
Egbert tidak dapat menahan senyum saat melihat betapa pucat nya wajah Annette. Setelah begitu berani padanya sejauh ini, wanita itu masih tau cara untuk takut. Memajukan wajahnya ke depan, Egbert mengecup lembut bibir Annette dan memagut nya dalam. Annette merasakan kulit kepalanya mati rasa, saat ciuman itu perlahan berubah menjadi panas. Egbert menekan belakang kepalanya dan memperdalam ciumannya. Sesuatu yang basah lembut terjulur dan menjelajahi bibirnya. Sesapan manis dan gigitan lembut merayapi bibir Annette tanpa henti.
Egbert mengehentikan ciumannya dan menatap bibir basah Annette yang setengah membengkak. Wanita itu masih begitu linglung untuk fokus dengan apa yang baru saja dilakukannya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Egbert berbicara dengan jarak yang cukup dekat dengan wajah Annette. Matanya menatap mata Annette yang berkedip kosong kearahnya.
"K-kenapa kau tidak memberi tau aku kalau kau adalah k-kaisar"
Egbert tersenyum, "Kalau aku beritahu, memang nya apa yang akan kau lakukan?"
"A-aku—" Bola mata hitam Annette bergetar, tak kuasa menatap Egbert. Ia terus menundukkan kepalanya, "Aku pasti akan lebih menjaga sikap ku" Lirihnya dengan nafas berat.
Egbert tertawa.
Annette mendongak dan bergeming.
Sebelum menjauh dari wajah cantik Annette yang begitu malang, Egbert menyentil nya dengan sengaja.
"Aw!" Annette ingin marah, tapi memikirkan 'Kaisar?', ia langsung menelan kemarahannya dan menunduk.
Egbert tersenyum, "Aku bercanda! Kenapa kau begitu panik?" Egbert tersenyum lucu.
Annette mendongak, "K-kau bercanda?" Bibir Annette bergetar, lidahnya terasa berat saat berbicara, "Bohong!"
'Jelas-jelas aku mendengar wanita tua itu memanggilnya yang mulia'
Egbert "Jika aku sungguhan seorang kaisar, apa aku seluang itu berlama-lama di negri manusia"
Annette mengangkat kepalanya, "Jadi kau, tadi itu hanya—"
Egbert menaikkan salah satu alisnya dengan senyuman, "Em"
"Haa.."
Annette menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Hampir saja ia berpikir kehidupannya akan segera berakhir ke tali gantungan. Egbert tertawa melihatnya, Annette meliriknya dan bibirnya cemberut, "Tidak lucu!"
Sebentar..
Lalu jika bukan kaisar, kenapa wanita tua itu memanggilnya yang mulia?
......................
"Mamaa.." Aldrich melompat ke dalam pelukan Annette. Aldrich merasa lega akhirnya ia dapat berjumpa dengan ibunya dan wanita itu masih berdiri bugar dan sehat. Jika ia mendapatkan sedikit saja luka di tubuhnya, ia mungkin tak akan segan berkelahi dengan dua orang pria itu.
Egbert dan Sean.
Merasakan kerlingan tajam bocah itu, Sean yang sudah penuh bekas cakar di sepanjang leher dan wajah tampannya, menghela nafas tak berdaya. Egbert yang mendapatkan tatapan tak kalah tajamnya itu, hanya memasang tampang acuh.
"Ada apa dengan wajah mu?" Egbert sebenarnya sudah tau apa jawabannya. Tapi ia melakukannya dengan sengaja.
Sean jelas menyadarinya, "Menurut mu ya kenapa lagi?" Sean menyentuh bekas cakaran yang ada di belahan pipinya. Tidak tau apakah ketampanan nya sudah berkurang atau tidak karena keberadaan goresan yang lumayan panjang, "Dia sungguh putra kalian berdua. Bocah itu benar-benar tau bagaimana cara menekan orang dan menganiaya mereka"
Bibir Egbert bergerak-gerak mencoba keras untuk tidak menertawai kesialannya.
Annette menoleh kearah Sean dan melakukan yang sebaliknya. Wanita satu anak itu, tertawa keras atas kemalangannya.
"Apa kau yang melakukannya?" Annette memegang pundak putranya dan bertanya.
Aldrich menjadi gugup, "Mama tidak akan memarahiku kan?"
Annette mencubit lembut pipi Aldrich, "Kenapa mama harus marah? Kau telah menggantikan mama melakukannya" Sekilas Annette menoleh kearah Sean dengan senyum kemenangan. Walau pun apa yang diderita Sean tidak lah seberapa, tapi setidaknya hatinya menjadi sedikit lebih puas.
"Kerja bagus putra ku" Annette memuji Aldrich dengan murah hati.
Sean mengepalkan tangannya dan bersabar. Anggaplah penderitaan itu sebagai sedikit penebusan dosa masa lalunya yang telah menjerat kan ibu bocah itu ke tangan Egbert, "Aku sudah melakukan pekerjaan ku. Sudah waktunya aku kembali"
Hari sudah mau malam. Sean tidak akan menginap di istana Egbert. Sean harus segera kembali ke negeri manusia dan beristirahat dengan cukup, karena besok ia ada jam mengajar pagi.
"Setelah kau selesai mengajar besok, kembali lah kemari. Ada hal yang ingin ku diskusikan dengan mu"
"Eum" Itu lebih baik. Walau harus bolak balik. Setidaknya ia tidak perlu mengambil cuti.
......................
"Kita yang vampir ini mana membutuhkan hal seperti itu. Siapa yang menduga yang mulia Putra mahkota akan membawa pulang gadis manusia ke kediaman, makanan apa yang bisa kita siapkan?"
"Haa, aku bahkan tidak tau cara memasak. Mau membeli pun, di luar sana hanya ada berbagai makanan olahan dari darah"
"Huft.."
Sekumpulan pelayan mendesah berat. Mereka kebingungan ketika mendapatkan perintah untuk menyiapkan makan malam buat Annette. Madam Belinda mendatangi Egbert dan melaporkan kesulitan mereka, "Anda tau kalau di istana tidak ada tempat seperti dapur, juga tidak ada bahan makanan dalam persediaan. Jadi yang mulia, apa yang harus kita lakukan untuk makan malam?"
Egbert terdiam dalam pikirannya. Di negri Merland setiap kediaman tidak memiliki dapur selayaknya di kediaman manusia. Mereka hanya mempunyai tempat penyimpanan botol-botol darah dan anggur. Setiap kali waktu makan tiba, botol-botol itu akan dibawa ke ruang makan bersama gelas kosong. Begitulah cara mereka sarapan dan makan malam.
Restoran yang ada di sana pun berbeda dengan yang ada di negri manusia. Mereka menyajikan hidangan, tapi bukan sesuatu yang dapat di makan oleh manusia.
"Beli saja daging dan beberapa bumbu masak yang ada di pasar"
"Tapi yang mulia, tidak ada satupun pelayan di istana yang tau cara memasak"
"Tidak masalah. Aku akan yang melakukannya"
Belinda sempat terkejut pada awalnya. Bagaimana mungkin seseorang yang tumbuh besar dalam pelayanan sejak lahir, dapat melakukan hal seperti 'memasak'. Belinda tidak bisa membantu, hanya berpikir— sepertinya putra mahkota mereka begitu mencintai istri manusianya.
"Maa, jadi sekarang kita akan tinggal di sini?" Annette telah bersama Aldrich di sebuah kamar yang tak kalah megah dengan kamar utama.
Kamar itu baru saja selesai disiapkan untuk Aldrich.
"Ya" Annette mengangguk. Dia duduk bersandar ke kepala ranjang dan di atas pangkuannya ada Aldrich yang menidurkan kepalanya dengan manja di sana.
"Apa dia yang memaksa mu?"
Pertanyaan itu kembali membuat Annette teringat pada percakapan nya dengan Egbert beberapa menit lalu.
"Kau tidak bisa membuat kami tinggal di sini. Bagaimanapun Aldrich masih harus bersekolah besok"
"Aku mengerti. Tapi bukankah kau ingin yang terbaik buat Aldrich?
"Apa maksud mu?"
"Aldrich membutuhkan pendidikan khusus dari sekolah vampir. Kau ingat terakhir kali dia jatuh pingsan? Itu karena ia gagal mengendalikan tenaga dalam tubuhnya yang pecah. Kenapa itu bisa terjadi? Karena ia tidak dibekali ilmu cara mengendalikannya dan hal-hal seperti itu, tentunya tidak akan ia dapatkan dalam sekolah manusia"
"..."
"Di samping itu, aku menduga putra kita memiliki kemampuan khusus yang tidak semua vampir memilikinya. Jika kita tidak mendeteksinya dari sekarang, itu akan membahayakan dirinya. Bagaimanapun dia terlahir sebagai campuran, daya tahan nya tidak seperti para murni. Bagaimana jika tubuhnya gagal menahan kelebihan yang ia miliki itu?"
"Karena itu aku minta pengertian mu. Aku barangkali adalah seorang ayah yang buruk—berpikir untuk memanfaatkan keberadaannya, tapi kau harus tau satu hal...binatang buas sekalipun, mereka masih tau cara melindungi anak mereka dengan baik"
"Maa?"
Annette tersadar dari lamunan.
"Jadi, apa itu benar? Pria sial*n itu yang memaksa mu bukan?"
Annette tersenyum lembut dan mengusap kepala putranya penuh kasih, "Tidak, itu karena mama memang ingin mulai sekarang kita tinggal di sini"
"Kenapa mama ingin tinggal di sini? Tidak kah mama takut? Di sini tempat semua para vampir tinggal. Bagaimana jika mereka melukaimu?"
"Mama yakin itu tidak akan terjadi"
"Kenapa mama yakin sekali?"
"Itu karena ada kamu sayang. Mama yakin kau akan melindungi mama dari mereka"
Aldrich tak berdaya, hanya bisa tersenyum. Dalam hati ia mulai memikirkan, bagaimana cara berkembang menjadi lebih kuat. Ia tidak ingin melihat ibunya terluka seperti kali.
"Kalau begitu, aku akan berusaha keras untuk menjadi kuat dan melindungi mu maa.."
Annette tersenyum dengan hatinya yang merasa sangat tersentuh. Mengecup lembut kening Aldrich, berucap, "Terimakasih sayang.."
......................