
Hari-hari berlalu begitu saja. Annette hanya menerima pasrah dirinya terikat di ranjang dan berbaring seharian dengan perasaan bosan. Mandi pagi dan sore selalu dalam perawatan pelayan. Begitupun tiga waktu makannya, itu akan selalu menjadi Zeta dan Mikha yang menyuapinya.
Di samping itu, Egbert selalu rutin datang menghisap darahnya. Hingga meninggalkan bekas gigitan yang lumayan banyak di setiap bagian tubuhnya. Dari pundak, selangka, lengan, dan paha— kini kulit putih bersihnya yang mulus, sudah penuh dengan jejak taring Egbert. Itu adalah dua bulatan titik hitam yang membiru.
Satu-satunya yang membuat Annette bersyukur, itu adalah fakta bahwa dirinya tidak terkena anemia. Padahal entah berapa banyak darah dalam tubuhnya yang sudah di konsumsi Egbert.
Sedangkan hal yang paling menyebalkan adalah, di mana ia harus rutin meminum obat penambah darah dan di paksa mengkonsumsi sayur-sayuran hijau yang memiliki manfaat tinggi penambah zat besi, hampir di setiap jam makannya. Annette nyaris menjadi vegetarian berkat itu.
"Ini sudah hari ketiga, tidak bisakah aku melihat putraku?" Ucap Annette.
Di sampingnya duduk Egbert yang sedang membaca buku. Itu cukup tebal dan Annette sama sekali tidak penasaran tentang apa itu.
"Tidak" Egbert membalikkan halaman buku, "Tunggu dia sadar, baru kau pergi melihatnya"
"Tapi—"
"Tidak ada ruang negosiasi, patuhi saja perkataan ku"
"Huh!" Annette menggerutu dan membuang pandangan ke jendela.
'Dasar vampir bau!'
'Dari sejuta vampir tampan yang ada, kenapa aku harus ditakdirkan dengan jenis apatis seperti mu'
Annette hanya dapat mengeluh dalam diam.
'Sebentar!'
'Apa jangan-jangan semua karakter vampir memang begitu?'
'Dingin, tak berperasaan, ...'
"Aku haus" Egbert menutup buku di tangannya.
Monolog Annette dalam hati seketika berhenti.
Ucapan Egbert 'aku haus' itu bagaikan alarm yang langsung mengirimkan suatu sinyal ke otaknya. Menginformasikan sebuah pesan yang langsung membuat sepasang alis Annette menjepit tertekan.
"Kali ini kau ingin menggigit di mana lagi? Sekujur tubuh ku sudah penuh dengan bekas taring tajam mu. Tidak bisakah kau untuk mengkonsumsi darah hewani saja macam biasa?"
Kini Annette berada dalam status ganda. Pelayan darah sekaligus istri Egbert. Jadi, itu membuat Annette tidak lagi memikirkan kesopanan saat berbicara dengan Egbert menggunakan bahasa formalitas seperti 'saya-anda'.
"Bisa" Egbert meletakkan buku itu di atas meja samping ranjang. Kemudian ia bertopang kepalanya dengan telapak tangan kanannya, wajahnya menghadap Annette.
"Baguslah kalau begitu, akhirnya aku mendapatkan sedikit sisi empat—"
"Tapi aku tidak mau"
"..." Rahang Annette terjatuh, ekspresi suram di wajah cantiknya seakan teringin mencabik-cabik vampir satu itu.
"Darah mu terlalu lezat" Egbert menarik helaian rambut Annette dan memainkannya di bibir, "Tidak ada darah hewani manapun yang dapat menyaingi nya, bahkan yang kualitas premium tingkat A sekalipun" Egbert menarik pernafasannya, menghirup dalam aroma rambut coklat keemasan Annette yang lembut. Itu penuh haruman mawar yang bercampur manis susu.
"Apa ini? Tak hanya mengikat dan mengurung ku, tapi kau juga mulai mengatur aroma tubuh ku?"
"Apa salahnya?" Egbert berkedik bahu dengan penampilan tak berdosa nya, "Kau adalah istriku, bukankah sudah tugas mu untuk menyenangkan ku?"
"Huh, kau benar-benar terdengar seperti seorang kaisar" Annette ber-decih, "Aku ini istrimu bukan selir mu. Jadi tak hanya aku seorang, tapi kau juga berkewajiban untuk menyenangkan ku"
"Menyenangkan mu?" Senyum mengambang di wajah tampan Egbert yang berkontur tajam dan tegas. Itu jelas senyum iblis yang langsung saja membuat Annette bergidik.
"Hari masih terlalu siang, tapi ku pikir tidak ada salahnya jika aku melayani mu sekarang"
"M-melayani apa maksud mu?"
Egbert menjawab dengan tatapannya yang mendalam tertuju kearah Annette. Tangannya mengelus rahang kecil Annette, kemudian jari-jemarinya yang panjang menari dengan nakal di atas wajah cantik itu dengan gerakan yang sedikit sensual. Mulutnya terbuka dan berucap lugas, "Tentunya melayani kebutuhan wanita dewasa yang sehat seperti mu"
"..." Annette sepertinya masih bingung. Tapi selalu nya, tidak ada hal yang baik dalam skema vampir licik itu. Jadi...
Terang saja firasat Annette buruk soal ini.
"Bukankah tadi katamu kau juga ingin aku menyenangkan mu?" Saat mengatakan itu, wajah Egbert condong kearah Annette.
"Akan ku lakukan dengan cara ku. Jamin pasti akan sangat memuaskan mu" Katanya penuh seduktif, tepat di ambang telinga Annette. Mulutnya terbuka dan mengulum separuh daun telinga Annette yang sudah dicuci bersih oleh pelayan setiap memandikannya.
Sekujur tubuh Annette menegang.
Tidak hanya mengulum, Egbert menjulurkan lidahnya keluar dan menjilatinya. Perasaan panas yang menggelitik itu membuat Annette melenguh.
"Eung, Egbert—"
"..." Egbert masih terus menjilat.
"Apa yang kau lakukan? Itu kotor, ah—" Annette refleks mengangkat kepalanya, sekujur tubuhnya sudah panas dingin berkat ulah vampir satu itu yang ternyata cukup nakal juga.
"Tidak kotor, para pelayan sudah membersihkannya dengan sangat baik" Egbert jeda sebentar ketika mengucapkan hal itu. Tapi setelahnya, ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Ahh, Egbert berhenti.." Annette ingin meredam suara lenguhan nya yang terdengar cukup membakar, tapi susah. Egbert memainkan area sensitifnya dengan sangat baik. Membuat dirinya tak tahan untuk terus menggeliat dan..
"Uhh.."
"Egbert, eung.."
Egbert senang mendengar Annette yang terus melenguh kan namanya. Itu membuatnya kian bergairah melanjutkan aktivitasnya. Tangannya perlahan turun kebawah, menyelinap ke bawah selimut. Meraba-raba perut rata Annette, mencoba mencari tepi piyama nya untuk menyingkap nya ke atas.
Tapi sebelum itu...
Terdengar ketukan keras di pintu.
Tok..tok..
"Tuan Egbert, apa anda di dalam?"