
Dalam perjalanan memasuki hutan belantara yang luas, kepala Annette terkulai jatuh ke jendela mobil dan tertidur. Karena mereka pergi secara spontan, ia dan Annette masih dalam piyama tidur semalam. Egbert mematikan pendingin mobil saat melihat Annette yang tampak menggigil kedinginan dalam tidurnya. Kemudian ia menepikan mobilnya sebentar dan mengirimkan pesan untuk Sean.
'Aku tidak mengira akan pergi setiba-tiba ini. Masih ada satu orang yang tertinggal dan kau harus membawanya. Tanyakan pada Mary untuk lebih jelasnya'
Sean sedang mengajar kelas siang. Mendapatkan pesanan itu dari Egbert, keningnya berkerut dalam, "Jangan bilang yang dimaksudnya adalah wanita jal*ng itu?"
'Jika itu mantan kekasih mu, jangan suruh aku'
Sean langsung mengirimkan balasan dan kembali sibuk dengan kelasnya. Hingga ketika kelas selesai, ia mengecek ponselnya dan melihat notifikasi balasan dari Egbert. Membukanya dan membacanya, matanya seketika membesar dalam kejutan.
'Bukan dia. Ini putraku'
"Apaa?" Sean hampir menjatuhkan ponsel dari tangannya.
"Jangan bilang itu adalah bayi yang dilahirkan Annette lima tahun silam?"
Cepat-cepat Sean membereskan barangnya dan bergegas ke kastil Egbert. Di sana ia di sambut oleh kepala pelayan Mary yang sedikit terlihat menyedihkan.
Wanita paruh baya itu seperti tampak kewalahan mengurusi sesuatu. Wajahnya kuyu dan pelipisnya di basahi keringat. Melihat kedatangan nya, wanita empat puluhan itu langsung saja tersenyum senang, "Tuan Sean, akhirnya kau datang"
"Ya, aku datang. Itu—"
Brak!
Bruk!
Crang..
"Tuan mudaaa"
Rentetan keributan barang-barang yang dijatuhkan dan jeritan keras para pelayan menyambut indra pendengarannya. Sean mengedipkan matanya, "Kepala pelayan Mary, itu— sebenarnya apa yang terjadi didalam?"
"Itu adalah tuan muda. Sepulang dari sekolah, ia ribut menanyakan dimana mamanya. Aku berkata padanya bahwa mamanya sedang bepergian sebentar dengan tuan Egbert. Tapi naluri anak itu begitu tajam, aku sama sekali tidak dapat menipunya" Jelas Mary. Ia menghapus tetesan keringat yang membasahi pelipis nya dan menatap Sean memohon, "Tolong bantu saya menanganinya tuan Sean"
Sean mengangguk pelan dan berjalan masuk kedalam. Setiap langkahnya dikejutkan dengan beberapa pecahan keramik dan barang-barang yang berserakan di lantai. Sean tersenyum getir. Tidak tau berapa kali sudah Egbert mengeluarkan biaya untuk menerima kekacauan ini.
"Katakan! Ke mana pria sial*n itu membawa pergi mama ku?"
Suara dingin seorang bocah, menyapa gendang telinganya. Sean menoleh dan melihat penampilan anak berumur lima tahun dengan postur badan yang sedikit lebih tinggi. Rambutnya bewarna kuning jagung itu membingkai indah wajah kecilnya yang tampan. Meskipun masih muda, bocah itu memiliki tekanan yang tak kalah besarnya dengan Egbert.
Bocah itu benar-benar tau bagaimana cara membuat orang-orang berada di bawah tekanan karena keberadaannya.
"Tuan muda, mama anda sedang berjalan-jalan sebentar dengan tuan. Sebentar lagi mereka pasti akan pulang"
"Jangan coba-coba menipuku. Katakan kemana dia membawanya pergi!" Aldrich tanpa segan menggertak.
Membuat pelayan malang itu menggigil sampai teringin menangis.
Sean menghela nafas dengan pemandangan itu, "Ayo ikut dengan ku"
Aldrich menautkan sepasang alisnya dan menoleh kearah Sean yang baru saja berbicara.
"Aku akan membawa mu kepada mama mu" Mata sipit Sean tersenyum ramah.
Bocah didepannya itu cukup menggemaskan. Tapi sayang ia tak dapat mencubit pipinya, karena itu hanya akan menjadi pintu kematiannya jika ia melakukannya.
......................
Hari sudah mau sore ketika mereka sudah tiba di hutan perbatasan. Egbert tersenyum tipis melihat Annette yang masih tertidur. Ia keluar dari mobil dan pergi membuka pintu samping tepat Annette duduk. Tanpa berniat membangunkan nya, Egbert menelusup kan tangannya dengan lembut ke bawah paha Annette dan belakang punggungnya, perlahan Egbert mengangkatnya.
"Baguslah kau masih tidur" Akan sangat merepotkan jika Annette terjaga dan memberontak di tengah jalan menuntut pulang.
Egbert menahan langkahnya saat mendapati Annette menggesekkan wajahnya dengan lembut ke dadanya. Annette datang merapat dan terus menggosok seperti kucing manis yang tertidur dalam buaian. Menatap itu, tanpa sadar Egbert tersenyum.
Egbert mendorong pintu gerbang tersebut dan ia pun lenyap dari dunia manusia. Tepat setelah kepergiannya, gerbang yang ada di hutan manusia tadi, kembali memudar dan lenyap. Seakan tidak pernah ada.
Sekarang Egbert sudah berada di negerinya. Merland. Tempat di mana para vampir berada tanpa diketahui oleh para manusia.
Egbert mengeluarkan ponselnya yang lain. Itu adalah ponsel khusus yang digunakan di negeri Merland. Karena memiliki jaringan yang berbeda di dunia manusia itulah kenapa Egbert menggunakannya secara terpisah.
'Madam, aku sudah kembali ke Merland. Siapkan aku kereta kuda, karena ada seseorang bersama ku'
Belinda yang membaca pesanan itu, merasa sangat gembira. Segera ia memerintah kan orang-orang untuk pergi menjemput yang mulia putra mahkota mereka.
......................
"Yang mulia, akhirnya anda kembali" Belinda menyambut Egbert, seperti orang tua yang menyambut kepulangan putranya dari perantauan. Itu penuh haru dan kesenangan yang penuh arti.
Egbert merasa kehangatan menyelimuti hatinya saat bertemu dengan wanita tua itu. Ia memberi senyum lembutnya pada Belinda, "Ya, madam. Saya kembali"
Belinda tersenyum dan mata tuanya berkedip terkejut melihat seorang wanita yang sedang digendong Egbert, "Yang mulia, siapa wanita yang anda gendong itu?"
Terakhir kali Belinda melihat Egbert yang mau repot-repot menggendong seorang gadis, itu adalah mantan kekasihnya. Setelah bertahun-tahun berlalu, tidak mengira Belinda dapat melihat pemandangan seperti itu lagi.
"Ini adalah istri ku madam"
"A-apa, i-itu istri anda yang mulia?"
"Dia adalah manusia, semoga anda tidak keberatan dengan itu"
Tetesan air mata merembes di kedua pelupuk mata Belinda. Wanita tua itu menangis di samping tawa bahagianya, "Bagaimana saya bisa keberatan? Saya justru sangat senang akhirnya setelah sekian lama, anda dapat kembali ke istana ini dengan seorang gadis"
Itu melegakan. Belinda sempat khawatir Egbert kesulitan menemukan pengganti Emma karena begitu mencintai mantan kekasihnya itu. Tapi melihat hari ini Egbert datang membawa seorang wanita dan mengatakan itu adalah istrinya, Belinda tidak perlu khawatir lagi.
Egbert tersenyum dengan sorot matanya yang lembut. Ia tau wanita tua itu telah mengkhawatirkan nya yang selama ini selalu menolak tawaran pernikahan dari para putri bangsawan yang berdatangan. Tapi wanita tua itu tetap menghormati keputusannya untuk tidak mendesaknya memilih salah satu dari mereka.
"Kalau begitu saya akan menyiapkan kamar untuk anda berdua"
"Merepotkan anda untuk melakukannya madam"
"Tidak sama sekali yang mulia"
Belinda memanggil para pelayan dan menyuruh mereka untuk menyiapkan kamar utama. Setelah selesai, Egbert langsung membawa Annette masuk kedalam sana. Wanita itu masih tertidur begitu pulas dalam pelukannya. Ia bersandar begitu rapat di dadanya.
Pelan Egbert membaringkan Annette di atas ranjangnya yang besar. Setelah menarik selimut, Egbert duduk sebentar di pinggir dan menatap Annette lama.
"Emm.." Annette bersenandung dalam tidurnya.
Egbert menatap beberapa saat pada bibir merahnya dan tergoda untuk menciumnya. Egbert menunduk kan kepalanya dan mengecup bibir Annette lama.
Tanpa Egbert ketahui, Annette saat itu bermimpi, melihat marshmallow dingin berada dalam jangkauannya. Ia membuka mulutnya dan menggigitnya.
Kret
Egbert menjepit alisnya dan matanya mengerut saat menarik bibirnya menjauh.
"Ahh.. marshmallow ku.." Annette merasa kehilangan marshmallow nya.
"Pftt.." Egbert tidak bisa membantu, menekan perutnya dan tergelak lucu. Ia menyentil dahi Annette, "Beraninya kau menganggap bibir ku sebagai marshmallow dan menggigitnya"
Annette bersenandung dalam keluhan, menggeleng kan kepalanya ke samping dan melanjutkan mimpi panjangnya. Egbert tampak tak berdaya melihat itu, menghela nafas pelan dan tanpa sadar telah tersenyum dengan begitu lembut. Ia bahkan tak sadar betapa senyum nya saat itu adalah ungkapan hatinya yang paling dalam...
Untuk Annette.
......................