
Malam harinya, Annette makan dengan lahap di meja makan. Menikmati berbagai jenis hidangan mewah yang tersaji di meja. Namun sayang sekali, ia harus menikmatinya seorang diri. Mengingat putra kecilnya yang setengah vampir hanya meminum darah dan para pelayan yang sungkan duduk untuk makan semeja dengannya.
Setelah makan malam berakhir, Annette pergi menidurkan Aldrich. Menusuk jari telunjuknya dengan jarum beberapa kali, kemudian ia memasukkan nya kedalam mulut kecil Aldrich untuk dihisap. Sekitar tiga puluh menit berlalu akhirnya putra kecilnya itu sudah tertidur pulas.
Saat itu ia mendengar suara pintu kamarnya di ketuk ringan, Annette langsung turun dari ranjang dan pergi membuka pintu.
"Ada apa?"
Yang berdiri di luar sana adalah Mikha yang tersenyum sopan kepadanya.
"Tuan Egbert memanggil anda ke kamarnya"
"Untuk apa dia memanggilku ke sana?" Sepasang alis Annette bertaut penuh tanya.
"Kalau soal itu saya tidak tau nyonya. Saya hanya datang untuk menyampaikan pesanannya saja"
Annette mengangguk ringan, bahwa ia mengerti.
Setelah mengatakan itu, Mikha langsung permisi pergi.
Annette menutup pelan pintu dan bergegas naik ke lantai dua menuju kamar Egbert berada. Karena hari sudah larut, banyak lampu yang tidak perlu sudah dimatikan. Hanya sedikit cahaya lampu dari luar dan setitis sinar rembulan yang menelusup masuk kedalam. Menerangi penjuru kastil yang gelap dan sunyi.
Berdiri di depan pintu kamar Egbert, ia mengetuk pelan.
"Masuk"
Suara dingin nan berat menyambut gendang telinganya.
Annette menarik gagang pintu kebawah, mendorong pintu dan masuk. Sama seperti kali pertama ia memasuki kamar itu, suasana di dalam sana redup, hanya remang kekuningan oleh cahaya lampu tidur. Hawa yang memenuhi tempat itu dingin lagi mencekam, sehingga membuat Annette sedikit ragu melangkah lebih maju ke depan.
"Egbert, apa kau di dalam?"
"Aku di sini"
Annette sudah berada tepat di pertengahan kamar yang luas. Melihat ranjang yang kosong, tapi tidak menemukan si pemilik suara, "Di mana?" Ia pun mengedarkan pandangannya mencari.
"Di sini"
Suara itu berada tepat dibelakangnya. Annette menoleh dan...
"Aaa.." Berteriak dan seketika berbalik, "Kenapa kau tidak bilang sedang memakai baju?"
Egbert baru saja selesai mandi. Kulit putih pucat nya terlihat segar bercampur tetesan air. Rambut hitam legamnya setengah basah, itu acak berantakan tapi dengan cara yang memikat. Bentuk otot dadanya yang menawan, walau hanya melihatnya sekilas, mengingatnya saja membuat pipi Annette memerah.
Egbert menanggalkan jubah mandinya dan mengenakan jubah tidurnya yang bewarna abu-abu gelap, lalu mengikat simpul nya dengan longgar.
"Aku sudah selesai, kau bisa berbalik"
Pelan, Annette berputar kebelakang. Matanya berkedip gugup, saat samar-samar merasakan hawa panas menjalari wajahnya, "Tidak bisakah kau berpakaian dengan benar?"
Egbert dapat merasakan keinginan Annette yang terungkap jelas dari sepasang mata hitamnya yang jernih. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum kecil, "Tidak perlu terlalu canggung. Kita suami-istri, jika kau ingin sesuatu, kau bisa berterus terang padaku"
Annette menggertak kan giginya tak senang. Semakin lama, sifat asli pria itu semakin terbuka. Dasar penggoda!
"Langsung saja, kenapa kau memanggilku kemari?" Annette melipat kedua tangannya di depan dada. Sayup-sayup merasakan angin yang berhembus kencang melewati jendela kamar yang terbuka. Tirai putih bergoyang-goyang seiring disapu angin malam yang dingin. Itu membuatnya sedikit menggigil.
Egbert cukup peka menilai dari gelagat nya. Ia dengan murah hati pergi menutup jendela. Kemudian ia berbalik dan bersandar ke kaca jendela dengan menekan tirai putih di belakangnya. Ia memandangi tubuh kurus Annette yang tampak kebesaran dalam gaun tidur putihnya yang halus. Kerah atasnya yang konservatif, menyembunyikan keindahan tulang selangka nya yang menggoda. Rambut coklat keemasannya yang semakin panjang dari lima tahun lalu, itu jatuh begitu jumawa ke pinggang kecilnya yang tipis.
"Kemari lah!"
Egbert menggoyang kan telunjuknya memanggil Annette datang padanya. Annette menghela nafas untuk sikap angkuh nya yang sedingin es kutub selatan. Ia pun berjalan mendatangi pria itu.
"Ini sudah larut, aku juga sudah sangat mengantuk. Cepat katakan, kau memanggilku untuk apa!"
Bibir kecil Annette yang terbuka-tertutup seiring berbicara, sedikitpun tidak lepas dari tatapan Egbert. Bibir merah ranum nya yang seperti ceri matang, membuat seseorang merasa lapar untuk menggigit, mengulumnya dan bahkan mengunyahnya. Bagi Egbert yang seorang vampir, jelas bibir manusia jauh lebih menggoda dari bibir wanita vampir yang dingin.
Merasakan kesunyian pria itu, Annette sama sekali tidak dapat menembus pikirannya. Juga dari cara pria itu menatapnya, Annette sama sekali tidak menangkap emosi apapun. Itu membuatnya berkedip dalam kebingungan.
"Egbert?"
"Aku ingin menagih janji mu" Mata hitam Egbert berpendar dalam sepintas cahaya kilat akan nafsu.
Annette merajut sepasang alisnya, "Janji apa?"
Agaknya Annette tidak dapat merasakan keberadaan hewan buas yang sedang menatapnya dengan lapar. Barangkali itu karena ruangan kamar yang terlalu redup, atau mungkin karena Egbert yang begitu lihai menyembunyikan hasrat terselubungnya.
"Tidakkah kau mengingat janjimu sore ini padaku?"
"..." Annette memeras otaknya untuk mengingat. Itu membuat pelipisnya berlipat dalam kebingungan. Lama ia berpikir, kemudian ia menggelengkan kepalanya tak menemukan jawaban.
Egbert bangun dari sandaran nya dan berdiri tegap. Matanya yang nengukung Annette dalam tatapan nafsu nya, itu tak lepas dari memandang bibir kecilnya. Annette mengedipkan matanya, samar-samar ia mulai menyadari kemana tatapan pria itu tertuju. Sudah terlambat bagi Annette untuk kabur.
Pria itu sudah menarik tubuh kurusnya dan membawanya ke kaca jendela. Punggungnya tertabrak dengan tirai dan mendapati pria itu menekannya di sana.
"E-egbert.."
Egbert menekan bagian kepala belakang Annette dan mulutnya menelan habis bibir kecil Annette yang se-bulat ceri merah.
"Emhp—" Annette mencoba memberontak, tapi Egbert menahan pergerakan kepalanya begitu kuat.
Pria itu membuka mulutnya saat mengulum bibir atas Annette yang penuh dan menutup mulutnya saat mengecup bibir bawah Annette yang tipis, dalam kondisi itu Annette berbicara di sela-sela, "Eg-ert...a-a au la-u-an.." Suaranya tak jelas karena mulut Egbert yang tak berhenti menguasai bibirnya dengan gairah laparnya.
Tangannya mendorong dada kerasnya, tapi Egbert malah mengambil kedua tangannya dan membawanya ke atas kepala. Kini pergerakan nya terkunci sudah.
"Emhp—" Annette merasa bibirnya benar-benar dilahap habis oleh Egbert. Ia dapat merasakan bagaimana mulut ganas nya yang maraup bibir kecilnya tanpa ampun. Merasakan gigitan kecilnya yang perlahan membuas dan sedikitpun tidak memberinya ruang untuk meraup oksigen sekitar. Jika lebih lama lagi, ia mungkin akan pingsan karena kehabisan nafas.