
"Saya tidak dapat melakukannya, karena itu diluar kemampuan saya"
Jawaban dokter Robbin tersebut, membuat sepasang alis Egbert bertaut tajam, "Maksud anda?"
"Kita membutuhkan salah seorang Master sihir untuk memeriksa anak itu lebih lanjut. Karena saya curiga, di samping tenaga dalamnya yang pecah, tapi ada faktor pemicu lainnya. Barangkali ini adalah reaksi sinkronisasi energi* yang gagal. Kondisi ini umumnya dimiliki oleh para pemilik anugrah* yang belum terdeteksi bakatnya"
Master sihir?
Di negri Merland, sebutan tersebut mengacu pada para vampir pemilik anugrah yang sudah mendapatkan gelar tingkat master dari akademi sihir. Itu adalah sekolah khusus bagi anak-anak vampir dengan kekuatan spesial.
Bulu mata Egbert yang lurus panjang, beberapa saat bergetar dengan informasi tersebut. Matanya sejenak menoleh pada bocah kecil yang sedang berbaring di atas ranjang, melihat tubuh kecilnya yang terkulai lemah dengan sepasang mata terpejam rapat.
"Butuh berapa lama hingga anak itu siuman?" Tanyanya kemudian.
Robert berjalan ke sisi ranjang. Meraih pergelangan tangan Aldrich dan merasakan denyut nadinya yang sangat lemah. Kemudian ia pergi memeriksa ke anggota tubuh lainnya. Menekan-nekan beberapa titik khusus di tubuh bocah itu, berusaha mendeteksi kembali luka bagian dalamnya yang terbilang cukup fatal.
"Paling cepat tiga hari dan paling lama seminggu, itu kembali lagi pada kemampuan pemulihan dirinya. Umumnya para murni, hanya membutuhkan sekitar sehari semalam untuk itu. Tapi dia campuran, proses pemulihannya tidak akan secepat yang golongan murni. Beruntung nya anak ini lebih di dominasi gen vampir nya, jika tidak, pasti dia sudah jatuh dalam kondisi kritis" Jelas Robert lebih lanjut.
Itu karena struktural tubuh manusia tidak mempunyai ketahanan khusus dalam menanggung energi yang besar. Terlebih energi khusus para pemilik anugrah yang dua kali lipat lebih besar dari tenaga dalam yang dimiliki vampir.
"Kalau begitu aku akan membawanya kembali ke negri manusia. Dapatkah anda ikut dengan saya untuk mengurus segala perawatannya nanti?"
"Seperti yang anda ketahui yang mulia, saya adalah dokter kepala di istana. Saya mungkin bisa pergi, tapi tidak dapat tinggal lama. Bagaimana?"
"Tidak masalah"
"Baiklah kalau begitu, saya akan bersiap-siap sekarang"
......................
Di kastil Annette masih menunggu cemas kembalinya Egbert hanya untuk tak tahan segera bertanya mengenai keadaan putranya. Tapi dari siang hingga malam menjelang, Annette datang melihat dari jendela kamarnya, membuang nafas resah mendapati pagar kasti yang masih tertutup rapat tanpa kehadiran seseorang.
Berjalan ke ranjang dan duduk, Annette mendengar ketukan pintu kamarnya.
"Ya?" Seru Annette lemah.
"Ini saya Zeta, nyonya. Saya datang untuk memberitahu anda kalau makan malam sudah siap" Ucap Zeta dari luar pintu. Di sana ia berdiri bersama Mikha dan kepala pelayan Mary. Yang ikut cemas dengannya karena sejak tadi siang Annette menolak makan.
"Saya tidak makan"
"Tapi nyonya—"
"Pergilah!"
Zeta membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu tapi kepala pelayan Mary sudah lebih dulu mencegahnya.
"Sudah, jangan memaksanya lagi. Siapkan saja nampan makanan dan antar kedalam kamarnya" Ia sudah pernah melayani Annette lima tahun yang lalu. Walau hanya sebentar, tapi ia cukup tau betapa keras kepala nya gadis itu.
"Baik kepala pelayan Mary" Zeta mengangguk dan menyikut Mikha untuk pergi bersama.
"Padahal aku ingin berbincang-bincang dengan nyonya, menanyakan banyak hal kemana saja ia pergi lima tahun belakangan ini" Ucap Mikha.
"Aku juga. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat"
"Um"
Di dalam kamar, Annette lagi-lagi bangun dari duduknya dan pergi ke jendela. Melongok kan wajahnya keluar, berharap pintu pagar di buka dan mobil hitam mewah Egbert berjalan masuk.
Namun lagi-lagi harapannya berakhir nihil.
Beberapa menit berlalu, lagi-lagi Annette mendengar pintu kamarnya di ketuk. Annette membuang nafas barat dan pergi membukanya hanya untuk berkata, "Aku sungguh tak lapar. Jadi jangan terus-terusan menyuruhku makan"
"Saya mengerti nyonya" Zeta melesat melewati celah dan berjalan masuk ke kamar Annette yang setelah cukup lama kosong kini kembali di tempati.
"Tapi kepala pelayan Mary menyuruh saya untuk mengantarkan ini ke kamar anda" Zeta meletakkan nampan makanan beserta segelas air di atas meja. Kemudian ia berbalik menghadap Annette, "Jadi Anda dapat langsung memakannya nanti ketika anda lapar" Ucapnya dengan senyum simpul di bibir.
Annette tidak mengucapkan apa-apa.
"Saya tidak akan menganggu waktu istirahat anda, jadi saya permisi" Zeta segera undur diri dengan membungkuk sopan dan pergi meninggalkan kamarnya.
Langkahnya kembali beranjak ke tepi jendela, kali ini matanya berkedip bahagia mendapati mobil hitam mengilap melewati pintu gerbang yang baru saja di buka.
"Akhirnya..." Segera Annette berlari pergi meninggalkan kamarnya. Derap langkahnya memecah setiap sudut kastil yang hening. Kakinya bergerak lebih cepat hingga ia mencapai ruang tamu dengan deru nafas tersengal-sengal.
"Bagaimana dengan Aldrich? Tanyanya pada Egbert yang baru saja melangkah ke ruang tamu dengan membawa Aldrich di tangan.
"Putra ku baik-baik saja kan?" Sejejak senyum sendu membingkai wajahnya yang seharian lesu karena mengkhawatirkan Aldrich.
"Dia baik-baik saja" Egbert berjalan melewati Annette. Di ikuti Robert di belakangnya yang ketika bertemu dengan wajah Annette, ia langsung teringat dengan pasien manusia pertamanya di lima tahun silam.
"Loh, kamu gadis manusia yang hamil anak yang mulia bukan?"
"Eum" Annette tidak senang dengan pria tua itu menyebut 'anak yang mulia'. Seakan-akan itu hanyalah anak Egbert, bukan anaknya sama sekali.
"Ah, jadi anak itu adalah anak kalian berdua"
"Ya" Kali ini Annette senang dengan ucapan pria tua itu, 'anak kalian berdua', karena memang tidak hanya anak Egbert, tapi itu juga anaknya.
"Jadi bagaimana keadaan putraku? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padanya?" Buru Annette, guratan kekhawatiran memenuhi wajah tirusnya yang cantik dan muda.
"Kondisinya lumayan serius, tapi anda tidak perlu khawatir karena saya sudah menangani nya. Beruntung tuan Egbert membawanya cepat kepada saya, atau kalau tidak, saya tidak tau akan seburuk apa kondisi anak itu"
"Ah, syukurlah" Annette mengelus dadanya, bernafas lega. Keputusan yang tepat membuatnya mengakui segalanya pada Egbert atau jika ia masih egois, mungkin putranya sungguh tak terselamatkan.
"Emm saya ingin bertanya. Apa putra anda sering menggunakan tenaga dalamnya?"
"Tenaga dalam?"
"Maksud saya adalah kelebihannya sebagai anak manusia setengah vampir. Seperti berlari secepat kilat, apakah dia sering menggunakannya?"
"Tidak" Annette bahkan tak tau jika Aldrich memiliki kemampuan tersebut.
"Ah pantas saja, itu berarti dia pertama kali mengunakan nya dan siapa yang menduga akan terjadinya—"
"Robert" Panggil Egbert.
Langsung menghentikan pria tua itu daripada berbicara pada Annette.
"Ya, yang mulia"
"Saya sudah meletakkannya di atas ranjang, langsung saja urus segala keperluannya"
"Baik"
Perginya Robert meninggalkan ruan tamu, langsung di susul oleh Annette. Tapi..
"Kau mau kemana?" Egbert datang menangkap pergelangan tangan Annette, menahannya di tempat.
"Aku ingin melihat Aldrich"
"Tidak" Tentang Egbert.
"Kau tidak berhak melarang ku. Dia anak ku dan aku ibunya. Jadi lepaskan!"
Annette menarik pergelangan tangannya tapi Egbert mengeratkan nya lebih erat.
"Egbert" Annette menggeram marah.
"Ikut dengan ku!"
......................
Istilah khusus dalam cerita ini
*Sinkronisasi energi: Keselarasan energi. Di mana ketika kedua energi dalam tubuh tersinkronisasi dengan baik.
*Pemilik anugrah: Sebutan bagi para vampir yang memperoleh keistimewaan khusus— bakat sihir bawaan lahir.