Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|24|. Apa Tidak Ada Cara Lain?



"Nyonya tadinya sedang makan, namun baru saja beberapa suap ia sudah memuntahkannya. Nyonya, begitu lemah sekarang..." Papar Zeta yang sama sekali tidak melebih-lebihkan. Annette dapat merasakan betapa lemah tubuhnya saat ini. Jika saja dua orang itu tidak datang memegang kedua lengannya, agaknya ia benar-benar sudah jatuh memukul lantai sekarang.


Egbert menatap kearah wajah Annette. Di samping betapa pucat nya itu, ia dapat melihat sejejak kelelahan tercetak jelas di raut wajahnya yang tirus. Sepertinya gadis itu sudah sangat kewalahan memuntahkan isi dalam perutnya dari pagi hingga malam.


Ya... gadis itu tampak benar-benar tersiksa karena itu.


Egbert mengambil beberapa langkah mendatangi mereka. Kemudian tanpa kata, ia menarik tubuh kurus Annette yang seringan kapas dari dukungan Mikha dan Zeta, lalu membawanya lembut ke pelukannya.


"Aku akan mengurusnya" Ucap Egbert pada Mikha dan Zeta.


Hanya kedua pelayan itu masih bergeming di posisi berdiri mereka sambil menatap Annette cemas. Padahal mereka menangkap jelas sinyal Egbert yang menyuruh mereka untuk bergegas pergi, tapi mereka tak tahan melepaskan Annette begitu saja pada tuan mereka yang dingin dan acuh.


"Pergilah!" Akhirnya Egbert menyuarakan titahnya.


"Baik tuan" Keduanya pun tidak lagi berdaya membantah dan berjalan pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.


Annette merasa tubuhnya seringan layang-layang, wajahnya bertumpu lemah pada dada bidang kokoh Egbert. Mendapati kedua kakinya melayang ke udara, Annette tak sadar kapan pria itu menggendongnya dan telah membawanya ke kamar.


Ia mengedipkan kelopak matanya lemah menyadari tubuhnya sudah berbaring di atas ranjang. Saat itu ia mendengar suara dingin yang tak lagi asing berbicara pada seseorang.


"Apa tidak ada cara mengatasi rasa mual nya?" Tanya Egbert. Segera setelah ia membaringkan Annette di tempat tidur, ia menyuruh Mary memanggil Robbin untuk datang ke kamar.


"Jika terus memuntahkan isi perutnya seperti ini dia tak akan memiliki cukup tenaga untuk mengandung" Egbert masih ingat betapa ringan tubuh Annette ketika ia menggendong nya tadi. Seakan itu sehelai kertas tipis yang dapat ia ayunkan dengan mudah ke udara.


"Saya akan memeriksa nya sebentar" Setelah mengatakan itu, Robbin berjalan mendatangi tempat tidur dan meraih pergelangan tangan Annette. Kemudian jempolnya menekan tepat di nadi gadis itu merasakan denyut nya yang lumayan lemah.


Dia adalah dokter yang telah hidup ratusan abad. Sebelum kemajuan teknologi berkembang di bangsanya, hal-hal dasar pemeriksaan hanya dapat mengandalkan perhitungan denyut nadi. Seseorang berpengalaman sepertinya, tentunya sudah sangat ahli soal itu. Hanya dibutuhkan ketelitian dan pemikiran, dia pun mulai mendiagnosa sambil terus memastikan nadi yang berdenyut di bawah jempolnya.


Setelah memeriksa dan memastikan sekali lagi hasilnya, Robbin kemudian meletakkan tangan Annette dengan pelan ke kasur dan ia berjalan menghampiri Egbert memberi penjelasan akan hasil pemeriksaannya.


"Pada gadis manusia yang sedang mengandung, dalam tubuh mereka ada namanya hormon HCG, yang mana semakin meningkat hormon tersebut maka semakin besar mual dan muntah terjadi. Tapi setelah yang saya periksa, faktor pemicu terbesar istri anda yang terus-menerus mual dan muntah seharian ini, itu tak lain karena bawaan bayi di dalam perutnya"


Meskipun lemah tak ber-maya, bulu mata Annette berkedip samar ketika mendengar dokter tersebut merujuk padanya dengan kata 'istri anda'. Hatinya berdesir seakan statusnya terakui.


"Istri anda adalah manusia sedangkan bayi yang dikandungnya adalah vampir. Dari perbedaan ini saja sudah jelas begitu banyak komplikasi yang terjadi di samping resiko yang saya sebutkan sebelumnya" Terang Robbin. Sekilas sudut matanya melirik ke arah Annete yang terbaring lemah dengan bibir pucat pasi.


Ia merasa kasihan untuk gadis muda itu yang harus begitu menderita karena mengandung sesuatu yang tak seharusnya di kandung nya sebagai gadis manusia.


"Saya prediksi kan rasa mual istri anda tidak akan pernah berakhir sampai bayi tersebut lahir. Itu karena bayi yang dikandungnya menolak keras asupan makanan manusia yang di konsumsi oleh sang ibu"


"Apakah tidak ada obat tertentu yang dapat mengurangi rasa mual nya?" Tanya Egbert. Ekspresi tenangnya yang tak be-riak sama sekali tidak meninggalkan sejejak keprihatinan. Melainkan sepintas kekhawatiran kecil karena takut rencana besarnya terganggu.


"Sejauh ini tidak ada" Robbin menggelengkan kepalanya. "Saya memang sedikit mengetahui fisiologi manusia, namun hanya sebatas itu saja, tidak lebih"


"Satu-satunya cara yang dapat kita lakukan adalah membiarkan istri anda mengkonsumsi darah hewan seperti kita"


Seluruh sel saraf dalam tubuh Annette seketika menegang ketika mendengar itu. Yang benar saja? Darah hewan?


Setelah mengatakan hal tersebut, Robbin pun permisi kembali ke kamarnya untuk pergi beristirahat. Sedangkan Egbert berjalan duduk tepat di samping Annette berbaring.


"Apa sungguh tak ada cara lain?" Suara Annette terdengar lemah. Tatapan matanya yang terlihat kuyu menoleh pada Egbert.


"Untuk sementara ini hanya itu satu-satunya cara" Jawab Egbert.


Setelah mengatakan itu, Egbert pergi berbaring tepat di samping Annette. Lengan besarnya menarik tubuh kurus Annette agar merapat ke sisinya dan kemudian ia menarik selimut.


Annette tidak memberontak, memilih berbaring dengan nyaman dalam kukungan pria itu. Tidak butuh waktu lama hingga kelopak matanya memberat dan ia pun jatuh tertidur.


Egbert beberapa saat memperhatikan Annette yang sudah tertidur pulas di sisinya. Tiap kali tatapannya jatuh ke bibir pucat pasi Annette, ia menahan dirinya sekuat mungkin agar jangan sampai kehilangan kendali hingga menggigitnya.


Walau dalam hati ia terus bertanya-tanya, akan seperti apa rasanya? Apakah sama?


Hingga pagi pun datang menyambut sepasang suami-istri itu yang masih tidur bersama. Sepintas cahaya matahari yang menembus tirai kamar, sama sekali tidak mengusik keduanya dari terbangun.


Di luar sana Mary berdiri di depan pintu mencegah Zeta dan Mikha masuk kedalam.


"Tuan dan nyonya masih belum bangun"


Pernyataan itu membuat Mikha dan Zeta saling bertukar pandang, "Apa?"


"Tuan Egbert masih berbaring di dalam bersama nyonya?"


"Syuhh, jaga suara kalian" Peringat Mary.


Mikha dan Zeta pun terus mengulum rapat bibir mereka.


"Benar" Angguk Mary, "Tuan tidak pergi meninggalkan kamar nyonya sejak semalam" Terang Mary.


Lagi-lagi Mikha dan Zeta saling bertukar pandang. Hal tersebut sangat langka terjadi. Karena biasanya tuan mereka akan selalu pergi meninggalkan kamar Annette meski sebelum fajar bertandang. Tapi ini...


Annette mengerutkan keningnya dan perlahan kelopak matanya terangkat. Pemandangan pertama yang menyambut retina nya adalah wajah tampan Egbert. Begitu saja tangannya terulur ke atas dan jari-jemarinya mendarat di wajah berkontur tajam itu.


"Kau sudah bangun?"


Suara dingin itu berhasil membuat sekujur tubuh Annette membeku beberapa saat.