Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|120|. Jangan Berpikiran Kotor!



Sangat berbeda dengan suasana di kastil, orang-orang di istana bulan merah keseluruhan nya kaku dan dingin. Mereka lebih banyak diam dan menghindari gosip. Paling tidak mereka berbicara banyak saat berkumpul di suatu tempat. Jauh berbeda dengan para pelayan kastil yang hampir gemar berbincang di manapun tempat.


Bukan hanya itu, para pelayan di istana itu kerapkali kali menjauh dan pergi pada saat bertemu atau bersebrangan dengan Egbert. Seperti sekarang ini, Egbert membawa Annette ke ruang makan. Setelah melayani segala keperluan. Meletakkan piring dan gelas, para pelayan segera mengambil posisi menjauh dari sana.


Annette tidak bisa membantu, mendapati dirinya gugup dalam kekakuan tempat itu yang jauh dari suasana cerah bersahabat. Annette nyaris berpikir, apakah para vampir memang kebanyakan nya tidak suka berbicara seperti yang digambarkan dalam dunia perfilman? Mereka umumnya terasing, cuek dan apatis.


"Duduk" Egbert menarik kursi dan mempersilahkan Annette duduk.


Egbert mengangkat tutup hidangan, "Ini daging sapi bakar buatan ku. Tidak seperti di kastil, para pelayan di sini tidak tau cara mengolah makanan manusia. Kediaman ini juga tidak memiliki dapur untuk melakukannya"


Annette menarik piring mendekat dan mencium aromanya. Itu benar-benar seperti daging bakar dengan asap, sedikitpun tak ada baluran bumbu di atasnya, "Jadi kau memanggang ini di mana?"


"Di luar. Itu mungkin sedikit bau asap dan tidak ada taburan bumbu khusus karena di sini tidak memproduksi rempah-rempah selengkap di negri mu"


Annette mengambil garpu dan pisau mulai memotong daging bakar tersebut, mengangguk ringan, "Aku mengerti. Terimakasih karena sudah bersusah payah menyiapkan nya untukku"


Egbert membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Annette. Membuat Annette yang baru saja akan menyantap segarpu daging, menundanya, "Apa yang kau lakukan?"


"Kau tidak melakukan apa-apa sebagai bentuk ucapan terimakasih mu padaku?"


Annette mengedipkan matanya, "Maksudmu?"


"Bukannya kalian para manusia sering mencium kekasih kalian sebagai bentuk ucapan terimakasih?"


Annette terbatuk-batuk. Keningnya berkerut, ia dapat merasakan perubahan sikap Egbert yang lumayan berbeda dari biasanya.


"Jadi kau ingin aku melakukannya?" Pipi Annette bersemu merah saat bertanya.


"Em"


Annette mengangkat kepalanya dan mencium pipi Egbert cepat. Mata Egbert tersenyum merasakan sapuan bibir Annette pada belahan pipinya. Ia berdiri tegap kembali dan berdehem, "Kalau begitu selamat makan"


Belinda berdiri di sebalik dinding, memperhatikan interaksi antara dua orang itu. Ia dapat melihat senyum lembut di mata Egbert yang menyiratkan perasaan terkhusus pada gadis manusia itu. Sikap Annette yang begitu malu-malu, itu terlihat murni dan tulus, "Ku harap gadis manusia itu, tidak bermuka dua seperti wanita jal*ng itu" Memikirkan Emma, senyum dingin melintasi mata tuanya yang menyimpan rasa sakit untuk Egbert.


Aldrich baru saja menghabiskan segelas darah kelinci yang di bawakan seorang pelayan ke kamarnya. Kalau boleh jujur, ia suka dengan suasana di tempat itu. Diam dan hening. Sekalinya ia berkata tidak, pelayan itu akan terus mundur dengan sopan. Tidak seperti para pelayan di kastil yang sangat gigih dan keras kepala meski ia sudah sangat keras menolak.


"Kenapa gatal-gatal di tubuhku semakin menjadi-jadi?" Aldrich meletakkan gelas di meja dan menggaruk lengan dan tengkuk nya. Sejenak ia membuka mulutnya lebar saat menguap.


Seharian ini ia cukup lelah. Energinya terkuras habis saat membuat kekacauan di kastil dan mencakar ganas Sean. Membaringkan tubuhnya ke ranjang yang sangat nyaman, secepatnya Aldrich jatuh tertidur.


Annette sudah selesai makan dan pergi berendam di dalam bathtub. Dua orang pelayan datang meneteskan minyak esensial, sebelum itu, Annette mencegahnya, "Kalau boleh aku tau, aroma apa itu?"


"Ini adalah minyak esensial dari ekstraksi mawar merah hutan"


"Apa kalian memiliki yang campuran Cherry dan susu?" Annette ingat terakhir kali Egbert menyinggungnya. Egbert mengatakan aroma tubuhnya akan lebih cocok dengan perpaduan aroma itu. Menjadikannya lebih manis dan muda.


"Maaf, kami tidak memiliki persediaan aroma tersebut. Bagaimana dengan aroma bunga vanili dan susu?"


Vanili dan susu? Itu gabungan yang sangat bagus.


"Baik"


Mereka menuangkan aroma bunga vanili dan susu kedalam air. Setelah bertanya, "Apa anda ingin kami bantu?"


"Tidak perlu, kalian bisa pergi"


"Baik"


Annette mandi dan berendam sekitar dua puluh menit dan membilas tubuhnya. Bangun dari bathtub, ia mengambil handuk putih yang diletakkan pelayan dan membungkus tubuhnya dengan itu. Sesudahnya ia pergi keluar.


Bersamaan dengan itu Egbert baru saja kembali dari pemandian istimewanya. Melangkah ke dalam kamar, ia langsung di sambut dengan kaki telanjang Annette yang basah. Tubuh kurusnya hanya terbungkus dalam handuk putih sebatas paha. Membiarkan betis mulusnya terpampang jelas.


Mengangkat pandangannya ke atas, Egbert dapat melihat lekukan klavikula nya yang indah hingga ke garis bawahnya yang menuju kepada keindahan tersembunyi. Itu membuat jakunnya bergerak naik. Egbert merasa ingin bergegas maju dan menarik handuk tersebut dari tubuh Annette. Membiarkan wanita itu berdiri telanjang di bawah sinar perak rembulan yang menembus dari kaca jendela.


Seperti dapat membaca pikirannya, Annette langsung menyilang kan kedua tangannya di depan dada, "Jangan berpikiran kotor!"


Egbert tertawa.


"Apa yang salah?"


Annette memberengut masih dalam sikap defensif nya.


Egbert tersenyum nakal, "Aku berfantasi liar pada tubuh istriku sendiri. Bukannya wanita lain, jadi ada apa dengan wajah cemberut mu itu?"


Annette tidak bisa membantu, wajah nya memerah hingga ke daun telinga, "Mes*m!"


Egbert membelalak kan matanya, "Apa katamu? Mes*um?"


Egbert menggunakan kekuatan istimewa ras vampir, berlari cepat ke belakang tubuh Annette dan memeluknya dari belakang, "Biar saja. Aku hanya akan menjadi mes*m untukmu seorang istriku"


Spontan saja Annette terkejut. Cepat-cepat ia menahan kuat handuknya agar tidak jatuh. Mendengar kata 'istriku' keluar dari mulut Egbert. Wajah Annette memanas, "Egbert, lepas! Aku belum berpakaian"


Annette begitu gugup. Tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya selain handuk. Egbert memeluknya seperti ini, ia takut pria itu akan menjadi nakal dan membawanya dalam aktivitas malam yang panas.


"Selimut di ranjang cukup tebal, mari kita tidur saja dengan itu malam ini" Egbert berbisik di telinga Annette.


Menggigit bibir bawahnya, Annette tentu menyadari isyarat halus dari permintaannya, "Tidak bisa. Aku sangat lelah. Beberapa bagian dari tubuhku bahkan terasa pegal, mungkin karena perjalanan tadi"


Melihat permohonan dari matanya. Egbert tidak bisa membantu, hanya merasa iba dengan bola mata besarnya yang bagai berkaca-kaca dalam pandangannya. Egbert melepaskan pelukannya.


Annette bernafas lega. Walau situasi itu sedikit aneh. Biasanya Egbert pasti akan memaksanya hingga ia menyerah dan menuruti kemauannya. Tapi ini...


Mungkinkah Egbert mulai menumbuhkan rasa pengertian dalam dirinya?


"Di sini tidak ada persediaan pakaian wanita, jadi malam ini kenakan saja jubah tidurku"


Egbert menyerahkan jubah tidur bewarna hitamnya pada Annette.