
Annette meluapkan segala kekecewaan dan kemarahannya dalam ciuman itu. Ia menguasai bibir Egbert dengan mulut kecilnya yang menciuminya dalam dan dalam. Itu adalah kali pertama Annette datang dengan inisiatif nya sendiri mencium buas bibir Egbert. Membuka mulutnya, ia tanpa segan menggigit bibir bawah Egbert. Itu membuat Egbert mengerutkan keningnya, merasakan gigitan Annette yang alih-alih sakit, itu lebih seperti rasa kesemutan yang gatal.
Setelah puas, Annette menarik jauh bibirnya. Punggung tangannya mengusap bibirnya yang lembab. Ia menatap dalam mata Egbert yang tampak belum begitu pulih dari akal sehatnya.
Emma yang menonton pemandangan itu, wajahnya memerah marah merasa jengah di tempat. Ia berdiri dengan tangan terkepal, merasa begitu terpojokkan.
Egbert mengedipkan matanya saat akal sehatnya sepenuhnya kembali. Matanya yang berbinar takjub, memberi tatapan tak percaya pada Annette, "Kenapa tiba-tiba kau—"
Mata Egbert membesar saat ia menduga, "Jangan bilang kau baru saja cemburu?"
Daun telinga Annette memerah, itu menjalar hingga ke belahan pipinya yang tirus, "Tidak!"
Egbert menahan rahang nya untuk tidak tertawa. Menyaksikan penampilan wajah memerah malu Annette yang bagai buah persik, itu membuat hatinya tergelitik merasa itu cukup menggemaskan, "Lalu kenapa kau tiba-tiba datang men—"
"Itu ciuman pembalasan" Buru Annette, yang seketika memotong ucapan Egbert.
"..." Egbert mengedipkan matanya, menatap jauh ke sepasang bola mata hitam Annette yang tampak bergetar gugup.
"Balasan buat yang tadi pagi, karena kau sudah sembarang saja menggigit ku" Mengatakan itu, Annette menyentuh bibir kecilnya yang sedikit bengkak karena Egbert tidak hanya menciumnya galak, tapi juga dengan nakal menggigit.
Bibir Egbert bergerak-gerak, mengulumnya rapat kedalam. Memandangi wanita cantik di depan itu yang merona malu, ia berusaha keras untuk tidak tergelak akan kecemburuan nya yang begitu manis, "Oh, jadi karena itu!"
Annette berdiri tegap diposisi nya. Ia menoleh kearah Emma. Wanita vampir itu tampak diliputi amarah yang membumbung tinggi. Tidak tau apakah itu kecemburuan atau kebencian, tapi melihat betapa gelapnya wajah itu seperti punggung panci, bibir Annette meringkuk dalam senyum puas.
Karena Annette sudah merasa puas, ia berpikir untuk langsung pergi dari sana. Tapi pergelangan tangannya di tarik oleh Egbert, membuatnya berhenti dari berjalan
"Ada apa?" Annette menoleh kan kepalanya ke belakang. Ia melihat Egbert dengan sepasang alis yang bertaut.
"Lain kali gigit aku sedikit lebih buas"
Annette mengedipkan matanya menjadi linglung akan apa yang baru saja didengar nya, "L-lebih buas?"
"Ya. Karena jika kau menggigit ringan seperti tadi, rasanya seperti bibirku kesemutan" Menjilat bibir bawahnya, mata Egbert memancarkan kilatan cahaya yang seduktif, "Itu membuat ku agak tidak puas"
Beberapa saat Annette mematung di tempat. Ketika ia menyadari kalau Emma masih di sana, ia segera menyadarkan dirinya dari perasaan gugup. Ia pun mengatakan sesuatu yang siap untuk memanasi Emma lebih jauh, "Baik, kalau begitu lain kali aku akan menggigit mu lebih ganas"
Egbert meraih punggung tangan Annette dan mengusap nya lembut dengan jempolnya, "Bagaimana jika kau melakukannya sekarang?" Egbert mengangkat kepalanya dan mencodongkan mulut nya ke atas, "Hum"
Annette tertawa genit. Ia melakukannya dengan sengaja. Ujung ekor matanya melirik kearah Emma dan ia berujar, "Tidak bisa"
"Aku hampir saja lupa ada orang di sini" Ucap Annette dengan bibirnya yang melengkung dalam senyuman menambahkan, "Tidak baik jika kita terlalu intim di depan orang luar. Bagaimana jika dia merasa tidak tahan hingga menggigit jarinya karena ingin?"
"Pftt.." Egbert menekan perutnya dan pada akhirnya ia tertawa. Annette terlalu lugas dan itu adalah kali pertama Egbert melihat nya dalam penampilan seperti itu.
Emma merasakan kedua telinganya sudah sangat panas. Ucapan Annette yang jelas ditujukan kepadanya itu, membuat Emma merasa siap meledak dengan api amarah. Sedari tadi otaknya mendidih dan dadanya kembang kempis menahan kekesalannya untuk Annette. Melotot tajam Annette, Emma membuka mulutnya siap melakukan pembalasan, "Ah, jadi Egbert menggigit bibir mu ya?"
Annette mencoba rileks dalam posisi berdirinya dan menatap Emma tanpa ekspresi yang spesifik.
Menyentuh bibirnya yang merah membuncah karena lipstik, Emma meneruskan, "Dia tidak pernah mencium ku dengan ganas apatah lagi itu sampai menggigit. Dia... selalu memperlakukan aku dengan sangat lembut"
Emma menyungging kan senyum nya dibibir dan menoleh kearah Egbert, "Egbert, lain kali kau harus lebih lembut juga padanya. Mencium ya mencium saja, tidak perlu menggigit. Kau harus mengendalikan insting vampir mu dengan baik. Bagaimanapun dia adalah istri mu, bukan mangsa mu"
Mengatakan itu, Emma seakan menegaskan secara halus. Kalau Egbert mengikuti insting nya sebagai vampir, yang melihat Annette sebagai mangsa yang harus ia gigit untuk menghisap darahnya. Annette tidak bodoh, tentu saja ia mengerti maksud dari ucapan wanita vampir itu.
Ia mengatakan nya dengan sengaja, jelas ingin membuatnya marah pada Egbert karena alih-alih menganggap nya istri tapi justru sebaliknya. Yakni mangsa yang harus di santap. Tapi Annette mengontrol dirinya dengan sangat baik, tidak begitu saja terpengaruh.
"Ah, aku baru tau kalau bangsa vampir kalian, terlalu berhati-hati dan begitu kaku saat bercumbu" Tutur Annette.
Langsung membuat Emma menyipitkan matanya dengan bibir penuh nya yang agak cemberut.
Annette memegang pundak Egbert dan berkata dengan suara manjanya, "Sayang, kau tidak perlu mendengarkan sarannya. Bagaimanapun, akan sangat membosankan jika mengikuti gaya bercumbu bangsa kalian yang sangat konservatif itu"
Egbert mengembangkan senyum di bibirnya yang dingin dan mengangguk, "Baik, apapun itu selama kau senang"
Annette tersenyum puas dan menoleh kepada Emma, "Kami para manusia tidak hanya ada french kiss yang manis, tapi juga ada love bite yang panas. Jika kau penasaran seperti apa rasanya, kau boleh mencoba berpacaran dengan pria manusia"
Jadi-jadi alih-alih terus mengusik suamiku, sana pergi berkencan dengan manusia!
Itulah yang coba Annette tegaskan secara halus.
Pemandangan itu, membuat Egbert melihat Annette dengan cahaya baru. Annette memang sudah agak berbeda dari lima tahun silam. Dia bukan lagi gadis muda yang naif yang hanya tau diam dan pasrah. Dia sudah tau bagaimana cara mengembangkan duri di tubuhnya untuk melindungi dirinya dari ancaman luar.
Tapi secara keseluruhan dari momen yang sangat mengejutkan itu, yang paling menghibur nya adalah...
Kecemburuan istrinya yang tampak begitu menggemaskan!