Kemana kau ingin pergi?"


"Saya akan mengantarkan segelas air ini ke kamar utama, madam. Yang mulia baru saja memintaku melakukannya"


"Oh, biarkan aku ikut denganmu"


"Sesampai di kamar utama, Egbert langsung mengambil segelas air putih yang di bawa pelayan dan membantu Annette meminum seteguk demi seteguk. Tangannya yang lain bergerak lembut mengusap pelipis Annette yang memiliki tetesan keringat. Cara Egbert menatap, itu jauh dari jejak emosi. Tapi bahasa tubuhnya, jelas menunjukkan kekhawatiran.


Gerakannya tersebut sedikit pun tidak lolos dari mata Belinda, di mana wanita tua itu yang dan menyaksikan pemandangan tersebut tanpa melewatkan nya barang sedikitpun.


Mata tuanya melembut, Belinda dapat merasakan betapa Egbert begitu menyayangi istri manusia nya.


"Terimakasih, aku sudah lebih baik"


Egbert menarik kepala Annette dan meletakkannya lembut ke dadanya, "Kau tidak perlu menahan diri di hadapan ku. Jika takut, maka katakan saja takut..."


Annette mengerutkan bibirnya dalam perasaan masam. Ia senang Egbert dapat memahami perasaannya. Melingkari kedua tangannya di pinggang Egbert, Annette menggosok manja kepalanya di dada keras Egbert, "Sejujurnya aku masih sangat takut..aku tidak pernah melihat panah sebanyak itu sebelumnya... terlebih mereka itu ditujukan padaku..jika saja tadi kau terlambat, barangkali aku—"


Cup!


Egbert mengecup lembut bibir Annette. Sedari tadi itu tidak berhenti bergertar, benar-benar membuat hati Egbert tersayat saat melihatnya, "Tidak ada barangkali, kau adalah istri ku. Tidak akan ku biarkan siapapun melukaimu"


Sekali lagi Egbert mengecup, tapi kali ini kecupan itu mendarat lembut di kening Annette. Lengan kekar nya yang berotot, membawa Annette merapat lebih dekat ke sisinya dan dagu nya jatuh dengan lembut di atas kepala Annette. Setiap gerakannya, di buat sedemikian rupa untuk menghibur dan menenangkan wanita itu.


Annette menundukkan kepalanya. Wajahnya cantiknya tampak bersemu merah. Ia sadar masih ada pelayan dan madam Belinda yang berdiri di sana menonton. Mereka pasti menonton tindakan penuh kasih Egbert tadi yang memperlakukannya begitu intim.


Mata tua Belinda menangkap wajah malu-malu Annette, dapat merasakan kejujuran dan kemurnian gadis manusia itu yang sedikitpun tidak terlihat palsu. Itu berbeda dengan jenis kecantikan Emma yang halus tapi licik. Tapi gadis manusia itu terlihat seperti jenis yang tulus dan polos. Ia sungguh berharap pemikirannya itu tidak salah.


......................


"Saya sudah menyiapkan seperti yang anda minta yang mulia. Di sana sudah ada Helio yang menunggu anda di kereta kuda yang biasa digunakan para berniaga untuk mengangkut barang"


"Baik, madam. Kalau begitu aku akan segera bersiap"


Madam Belinda mengangguk dan melihat Egbert yang sudah masuk kedalam kamar.


Annette sudah berganti pakaian menjadi gaun biasa bewarna cream pucat. Serat kain itu terasa kasar, tidak seperti gaun yang dikenakan nya sebelumnya. Rambut coklat keemasannya sudah di sembunyikan di sebalik wig hitam pendek. Kemudian ia mengenakan jubah hitam menutupi tubuh kurus nya dan menutup kepalanya.


"Kau sudah siap?"


"Sudah"


"Ayo pergi!"


Egbert menarik tangan Annette dan secepat kilat membawanya pergi meninggalkan istana bulan merah. Annette merasa dirinya seperti di sapu terbang oleh angin, ketika di tarik Egbert mengikuti kecepatan berlarinya yang melebihi kecepatan lari cheetah di hutan.


Egbert berhenti tepat di hadapan kereta kuda yang di sebutkan madam Belinda. Annette di samping nya memukul dadanya pelan sambil menstabilkan nafasnya. Ia menggelengkan kepalanya saat merasa sedikit pusing. Baiknya ia tidak muntah karena mabuk dengan kecepatan lari Egbert.


"Kau di sana?"


Pria yang bernama Helio itu sudah duduk di atas kuda memegang kemudi, "Ya, saya sudah di sini" Untuk menyembunyikan identitas Egbert, Helio tidak memberi penyambutan hormat apapun.


Untuk lebih memastikan, Egbert mengambil langkah maju ke depan dan melihat siapa yang duduk di atas kuda. Melihat itu benar anak muda kepercayaan madam Belinda, ia pun tidak lagi ragu.


Egbert langsung mengangkat pinggang Annette dan melompat ke dalam kereta.


"Jalan!"


Derap langkah kuda dan roda kereta yang bergelinding di atas jalan bebatuan pun memecah keheningan malam.


Hari sudah malam. Sinar perak rembulan jatuh di atas pepohonan hijau yang menghitam karena gulitanya malam. Sepanjang lorong sunyi dan tak ada lentera lampu yang menerangi. Waktu tersebut, memang yang paling tepat untuk diam-diam menyelinap keluar...


Meninggalkan istana.