
"Seminggu lima kali, tidakkah itu terlalu banyak? Aku cuma punya dua hari di akhir pekan untuk libur. Yang benar saja, aku yang seorang dosen super duper sibuk ini harus mengikuti pengaturan mu itu" Ucap Sean yang jelas tak setuju.
Jika di dunia manusia, Sean merasa tak ragu jika harus membantah ucapan Egbert. Tapi di negeri Merland, ia akan selalu lebih tunduk dan patuh alih-alih terus membantah seperti tadi.
"Boleh saja kau tidak perlu melapor sama sekali"
Mendengar pernyataan itu terang saja senyum merekah ruah di wajah Sean. Sesaat ia menghela nafas lega.
"Tapi jika dalam sebulan ke depan kau masih belum menemukan Annette, jangan salahkan aku jika izin mu dari dunia manusia dicabut" Ucap Egbert dengan sangat tidak berperasaan nya.
Kedua sudut bibir Sean seketika menegang dan senyum nya terus mati. Baru saja ia menghela nafas lega, tapi sekarang ia harus membuang nafas kasar.
"Baik, aku akan melaporkannya seminggu lima kali padamu" Putus Sean kemudian yang tak punya pilihan lain.
Itu berarti di samping mengajar, ia juga harus repot-repot mengurus pencarian Annette yang melarikan diri entah kemana.
......................
Egbert telah kembali ke negri Merland. Ia pergi ke sana di antar oleh Sean seperti biasa. Karena ia begitu lemah untuk mengunakan kekuatan lari cepatnya. Ia pun mengirimkan pesan ke Belinda perihal kedatangannya yang perlu dijemput.
Belinda yang mendapatkan notifikasi pesan yang tak lain dari Egbert, secepat kilat memanggil para ksatria istana dan beberapa pengawal untuk berkumpul di taman peternakan kuda kerajaan.
"Yang mulia putra mahkota Egbert baru saja tiba di perbatasan antara negri manusia dan negri vampir. Saya tugas kan kalian untuk menjemput yang mulia dan kawal yang mulia sebaik mungkin hingga sampai ke istana" Tutur Belinda yang tak luput dari kharisma ketegasan nya yang masih terukir jelas di wajah tuanya yang keriput.
"Baik madam Belinda" Jawab mereka serempak. Mereka sangat menghormati Belinda karena wanita tua itu adalah tangan kanan langsung pangeran putra mahkota yang sangat di sayang dan di hormati oleh pangeran mereka itu.
"Bubar dan segera pergi menjemput Baginda"
"Siap madam Belinda"
Mereka pun satu persatu pergi mengambil kuda di peternakan istana dan dengan formasi yang rapi, mereka berbondong-bondong pergi menjemput Egbert.
Meskipun dalam segi kemajuan dan kecanggihan negeri vampir mulai menyetarai negri manusia. Tapi itu hanya sebatas di bidang kesehatan dan teknologi. Sedangkan di bidang kendaraan khususnya otomotif, sampai sekarang mereka masih belum dapat mengembangkannya.
Itulah kenapa mereka masih memanfaatkan hewan seperti kuda sebagai alat transportasi resmi kerajaan. Para bangsawan pun juga melakukan hal yang sama, terkecuali rakyat biasa yang terlalu tak sanggup membeli kuda. Mereka hanya mengandalkan kekuatan dalam yang umumnya di miliki para vampir yaitu dengan berlari secepat lintasan bayangan.
Lama Egbert menunggu, dari kejauhan ia telah melihat deretan kuda yang berdatangan bersama sebuah kereta dengan simbol bulan purnama. Itu tak lain adalah simbol kereta istana.
"Yang mulia" Para ksatria turun dari atas kuda dan para pengawal maju ke depan. Serempak mereka membungkuk hormat pada Egbert.
"Eum" Egbert melambaikan tangan, menyatakan bahwa salam penyambutan sudah diterima.
Salah seorang ajudan pun maju, menuntun Egbert untuk naik ke dalam kereta. Dan mereka pun bergegas membawa Egbert ke istana.
Sehari berada di istana, Egbert masih mencoba meminum berbagai macam jenis darah yang telah di siapkan madam Belinda. Tapi sungguh tak ada satu dari mereka yang dapat memuaskan lidah nya. Berkat itu hasrat nya untuk minum hilang dan ia semakin tak berenergi dan kian dehidrasi.
"Apa anda sudah menyiapkannya madam?" Tanya Egbert yang pagi itu bersandar lemas ke kepala ranjang.
"Sudah yang mulia" Belinda meletakkan satu set pakaian rakyat biasa lengkap dengan wig keriting dan kaca mata bundar.
"Ini adalah seperangkat alat penyamaran yang sudah saya siapkan untuk anda" Ucapnya.
"Bagaimana dengan kendaraan?"
"Saya sudah menyiapkan sebuah kereta kuda di pintu belakang istana. Anda dapat pergi dari sana yang mulia"
"Siapa yang akan menjadi kusir?" Bagaimanapun perjalanannya ini akan sangat rahasia. Ia tidak bisa mempercayai satu orang pun dari para vampir di negri nya tak terkecuali itu ksatria dan pengawal istananya— yang harusnya menjadi orang kepercayaannya tapi ia tidak dapat melakukannya.
Karena satu-satunya orang yang dapat ia percayai hanyalah wanita tua didepannya ini, Belinda.
"Saya sudah menyuruh Helio untuk itu dan Anda tidak perlu khawatir. Karena seperti yang saya katakan, dia adalah orang kepercayaan saya. Jadi anda cukup mempercayakan saya dalam hal ini"
Egbert tentu mengenal Helio. Yang tak lain adalah seorang pemuda miskin yang hanya tau mengemis hingga dipukuli preman-preman pasar. Suatu hari pemuda malang itu tanpa sengaja bertemu dengan Belinda saat wanita tua itu baru saja keluar dari sebuah butik mendapati pria itu yang babak belur karena terus dipukuli oleh segerombolan pria kekar.
Belinda pun menyelamatkan pemuda malang itu dan membawanya ke istana untuk bekerja sebagai peternak di istana bulan merah.
"Mulai sekarang kau adalah orang kepercayaan ku. Jadi berjanji setia lah padaku. Jika suatu hari nanti aku mendapatimu berkhianat, alih-alih mati, kau lebih baik membusuk di penjara istana"
"Saya mengerti. Selama saya hidup, saya akan terus mengenang kebaikan anda madam, jadi saya bersumpah akan selalu setia pada anda"
"Kalau begitu bekerja lah sebagai peternak di istana bulan merah. Karena kau adalah orang kepercayaan ku, maka identitas mu tidak boleh terlalu mencolok"
Sejak saat itulah Helio yang dari pemuda malang menjadi orang yang diam-diam berlatih pedang perak dengan bersembunyi di balik status, 'pengurus peternakan istana'. Dan rahasia itu, hanya Belinda dan Egbert saja yang mengetahuinya.
"Apa madam Belinda sudah memberitahu mu ke alamat mana kita akan pergi?" Tanya Egbert yang kini sudah duduk di dalam kereta.
"Sudah yang mulia"
"Kalau begitu berangkat"
Sekitar sepuluh menit perjalanan, mereka sampai di sebuah bangunan sederhana bertingkat dua. Di depan bangunan itu terpasang sebuah papan yang menuliskan 'Pusat Layanan psikologis vampir'. Egbert bergegas turun dari kereta dan masuk kedalam bangunan tersebut yang hari ini sudah di reservasi sepenuhnya untuk dirinya atas nama samaran pastinya.
"Apakah ini dengan tuan Peter?"
Sepertinya itu adalah nama samaran yang telah disiapkan madam Belinda untuk nya.
"Eum"
"Ada hal apa anda datang kemari?" Psikolog dengan name tag 'Philip' itu tau bahwa klien nya kali ini bukanlah sembarang orang. Ia pun juga tau nama yang digunakan orang itu jelas adalah nama samaran.
"Akhir-akhir ini tidak ada darah hewan manapun yang dapat memuaskan saya" Ujar Egbert yang langsung ke topik permasalahan.
"Selama itu tidak mencapai ekspektasi dari kelezatan yang saya harapkan, maka saya akan menolak keras meminumnya" Lanjut Egbert, "Padahal sebelumnya saya sangat menyukai darah kelinci dan tidak pernah bosan dengan itu. Tapi entah kenapa dalam beberapa hari selera saya terhadap darah seketika berubah dan mengganggu saya sampai seperti ini"
Psikolog Philip menganggukkan kepalanya pertanda ia mengerti arah permasalahan Egbert.
"Menurut anda, apakah ada yang salah dengan kinerja kognisi saya sehingga mempengaruhi perilaku saya yang terus menolak meminum darah dan mengatakan itu tidak enak dan buruk?"
......................