Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|87|. Sesuatu Yang Kau Inginkan Dariku?



Hati Annette bergetar dalam kebahagiaan. Jiwanya terguncang akan perasaan haru dan terenyuh yang mendalam. Segera ia membungkuk ke bawah dan mendekap hangat Aldrich ke kecil. Derai air matanya berjatuhan sambil berucap, "Terimakasih sayang..."


"Terimakasih"


Melihat pemandangan ibu dan anak didepannya itu yang saling mendekap penuh kasih, Egbert tidak ingin mengganggu mereka. Mengambil beberapa langkah mendekati pintu, ia pun keluar.


Setelahnya Annette menggendong Aldrich ke atas ranjang. Ia menidurkan putranya sambil membiarkan telunjuknya ke dalam mulut kecil itu untuk menghisap darahnya hingga tertidur pulas. Annette tersenyum melihat pergerakan mulut kecil Aldrich yang begitu lucu ketika menghisap jarinya dengan mata terpejam.


Berlalu nya detik dan menit, perlahan jari telunjuknya terdorong keluar dan putranya tak lagi menghisap. Terdengar hembusan nafas lirihnya yang mengalir tenang. Agaknya Aldrich sudah terbuai dalam alam mimpi. Annette membungkuk ke bawah untuk mengecup lembut pipi kecil Aldrich yang dingin. Kemudian ia pergi keluar dari kamar.


"Zeta" Annette memanggil Zeta yang kebetulan lewat di depannya sambil membawa kemoceng.


"Iya nyonya?" Zeta bertanya sopan.


"Apa kau tau tuan Egbert sekarang ada di mana?"


"Ah, sepertinya tuan ada di ruang kerjanya. Tadi saya melihatnya masuk ke sana ketika sedang membersihkan debu-debu di sayap barat" Ujar Zeta.


"Bisa kau beritahu aku dimana letak ruang kerjanya?" Annette tidak pernah pergi ke ruang kerja Egbert sebelumnya. Lima tahun lalu, di kastil ini ia hanya pernah menyentuh kamarnya, dapur, ruang makan, ruang depan dan taman.


Itulah kenapa ia tidak tau dimana letak ruang kerja Egbert.


"Ada di sayap barat. Anda hanya perlu berjalan lurus, tepat di pintu yang paling ujung, itu adalah ruang kerja tuan Egbert" Papar Zeta. Tangannya menunjuk kearah lorong seraya menjelaskannya kepada Annette, "Atau bagaimana jika saya langsung anta saja anda ke sana?" Tawar Zeta.


Annette dengan cepat menggeleng, "Ah, terimakasih. Tapi kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak ingin menunda pekerjaan mu" Ucap Annette, matanya melirik kearah kemoceng yang dipegang Zeta.


"Tidak sama sekali nyonya. Anda tidak perlu begitu sungkan dengan saya" Ucap Zeta dengan senyum tulusnya terukir jelas di bibir.


"Tidak masalah, aku akan menemukannya sendiri" Ucap Annette dengan senyum simpul, "Lanjutkan pekerjaan mu.."


Annette menepuk lembut pundak Zeta sebelum melangkah pergi.


Ia mengikuti instruksi Zeta mengambil jalan ke sayap kanan. Lalu berjalan menyusuri lorong hingga menemukan sebuah pintu yang terletak di ujung. Ketika berdiri didepan pintu tersebut, Annette tanpa ragu mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.


Di dalam sana, Egbert sedang mempelajari peta negeri Merland. Mendengar pintu ruang kerjanya di ketuk, suara dinginnya langsung terdengar memecah ruang yang hening, "Siapa?"


Di luar sana Annette menarik nafas dan meremas jari-jemarinya gugup, "Ini aku"


Egbert tentu saja tak lagi asing dengan suara itu.


"Masuk"


Berdiri di dekat lengan sofa, Annette bertanya lebih dulu, "Apa kau sibuk?"


Annette berpikir, jika Egbert cukup sibuk sekarang dengan urusannya. Maka ia akan membicarakannya nanti malam saja.


"Tidak" Egbert mengambil peta kertas yang terbentang di meja kerjanya dan menggulungnya dengan cepat. Setelahnya ia meletakkan saja gulungan itu di atas meja dan kemudian pergi mendatangi Annette.


"Ada apa?"


"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan mu"


Annette dapat merasakan kegugupannya ketika mengingat hal apa yang telah dilakukan Egbert tadi padanya. Itu membuat arah pandangnya menjadi kacau, sedikit tak menentu arah saat berbicara dengan pria vampir itu.


Mendengar itu, Egbert langsung berjalan ke sofa dan duduk dengan menyilang kakinya santai, "Duduk lah kalau begitu"


Annette menarik nafas dan menghelanya perlahan. Kemudian ia pergi duduk di sofa seperti yang Egbert katakan.


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"


Egbert terdengar seperti ingin percakapan mereka akan langsung ke poin.


"A-aku..."


Annette gagal mengontrol detak jantung nya yang berdetak tak begitu cepat dan denyut di ulu dadanya yang membuatnya merasa begitu lemas untuk duduk.


"B-bisa kau katakan apa maksud dari perlakuan mu tadi padaku"


Egbert menatap Annette dengan sepasang matanya yang mengerut dalam. Jelas ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Annette.


Lagi-lagi Annette menarik nafas dan menghelanya. Meremas jari-jemarinya, ia menekan segala rasa gugup dan cemasnya, dan berbicara, "Aku belajar dari lima tahun silam. Ketika mendapatkan perlakuan baik dari mu, itu pasti karena kau menginginkan sesuatu dari ku. Sekarang aku ingin bertanya padamu, apa ada sesuatu yang kau inginkan dariku?"


Annette tidak pernah melupakan momen romantis yang paling manis dalam hidupnya. Mendapatkan makan malam penuh romansa yang disiapkan oleh pria tampan khusus untuk dirinya. Jiwa muda dan naif nya, begitu saja telah mendorong dirinya jatuh ke dalam jurang cinta semu. Yang langsung berakhir tragis ketika ia mengetahui segala perlakuan dan perawatannya, hanya kepalsuan semata demi...


Annette memejamkan matanya, terlalu sulit mengingat nya lagi. Karena ingatan itu hadir bagai sebilah pisau tajam yang mengiris-ngiris hatinya— membuat luka itu kembali terbuka dengan sadisnya.


"Tidak ada"


"....?" Annette mengedipkan matanya dan terganga.


"Tidak ada apapun yang ku inginkan dari mu"