
Wewangian mawar itu begitu menyengat. Sekujur tubuh Egbert tanpa sadar menggigil, saat merasakan jari-jari wanita itu yang menari-nari nakal di sepanjang tulang selangka nya. Sentuhannya begitu halus, alih-alih menyalakan api dalam dirinya. Itu lebih seperti alarm berbahaya, yang mengingatkan nya pada malam di mana tangan tirus yang cantik itu pergi mencekal erat lehernya.
"Pangeran ku.." Emma mengelusi leher Egbert dan menidurkan kepalanya dengan manja di atas dadanya yang keras.
"Aku rindu bercinta dengan mu"
Jari-jemari Egbert menggali jauh kedalam seprai dan meremasnya dalam.
"Bangunlah dan layani aku seperti dulu"
Sepasang mata Egbert akhirnya terbuntang lebar. Itu menyala merah dengan kebekuan yang tak tergambar kan. Ia nyaris kehilangan akal sehatnya, saat merasakan tangan Emma menguasai lehernya dengan belaian lembut nan mematikan. Itu membuatnya terjerat dalam bayang-bayang masa lalu dan...
"Ukh.." Refleks Egbert memegang lehernya dan menepis kasar tangan Emma.
Sontak Emma terkejut. Ia sama sekali tidak tau kapan Egbert bangun, "Sayang, kau kenapa?"
Otot wajah Egbert mengeras. Ia ingin menekan segala reaksinya yang dapat menjadi titik kelemahannya yang nyata di hadapan Emma. Tapi dorongan alam bawah sadarnya lebih kuat. Itu membuatnya begitu tak berdaya melawannya. Menjadi marah dan kehilangan kendali, ia meraih pinggang Emma yang nyaris setipis kertas dan tanpa berpikir dua kali. Ia pergi melemparnya ke lantai.
Bruk!
Emma terlempar begitu menyedihkan dari ranjang ke lantai. Tubuhnya terbanting cukup keras dan ia dapat merasakan beberapa tulangnya yang sepertinya patah, "Aakh.." Beberapa saat kepalanya terasa pusing, matanya terpejam pedih itu perlahan menitikkan air mata. Mulutnya yang terbuka, mendesis kesakitan.
Sial!
Berani-beraninya dia melempar ku dari ranjang.
Aduh, tubuh ku..
Di samping Emma yang menangis kesakitan dan mengumpat marah Egbert dalam hatinya.
Egbert yang masih dalam keadaan kekacauan itu, pergi turun dari ranjang dan berlari pergi meninggalkan kamarnya. Ia berlari dari lorong yang hening sembari memegang dadanya yang berdenyut sakit. Deru nafasnya terdengar berat dan ia merasakan seperti ada sesuatu yang melilit lehernya. Itu membuat merasa seperti tercekik nyaris mati.
Langkah kakinya yang berlari menuruni anak tangga, terlihat sangat kacau dan ceroboh. Seakan sedikit saja kesalahan, ia akan jatuh dan berguling-guling ke bawah dengan menyedihkan. Beruntung nya Egbert menginjak lantai bawah dengan selamat.
Egbert langsung berlari menuju kamar Annette dan mengetuk-ngetuk nya keras.
"Huk.." Perasaan mencekik itu kian menjadi-jadi.
Tok..tok..tok..
"Huk.."
"An-nette"
Tokk..tok..
"Huk, b-buka pintu nya"
Annette yang tengah terbuai dalam mimpi, mau tidak mau terjaga karena keributan kecil itu. Mengerutkan keningnya, perlahan kelopak matanya terbuka. Suara ketukan pintu terdengar semakin jelas memecah keheningan. Ketukan itu awalnya cukup keras, tapi perlahan menjadi lemah seperti seseorang yang mengetuknya mulai kehabisan tenaga.
Tok..tok..
"Siapa?" Annette mengeluarkan suara serak khas baru bangun tidurnya, bertanya.
Tapi hanya ketukan dari pintu yang menjawab.
Tok..tok...
Kesal karena tidurnya diganggu, Annette membuka selimut dan pergi turun dari ranjang. Pergi menekan saklar lampu, kamarnya yang gelap pun menjadi terang.
Annette berjalan mendekati pintu dengan rambut coklat panjangnya yang berantakan. Membuka pintu, mata Annette yang mengantuk, itu mengerut saat mendapati Egbert berdiri di hadapan dengan jubah tidur hitamnya yang terdedah di bagian atas. Itu membuat Annette dapat melihat dengan jelas petak-petak menawan di dada Egbert yang cukup menggoda mata.
"Ada apa kau malam-malam ke—"
Belum selesai Annette berbicara, tubuh Egbert jatuh menghantam tubuh kurusnya. Sebelum jatuh, cepat-cepat Annette memegang pintu untuk tetap berdiri sambil menahan beban tubuh Egbert yang lumayan berat, "Egbert, bangun lah!"
"Huk.."
Gerakan Annette yang mendorong itu, berhenti saat mendengar suara tercekik dari mulut Egbert. Detik itu pula ia langsung menangkap keganjilan dari pria itu.
"Egbert, ada apa dengan mu?"
"Haa.." Egbert terdengar kesulitan bernafas. Mulutnya yang terbuka itu lagi-lagi mengeluarkan suara seperti sedang di cekik.
Annette langsung menarik Egbert kedalam dan menutup pintu. Kemudian ia menyeret langkah beratnya mendekati ranjang dan membaringkan Egbert di sana. Alangkah terkejutnya Annette mendapati pelipis Egbert yang sudah dipenuhi keringat dingin. Wajah tampannya yang biasanya menawan dalam kulit putih pucat nya yang dingin, itu terlihat memerah menahan kesakitan.
Annette bertanya dengan cemas, "Egbert, katakan padaku kau sebenarnya kenapa?"
Mata Egbert melirik lemah Annette. Tenggorokannya terasa sangat sakit. Padahal jelas tidak ada siapapun yang mencekiknya. Tapi bayang-bayang masa lalu itu datang seperti nyata, membawa penderitaan itu lagi padanya.
"S-sakit.."
"Tenggorokan ku sakit.." Desisnya, sangat lemah.
"S-sakit? Tenggorokan mu sakit. Kenapa itu bisa sakit?" Annette terlihat linglung. Ia tidak pernah menemukan Egbert dalam keadaan kacau dan menyedihkan seperti ini. Selalunya dia terlihat kuat dan arogan. Tapi seperti ini, sungguh itu merupakan sesuatu yang baru.
"Huk.." Egbert memegang lehernya dan matanya terlihat berair kesakitan, "Cekik..l-leher ku dicekik.."
"Cekik? Leher mu di cekik? Siapa yang mencekik mu?"
"Hukk" Egbert memegang lehernya. Perasaan mencekik itu semakin menjadi-jadi. Matanya yang mendelik ke atas, spontan membuat Annette panik.
"Tidak Egbert..." Annette langsung menarik tangan Egbert menjauh dari leher nya. Kemudian ia mengelus lembut leher itu dan suaranya terdengar bergetar saat berucap, "Tidak, tidak ada yang mencekik mu.. lihat, leher mu baik-baik saja.." Annette dapat melihat tidak ada bekas merah di sekujur leher Egbert, itu menandakan bahwa tak ada tangan yang baru saja mencekiknya.
Tapi kenapa Egbert bisa bereaksi seperti itu?
"Huk.."
"Hey, Egbert lihat aku, eum?" Annette menangkup kedua belah pipi Egbert yang dingin dengan tangannya, "Tidak ada yang mencekik mu, sekarang kau baik-baik saja dengan ku.." Bola mata hitam Annette yang bergetar, itu menatap dalam ke dasar mata Egbert yang seperti kehilangan kewarasan nya.
"Huk.."
Bukannya menjadi tenang, Egbert masih saja mengeluarkan suara nya yang seperti sedang dicekik. Itu terdengar menyedihkan dan penuh ketidakberdayaan. Annette tidak tau harus menyadarkan nya seperti apa. Sampai pada akhirnya...
Ragu-ragu Annette mendarat kan bibirnya ke mulut Egbert dan memberi pria itu ciumannya yang paling lembut. Sejenak Annette memejamkan matanya, saat menggiring bibir Egbert dalam ciumannya yang pelan dan pelan. Itu tidak menggebu, tapi kecupan demi kecupan itu terjalin dalam penuh kehati-hatian. Seakan Annette ingin menenangkan Egbert melalui ciuman lembutnya yang dalam.
Tak berapa lama kemudian, Annette menarik jauh bibirnya, berhenti mencium. Membuka matanya perlahan, ia melirik pada Egbert yang tak lagi kesakitan seperti tadi. Kondisinya terlihat sudah agak baikan. Wajahnya tak lagi memerah, itu terlihat kembali normal dengan putih pucat nya yang mencuat.
"Akhirnya, kau sudah tenang sekarang.." Mata Annette melebar dengan senyumannya yang teduh.
Itu mendamaikan dan menentramkan.
Tak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang hampir mencekik Egbert mati. Otak dan pikirannya, hanya dipenuhi dengan jejak ciuman lembut Annette yang murni dan senyuman teduhnya yang penuh arti.
Pikiran Egbert masih agak kosong setelah kekacauan nya tadi. Mulutnya tidak mengucapkan sepatah katapun. Setelah menatap Annette lama, ia pergi menidurkan kepalanya di dalam ceruk leher Annette. Aroma manis susu vanila dari kulit Annette yang halus, datang menyeruak masuk kedalam hidung nya. Membuatnya merasa mengantuk dan tertidur.
Annette menghela nafas lega. Walau ia masih belum sepenuhnya mengerti akan apa yang terjadi, tapi sekarang ia dapat tenang melihat Egbert yang kini sudah tertidur pulas.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Apa dia bermimpi buruk hingga tidur sambil berjalan?"
Annette menurunkan tatapannya ke bawah, menatap pada wajah Egbert yang tertidur dengan polosnya. Egbert tampak terkulai begitu nyaman di atas tulang selangka nya. Ia dapat merasakan hembusan nafas Egbert yang mengalir begitu tenang dan pergerakan dadanya yang naik turun seiring tarikan nafasnya yang stabil.
Tatapan Annette begitu saja melembut dan tangannya mengusap halus rambut kepala Egbert, "Haa, kau benar-benar membuatku panik malam ini"
......................