Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|80|. Kau Mengatai Putraku Bodoh?



Egbert mengepalkan tangannya kesal. Baru saja ia berniat untuk mengabaikan suara itu dan terus melanjutkan aktivitasnya tapi...


Tok..tok..


"Tuan, anak kecil itu sudah bangun"


"Dan sekarang sedang membuat kekacauan di kastil. Dia berteriak-teriak marah menanyakan di mana ibunya"


Annette langsung membelalak kan matanya, "Aldrich"


Wajahnya sudah di penuhi senyum haru, "Putraku sudah sadar"


Di samping Annette yang merasa senang, Egbert merasa begitu terkutuk. Sekujur tubuhnya sudah di penuhi gelora panas yang siap membakar wanita di bawahnya, tapi nasib baik memang belum berpihak padanya.


"Ayo cepat lepaskan tanganku. Biarkan aku menemuinya. Bukannya kamu sudah berjanji mengizinkan aku menemuinya setelah dia sadar?"


Egbert meremas jari-jemarinya yang menggali jauh kedalam seprai, "Tidak bisakah kau menundanya sebentar?"


"Menunda bagaimana maksud mu?" Annette mengerutkan keningnya tak suka, "Putraku di bawah sudah mencari-cari ku, cepat biarkan aku turun dan melihat"


"Baik" Egbert dengan sangat terpaksa menekan segala api yang sudah berkobar-kobar dalam dirinya. Itu cukup menyebalkan sebenarnya. Tapi mau bagaimana? Mendesak wanita dibawahnya untuk melakukannya pun tak mungkin.


Dia mungkin seorang pria yang apatis dan hanya mementingkan kepentingan diri. Tapi terhadap kata-katanya, ia selalu berpegang dengan baik. Karena sebelumnya dia sudah berkata akan membiarkan wanita itu bertemu segera setelah anaknya sadar, maka biarlah terjadi begitu.


"Ayo cepat lepaskan" Buru Annette tak sabar.


"Eum" Egbert bersenandung malas dan pergi melepaskan simpul yang mengikat kedua tangan Annette ke tiang ranjang. Tampak kedua pergelangan tangan Annette memerah karena bekas ikatan, tapi itu tidak terlalu mencolok, karena ia menggunakan kain sutra yang sangat lembut untuk mengikat wanita itu.


Annette mungkin tak menyadarinya.


Tapi sebenarnya pemilihan penggunaan sutra alih-alih tali berserat kasar, adalah bentuk perlakuan khusus nya terhadap wanita itu. Egbert tidak ingin melukai wanita tersebut. Biarpun harus mengurungnya, ia akan menjaga dan merawatnya dengan baik.


Tanpa Egbert sadari, tindakannya itu adalah awal simpati kecilnya untuk Annette.


Tok..tok..


"Tuan, apa anda ada didalam?"


"Apa anda mendengar saya?"


Egbert menghela nafas kasar, "Aku mendengar mu"


Di luar pintu, itu adalah Zeta yang berdiri. Sekujur tubuhnya telah bergidik ngeri merasakan suara di dalam sana agak mencekam dan mencekik.


"B-baik, tuan. Kalau begitu saya permisi" Zeta langsung memutuskan untuk berambus pergi dari depan pintu.


Annette perlahan menurunkan salah satu kakinya ke bawah, tepat ketika ia berpijak pada lantai dan hendak melangkah. Otot kakinya yang kaku, membuatnya jatuh meluncur ke lantai.


"Ah!"


"Kenapa bisa jatuh?" Tanya Egbert dengan ekspresi tak berdosa nya.


Annette mengangkat kepalanya, menoleh pada pria vampir itu, "Menurut mu kenapa lagi?"


Itu jelas-jelas karena tiga hari ini ia terus berbaring di kasur dalam keadaan terikat. Membuatnya agak kaku untuk bergerak karena belakangan ini dari mandi hingga makan, itu pelayan yang mengurusnya.


Annette menggapai pinggir ranjang, mencoba bertumpu di sana untuk bangun. Tapi lututnya begitu lemah, hingga lagi-lagi ia terjatuh. Egbert tidak hanya diam menonton. Ia dengan murah hati berjongkok dan mengulurkan tangannya kebawah lutut dan punggung kurus Annette, kemudian ia mengangkatnya.


"A-pa yang kau lakukan?"


"Menurut mu apa lagi? Ya menggendong mu"


"Aku—"


"Aku apa hum? Apa kau mau bersikeras mengatakan bisa berjalan sendiri? Jika begitu aku akan menurunkan mu" Egbert sudah bersiap hendak menurunkan Annette, tapi sebelum itu Annette berseru cepat.


"Jangan" Annette malu-malu mengalungkan tangannya ke leher Egbert. Posisi wajahnya yang meringkuk seperti kucing kecil ke dadanya itu, membuat Egbert mengembangkan senyum geli.


Kemudian Egbert mengambil beberapa langkah ke pintu, membukanya dan pergi keluar. Berjalan di sepanjang lorong, ia berpikir tubuh Annette cukup ringan, membuatnya merasa seperti menggendong seekor kucing.


"Kau mengatakan itu seakan-akan aku akan terus tinggal bersama mu disini"


"Kau benar. Kau akan terus tinggal di sini dengan ku"


Bola mata Annette membesar dan berkedip, "Kenapa aku harus?"


"Ya kenapa lagi?" Egbert menatap lurus ke depan, "Kau adalah istri ku. Sudah seharusnya kau bersama dengan ku"


'Istri ku?'


'Dia mengakui aku sebagai istrinya?'


Hati Annette seketika berdesir dan sekujur tubuhnya larut dalam esensi getaran yang tak tertahan. Itu perasaan haru dan manis. Rasanya persis seperti lima tahun silam. Saat di mana ia dengan naif nya jatuh cinta pada pria berdarah dingin itu. Tapi sekarang...


Annette mengontrol ketat dirinya untuk tidak terjerumus dalam luka yang sama.


"Istrimu?" Nada suara Annette terdengar mencemooh, "Katakan saja itu karena aku pelayan darah mu" Mengatakan itu, Annette dapat merasakan sedikit rasa asam dan pahit, jauh di ulu hatinya.


Egbert tidak mengatakan apa-apa. Itu membuat Annette merasa dirinya lebih menyedihkan.


Setelah menuruni anak tangga dan berada di lantai bawah. Egbert dan Annette di sambut dengan kekacauan besar yang tersaji tepat di hadapan.


Sofa-sofa di jungkir balik, vas bunga jatuh retak dan keramik hias yang ada di atas meja itu sudah jatuh hancur berkeping-keping di lantai. Jauh di sudut dapur terdengar kegaduhan dari benda-benda jatuh dan pekikan pelayan.


Mata Egbert menggelap. Melihat kekacauan itu, mengembalikan memorinya pada lima tahun silam. Saat Annette memporak-porandakan kastil nya karena bersikeras untuk pergi.


"Sungguh ibu dan anak. Sikap bodoh kalian benar-benar mirip"


Membuat kekacauan di kastil nya sama saja seperti mencari mati. Tapi ibu dan anak itu sama bodohnya untuk berpikir mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.


"Kau mengatai putra ku bodoh?"


"..." Egbert tidak menanggapi apa-apa.


Mendapati ekspresi muram di wajah tampan itu, diam-diam Annette merasa bangga dengan putranya.


'Aldrich ku memang yang terbaik'


Egbert bergegas mendatangi dapur dan melihat itu kekacauan yang tak tertolong.


"Nak, mohon berhenti. Kami sudah memanggil tuan dan kau dapat berbicara baik-baik dengannya nanti soal di mama ibu mu"


"Minggir.."


"Ahh.." Refleks pelayan itu melompat ke sisi lain saat piring di lempar tepat ke posisi nya berdiri.


"Aldrich!" Seru Annette. Matanya berkaca-kaca menatap putranya yang masih berdiri kokoh sambil membuat kekacauan.


Tiga hari ini ia tidak tenang sama sekali karena Aldrich yang masih belum siuman. Tapi pemandangan di depannya itu, sangat melegakan hatinya.


Suara yang penuh dengan sarat keibuan itu, langsung membuat Aldrich berpaling, "Maa.."


"Iya, ini mama sayang"


Annette baru saja berpikir untuk melompat turun dari gendongan Egbert. Tapi siapa yang mengira Egbert menekan punggung nya dan mencegah niatnya.


"Egbert, apa yang kau lakukan?" Annette mengerutkan keningnya tak senang, "Biar kan aku turun"


Egbert menatap ke bawah, melihat begitu banyak pecahan beling yang berserakan di lantai.


"Kau!" Aldrich dengan lancang mengangkat jarinya dan menunjuk kearah Egbert.


Para pelayan yang melihat itu, tak tahan untuk tidak bergetar.


'Bocah kecil itu sungguh berani!'


"Lepaskan mama ku!"