Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|51|. Bagaimana Bisa Itu Adalah Dia



Annette menerima sapu tangan putranya itu dengan raut wajah bingung, "Untuk apa mama membawa sapu tangan? Ada banyak tisu di dalam tas mama. Jadi.."


"Maa, kenapa kau sebodoh ini?" Pantas saja vampir sial*n itu bisa memperdayai ibunya dengan mudah. Membuatnya hamil tanpa mau bertanggung jawab dan bahkan tak peduli atas hidup dan matinya.


"Kamu—" Sepasang bola mata Annette hampir melompat keluar, menatap tak percaya pada putranya, "Kamu mengatai mama bodoh?"


"Eum" Angguk Aldrich dengan tak berdosa nya.


Annette hanya membuang nafas tak berdaya. Sepertinya sikap masa bodoh dan acuh tak acuh Egbert sungguh menurun pada putranya itu.


"Jadi, untuk apa mama membawa ini?"


"Ibu guru memberitahu ku di sekolah, untuk tidak berdesak-desakan di keramaian karena itu dapat membuat asupan oksigen berkurang dan tubuh yang kekurangan oksigen bisa membuat kita pingsan"


"Lalu?"


"Mama bisa menggunakan itu untuk membatasi asupan oksigen seseorang yang hendak menjahati mama. Tapi jangan terlalu lama, cukup sampai tubuh seseorang itu terkulai lemah dan mama cukup memanfaatkan situasi tersebut untuk kabur. Karena takutnya jika terlalu lama, seseorang itu bisa saja mati"


Annette tertawa kecil mendapati putranya yang memiliki pikiran sampai sejauh itu, "Baik, mama akan membawanya" Annette tersenyum dan memasukkan saputangan itu kedalam tas tangan putihnya.


Sebelum pergi, tak lupa ia mengecup manis kedua belah pipi putra vampir nya. Itu dingin. Serasa bibirnya baru saja jatuh mencium embun.


Aldrich juga melakukan hal yang sama. Saat ibunya membungkuk, ia berjinjit dan bibir kecilnya mengecup lembut pipi sang ibu.


"Kalau begitu mama pergi!" Annette memakai sepasang high heels di kedua kakinya. Memegang pintu bersiap keluar, tak lupa ia memberikan peringatan yang hampir selalu di ulangnya setiap malam,


"Ingat untuk tidak membuka pintu untuk orang asing, kau mengerti?"


"Eum" Angguk Aldrich. Yang sebenarnya sudah bosan mendengar peringatan itu yang entah sudah keberapa ratus kalinya.


Annette tersenyum mendapati sikap patuh Aldrich. Ia pun pergi bekerja dengan tenang.


......................


Sesampai di sebuah bar elit di kota J. Annette telah berganti seragam menjadi gadis pelayan bar. Itu perlengkapan pakaian hitam selutut yang dipadukan rompi putih. Ia pun pergi keluar dan berbaur dengan kebisingan musik yang diiringi hentakan kaki para lautan manusia yang menari-nari ria.


Segala kesedihan, penyesalan, kemarahan, kekecewaan, satu-persatu dari mereka meluapkan nya menjadi kegilaan semu. Kehidupan malam yang menggambarkan keramaian yang menyeruak. Tapi menyelaminya lebih dalam, itu hanyalah individu-individu yang merasa kosong dan sepi.


"Annette"


Terdengar suara keras teriakan seseorang yang memanggil namanya. Namun itu begitu samar dan tersulut begitu saja dalam dentuman musik yang keras.


"Annette"


Panggilan sekali lagi jauh lebih keras. Annette langsung menoleh pada asal suara dan mendapati salah seorang pria yang berjaga di meja bar, tampak melambaikan tangan kearahnya.


Itu tak lain adalah Mark. Rekan kerjanya yang paling ramah dan paling peduli padanya.


"Yaa" Pekik Annette. Suaranya tenggelam begitu saja, dikalahkan oleh deru musik yang keras. Mengangkat tangannya, ia mengirimkan sinyal kalau ia akan datang ke sana.


"Antar kan ini ke meja pojokan sana" Mark menyodorkan nampan yang di atasnya ada dua botol wine, gelas dan es.


Annette menoleh pada arah yang ditunjuk Mark. Ia menemukan seorang gadis berambut panjang dengan gaun hitam terbuka duduk dalam kesunyian. Tatapannya jauh menonton hiruk pikuk orang-orang yang menghentak-hentak ria kaki mereka ke lantai. Mulutnya terdiam bisu dan gaya ia yang menyilang kan kedua tangannya di depan dada, menunjukkan sikap defensif yang tak ingin diganggu.


"Bukannya itu gadis yang datang semalam?" Pukas Annette.


"Eum. Sepertinya konfliknya dengan pasangan nya masih belum usai"


"Jadi dia bukan gadis lajang?"


"Bukan" Mark menggeleng.


"Kau tau darimana?"


"Coba perhatikan cincin yang melingkari jaris manis nya.." Ucap Mark. Meskipun jauh, tapi matanya menyipit mencoba menjangkau titik objek, "Dia jelas gadis yang sudah terikat dengan seorang pria"


"Cepat bawa ini, masih ada pesanan lain yang harus di antar"


"Oke"


Annette pun pergi mengantarkan bawaannya itu ke meja, tempat di mana gadis malang menghabiskan kesunyiannya seorang diri.


"Permisi nona" Sapa Annette dengan seulas senyum di bibir. Sama seperti malam sebelumnya, gadis berambut panjang dengan hitam legam seperti tinta itu hanya mengangguk kan kepalanya, sedang matanya merenung jauh entah kemana.


Annette tak ambil pusing. Ia meletakkan dua botol di meja, gelas dan es.


"Bisa tolong tuangkan untuk ku?"


Dalam keributan orang-orang yang berloncatan ria menikmati alunan musik. Annette Akhirnya mendengar suara gadis itu yang tegas, namun halus.


"Tentu saja" Annette tersenyum pada gadis itu, sekalipun lawannya itu hanya larut dalam dunianya sendiri.


Annette memasukkan beberapa potongan es dan menuangkan wine kedalam nya.


"Silahkan nona" Annette mengangkat gelas tersebut dan menyerahkannya pada gadis itu.


Jari-jemari yang lentik dengan kuku merah cantik datang membungkus pinggang gelas, "Terimakasih" Ucap bibir tipis yang berpoleskan lisptik coklat gelap menantang.


Annette mengangguk ringan dan kemudian pergi untuk mengantarkan pesanan lainnya. Dalam kesibukan melayani orang-orang di bar, ia mendapati pinggang kecilnya di tarik dan refleks ia berteriak kecil mendapati punggung nya telah jatuh menghantam perut buncit seorang pria.


Aroma alkohol yang memuakkan bercampur nafas pria empat puluhan itu menyiksa hidungnya hingga mengerut tak senang, "Maaf" Annette mencoba bangun tapi pria yang sudah mabuk itu memaksanya untuk duduk.


"Gadis kecil, ayo temani paman ini minum"


Annette menggertak kan giginya. Ini bukan sekali dua kali terjadi. Ia menarik nafas dan dengan tenang menyikapinya, "Baik"


Annette pun pergi duduk di samping sofa. Ia mendengar mulut pria itu yang terus mengoceh tentang betapa bosannya ia dengan istrinya. Ia mengeluh akan istrinya yang tak lagi cantik. Keriputan-keriputan di wajahnya yang tak enak di pandang dan betapa ia merindukan kehadiran sosok gadis muda segar seperti dirinya.


"Jadi manis, maukah kau menghabiskan malam dengan ku di sebuah motel?"


Annette mengepalkan tangannya saat mendapati jari-jemari pria itu yang gempal, datang mencubit genit dagu kecilnya.


"Hibur aku, hum?" Suaranya serak yang bercampur mabuk.


Membuat Annette muak, namun masih berusaha tersenyum menjawab, "Maaf, sudah terlalu lama saya menemani anda" Ucap Annette, sekeras mungkin menekan segala amarah dan kekesalannya, dengan sikap kesopanan terpaksa "Sekarang saya harus lanjut bekerja" Annette menepis tangan pria itu dari dagunya. Begitu saja ia berdiri dan beranjak pergi.


Tapi siapa yang menduga pria itu akan mengamuk dan melemparinya segelas wine. Gelas itu jatuh ke lantai, pecah dan beberapa pecahannya mengenai kulitnya hingga ujungnya yang tajam turut menggores betisnya yang mulus.


Lantai pun telah berserakan dengan pecahan kaca dan cairan wine. Pemandangan itu membuat Annette menarik nafas dalam-dalam.


Pada akhirnya ia lah yang akan bertanggungjawab akan kekacauan ini.


"Ada apa ini?" Itu tak lain adalah suara pak kepala manajer yang mengurus bar elit ini.


"Gadis bau itu!" Pria berperut buncit itu mengangkat tangannya dan menunjuk tepat kearah Annette, "Bagaimana sebenarnya kalian mendidik pelayan kalian? Huh?"


"Annette, ada apa ini?"


"Aku hanya mengatakan aku akan lanjut bekerja, apa ada yang salah dengan itu?"


"Tidak ada yang salah" Suara dingin yang tak asing jatuh dan seketika mengubah atmosfer.


"Tidak ada yang salah dengan gadis pelayan bar ini" Pria bertubuh tegap dengan setelan mantel hitam panjang itu menoleh kearah Annette.


Saat itu mata Annette terbelalak lebar dan merasa seakan perputaran waktu mulai melambat...


Dia...


Bagaimana bisa itu adalah dia?