
"Tuan" Sapa Mikha sopan saat melihat Egbert berjalan masuk kedalam.
Egbert hanya mengangguk sebagai tanggapan dan matanya menatap kearah Annette yang masih memejamkan mata seperti malas untuk bangun.
"Bangunlah dan sarapan!" Ucap Egbert. Ia sebenarnya tidak mau ambil pusing jika wanita itu tidak sarapan. Tapi mengingat itu adalah sumber makanannya, mau tidak mau ia harus bersabar dan turut repot-repot menghadapi perangai keras kepalanya.
"Tidak" Perlahan Annette mengangkat kelopak matanya dan menoleh pada Egbert, "Sebelum kau memberikan aku izin untuk melihat Aldrich, aku tidak akan sarapan meski hanya meneguk segelas susu" Meskipun suaranya terdengar lemah, tapi raut wajahnya masih dapat mengekspresikan ketegasan dan kekeraspalaan.
'Anak-anakan sekali!' Gerutu Egbert dalam diam.
Egbert kemudian berjalan ke pinggir ranjang dan duduk di samping Annette berbaring. Sekilas ia dapat melihat betapa tipisnya tubuh yang berada di bawah selimut itu sampai menonjolkan tulang dan perutnya yang rata.
"Ambilkan aku segelas susu di sana"
"Baik tuan"
Mikha pergi mengambil segelas susu yang masih hangat itu dan menyerahkannya pada Egbert.
"Minumlah!" Egbert menyodorkan gelas tersebut kepada Annette.
Mikha dan Zeta dapat merasakan betapa tuan mereka benar-benar berjuang keras untuk bersabar menghadapi nyonya muda yang sangat bersikukuh dan gigih menolak sarapan.
"Tidak mau" Annette langsung memalingkan wajahnya dan memiringkan kepalanya ke bantal yang empuk.
"Jangan keras kepala, cepat minum" Egbert menodongkan gelas susu hangat tersebut hingga mengenai lengan kurus Annette, sorot matanya yang tajam jelas memantulkan ketidaksabaran.
Mikha dan Zeta dapat merasakannya. Dalam hati, mereka terkagum-kagum pada Annette. Karena baru Annette lah seorang yang benar-benar cukup mampu menantang garis kesabaran tuan mereka.
"Tidak" Geleng Annette.
"Aku katakan sekali lagi—minum!" Titah Egbert, kali ini dengan penuh penekanan.
"Emm" Annette bergumam seraya menggelengkan kepalanya menolak. Ia tau Egbert pasti akan sangat bersikeras agar dirinya mau sarapan.
Alasannya sudah jelas. Itu karena Egbert kini bergantung pada darahnya untuk memenuhi nutrisi dalam tubuh vampir nya.
Jadi Annette akan memanfaatkan itu sebaik mungkin. Sehingga ia mendapat kan izin untuk segera bertemu dengan putranya yang tersayang.
"Jadi, kau masih bersikeras menolak untuk meminum susu ini?" Egbert mengangkat gelas di tangannya.
"Eum"
"Baik, kalau begitu biar aku yang meminumkannya padamu"
Annette mengerutkan keningnya, 'Apa maksudnya?'
Ia tidak mengerti. Sampai ketika tangan Egbert datang menarik wajahnya dan menegakkan kepalanya. Ia melihat pria itu menyesap susu di gelas hingga kemudian tubuhnya perlahan membungkuk kebawah.
Mata Annette membelalak kaget mendapati wajah tampan Egbert kini hanya berjarak sejengkal dengan wajahnya.
"Emph—" Kini Annette mengerti apa yang pria itu coba lakukan.
Langsung saja Annette membungkam rapat bibirnya dan menggelengkan kepalanya ke samping. Tapi tangan kiri Egbert datang menahan wajahnya dari bergerak. Kemudian pria itu membuka paksa bibirnya yang terkatup rapat dan menyalurkan susu tawar itu kedalam mulutnya.
"Ah, kami tidak melihat apapun" Refleks Mikha dan Zeta berseru, seraya mengangkat tangan mereka menutupi mata untuk memblokir pemandangan intim tersebut. Walau sebenarnya mereka masih mencoba mengintip di sela jari-jari.
"Masih tidak ingin sarapan?" Egbert menarik mulutnya menjauh, tapi ujung hidungnya masih bersentuhan dengan pangkal hidung Annette yang mancung.
"Jika kau terlalu lemah untuk itu, aku bisa membantumu seperti tadi" Matanya melirik kebawah, tepat ke bibir kecil Annette yang sudah basah lembab karena ulahnya.
"S-sarapan" Buru Annette. Wajahnya sudah panas terbakar karena malu begitupun dengan daun telinganya yang memeras panas, "A-aku akan sarapan"
Bibir Egbert melekuk tinggi keatas, tersenyum puas. Matanya cukup terhibur dengan kecantikan yang malu-malu di bawahnya itu.
Membuat Egbert ter-ingin menggodanya lebih jauh, "Tidak ingin ku bantu seperti tadi?"
"Tidak!" Jawab Annette cepat.
Apa yang baru saja dilakukan Egbert padanya itu terlalu intim. Bahkan di sana masih ada Zeta dan Mikha yang berdiri dan melihat mereka. Mungkin Egbert tidak malu, tapi tidak dengan dirinya.
"Ya sudah ayo bangun kalau begitu" Egbert pergi menjauh dan duduk tegap kembali di posisinya.
Annette kali ini dengan patuh bangun, tapi karena kedua tangannya terikat, itu membuatnya tergelatak kembali ke ranjang dan ia memandang tak berdaya pada Egbert.
"Tidak bisakah kau melepaskan ini?" Katanya, sorot matanya terlihat memohon.
"Tidak"
"Lalu bagaimana aku bisa sarapan jika kedua tangan ku terikat seperti ini?"
"Mereka akan menyuapinya untuk mu"
"Tapi—" Ucapan Annette terus tertahan mendapati Egbert yang mendadak condong kearahnya. Refleks Annette memejamkan matanya.
Melihat itu, Egbert hanya menyeringai. Mengambil bantal ia meletakkannya di belakang punggung Annette dan membantu wanita itu duduk dan bersandar dengan nyaman ke kepala ranjang.
Mengerti niat pria itu, Annette dengan malu-malu membuka matanya kembali. Tapi saat itu ia mendapatkan sebuah kecupan kilat yang mendarat di bibir kecilnya.
"Ada sisa susu di sudut bibir mu" Tukas Egbert yang baru saja dengan sengaja mencuri ciuman. Padahal sama sekali tidak ada sisa susu di bibir Annette.
"Oh!" Mata Annette beberapa saat berkedip bingung, di samping daun telinganya yang memerah dan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Zeta dan Mikha nyaris menjerit histeris dengan panorama tersebut...
'Ah, mereka manis sekali!'
......................