
Di sinilah Annette berada sekarang. Di dalam mobil mewah yang dikemudikan Egbert. Setelah melewati berbagai macam cara untuk menolak dan menantang. Tapi seperti biasa, ia selalu menjadi pihak yang kalah. Membuatnya tak punya pilihan selain menuruti kemauan pria itu.
"Jika saya menemani anda pulang? Lalu saya nanti kembali ke rumah dengan apa?" Tanya Annette. Ia duduk tepat di samping Egbert yang tengah fokus menyetir.
"..." Egbert tidak terus menjawab persoalan itu. Sesaat ia kembali teringat dengan ucapan Emma yang mengatakan akan menemui dirinya di lain itu. Memikirkan hal tersebut, membuatnya merasa mawas dan cemas.
Annette mengepalkan tangannya, mendapati pertanyaan yang ia ajukan hanya terbiar sunyi. Seandainya saja bisa, ingin sekali ia mengangkat tangannya dan mengetuk kepala pria vampir itu yang sama kerasnya seperti es batu.
Dingin dan tidak mengenal kata hangat.
"Ini sudah pukul sebelas malam lewat, saya sudah kehilangan bus terakhir saya" Ya, jadwal bus beroperasi hanya sampai pukul sebelas tepat, "Sebagai kompensasi, bagaimana dengan membayar tagihan taxi untuk mengantar saya pulang nanti?"
"Tidak perlu!" Egbert Akhirnya bersuara. Walau larut dalam dunianya, tapi ia masih menyimak pembicaraan Annette.
Tidak perlu katanya?
Annette menghela nafas jengah dan tak tahan untuk tidak sumpah serapah walau berakhir hanya dalam hati.
'Dasar vampir pelit!'
"Tidak baik jika seorang gadis seperti mu pulang larut malam dengan taxi" Tukas Egbert kemudian.
Langsung membuat Annette menautkan sepasang alisnya, 'Ada apa ini?
'Sejak kapan vampir sial*n satu itu punya sisi simpati untuk orang lain?'
'Terlebih gadis manusia seperti ku'
'Huh, mencurigakan!'
"Lalu saya pulang dengan apa?" Tanya Annette seraya mengangkat sepasang bahunya, "Apa anda berpikir untuk menyewa seorang sopir buat mengantarkan saya pulang, hum?"
Walau Annette yakin jawabannya tentu saja tidak.
"Kau bisa menginap di kediaman ku"
"Apaaa?" Refleks Annette memekik.
Langsung membuat Egbert mengerutkan tatapannya mendapati kebisingan gadis manusia itu cukup mengusik indra pendengarannya.
"Bisakah kau tidak berteriak?" Egbert sangat membenci kebiasaan gadis manusia yang entah kenapa selalu saja ribut dan heboh pada hal-hal yang tidak perlu.
Itu juga membuatnya heran terhadap Sean karena dapat bersabar pada hal tersebut sejauh ini.
Annette hanya mengerucutkan bibirnya dan berujar, "Itu karena anda yang tiba-tiba berkata 'menginap di kediaman' anda"
"Aku serius" Egbert menoleh sekilas pada Annette, "Malam ini kau menginap saja di kediaman ku" Ucapnya lagi dan kembali menghadap kan wajahnya ke depan.
"Tidak bisa" Jelas Annette menolak keras ide itu, "Saya harus pulang"
"Kenapa?" Tanya Egbert, tatapannya fokus melihat jalan di depan yang tampak di selingi beberapa kendaraan, "Apa kau tipikal gadis kolot yang berprinsip untuk tidak menginap di rumah pria hum?"
"Ya, itu benar"
Tapi di samping itu, karena Annette tidak dapat membiarkan putra kecilnya seorang diri di rumah begitu lama. Terlebih lagi larut malam seperti ini Aldrich selalu menantinya pulang dan mengeluh haus padanya.
"Kau tidak perlu khawatir" Ujar Egbert, suaranya sedikit terdengar santai.
"...?"
"Aku tidak punya niat mengusik gadis manusia seperti mu— lebih tepatnya, aku tidak tertarik sama sekali dengan tubuh kurus mu"
"Hah!" Annette tak tau apakah harus tertawa atau menangis mendengar pernyataan tersebut. Jelas itu dusta besar. Mengingat lima tahun yang lalu pria itu pernah bercinta dan berciuman dengannya— itu penuh gelora dan hasrat.
'Tidak pria manusia dan tidak pun vampir, tabiat mereka umumnya tidak jauh berbeda'
'Pembohong ulung!'
"Ada apa?" Egbert menoleh pada Annette dengan sepasang alis bertaut?
"Kucing!" Setelah berpikir keras, hanya itu yang bisa Annette ucapakan sebagai alasan, "Saya tidak bisa meninggalkannya begitu lama, jadi itu kenapa saya menolak menginap di rumah anda" Tutur Annette sambil tersenyum penuh tekanan dari tatapannya. Ia sungguh berharap pria itu mengerti.
"Kalau begitu katakan alamat rumah mu?"
"Buat apa?"
"Karena kau tidak bisa menginap di kediaman ku, maka biar aku yang menginap di kediaman mu"
"Apaaa?" Annette tak tahan untuk tidak memekik keras mendengar itu.
'Ah, telingaku..' Egbert mengulum rapat bibirnya, menekan kekesalannya pada Annette yang kesekian kalinya mengusik ketenangan gendang telinganya.
"Tidak bisa"
"Kalau begitu kau menginap di kediaman ku"
"Tidak perlu. Saya akan menemukan taxi dan yakin pasti akan baik-baik saja dengan itu"
"Tidak ada opsi ketiga. Aku menginap di kediaman mu atau kau menginap di kediaman ku. Pilih satu!"
"Kau—" Annette sungguh kehabisan kata dengan pria vampir satu itu.
Akhirnya mau tak mau. Terima atau tidak terima. Dengan sangat terpaksa ia memberikan alamat tempatnya tinggal dan di sinilah mereka sekarang. Menepikan mobil tepat di kontrakan kecilnya.
Annette berdiri di depan pintu dalam keadaan cemas. Ia ragu membiarkan Egbert masuk kedalam. Bagaimana jika Egbert melihat Aldrich? Apa dia akan mengenal kelainan pada putranya yang setengah berdarah vampir itu?
"Ini rumah mu. Kenapa kumuh sekali?"
Annette tidak tau kalau mulut Egbert akan sangat se-mengesalkan itu, "Jika anda tidak nyaman dengan itu, anda dapat pergi" Ucapnya dengan senyum malas.
"..." Egbert hanya diam. Cukup memberi jawaban secara halus bahwa ia akan tetap tinggal.
Itu membuat Annette menghela nafas tak berdaya, 'Semoga saja Aldrich sudah tertidur'
Ia pun membuka pintu dan membiarkan pria vampir itu masuk kedalam kontrakan kecilnya. Egbert menatap aneh ke setiap sudut ruangan.
'Apakah ini pantas di sebut tempat tinggal?'
'Bahkan gudang di kastil ku masih jauh lebih nyaman dengan ini'
"Maa, kau sudah pulang?" Aldrich kecil keluar dari pintu kamarnya sambil mengucek-ngucek matan. Baru saja ia terbangun dari tidur mendengar suara pintu rumah terbuka.
Annette terperanjat kaget dan langsung berlari pergi memeluk Aldrich kecil untuk menyembunyikannya dari pandangan Egbert, "Sayang, mama lagi kedatangan tamu. Tunggu mama di dalam ya" Annette berbisik di telinga Aldrich.
"Jadi, itu kucing yang kau maksud?" Egbert menautkan sepasang alisnya menatap bocah kecil yang sedang di peluk begitu ketat oleh Annette. Tampak sangat yang gadis manusia itu seperti menyembunyikannya darinya.
"Ah, ya. itu adalah panggilan kesayangan yang saya buat untuk adik saya" Bohong Annette.
"Adik?" Kini giliran Aldrich kecil yang berbicara, "Ma, sejak kapan aku menjadi adik mu?"
"Pftt!" Egbert tidak tahan untuk tidak tertawa mencemooh. Konyol sekali.
'Apa gadis manusia itu pikir aku cukup bodoh untuk ditipu?'
'Jelas-jelas tadi aku mendengar anak itu memanggilnya 'ma', tapi dengan naif nya gadis manusia itu berbohong mengatakan kalau itu adiknya?'
Annette memasang tampang akan menangis.
'Aduh nak!'
'Tidak bisakah kau bekerja sama sedikit dengan mama mu ini?'