Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|35|. Manfaatkan Indra Penciuman mu



Sehari berlalu dan Annette belum sadarkan diri. Parker sesekali datang mengunjungi ibu muda itu di sela-sela bekerja. Ia juga turut melihat bayi mungil milik gadis itu yang masih berada di inkubator tepat di jam makan siang. Berkat itu ia kehilangan jam makan siangnya yang berharga.


"Kau darimana saja? Aku tidak melihat mu di kantin? Apa kau makan di luar?" Tanya salah seorang koleganya.


Parker menggeleng seraya tersenyum kecil sebagai jawaban. Baru saja ia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi keributan kecil di salah satu unit terus merebut perhatiannya.


"Pak, saya mohon berhenti. Jika anda melakukan ini istri anda bisa mati" Tampak seorang perawat mati-matian mencoba menarik seorang pria bertubuh kekar yang mencekik istrinya. Wajah pria itu dipenuhi api amarah yang tak terkendali.


"Dasar istri tak tau diri, beraninya kau selingkuh di belakang ku dan bahkan kau hamil anak bajing*n itu!"


"..." Wanita yang dicekik berusaha keras melepaskan cengkraman erat tangan suaminya di leher kurusnya. Wanita itu menggeleng-geleng seraya menangis.


"Akan ku bunuh kau dan anak itu!" Pria itu tampak kian memperkuat cengkraman nya.


"..." Tampak sang wanita yang terbaring di brankar nyaris hampir kehabisan nafas dan wajahnya mulai megap-megap ketakutan.


"Pak, saya mohon berhenti!" Suster tersebut masih berusaha meleraikan tapi yang terjadi...


"Ahh.." Pria itu menyikut suster tersebut hingga wanita berpakaian medis perawat itu tersungkur jatuh di atas lantai.


Melihat panorama itu, Parker mengepalkan tangannya dan begitu saja ia masuk kedalam unit tersebut dan menarik bahu pria itu.


"Ini adalah rumah sakit, mohon jaga keterti—"


"Ah, si*l. Ini adalah urusan ku dengan istri ku, kalian tidak perlu ikut campur" Ketus pria itu. Tangannya masih tidak melepaskan leher istrinya.


Parker tak dapat menahannya lagi, melihat wanita itu nyaris hampir mati karena kehabisan nafas, begitu saja ia melayangkan buku limanya tepat ke wajah pria itu.


Bug!


Itu cukup keras hingga wajah pria itu membiru dan terteleng ke samping.


"Kau—" Terang saja pria itu murka. Pria itu pun berhenti mencekik istrinya dan beralih ke Parker untuk membalas pukulannya tadi. Tampak wanita itu kini bernafas terengah-engah dan menangis kencang tampak masih begitu takut dan panik.


Di samping itu Parker berkelahi dengan pria itu di unit tersebut. Parker yang kehilangan kendali, siap membanting tiang infus dan pria itupun tersungkur di lantai.


"Jika ada masalah tolong bicarakan baik-baik. Tidak perlu sampai membunuhnya. Jika memang kau sudah muak dengan istrimu, maka cukup tinggalkan dia. Tidak perlu sampai membunuhnya" Ucap Parker yang kini sudah ada luka di sudut bibirnya karena ulah pria itu.


"Kau—" Pria yang masih tergeletak menyedihkan di lantai, menunjuk kearah Parker. Tampak jelas jari telunjuknya bergertar hebat karena marah.


"Lihat saja, akan ku tuntut kau atas—"


"Aku akan balas menuntut mu atas percobaan pembunuhan" Parker tersenyum acuh.


"Apa kau ada bukti huh?"


"Aku sudah merekamnya" Yang berbicara adalah rekan Parker yang tadi berjalan bersama dengannya.


Pria itupun kini terbungkam, tak dapat mengatakan apa-apa lagi. Segera pria itu bangun dan berambus pergi meninggalkan unit. Sedangkan perawat tersebut mendatangi wanita yang masih menangis ketakutan mencoba menenangkannya.


Parker dan koleganya berjalan keluar, "Kenapa kau gegabah sekali? Bagaimana jika pak kepala memanggil mu dan—"


"Parker" Belum selesai koleganya itu berbicara, nama Parker sudah di panggil oleh orang yang bersangkutan.


"Iya pak" Jawab Parker sopan.


"Datang ke ruangan saya sekarang"


......................


"Eum" Ucap Egbert. Meskipun semalam ia sudah meluapkan kemarahannya, tapi ekspresi wajahnya sedikit sudah tidak se-mencekam semalam.


"Lalu bagaimana aku bisa melacak keberadaannya? Ia bahkan tidak membawa ponsel bersamanya" Gerutu Sean kesal. Yang mood nya hari itu sudah rusak karena tak dapat mengajar, kini pun kian memburuk menyadari kebuntuan mereka dalam menemukan Annette.


"Kau vampir, tidak bisakah kau memanfaatkan indra penciuman mu?" Ujar Egbert dengan tatapan dingin.


"Ya tapi bagaimana bisa aku melakukannya? Aku bahkan tidak pernah mencium aroma darahnya, bagaimana bisa aku melacaknya dengan indra penciumanku?" Untuk dapat menanda aroma tubuh manusia, mereka harus lebih dulu mencium aroma darah mereka.


Karena bagi bangsa mereka, setiap manusia memiliki aroma darah yang berbeda-beda.


"Dan lagi satu, jikapun harus melacaknya dengan cara itu, kita hanya dapat berharap dia terluka dulu" Tukas Sean. Karena mereka melacak dengan aroma darah itu sendiri, maka tentu saja manusia itu harus lebih dulu terluka dan berdarah, hingga aroma cairan merah kental itu merasuki penciuman mereka.


"Untuk seminggu ke depan aku akan kembali Merland*" Ucap Egbert.


Semalam setelah ia pulang dari apartemen Sean, dua orang utusan dari kekaisaran mendatangi kastilnya untuk menjemput pulang Robbin dan berpesan padanya bahwa Kaisar mentitahkan padanya untuk segera bertemu dengannya tepat di malam setengah purnama yang akan terjadi besok.


"Ada urusan apa kau kesana? Istrimu saja masih belum ditemukan, buat apa kau harus repot-repot ke—"


"Kaisar sudah tau kalau aku membawa dokter Robbin ke dunia manusia bukan karena aku terluka" Egbert langsung memotong kata-kata Sean. "Agaknya Kaisar sudah mulai mawas, sehingga begitu terburu-buru menyuruh ku pulang"


"Hah" Sean menghela nafas berat, "Kapan pria tua itu tidak merasa mawas padamu?" Katanya.


"Kau begitu berani menyebutnya pria tua?"


"Sekarang aku sedang di negeri manusia, pria tua itu tidak berkuasa disini. Apa yang harus ku khawatirkan?" Sean berkedik bahu acuh.


Egbert tak menanggapi apa-apa. Sean mungkin terbilang konservatif dan taat. Tapi sejak dulu ia tidak pernah menyukai kaisar. Kalau bisa, dia bahkan tak mau tunduk di bawah titahnya. Tapi karena dia hanya sebatas bangsawan rendah, mau tak mau dia hanya bisa berdamai dengan keadaan.


Itulah kenapa ia lebih suka tinggal negri manusia ketimbang negerinya. Karena secara tidak langsung, ia tidak perlu tunduk pada pemimpin yang sudah menghancurkan masa depan salah seorang yang sangat disayanginya. Itu tak lain...


Cinta pertamanya.


"Selama aku pergi, aku ingin kau mengurus hal ini" Ucap Egbert setelah cukup lama percakapan berubah menjadi hening, "Aku tidak peduli cara apa yang akan kau gunakan, aku mau gadis manusia itu harus segera di temukan"


Selesai mengatakan itu, Egbert bangun dari tempat duduknya.


"Ya tapi, bagaimana bisa aku mencarinya? Ini bahkan tak jauh berbeda seperti mencari sebutir beras di Padang rumput. Mustahil. Apa kau mengerti?" Ucap Sean, dengan sangat menekankan kata 'mustahil'.


"Aroma darah gadis itu seperti besi yang terkena tetesan hujan, baunya cukup pekat dan harum manisnya begitu kentara seperti ceri segar" Ucap Egbert, alih-alih menanggapi keluhan Sean ia hanya mengatakan dua petunjuk tersebut.


"Gunakan informasi itu untuk menemukannya"


......................


*Merland: Nama fiksi untuk negri vampir yang ada dalam cerita ini.


Note:


Kedepannya mungkin akan ada beberapa istilah lainnya yang akan muncul dalam cerita ini, mohon untuk tidak di ambil serius. Itu murni buatan acak penulis untuk melengkapi alur fantasi cerita ini. Jika ada makna lain, itu hanyalah kebetulan semata.


Semisal Merland, itu penulis buat dari gabungan kata: Merah + Land