
"Kenapa mama membawa pulang seorang pria ke rumah?"
Deg! Annette membelalak kan matanya dengan pertanyaan putranya itu. Sesaat ia merasa seperti menjadi seorang ibu yang tak bermoral, "I—tu"
"Maa, ini tidak baik. Bukankah sudah begitu larut untuk menerima tamu di rumah? Terlebih lagi seorang pria. Jadi suruh pulang saja dia" Ucap Aldrich lagi.
Annette menggigit bibir bawahnya, menghidangkan senyum ketidakberdayaan. Andai saja putranya tau kalau ia sangat terpaksa membawa orang itu ke sini.
Egbert yang mendengar celotehan bocah kecil itu, hanya menekuk kan sudut bibirnya tersenyum acuh, "Hey bocah, aku akan menginap di rumah mu malam ini"
"Apa?" Aldrich langsung melongok kan wajahnya untuk melihat siapa orang angkuh itu yang beraninya datang larut malam dan dengan tidak tau malu nya menginap di Istana kecilnya bersama sang ibu.
Tapi Annette sudah lebih dulu menarik kepala putranya itu ke perutnya untuk lagi-lagi di sembunyikan, "Sayang, dia adalah bos besar di tempat mama bekerja. Jadi kita jangan terlalu mengusiknya, oke?" Bisik Annette, yang membungkuk ke bawah tepat ke telinga kecil putranya.
"Kalau dia bos mama, terus kenapa harus repot-repot menginap di rumah kecil seperti kita ini?"
"Itu—"
"Kenapa mama naif sekali, tidak kah mama pernah mendengar kalau pria dewasa itu tak ubahnya seperti jelmaan serigala buas?"
Annette memijit pelipis nya, "Dari mana kau mendengar hal itu?"
"Ma, aku mungkin bayi kecilmu yang baru menginjak usia lima tahun di mata mu. Tapi otak ku masih lebih cerdas dari mu"
"Hah, anak ini!" Annette tidak tau harus tertawa atau menangis dengan sikap narsistik Aldrich. Alhasil ia hanya menepuk jidat tak berdaya.
"Malam ini saja, oke?"
"Kita hanya punya dua kamar. Memangnya dia akan tidur di mana?"
"Eum, kau akan tidur bersama mama, dan biarkan orang itu tidur di kamar mu, bagaimana?"
"Itu kamar ku, tidak boleh"
"Baik, kalau begitu mama yang akan tidur di kamar mu, hum?"
"Tidak bisa" Geleng Aldrich tegas, "Aku tidak percaya dua orang dewasa yang berbeda jenis kelamin tinggal di bawah atap yang sama meski satu. malam. dan berbeda. Kamar." Tukas Aldrich dengan penuh penekanan.
"Tapi sayang, mama gak bisa usir dia begit—"
"Pokoknya aku tidak mau tau! usir orang itu dari rumah kita" Putus Aldrich, gaya memerintah nya persis sama seperti Egbert. Keras kepala, final dan tak boleh di ganggu gugat.
Itu membuat Annette pusing bukan kepalang. Di tempat kerja ia harus menghadapi Egbert dan sepulang ke rumah ia harus melayani Aldrich kecil yang berwatak persis sama seperti ayahnya.
'Nak, kenapa kau harus mewarisi sifat otoriter papa mu?'
Mata Egbert berkerut dalam, menatap punggung Annette yang tampak kewalahan bernegosiasi dengan putra nya hanya untuk mengizinkannya bermalam, 'Hah, benar-benar..'
'Kau bahkan tidak bisa mengatur putra mu sendiri!'
"Hey bocah, tenang saja. Aku tidak tertarik pada mama mu. Jadi tidak akan ada yang terjadi" Celutuk Egbert yang agaknya sudah kehabisan kesabaran. Entah berapa lama ia berdiri hanya menunggu ibu dan anak itu saling berbicara satu sama lain.
"Mama ku seorang wanita cantik, yang benar saja anda tidak tertarik, cih!"
"Hah" Egbert membuang nafas jengah menghadapi sikap arogan bocah itu, "Kau adalah anaknya. Itu wajar kau menganggap mamamu sendiri cantik"
Aldrich yang sudah tidak tahan lagi, bersikeras keluar dari kukungan ibunya dan akhirnya menampakkan wujudnya kearah Egbert, "Baik, kalau begitu biarkan saya bertanya pada anda, apa anda memiliki rabun dekat atau jauh?"
Annette sesaat menahan nafas, panik yang tak tergambar hingga membuatnya membeku di tempat.
'B-bagaimana ini, bagaimana jika Egbert menyadarinya?'
"Tidak keduanya. Kau bisa lihat sendiri kan aku tidak mengunakan kacamata"
"Kalau begitu, apa anda seorang pria impoten?"
"Kau bocah—" Egbert di buat terngaga dengan pertanyaan bocah itu selanjutnya yang sungguh sangat tak terduga. Dari mana anak kecil mendapatkan pengetahuan se-lugas itu? Kemudian ia menoleh pada Annette berujar, "Kau mendidik putra mu dengan sangat baik ya"
Annette hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tertawa kecil, "Yah, begitulah"
Apa boleh buat? Itu karena Aldrich yang terus berkembang lebih cepat dari anak pada umumnya. Bahkan guru-guru di sekolah pun menganggap putranya seorang genius yang sangat menjanjikan.
"Jadi bagaimana, anda pria impoten atau tidak?"
"Tidak" Untuk sesaat Egbert merasa, sepertinya ia sudah terlalu banyak bicara dengan bocah itu.
"Kalau begitu saya tidak bisa mempercayai anda" Ucap Aldrich yang menyilang kan kedua tangannya di depan dada, nyaris menyaingi keangkuhan Egbert, "Jadi, pergilah dari sini!"
Egbert menatap dalam pada bocah kecil itu yang memiliki bola mata hitam besar yang sama persis dengan ibu anak itu. Memperhatikan rambut kuning jagung nya yang halus, tampak begitu menawan membingkai wajah kecilnya yang tampan. Kulit putihnya yang pucat dan berurat, membuat Egbert menajamkan tatapannya...
'Kenapa rasanya, ada yang menjanggal dari bocah ini'
Mendapati kesunyian Egbert, Annete mulai mawas. Ia terus menarik tubuh putranya dan menggendong nya, "Sayang, besok kau harus bersekolah. Jadi pergi tidur ya.."
"Tapi maa, orang itu masih ada di sini"
"Ya, ya, mama akan mengusir nya nanti, oke?" Jika ia tidak berkata begitu, Aldrich yang sama keras kepalanya seperti Egbert itu hanya akan terus berdiri di sana dan adu mulut dengan pria dewasa yang tak lain adalah ayahnya.
Setelah membawa Aldrich masuk kedalam kamar, ia pun membujuk putranya itu untuk berbaring dan tidur.
"Mama janji akan keluarkan dia dari rumah kita dan jangan beri izin dia menginap?"
"Iya mama janji!"
"Awas saja mama bohong, aku akan menggigit jar—" Kata-kata Aldrich langsung tertahan melihat tangan ibunya yang terbalut dengan kain kasa yang masih ada permukaan kemerahan di atasnya yang tak lain itu adalah darah.
"Mama terluka?" Aldrich langsung meraih tangan ibunya, "Siapa yang melakukannya, apa pria sial*n itu?
Annette rasanya akan tergelak mendengar putranya menyebut ayahnya sendiri sebagai 'pria sial*n!'
'Jika kau tau itu adalah papa mu, apa kau masih memanggilnya begitu?'
"Mama baik-baik saja, hanya kecelakaan kecil di tempat kerja" Ucap Annette, berbohong.
"Kamu tidur ya, mama keluar dulu untuk menangani orang itu"
"Eum"
Annette dapat bernafas lega mendapati putra nya yang terakhir mau berdamai. Ia pun pergi meninggalkan kamar sambil tak lupa menekan saklar lampu.
Aldrich menatap punggung ibunya yang sudah lenyap dari pandangan dengan tatapan mata tak terdeskripsi, "Ma, aku tidak se-naif dirimu"
"Apa kau pikir bisa membohongi ku?"
"Kecelakaan di tempat kerja, hah yang benar saja!"
Tidak hanya itu, Aldrich juga yakin yang kalau ibunya tetap membiarkan pria itu menginap di rumah mereka.
"Tidak masalah"
"Lihat apa yang akan ku lakukan nanti!"
Untuk seseorang yang sudah beraninya mengusik mama ku!