Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|26|. Tidak Perlu Khawatir



Sean sudah membawa Annette ke kastil. Di sana Annette langsung mendapatkan pemeriksaan dari Robbin. Sedang Sean dan Egbert berdiri di luar kamar menunggu.


"Bagaimana dia bisa pingsan?" Tanya Egbert pada Sean.


"Entahlah. Pertama dia permisi ke toilet dan saat dia kembali, tidak tahunya dia pingsan tepat baru saja setelah membuka pintu" Jelas Sean. Sepintas masih teringat di pikirannya bagaimana pucatnya bibir Annette dan betapa ringan tubuh gadis itu ketika ia menggendong nya.


"Apa kau tidak memberinya makan?" Tanya Sean pada Egbert memberikan tatapan curiganya, "Tubuhnya seringan kapas ketika ku angkat, apa selama ini kau menindas istrimu sendiri?"


Egbert hanya menghela nafas ringan mendengar pertanyaan yang di ajukan Sean. Itu lebih seperti imajinasi liar pria itu yang membuat Egbert terlalu malas meladeninya.


Melihat Egbert yang diam saja, Sean membulatkan matanya tak percaya, "Serius? Kau melakukannya?"


"..."


"Woah, apa kau tidak tau gadis itu sedang mengandung? Kau seharusnya lebih memperhatikannya bukan—" Kata-kata Sean selanjutnya terhenti saat pintu terbuka dan Robbin berjalan keluar.


Egbert sama sekali tidak terlihat cemas ataupun merisaukan keadaan Annette. Satu-satunya di pikirannya adalah bagaimana cara agar gadis itu tetap bertahan mengandung benihnya.


"Apa kondisi kandungnya aman?" Itulah pertanyaan yang di ajukan Egbert, alih-alih bertanya mengenai istrinya.


Robbin merasa kasihan dalam hati untuk Annette. Pria dingin ini bahkan sama sekali tidak menyukainya, tapi gadis muda itu harus berjuang keras mengandung benihnya, "Sejauh ini aman. Namun tidak dengan kondisi ibunya" Ucap Robbin yang tampak jelas raut wajahnya khawatir.


"Ini belum sampai seminggu tapi sudah membuktikan spekulasi saya benar. Istri anda mengalami anemia dan perutnya kini kian membesar dari yang semalam. Ini jelas membuktikan kalau bayi yang dikandungnya mengkonsumsi darahnya sampai dalam jumlah yang tak terprediksi kan. Jika hal ini terus terjadi, bukan tak mungkin istri anda akan mati karena kehabisan darah"


Egbert mengulum rapat bibirnya, diam dan berpikir. Jika Annette mati lebih awal, tak menutup kemungkinan anaknya juga akan ikut mati bersama gadis itu. Ia sudah sangat terdesak dengan wacana memiliki keturunan dan hal ini tidak boleh rusak begitu saja karena hal sepele seperti kematian gadis manusia itu yang nyaris hampir dalam beberapa tahap lagi akan segera melahirkan anaknya.


"Apa ada cara untuk mengatasi hal tersebut?" Tanyanya kemudian.


"Di dunia manusia ada obat khusus penambah darah. Mungkin kita dapat mencobanya dengan itu"


Egbert mengangguk dengan penuh kelegaan mendengar itu, "Lalu untuk makanannya bagaimana? Dia masih terus memuntahkan apa yang telah dimakannya"


"Saya rasa tidak mungkin menyuruh gadis manusia itu mengkonsumsi darah hewan seperti kita. Karena itu tidak akan berarti apa-apa bagi tubuh manusianya. Jadi setelah saya pikirkan, bagaimana jika kita menggunakan cairan infus dalam beberapa hari ke depan?" Robbin telah memikirkan cara itu semalaman penuh. Sepertinya hanya itu satu-satunya cara yang dapat dilakukan.


"Kalau begitu saya akan menyuruh Mary untuk menyiapkan semuanya. Obat penambah darah dan cairan infus"


Annette beberapa saat mengerjap dan kelopak matanya perlahan terangkat. Sekumpulan cahaya matahari yang menembus jendela, itu jatuh tepat ketika ia membuka mata. Membuat Annette mengangkat tangannya, menghalau sinar itu karena silau.


"Kenapa aku bisa berbaring di sini?" Annette ingat terakhir kali ia di dalam kelas dosen Sean. Permisi ke toilet karena muntahnya kambuh dan kemudian kembali...


Setelah itu Annette tidak mengingat apa-apa lagi. Mengerutkan keningnya, Annette berpikir keras, 'Apa aku pingsan?'


"Kau sudah siuman"


Annette menoleh pada asal suara. Melihat Egbert yang berjalan melewati ranjang dan pergi duduk tepat di sampingnya berbaring.


"Apa aku tadi pingsan?"


"Eum"


"Berapa lama?"


"Tenang saja, belum sampai sehari"


Jawaban itu membuat Annette tersenyum kecil. Sangat jarang melihat Egbert datang dengan sedikit lelucon sekalipun itu terdengar cukup kaku.


Perhatian kecil itu membuat hati Annette bergetar manis, sekalipun wajah Egbert terlihat begitu datar tanpa ekspresi ketika melakukannya.


"Perut ku—" Annette tiba-tiba tersentak kaget melihat perutnya yang membesar begitu pesat dari semalam yang hanya sebatas buncit kecil. Pantas saja ia merasa sedikit berat ketika mengangkat pinggulnya.


"Dia berkembang lebih cepat karena begitu banyak mengkonsumsi darah mu" Egbert mendarat kan tangannya di perut Annette, mengelusnya lembut.


Saat itu Annette langsung gagal mengendalikan detak jantungnya, "Kalau begitu, tidak butuh waktu lama bagiku mengandung anak ini?"


"Eum" Angguk Egbert, menatap tepat kearah Annette datar namun dalam, "Jadi kau harus bertahan sampai saat itu"


Egbert tak lagi mengelus perut besar Annette, kini tangannya mendarat di belahan pipi Annette yang tirus dan mengelusnya lembut dengan punggung jarinya.


"Kau tidak boleh mati. Kau harus tetap hidup dan lahir kan anak ini.."


Mata hitam Annette bergertar melihat jari-jemari Egbert yang kini menari kecil di permukaan wajahnya.


"Jadi bertahan lah!"


Bertahanlah sampai anak itu lahir dan setelahnya...


Terserah kau mau mati atau apa,


Aku tak akan peduli!


Kata-kata itu tentunya tidak Egbert ungkap kan melainkan hanya tersangkut di tenggorokan dan kemudian berakhir di hatinya saja.


Annette menangkap tangan Egbert yang menyentuh wajahnya itu dan membuat telapak tangan dingin itu melekap di pipinya, "Aku pasti akan bertahan" Ucapnya, "Jadi kau tidak perlu khawatir"


Khawatir?


Egbert nyaris hampir tertawa mendengar kata konyol itu. Benar apa yang Sean katakan, mereka gadis manusia sangatlah rentan dan rapuh. Padahal sedikit saja perhatian yang ia berikan, tapi gadis itu sudah mengambang tinggi ke awan.


"Bagus lah" Bibir Egbert membentuk senyum lebar yang di paksakan. Ia berpikir tidak perlu meluruskan kesalahpahaman ini. Selama gadis itu berpikir positif untuk tetap bertahan, maka gelas itu akan di pastikan tetap...


Aman.


Mary baru saja kembali dan membawa semua pesanan Egbert. Sekotak obat penambah darah dan beberapa stok cairan infus. Ia pun mendatangi kamar Annette dan melihat sepasang suami-istri itu tampak sedang memadu kasih dalam kesunyian.


Ia dapat melihat senyum di dasar mata Annette yang tampak begitu kentara dan tatapan acuh tak acuh Egbert dengan seulas senyum samar di permukaan bibirnya.


"Tuan"


Panggilan itu menyentak dua orang itu dari aksi pandang-memandang. Annette langsung bersikap canggung, menepis tangan Egbert dari wajahnya dan kemudian ia pergi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Egbert tetap tenang dan seolah tak terganggu dengan hal tersebut. Ia bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Mary, "Kau sudah membeli semua barang yang ku pinta"


"Sudah tuan"


"Kalau begitu panggil dokter Robbin kemari untuk segera menyiapkannya"


"Baik tuan"


......................