Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|81|. Membiarkan Putramu Mengendalikanmu



Mata Egbert menatap dalam bocah kecil didepannya itu. Memperhatikan wajah kecil yang rupawan, itu menggambarkan sosok pemberani ulung—sedikitpun tidak ada jejak seorang pengecut. Tatapannya yang penuh riak kebencian, terlalu tidak sederhana untuk karakter usianya masih anak-anak dan aura gelapnya yang menyertai, terlalu mengerikan untuk anak seusianya yang harusnya lebih cerah dan ceria.


Semakin memandang bocah tersebut, semakin Egbert terkenang sosoknya dulu.


"Mikha"


"Iya tuan" Mikha yang terdiam di sudut, mengangkat kepalanya menjawab panggilan Egbert.


"Bawa bocah itu ke taman belakang"


"Baik tuan"


Annette sejenak menatap heran pada Egbert. Untuk apa Egbert menyuruh Mikha untuk membawa Aldrich ke taman belakang?


Ketika ia berniat untuk turun lagi, Egbert malah mengeratkan lengan kecilnya dan menarik tubuh kurusnya lebih merapat ke dadanya.


"Egbert, lepaskan aku!" Annette memberontak kecil, tapi Egbert mencengkram erat tubuh kurusnya. Membuatnya terlihat seperti seekor kucing kecil yang terkukung dalam buaian tuan pemilik.


"Jangan sentuh aku!" Gerutu Aldrich. Tangannya menampik uluran tangan Mikha yang baru saja datang kearahnya untuk membawanya pergi ke taman belakang.


"Adik kecil, patuh ya. Ayo ikut kakak ke taman belakang?" Mikha mencoba membujuk. Dalam hati ia bertanya-tanya, sebenarnya anak siapa itu? Kenapa sangat keras kepala dan susah di atur?


"Adik?" Bibir kecil Aldrich berkedut, "Sejak kapan aku menjadi adik kecil mu?" Cibir nya dingin.


Mikha mengerjap matanya dan menghela nafas berat. Sejenak ia merasa begitu tertekan oleh bocah satu itu.


'Sungguh, anak siapa sih dia sebenarnya?'


"Adik—" Belum selesai Mikha berbicara, ia langsung di hadiahi pelototan tajam bocah itu yang langsung saja membuatnya bergidik ngeri.


'Padahal jelas dia masih bocah, tapi kenapa aura nya semenakutkan itu?'


"Pria sial*n, apa kau tidak dengar apa yang baru saja ku katakan tadi, hah?" Aldrich melipat kedua tangannya di depan dada dan membentak Egbert dengan kharisma kecilnya yang perlu di acungkan jempol akan keberaniannya.


Para pelayan yang mendengarnya, nyaris saja limbung dan terjatuh dari posisi berdiri mereka. Beberapa dari mereka dengan cepat memegang tepi meja dan ada pula yang bersandar ke dinding. Mereka menatap penuh ketidakpercayaan pada bocah yang baru saja mengatakan...


'Anak ini baru saja Mengatai tuan— 'pria sial*n?'


'Sungguh, sebenarnya dari mana anak ini berasal'


Diam-diam mereka melirik kearah Egbert, melihat tuan mereka sangat gelap dan buruk. Jelas moodnya tidak baik setelah mendapatkan penghinaan seperti itu dari seorang bocah kecil.


"Cepat lepaskan mama ku!"


Kalimat itu mungkin adalah kedua kalinya terucap. Tapi pertama kalinya para pelayan tersadar...


'Apa?'


'Jadi bocah kecil yang sangat berani ini adalah anaknya Annette—nyonya mereka?'


Mereka ter-pelongo akan fakta itu.


"Egbert, sebenarnya apa yang ingin coba kau lakukan?" Annette mengerutkan keningnya, "Cepat turunkan aku!"


"..."


Melihat Egbert yang tidak menanggapinya sama sekali, Annette hanya bisa menghela nafas untuk itu.


"Jika kau masih tidak melepaskan mama aku, jangan salahkan aku jika membakar tempat ini" Aldrich menatap Egbert tajam. Jelas tidak ada kata bercanda dari nada suaranya.


"Lakukan saja jika kau berani"


"..."


"Tapi jangan harap kau dapat melihat mama mu lagi"


"Kau—" Tangan kecil Aldrich terkepal, meredam amarah yang menggebu.


"Mari kita bicara di taman belakang"


"..." Aldrich menggertak kan giginya, tak senang.


"Jangan keras kepala!" Ucap Egbert, yang masih cukup tenang menghadapi bocah didepannya itu, "Aku tidak bisa menurunkan mama mu sekarang. Kekacauan yang kau buat ini hanya akan melukainya. Aku yakin kau paling jelas akan betapa cerobohnya mama mu"


Annette ingin mengatakan sesuatu. Jelas ia tidak terima dirinya dikatakan ceroboh. Tapi terakhir, ia memilih untuk tidak berkata apa-apa.


Aldrich melihat ke lantai yang hampir setiap tempat sudah di penuhi pecahan kaca dan keramik. Ia pun berpikir, apa yang pria itu katakan benar. Ibunya yang ceroboh, bisa dengan mudah terluka karena kekacauan tempat ini. Dengan pemikiran tersebut, Aldrich menoleh pada Mikha, "Cepat bawa aku ke taman belakang!"


Mikha rasanya akan menangis, melihat betapa arogan dan otoriternya anak itu, "Baik"


Di taman belakang, Egbert akhirnya menurunkan Annette. Segera Annette berlari dan bertekuk lutut di tanah rerumput, untuk mendekap erat putra kecilnya.


"Putra ku, kau tau betapa khawatir nya mama tiga hari belakangan ini karena kau terus saja berbaring di ranjang dan tidak kunjung siuman.." Mengatakan itu, Annette menitikkan air matanya.


Aldrich tidak larut dalam suasana melankolis yang di bawa ibunya. Ia tau wanita itu mengkhawatirkan dirinya. Tapi dirinya lebih mengkhawatirkan wanita naif itu. Karena itulah ia tidak berlama-lama dalam pelukan erat ibunya. Ia perlahan keluar dari kedua tangan ibunya yang memeluk nya erat.


"Aldrich..?"


Annette yang lagi sedih-sedih nya, terus saja menjadi heran mendapati perilaku putranya tersebut. Tiba-tiba tangan kecil itu terulur kearahnya dan mata bulat besarnya yang menggemaskan, menatap setiap inci tubuhnya dengan sangat teliti.


Aldrich melihat ada dua titik hitam yang dalam, di tulang selangka ibunya. Tidak hanya di belahan kiri, kanan pun juga ada. Melihat ke lengan telanjang nya, karena gaun yang dikenakan ibunya berlengan pendek. Ia dapat melihat luka sobekan di salah satu lengan ibunya yang sudah mengering, dan menemukan dua titik hitam yang sama di sekitaran sikunya yang kurus. Sekali pandang saja, ia jelas tau bekas apa itu.


Matanya terus menggelap dengan aura membunuh.


Annette tidak pernah melihat penampilan putranya yang seperti itu, terang saja bergetar dan takut, "Aldrich?"


Aldrich tersadar. Merasakan ibunya yang mulai ketakutan karena ulahnya, Aldrich langsung menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum, "Ma, kau tidak perlu Khawatir. Lihat.." Tangan kecil itu memegang pundak Annette lembut, "Aku sudah berdiri di depan mu dan kau bisa lihat sendiri kalau aku sangat sehat"


Senyum bocah kecil itu langsung menstimulasi Annette untuk tersenyum penuh kelegaan, "Mama tau. Tapi tetap saja mama khawatir.."


"Baju mama sangat tipis dan di luar sini dingin. Mama masuk dulu dan kenakan sesuatu yang hangat" Ucap Aldrich, perawakannya yang sangat dewasa dalam melindungi ibunya, membuat hati Annette sangat tersentuh.


"Tidak dingin. Mama baik-baik saja dengan ini.."


"Maa.." Aldrich kecil menatap Annette dalam, "Patuh, ya?"


Annette terus saja tergelak. Kemudian ia tidak berdayanya mengangguk, "Baik, kalau begitu mama akan masuk dan kenakan sesuatu yang hangat seperti katamu" Ucap Annette, seraya mencuil gemas hidung Aldrich kecil yang mancung.


Egbert yang melihat betapa penurutnya Annette dalam kuasa putra nya sendiri, diam-diam menertawainya dalam hati.


'Kau sungguh membiarkan putra mu mengendalikan mu?'


Tepat ketika Annette sudah melangkah pergi, sejenak ia menyadari sesuatu.


'Apa tidak apa-apa membiarkan dua orang itu ditinggal berdua?'


......................