
"Kenapa bisa-bisanya kamu di pindah alokasi kan ke pedalaman, kamu ini dokter berkompeten loh, apa mereka tidak memikirkan hukuman lain yang lebih bagus dari ini? Seperti potong dari gaji mu misalnya?" Wanita paruh baya itu tidak berhenti mengomel-ngomel sepanjang membantu memasukkan barang-barang Parker ke bagasi mobil. Wanita itu tak lain adalah ibunya.
"Hah, mama bahkan belum mencarikan calon istri untuk mu, tau-tau nya kau sudah berpindah kerja ke pelosok. Seperti ini, gadis mana yang mau menikah dengan mu?" Keluh Margaret. Apa yang dikatakannya itu bukan lah tidak mungkin. Karena gadis kota mana yang mau bersedia menikah dengan seorang pria yang harus dinas ke pelosok. Karena itu berarti, gadis tersebut harus mengikuti sang suami untuk tinggal di sana.
Memikirkan itu, Margaret benar-benar kian mengkhawatirkan nasib putranya yang masih lajang itu.
"Ma, aku bukannya akan tinggal selamanya di sana. Aku hanya harus berintrospeksi diri dalam kurun dua tahun dengan bekerja di tempat itu. Setelahnya, aku akan kembali bekerja di rumah sakit pusat"
Ya, Parker mendapatkan teguran atas perbuatannya hari itu di unit rumah sakit. Sekalipun ia melakukannya atas niat baik, tapi cara yang ia gunakan tidak dapat dibenarkan.
Itulah kenapa sekarang ia di pindah alokasi kan ke rumah sakit cabang yang ada di pedalaman. Dan ia akan bekerja di sana selama dua tahun lamanya.
"Ya tapi tetap saja dua tahun itu lama. Kenapa mereka tidak menguranginya menjadi setengah tahun saja?"
"Ma, aku tidak di tuntut ke jalur hukum saja itu sudah jauh lebih baik" Ucap Parker dengan senyum di bibir, mencoba menenangkan sang mama.
"Itulah kenapa kamu itu harus ikut campur sekali huh? Bisa tidak kamu cukup fokus bekerja saja menjadi dokter, tidak perlu mencampuri urusan lainnya" Gerutu Margaret kesal. Sikap putranya yang suka sembarang ikut campur dan bertindak ceroboh itu persis seperti almarhum suaminya.
Parker pergi memeluk ibunya dari belakang dan kepalanya bersandar manja di atas pundak wanita paruh baya itu, "Maa, putramu sudah melakukan hal yang benar. Bisakah berhenti mengomeli ku dan cukup puji saja aku, oke?" Ucap Parker manja. Sebagai anak satu-satunya yang di miliki sang mama, ia tumbuh besar dengan pemanjaan penuh.
"Hah, sudah seperti ini kau masih meminta ku untuk memuji perbuatan baikmu?" Margaret tampak menghela nafas berat
"Maa.."
"Yah, mama bisa apa? Mama memiliki putra semata wayang yang sifatnya terlalu baik, namun sayangnya begitu ceroboh"
"Itu mama tau" Parker menenggelamkan wajahnya ke pundak sang ibu, menikmati aroma keibuan yang menenangkan sel saraf dan pikirannya.
"Sudah-sudah!" Margaret menepuk-nepuk lembut kepala putranya, "Tidak ada mama di sana yang mengurus mu. Jadi kau harus mengurus dirimu sendiri dengan benar" Ucapnya, bibirnya melebar dengan senyum keibuan.
Parker hanya mengeratkan pelukannya dan berdeham sebagai jawaban, "Eum" Setelahnya ia pergi mengecup pipi sang ibu, benar-benar menunjukkan seorang putra yang bersikap begitu romantis pada ibunya.
Setelah memasukkan semua barang ke bagasi mobil, mulai dari koper dan tumpukan toples-toples yang berisi biskuit serta makanan yang disiapkan sang ibu untuknya. Parker pun sekali lagi berkata kepada sang mama sebelum pergi, "Aku akan kembali ke kota seminggu sekali untuk melihat mama" Katanya.
"Jika mama kesepian, pekerjakan saja seorang ART buat bantu-bantu dan menemani mama di rumah" Ucap Parker lagi. Ia hanya hidup berdua dengan mamanya di rumah besar itu. Jika sekarang ia pergi, rumah besar itu pasti akan terasa sangat kosong.
"Tidak perlu! Jika kamu sungguh tidak mau membuat mama mu ini merasa kesepian, sana cepat cari calon menantu buat mama, agar ada yang menemani mama jika seorang diri di rumah besar ini" Kata Margaret, walau ekspresinya sedikit memberengut. Tapi ia tidak dapat menyembunyikan jejak kesedihan di matanya.
Parker hanya tersenyum kecil. Kali ini tidak berkata apa-apa untuk merespon ucapan ibunya itu. Ia pun pergi masuk kedalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya. Saat itu ia mendapati ibunya mengetuk kaca jendela mobilnya.
Parker menurunkan kaca jendela mobil dan melongok keluar.
"Nanti mama akan mencari kan seorang pembantu untuk mu" Margaret tak yakin putranya itu dapat mengurus dirinya dengan baik di pedalaman sana.
"Tidak perlu maa, aku bisa mengurus diriku dengan baik"
"..."
"Pokoknya mama akan mengirimkan seorang pembantu ke tempat mu. Ingat untuk mengirimkan alamat rumah mu nanti pada mama"
"Eum" Parker yang tidak berdaya lagi menolak, memilih untuk menurut.
Di perjalanan tepat di jalan besar yang padat, tanpa sengaja Parker menoleh ke trotoar jalan. Di sana ia melihat seorang gadis yang sungguh tak asing di matanya. Segera Parker menepikan mobilnya ke pinggir dan bergegas turun.
"Annette?"
"Kak Parker"
Parker dapat melihat jelas bagaimana sepasang mata hitam itu yang tadinya menatap kosong ke jalan raya yang sibuk, kini muncul dengan penuh binar ketika melihat dirinya.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Itu—" Annette tertunduk malu. Bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia tidak punya tempat untuk tinggal bukan?
Tidak perlu menanti Annette menjawab, Parker dapat menebak kalau gadis itu jelas tidak memiliki rumah untuknya pulang. Ia sungguh tidak mengira kehidupan gadis didepannya itu sungguh malang dan menyedihkan.
"Gendong bayi mu, jangan biarkan dia di atas trotoar begitu" Ucap Parker, matanya menatap tak tega pada bayi yang terus menerus menangis di bawah sinar terik matahari.
"Oh!" Annette pun mengambil bayinya dan lagi-lagi tertunduk malu atas perbuatannya yang membiarkan saja bayi nya menangis dan bersikap acuh.
"Ayo!"
"Huh?"
"Cepat naik ke mobil ku"
"Apa?"
"Kau bisa memasak kan?"
Annette sama sekali tidak mengerti dengan ajakan Parker yang begitu tiba-tiba itu dan bukannya menjawab tapi pria itu malah menanyakan kemampuan masaknya.
"Bisa" Angguk Annette. Sebagai seorang gadis yang hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri, tentunya memasak adalah hal kecil yang harus bisa ia lakukan untuk mengurus kebutuhannya yang paling dasar.
"Kalau begitu ikutlah denganku. Karena aku membutuhkanmu"
......................