
"Berbaring di ranjang"
"Huh?"
"..." Egbert tak mengulangi ucapannya, hanya menatap tajam Annette.
Merasakan percikan es dingin dari sepasang mata didepannya itu, Annette terus saja berlari kearah ranjang dan pergi berbaring dengan tenang. Ternyata lima tahun sama sekali tidak merubahnya. Ketakutannya pada pria itu tetap lah sama.
Annette mengangkat pandangannya ke depan. Ia dapat melihat Egbert yang perlahan mendekati ranjang dan duduk di samping tempatnya berbaring. Kemudian ia mendapati lengannya di angkat dan pria vampir itu memandangnya lekat seakan itu sepotong sayap ayam yang lezat.
Glek!
Annette menelan saliva nya.
"Apa kau sungguh akan menggigit ku?" Tanyanya takut-takut.
"..." Egbert menoleh pada Annette yang bergetar gugup tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Tidak bisakah kita menggunakan beberapa tusukan jarum di jari?" Ucap Annette kemudian, setelah mendapati pria itu tidak menggubrisnya, "A-aku cukup takut membayangkan taring tajam mu akan mengoyak daging di tubuhku" Berkata demikian, Annette memasang tampang seakan ingin menangis.
"Tidak bisa" Egbert membelai lembut lengan panjang gadis itu yang kurus, "Rasanya akan berbeda jika aku tidak menggigit mu"
"B-berbeda apa? Bukannya yang terpenting kau menghisap darah ku?" Ujar Annette, tampak yang bola mata hitamnya bergertar risau.
"Kau benar" Ucap Egbert, dengan suara dinginnya yang khas, "Tapi aku ingin menggunakan taring ku untuk lebih menikmatinya"
"Tapi—"
"Gadis!" Gertak Egbert, mata hitamnya menyala merah dan itu cukup mencekam.
Membuat bibir Annette terkatup rapat.
"Itu tidak terserah padamu" Ujarnya.
Mata Annette seketika tertunduk ke bawah, terlihat sedih.
"Ingat posisi mu. Kau adalah pelayan darah ku. Sejak kapan seorang pelayan mengatur-atur tuannya?"
Annette diam-diam menggertak kan giginya. Ingin kesal, marah dan nangis bersamaan.
'Jika bukan karena ancaman mu, apa kau pikir aku bersedia menjadi pelayan darah mu?'
Ingin sekali Annette menyuarakan kekesalan dan pergolakan nya. Tapi terakhir, itu hanya tenggelam dan memupuk di dasar hatinya.
Egbert mengelus lembut lengan gadis itu yang putih mulus seperti kapas dan lembut seperti sutra. Kemudian ia mendekatkan mulutnya ke sana. Mendapati itu nafas Annette terus tertahan.
Egbert embuka mulutnya lebar-lebar, dengan mata yang menyala merah, sepasang taring tajamnya mencuat dan menancap ke daging tangan gadis itu yang kurus.
"Arghh" Sontak Annette menjerit sakit. Nyeri dari seonggok daging yang terkoyak, itu merambat ke seluruh saraf dalam tubuhnya hingga sepasang matanya berair menahan pedih.
"S-sakit..."
"Uhh.."
"Sakit sekali.."
Rintih Annette. Ia dapat melihat betapa ganasnya aktivitas Egbert yang menghisap darah segar di tangannya yang sudah merembes cairan merah begitu banyak. Lidah Egbert yang panas, tidak henti-hentinya menjilati sepanjang kulit nya, seakan tidak membiarkan setetes darah pun lolos dan bahkan menetes jatuh.
"Akhh" Setelah menjilati di sekitaran tangannya yang berlumuran darah, mulut Egbert kembali datang ke pusat di mana bekas koyakan daging yang masih basah berdarah. Tepat ketika bibir itu menghisap dan datang menyedotnya dalam.
"Shh.." Annette seketika memejamkan matanya, merintih dan mengetapkan bibir.
Pergerakan mulut Egbert yang memburu buas itu kian membuat Annette tak karuan akan sakit di deritanya. Alhasil kedua kakinya menghentak-hentak ranjang dan bibirnya yang bergetar bersuara memohon, "C-cukup.."
"Ku mohon cukup.."
"A-aku sungguh tak dapat menahannya lagi.."
"Shhh.."
Daging nya di sobek dan berdarah. Dengan luka terbuka seperti itu Egbert menghisapnya ganas dan liar. Sungguh rasa sakit yang tak tergambarkan.
Egbert hanya menganggap angin lalu lolongan dan rintihan kesakitan Annette. Mengabaikan gadis itu yang terus memohon nya untuk berhenti, ia hanya terus menghisap dan menghisap.
Itu adalah darah yang sudah lama ia cari dan idamkan. Rasa lezatnya cukup membuatnya candu sampai tak teringin berhenti.
Hingga sekitar sepuluh menit berlalu, entah berapa banyak darah Annette yang diminum oleh Egbert. Sehingga Annette merasa lemas dan pusing seakan pitam.
Setelah merasa kenyang dan puas, Egbert beranjak dari ranjang. Ia pergi ke kamar mandi untuk membilas bersih mulutnya yang belepotan dengan darah Annette.
Menatap pantulan wajahnya di cermin, sejejak senyum puas muncul di bibir, "Jika terus seperti ini, aku tidak butuh lagi darah hewani" Ucapnya sambil mengelap permukaan mulutnya yang basah dengan sapu tangan yang kemudian ia simpan kedalam saku celananya.
Beranjak keluar dari kamar mandi, Egbert melihat Annette yang terkulai lemah di ranjang. Gadis manusia itu masih merintih sakit dengan sepasang mata sembab yang terus beruraian air mata. Hingga tatapannya jatuh keatas luka di tangan Annette yang masih terbuka dan basah.
Egbert pun mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Luke untuk datang dengan membawa kotak pertolongan pertama.
Sekitar lima menit Egbert menunggu, ia mendapati ruangannya di ketuk.
"Masuk" Serunya.
Luke membuka pintu dan melihat ruangan yang kosong.
"Aku di dalam sini"
Luke pun terus beranjak ke kamar yang ada di ruangan tersebut dan melihat Egbert yang sedang duduk santai di atas sofa sambil menyilang kan kaki.
"Obati lukanya!" Egbert mengangkat kepalanya kearah Annette yang masih mengeluh sakit dengan hujanan air mata.
"K-kau sungguh menjadi kan nya pelayan darah mu?" Luke terang saja ter-pelongo melihat seonggok daging di tangan Annette yang terkoyak karena sobekan taring.
Egbert hanya mengangguk kan kepalanya acuh sebagai jawaban.
Luke pergi mendatangi ranjang dan duduk di pinggir untuk mengobati luka di tangan Annette, "Kenapa taring mu ganas sekali? Seharusnya kau tak perlu sampai menyobeknya" Ucap Luke yang mengangkat tangan Annette dan menatap ngeri luka sobekan itu.
Sekalipun Egbert adalah atasannya, tapi mereka kerapkali bercengkrama santai dan informal.
"Aku melihatnya di perfilman vampir, setelah menggigit, paling mereka hanya meninggalkan dua titik hitam sebagai bekas gigitan taring, tapi ini..."
Alih-alih dua titik hitam, itu hanya koyakan besar yang menampakkan daging di bawah kulit.
"Aku hanya sedikit ingin menikmati sensasi, seperti menyobek sepotong daging sayap ayam"
"Tapi dia manusia, bukan ayam"
"Aku tau, lalu apa yang salah dengan itu?" Ucap Egbert dengan tak berperasaan nya, "Dia telah menyepakati nya, jadi sudah kewajibannya menanggung segala konsekuensi dari perlakuan dan tindakan ku"
Saat mendengar itu, ingin sekali Annette berteriak mengatakan...
'Menyepakati apa?'
'Jelas-jelas kau yang memaksa ku hingga ke jalan buntu'
'Membuat ku tak punya pilihan selain menerimanya'
Tapi itu tertelan begitu saja.
"Hah" Luke menghela nafas berat, tidak tau ingin berujar apa lagi. Ia hanya pergi membersihkan luka Annette dengan kapas dan membalutnya dengan kain kasa.
"Gadis yang malang, tak seharusnya kau sekeras ini demi mencari uang" Ucapnya.
Bibir Annette terbungkam rapat. Walau ingin sekali ia membantah itu. Tapi rasanya percuma. Itu juga tak akan mengubah apapun.
"Ini bayaran mu" Egbert meletakkan satu amplop tebal di atas sofa dan kemudian ia bangun berdiri, "Besok aku menantikan darah lezat mu lagi"
......................