Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|144|. Mengalah Lah Untuk Malam Ini



Annette tertegun.


'Jadi suplemen hari itu??'


'Mungkinkah ada hubungannya dengan pengakuan cinta Egbert terhadapnya?'


"Menurut ku dia seorang pecundang karena terus menggantungkan perasaan mama. Aku sebagai putramu, tidak bisa diam begitu saja melihat mama ku diperlakukan begitu. Jadi bagaimana dengan suplemen yang ku berikan waktu itu? Apa itu bekerja? Apa dia telah mengakui perasaannya padamu?"


"Itu—"


"Ekhem" Egbert telah mendengarkan semuanya.


"Istriku, ini sudah larut. Mari kita beristirahat" Egbert dengan lembut menarik Annette ke sisinya. Dia dapat melihat kecantikan itu masih setengah linglung dengan informasi yang didapatkan dari putranya.


"Tidak, mama akan bersama dengan ku malam ini" Aldrich menahan pergelangan tangan ibunya.


"Kalian keluar!"


Dua orang penjaga bayangan keluar dan mendatangi Egbert.


"Yang mulia" Keduanya membungkuk sopan.


"Antar kan putraku ke istana bulan merah. Karena dia sekarang adalah putra mahkota, istana itu akan menjadi miliknya"


Annette mengedipkan matanya dengan sorotan terkejut, "Jadi maksudmu kita tidak akan tinggal lagi di sana dan Aldrich..."


Egbert tersenyum dan menyela, "Benar istriku. Sekarang kita akan pindah ke istana kekaisaran dan Aldrich tidak bisa tinggal bersama kita karena statusnya"


Aldrich menggeram marah, "Aku tidak pernah setuju menjadi putra mahkota"


Yang benar saja. Dia tau kembalinya dia adalah untuk menghadapi sesuatu yang khusus. Itu kenapa dia sudah berlatih cukup keras untuk menguasai elemen sihir yang di milik nya. Tapi dia berpikir setelahnya akan bermanja-manja dengan ibunya sambil melepas rindu.


Tapi pria sial*n itu malah menendangnya ke istana lain.


Melihat raut wajah Aldrich yang dipenuhi ketidaksenangan Annette berkata pada Egbert, "Ku pikir masih terlalu awal menobatkannya sebagai putra mahkota. Lagipula dia masih terlalu kecil dan sepertinya Aldrich sama sekali tidak menyukainya. Jadi, bisakah itu ditunda saja dulu"


Egbert menggeleng, "Posisi putra mahkota tidak boleh kosong dan satu-satunya keturunan yang ku miliki hanyalah dia. Jadi—"


"Kalau begitu kalian buat saja yang lain satu untuk posisi itu" Sela Aldrich.


Annette membelalak kan matanya. Begaimana bisa putranya yang polos memikirkan sesuatu yang seperti itu?


Mendapati tatapan keterkejutan ibunya, Aldrich sedikit berdeham malu.


Egbert menjadi dingin, "Tidak bisa. Tubuh manusia mama mu tidak akan bisa menanggung nya. Cukup terakhir kali dia hampir merenggang nyawa karena mengandung mu"


Egbert tidak ingin mengambil resiko tersebut untuk kedua kalinya. Aldrich yang mendengar itu tentu saja langsung menjadi tidak setuju, "Kalau begitu jangan lakukan. Aku tidak mau mama ku kenapa-kenapa"


Annette yang sedari tadi diam menyimak percakapan dua orang itu, begitu saja hatinya menjadi hangat.


"Tapi tetap saja, aku menolak keras posisi itu. Ku pikir menjadi master sihir masih tiga kali lipat lebih bagus dari itu"


Aldrich tidak mengatakan dua kali lipat, tapi tiga kali lipat. Jelas itu cukup menegaskan betapa dia sangat tidak menyukai posisi putra mahkota.


"Jika kau masih tidak setuju, maka cukup menjadi putra mahkota sementara. Sebagai syarat, kau bisa minggat dari posisi tersebut setelah menikah dan mendapatkan keturunan"


Bola mata hitam Aldrich membesar, siap membludak dalam ketidakpuasan.


"Menikah katamu? Yang benar saja aku masih bocah berusia enam tahun"


Egbert memutar bola matanya acuh tak peduli.


Aldrich langsung mencari pembelaan ibunya, "Maa, lihat lah apa yang dilakukan pria sial*n itu padaku. Yang benar saja dia ingin aku menik—"


"Aku bukannya menyuruhmu untuk menikah sekarang. Tapi aku berkata jadilah putra mahkota sementara dan lepaskan itu ketika persyaratannya terpenuhi"


Aldrich merasa sangat ingin menggigit wajah Egbert.


"Maa.." Aldrich memeluk manja ibunya dan mengeluh.


Pemandangan itu tak tahan untuk membuat Egbert mencibir.


'Dia cukup pandai mencari simpati ibunya'


Biar bagaimanapun Annette merasa kasihan. Dia menepuk lembut punggung putranya, "Egbert, tidak bisakah kita jangan membebani nya seperti itu?"


"Sayang, aku mengerti kekhawatiran mu. Tapi ini sudah menjadi resiko putra kita karena terlahir sebagai anak berdarah biru. Jadi kita tidak berdaya apa-apa soal itu"


Annette tentu mengerti hal tersebut. Dia menghela nafas berat, "Sayang, patuhi saja ya perkataan papamu. Setelah kau dewasa dan menikah nanti, kau tidak perlu mengemban lagi posisi itu"


"Baiklah maa.."


Annette mengecup kedua pipi Aldrich, "Sungguh putraku yang baik"


Aldrich tersenyum senang dengan pujian itu.


"Yang mulia Aldrich, mari kami antar anda kembali" Ucap salah seorang penjaga yang diutus oleh Egbert.


Aldrich mendengus, "Tidak. Malam ini aku akan tidur disini. Bolehkan maa?"


"Tentu saja"


"Tidak" Egbert dengan keras menentang.


Annette langsung memberinya pelototan tajam, "Egbert, apa kau setega itu pada putramu sendiri?"


Egbert menghela nafas kasar, "Baik. Kau boleh tinggal untuk semalam"


Aldrich berseru senang, "Kalau begitu aku akan tidur bersama mama"


Tatapan Egbert terus menjadi dingin, "Aldrich berapa usiamu sekarang? Masih ingin tidur dengan mamamu, sangat tidak tau malu!"


Aldrich ber-decih, "Bukan urusan mu"


Egbert tak mau kalah, "Sayang, jangan terlalu memanjakan nya. Mari kita tidur"


Egbert menarik Annette pergi.


"Tidak boleh. Ini mama ku" Aldrich menahan pergelangan tangan ibunya.


"Aku suaminya. Jadi lepaskan!"


"Hah, aku putranya. Jadi mengalah lah!"


"Tidak" Tentang Egbert, tegas dan dinding.


"Kalau begitu aku juga tidak"


Akhirnya dua orang itu terus tarik-menarik tangan Annette. Membuat Annette menjadi linglung karena di perebut kan.


Penjaga bayangan yang menonton pertunjukan itu, tak dapat menyembunyikan senyum di bibir. Annette yang melihat itu, merasa malu untuk dua orang itu.


"Sudah hentikan!"


"..."


"..."


Egbert dan Aldrich sama-sama diam.


"Malam ini kita akan tidur bertiga"


Seperti itu, akhirnya Aldrich tidur di tengah-tengah antara ibu dan ayahnya. Dia tertawa bahagia dalam hati melihat wajah cemberut Egbert.


Menarik tangan ibunya, Aldrich mengeluh manja, "Maa, sudah lama sekali kau tidak mengusap kepalaku. Aku ingin kau melakukannya, boleh kan?"


"En, sini mendekat" Annette mengangguk dan dengan penuh keibuan mengusap-usap lembut kepala putranya.


Egbert yang cemburu, langsung tidak mau kalah.


"Istriku, lalu bagaimana dengan ku?"


Annette tersenyum ringan, "Mengalah lah untuk malam ini, jangan mencoba bertarung dengan putramu sendiri"


Tatapan Egbert mengeras. Dia merasa benar-benar terkalahkan oleh bocah itu.


Dia langsung berbalik, mematikan lampu dan tidur.


Di tengah malamnya, saat Annette dan Aldrich sudah terlelap. Diam-diam Egbert menggeser Aldrich ke samping dan bertukar posisi dengannya.


Sekarang dia berada di tengah dan dengan mudah menggapai Annette dan memeluknya lembut. Egbert memejamkan matanya dan tersenyum puas.


"Ini baru benar"


Keesokan harinya, Aldrich membuka matanya dan mendapati dirinya sudah di sisihkan. Menoleh ke samping, dia melihat Egbert yang sudah memeluk ibunya dalam tidurnya. Aldrich mengepal kan tangannya tak tahan untuk tidak mengumpat.


"Dasar si sial*n itu!"