Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|69|. Rubah Kecil Yang Licik



"Anak itu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia selalu patuh dan berdiam di rumah. Jadi melarikan diri seperti ini, saya benar-benar tidak tau harus mencarinya kemana" Suara Annette terdengar bergetar dan berselimut kerisauan yang tak tergambar.


"Kalau begitu kemana biasanya dia pergi bermain?" Tanya Egbert kemudian. Sesaat ia berpikir, kenapa ia harus repot-repot mencari anak manusia milik pelayan darahnya?


Lama berpikir, terakhir Ia mendesah pelan akan tidak tau kenapa ia harus melakukannya.


"Aku benar-benar tidak tau" Lagi-lagi Annette menanggapi pertanyaan Egbert dengan menggelengkan kepalanya pelan, suaranya terdengar serak seperti akan tangis, "Dia tidak punya selera main seperti anak-anak pada umumnya. Sepulang sekolah, dia paling hanya duduk diam di rumah berkutat dengan buku-buku"


Annette senang karena Aldrich punya kebiasaan tersebut. Karena ia terlalu takut jika Aldrich bermain di luar dan terlalu sering berinteraksi dengan anak-anak seusianya, orang-orang akan menemukan beberapa keganjilan yang ada pada Aldrich.


"Kalau begitu kita hanya perlu menemukannya di sekolahnya"


"Kenapa begitu?" Pernyataan yang tiba-tiba itu membuat sepasang alis Annette bertaut dan matanya melirik kearah Egbert.


"Aku dapat melihat karakter yang membosankan pada putramu" Ucap Egbert, matanya tak lepas memandang ke depan fokus melihat jalan yang sedikit di penuhi kendaraan yang berlalu lalang, "Katamu dia tidak suka bermain bukan? Dia juga tidak suka interaksi dengan dunia luar, itulah kenapa sepulang sekolah ia hanya duduk diam di rumah. Menurut ku anak seperti ini jika kabur dari rumah, dia tidak akan mencari tempat yang sulit untuk pergi. Karena ia hanya akan menemukan satu tempat di mana seseorang dapat dengan mudah mengaksesnya dan menemukannya"


"..." Annette menyimak penjelasan tersebut dengan kening berkerut dalam.


Sekilas Egbert menoleh dan melihat ekspresi serius Annette yang mencoba mencerna kata-katanya, ia pun melanjutkan lebih jauh, "Karena sebenarnya, dia bukannya ingin melarikan diri. Ini hanyalah bentuk penentangan khusus terhadap ketidakpuasannya"


"..." Annette menoleh pada Egbert, sesaat merasa cukup terkesan karena pria dingin itu berbicara lumayan banyak padanya. Jauh dari biasanya yang selalu irit, dingin dan langsung ke poin.


"Hah, anak mu adalah si jenius kecil yang tau memanfaaatkan titik kelemahanmu dengan baik. Dia pasti sudah menduga betapa cemas dan panik nya kau sekarang"


"Yah, ibu mana yang tidak cemas dan panik mengetahui putranya pergi melarikan diri dari rumah?" Tukas Annette. Pangkal hidungnya terasa asam memikirkan kejadian semalam. Jika bisa memutar waktu, ia pasti akan lebih menahan diri sehingga tidak menggertak Aldrich dengan suara kerasnya.


"Itu benar. Tapi bukannya putra mu masih berusia lima tahunan?"


"Eum"


"Anak normal mana yang berani melakukan penentangan seberani ini di usia mereka yang masih sebegitu kecilnya. Itulah kenapa aku mengatakan, di samping jenius, anak mu ini jelas rubah kecil yang licik"


"Anda menyamakan putra saya dengan rubah?" Sahut Annette tak senang.


"Itu hanya metafora, kenapa kau sensitif sekali. Lagipula perumpamaan yang ku berikan juga tidak buruk" Itu jelas seperti pujian menurutnya, tapi sepertinya gadis pelayan darahnya tidak memikirkan hal yang sama. Gadis itu jelas melayangkan tatapan tajam—jelas dengan keras menentang itu.


Sebagai tanggapan, Egbert hanya mengatupkan bibirnya rapat, tidak berbicara lagi.


......................


Aldrich dengan pakaian seragam sekolahnya, telah berlari di awal pagi yang cerah menggunakan kekuatan supernya sebagai anak setengah vampir. Larinya yang secepat bayangan, beberapa kali mencuri pusat perhatian para pengendara yang bertanya-tanya...


Apa yang baru saja mereka lihat?


Tapi pertanyaan itu terbiar sepi begitu saja.


Dengan kecepatan larinya itu, ia bisa sampai ke sekolah tanpa sedikitpun merasa penat. Untuk menghindari pusat perhatian, ia melesat ke pintu belakang sekolah untuk masuk. Mendapati itu terkunci, ia pun melompat melewati tembok dengan gesitnya.


Aksinya itu berhasil membuat salah seorang gadis kecil yang seumuran dengannya, terperanjat kaget.


"K-kamu—"


"Syut!" Aldrich meletakkan jarinya di bibir, mengisyarakatkan gadis kecil itu diam dan tak banyak bicara.


Meskipun belum dapat menampik rasa terkejutnya, pelan gadis kecil itu mengangguk. Tampak rambut ikalnya yang hitam sebahu, itu di kepang dan sedikit bergoyang tersentuh angin.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Aldrich menatap gadis kecil yang paling cantik di sekolahnya itu dengan mata penuh minat.


"Anak kucing" Gadis kecil dengan rambut terkepang manis, menunjuk ke semak-semak. Di dalam sana bersembunyi seekor anak kucing berbulu putih hitam yang tampak sangat menggemaskan mata.


"Kamu suka kucing?" Alih-alih menatap anak kucing yang bersembunyi di sana, Aldrich lebih menaruh minat pada wajah cantik Maribel yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Eum" Angguk Maribel dengan semangatnya.


"Kenapa?"


"Kalena imut" Ucapnya, dengan muncung bibir kecilnya maju se-senti membentuk senyum polos yang menggemaskan.


Suara cadelnya itu membuat Aldrich menekan bibirnya rapat menahan diri untuk tidak tergelak, "Oh!"


"Kamu kenapa lompat dali tembok tadi? Kamu gak tatut jatuh?" Tanyanya.


Suaranya terdengar sangat imut. Membuat Aldrich mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak mencubit pipi Maribel yang chubby, "Engga" Aldrich menggeleng.


"Lain kali jangan lompat lagi ya. Itu bahaya, telus kalo ibu gulu tauk, nanti kamu di malahin loh"


"Pftt" Kali ini Aldrich tak dapat menahannya lagi. Tawa kecil begitu saja lolos dari mulutnya.


"Kamu kok ketawa cih?" Tampak sepasang mata Maribel yang bewarna coklat menawan, menatap Aldrich bingung, "Aku selius loh, nanti ibu gulu malah, kamu gak tatut um?"


Nyaris saja tangan Aldrich melayang, siap mencubit pipi chubby Maribel, tapi ia langsung menyilang kan tangannya ke belakang, "Coba ikutin aku, ibu gu-ru"


"Ibu gulu" Ucap Maribel dengan nurut nya.


"Gu-ru"


"Gulu"


"Bukan 'L' tapi 'R', gu-ru" Ujar Aldrich gemas. Ia benar-benar bingung, kenapa kebanyakan temannya masih belum begitu jelas ketika berbicara.


"..." Kali ini Maribel tidak membuka mulutnya, bibir kecilnya terkatup rapat dan menatap Aldrich diam.


Melihat Maribel yang diam, Aldrich pun kembali berucap, "Ayo coba ikutin aku sekali lagi, gu-ru"


"..." Maribel menggelengkan kepalanya menolak.


"Kenapa?"


"Gak bica. Cucah" Keluhnya.


Yang lagi-lagi berhasil membuat Aldrich tergelak. Maribel hanya tersenyum-senyum malu menanggapi itu. Ia tidak begitu akrab dengan Aldrich sekalipun mereka teman sekelas.


Karena Aldrich cenderung diam, tak banyak bicara dan kerapkali menolak setiap kali di ajak bermain.


"Dasar anak kecil!" Ucap Aldrich masih setengah tertawa.


"Kamu juga anak kecil" Tutur Maribel yang tak terima jika hanya dirinya seorang yang dikatai begitu.


"Tapi aku tidak cadel seperti kamu" Balas Aldrich lagi yang tak mau kalah.


Maribel melangkah mendekat ke sisi Aldrich, mengangkat tangannya ke atas kepala ia pun bersiap mengukur tinggi badannya dan membandingkannya dengan Aldrich, "Tapi tinggi badan kita cama"


Sejak saat itu Aldrich mulai mengenali Maribel sebagai...


Gadis kecil yang tak mau kalah!


......................