
Egbert sepertinya tidak punya pilihan lain. Ia pun terakhir menggunakan cara kejinya. Tak lain itu adalah...
Ancaman nyata.
"Jika kau masih terus menolak, aku mungkin akan menghisap habis darah lezat mu itu sekarang, bagaimana?" Bibir Egbert berkedut, tampak yang ia tersenyum dan menyeringai.
Bulu roma Annette seketika meremang. Bulu matanya bergertar ngeri dan wajah kecilnya terus saja memucat, "K-kenapa anda jahat sekali" Katanya.
Itu adalah kali kedua pria berdarah dingin itu mendesaknya dengan ancaman mautnya.
"Haruskah Anda mengancam saya seperti ini? Tindakan anda tidak manusiawi sama sekali" Ketus Annette. Matanya memanas seakan ingin menangis kencang.
Manusiawi?
Egbert tertawa dingin mendengar kata konyol itu keluar dengan polosnya dari bibir kecil gadis itu.
"Kami bangsa vampir, tidak mengenal istilah 'manusiawi', jadi berpikir lah lebih logis!"
Annette mengerucutkan bibirnya, dengan tatapan tak geram tak suka. Dalam hati, entah berapa kali sumpah serapah yang ia ucap untuk mengutuk Egbert.
"Jadi bagaimana, apa kau masih berpikir untuk menolak?"
"Menurut mu, apa aku masih punya pilihan?" Sahut Annette yang jelas sudah pasrah menerima pekerjaan barunya itu sebagai pelayan darah Egbert.
Bagaimana pun ia tidak boleh mati malam ini di ruangan itu. Masih ada Aldrich kecil yang harus di urus, rawat dan besarkan nya dengan baik.
"Baik kalau begitu jangan lupa tugas mu besok" Egbert mengukir senyum dingin penuh kepuasannya di bibir, "Sama jangan lupa rahasia kan tentang identitas ku" Ucapnya lagi, "Ingat, kau sudah menandatangani surat perjanjian. Ada konsekuensi besar jika kau melanggarnya"
"Memangnya apa konsekuensinya?" Tanya Annette penasaran.
"Aku akan melacak darah mu.." Mata dingin Egbert menatap ke cap jempol darah Annette yang sudah mengering di kertas, "Menemukan mu dan kemudian menggigit leher mu sampai urat nadi mu putus"
Annette seketika menegang dengan rongga pernafasan yang terasa sesak.
Egbert tersenyum, merasa cukup terhibur setiap kali menangkap ekspresi ketakutan Annette, "Jadi jika kau ingin hidup lebih lama, simpan dengan baik rahasia ini"
......................
Akhirnya Annette dapat pergi meninggalkan bar setelah terkurung sejam lamanya di ruang kerja Egbert. Padahal sudah lima tahun berlalu dan Annette dapat menjalani kehidupan tenangnya.
Tapi lagi-lagi takdir mempertemukan nya dengan Egbert. Membawanya kepada kesuraman dan kesialan yang cukup menyulitkan kehidupannya.
"Hah, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?" Annette berjalan lesu ke perhentian bus.
Duduk lemas di bangku tempat orang-orang menunggu, ia menatap tak bergairah pada jalan malam yang masih sibuk dengan aktivitas kendaraan yang berlalu-lalang, "Dulu menjadi pengantin wanitanya dan memberikannya anak" Gumam nya.
Dan sekarang...
Menjadi pelayan darahnya?
"Kenapa lagi-lagi aku harus terjerat dalam kesialan ini?" Tutur Annette frustasi.
Hingga sebuah bus berhenti dan orang-orang yang menunggu terus berbondong masuk kedalam. Annette dengan malas bangun dan mengantri di belakang sampai akhirnya ia naik kedalam sana.
Sekitar lima belas menit perjalanan, Annette pun turun dari bus. Ia pun berjalan kaki menuju kontrak kan kecilnya. Hanya lagi-lagi kesialan menyambut nya malam itu.
"Hai gadis, kau mau kemana?" Itu adalah seorang pria kurus ceking yang entahlah baru pulang darimana. Melihat penampilan preman nya, Annette langsung mendapatkan firasat buruk.
"Pulang" Jawab Annette sekenanya dan menghindar dari hadapan pria itu.
Namun langkah kakinya langsung di hadang hingga membuat Annette dengan sangat terpaksa berhenti berjalan.
"Kenapa dingin sekali?"
"Maaf, saya mau lewat"
"Jangan terburu-buru begitu. Ayo temani aku sebentar" Pria itu dengan lancang memegang lengan Annette.
Membuat Annette langsung mengambil sikap waspada, "Temani kamu kemana?"
Bukan sekali dua kali ia bertemu dengan situasi tersebut. Jadi ia sudah terlatih untuk tenang dan diam-diam menjalankan aksi penyelamatannya.
"Sudah ikut saja, nanti kau akan tau" Pria itu mulai menyeret Annette pergi.
"Sebentar" Annette sudah mengambil semprotan lada dari tas tangan putihnya.
"Ada apa?"
Alih-alih menjawab, Annette langsung menyemprotkan cairan pedas itu tepat ke kedua mata pria itu.
"Arghh" Pria itu terus memejamkan matanya dan melolong pedih.
Annette segera memanfaatkan situasi tersebut untuk menarik lengannya dari pegangan erat pria itu dan berlari secepat mungkin untuk kabur dari sana.
"Hey gadis sial*n, mau kemana kau?"
"Awas saja, aku akan mengingat wajah mu"
"Heyy!"
Annette mengabaikan ancaman dan teriakan pria itu. Ia hanya berlari sekuat yang ia bisa hingga ia berbelok ke jalan lain dan berlari hingga sampailah ia ke rumah nya.
Dengan nafas tersengal-sengal, ia mengeluarkan kunci rumah nya dan masuk kedalam.
"Hah, hampir saja" Seusai menutup pintu kembali dan menguncinya rapat, Annette bersandar lemas ke pintu.
Saat itu juga tatapan matanya bertemu dengan Aldrich yang tertidur di atas karpet ruang tamu.
Ya, tak ada sofa maupun televisi di ruang tamu rumahnya yang sangat kecil. Annette yang tadinya merasa takut dan lelah tak tergambarkan.
Segera itu sirna begitu saja.
Ia pun berjalan mendatangi putranya yang tertidur itu. Meletakkan tas putih nya di lantai dan perlahan mengangkat tubuh kecil itu. Hanya ia mendapati sepasang mata kecil itu terbuka dan...
"Mama, kau sudah pulang?"