Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|122|. Membeli Keperluan Istri



Annette sudah duduk di kereta kuda bersama Egbert. Mereka pergi ke pusat pasar negri Merland untuk membeli beberapa kebutuhan Annette dan Aldrich. Sepanjang perjalanan, Annette membuang pandangannya keluar jendela. Memperhatikan pemandangan yang masih begitu asri, jauh dari asap dan polusi. Kata Egbert, di negerinya masih belum memiliki kendaraan yang canggih seperti di negri manusia. Mereka masih menggunakan kuda dan kereta kuda yang seperti kerajaan kuno dahulu sebagai transportasi.


Kereta kuda berhenti dan Egbert turun lebih dulu. Annette bangun dari duduknya, mengenakan jubah kebesaran Egbert di tubuh kurusnya. Itu membuatnya merasa berat setiap kali bergerak.


"Melompat lah ke arahku"


Egbert berdiri di bawah, membentangkan kedua tangannya untuk menyambut Annette.


Gugup, Annette ragu-ragu melompat dan langsung jatuh dalam sergapan Egbert yang mengambil pinggang kecilnya dan menurunkannya dengan pelan ke tanah.


Merapikan posisi berdirinya, Annette terkejut dengan orang-orang yang berlalu lalah di sekitar pasar. Mereka tampak menghentikan aktivitas dan melirik kearahnya. Mereka tampak berbisik dan bergosip kecil. Beberapa dari mereka menatap Annette penuh tanda tanya, ada yang menunjukkan ketidaksukaan, yang lain memandang iri dan hanya sedikit yang tersenyum polos.


Annette mendekat ke Egbert, merapat ke dalam tubuh kokohnya, "Mereka sungguh tidak tau kan kalau aku seorang manusia?" Bisiknya. Annette mengangkat kepalanya, menatap Egbert yang jauh lebih tinggi darinya.


Egbert membungkuk dan mulutnya berbisik di telinga Annette, "Selama kau tidak berdarah, mereka tidak akan mengetahui kalau kau seorang manusia"


Para vampir yang lahir setelah sistem pengasingan di berlakukan, tak lagi memiliki insting penciuman yang tajam sehingga mereka dapat mendeteksi manusia tanpa mencium aroma darahnya. Itu karena mengkonsumsi darah hewani telah mengubah banyak kekuatan para vampir.


"Ayo!" Egbert melingkari tangannya ke pinggang ramping Annette dan membawanya masuk kedalam sebuah butik.


Di belakang mereka diikuti oleh empat orang pengawal yang siap sedia berjaga-jaga keberadaan dua orang penting itu.


Madam Agnes terkejut melihat kedatangan Egbert. Butik nya yang berkelas, memang selalu menjadi kunjungan para bangsawan dan orang kaya. Tapi itu adalah kali pertama ia kedatangan putra mahkota negri Merland.


"Yang mulia putra mahkota, selamat datang di butik Agnes"


Madam Agnes menamai butik nya dengan namanya sendiri. Mengangkat gaun nya sedikit, madam Agnes membungkuk dan memberi salam penghormatan nya untuk menyambut kedatangan Egbert.


Annette membeku saat mendengar ucapan wanita yang berkisar empat puluhan itu.


Apa katanya?


Yang mulia putra mahkota?


Egbert mengangguk pelan, tatapannya seperti biasa. Itu datar dan tanpa ekspresi.


"Ada yang bisa saya bantu yang mulia?" Madam Agnes mengangkat kepalanya dan bertanya dengan sopan.


"Bantu istriku mendapatkan beberapa gaun"


"A-apa i-istri?" Madam Agnes tergagap saat menoleh kearah Annette. Dari rumor yang beredar, putra mahkota masih belum dapat melepaskan mantan kekasihnya hingga menolak segala lamaran putri bangsawan yang datang kepadanya.


Tapi bagaimana bisa ada istri di sampingnya?


Kapan putra mahkota melangsungkan pernikahannya?


Annette tak berdaya, hanya menarik kedua sudut bibirnya tersenyum kecil kepada wanita itu.


Madam Agnes segera memulihkan akal sehatnya dan mendatangi Annette, "Ah, b-baik. Kalau begitu silahkan ikut dengan saya untuk melihat beberapa gaun yang barangkali anda sukai" Tutur nya dengan sopan.


Annette mengangguk ringan dan Egbert melepaskan tangannya dari melilit pinggang kecilnya. Annette mengikuti madam Agnes untuk melihat gaun-gaun yang ada di butik nya.


Mereka sekelompok gaun yang anggun dan khas sekali seperti pada era kerajaan Eropa kuno. Annette menyentuh salah satunya dan merasakan serat kain yang sangat halus.


"Apa ada yang menarik minat mu?" Tanya Egbert. Ia berdiri di belakang dengan kedua tangan terlipat didepan dada.


Annette menoleh sekilas kearah Egbert, "Semua gaun-gaun di sini sangat cantik"


Kemudian Annette kembali pergi mendatangi gaun lainnya, "Aku sampai tidak tau harus memilih yang mana"


"Kau bisa memiliki semuanya"


Annette tersenyum konyol. Yang benar saja Egbert akan memborong semua gaun-gaun ini untuknya.


Egbert mengabaikan tatapan Annette yang merasa konyol akan apa yang diucapkannya tadi. Menoleh pada madam Agnes berkata tanpa ragu, "Silahkan anda siapkan semua gaun-gaun yang ada di butik mu ini dan kirim ke kediaman ku bersama daftar biayanya"


Bola mata Madam Agnes bergetar senang, "Baik yang mulia. Saya akan segera menyiapkannya"


Annette berlari kecil mendatangi Egbert dan mencubit pinggang nya yang sedikitpun tidak memiliki lemak, "Egbert, apa yang kau lakukan? Kau sungguh ingin membeli semua gaun-gaun di butik ini?"


Oh yang benar saja! Mereka sangat banyak. Annette bahkan tidak akan sanggup memakainya hingga habis.


"Ya" Angguk Egbert tanpa beban.


"Tidak bisa" Annette terang saja menentang, "Kau tidak tau apa yang kau lakukan ini sangat boros"


Egbert hanya datang dengan senyum kecil di bibirnya dan menjawil lembut hidung mancung Annette, "Aku membeli keperluan istri ku, bagaimana bisa itu menjadi boros?"


"Ya, tapi tidak seperti ini juga. Itu terlalu banyak"


"Apa kau tidak mendengarnya tadi?"


"Mendengar a-apa?" Annette mengedipkan matanya bingung.


"Madam butik ini baru saja memanggil ku apa?" Bisiknya di telinga Annette.


Saat itu Annette mematung dan menatap wajah tampan Egbert yang nyaris tak ada cacat sedikitpun.


"Kau p-putra mahkota negri ini. K-kenapa kau tidak memberitahu ku?"


Pantas saja wanita tua itu dan seluruh orang-orang di kediaman menyebut 'Yang mulia' untuk Egbert.


Egbert tersenyum. Menyampir kan beberapa helai rambut Annette ke belakang telinga dan kembali berbisik, "Sebagai istri dari seorang putra mahkota, berbelanja sebanyak ini masih belum dikatakan boros"


"Sebanyak ini, masih belum boros katamu?" Annette belum habis lagi dengan rasa terkejutnya, hanya untuk di tarik Egbert keluar dan pergi ke toko lain.


Mereka pergi mendatangi satu toko ke toko lainnya.


Mereka membeli banyak sekali barang.


Piyama tidur beraneka jenis, yang beberapa dari mereka sangat seksi dan transparan. Wajah Annette terbakar melihatnya, merasa begitu malu dengan staf toko. Egbert sungguh dengan sengaja memilih semua itu.


Selanjutnya juga ada jubah mandi yang tak hanya satu, tapi lebih dari sepuluh macam. Juga perhiasan dari emas murni yang berkotak-kotak, seperangkat alat kosmetik yang tentu saja memiliki esensi kuno— gincu pemerah bibir dan bedak tabur. Terakhir baru pakaian Aldrich yang tak kalah banyak dengan gaun miliknya.


"Apa masih ada yang kau butuhkan?"


"Tidak-tidak, tidak ada lagi" Cepat-cepat Annette menggeleng.


Mereka sudah berbelanja begitu banyak, entah berapa banyak uang yang dihabiskan Egbert dengan memborong semua barang-barang itu. Annette saja merasa sesak nafas melihatnya.


"Kalau begitu kau masih ingin berkeliling untuk melihat-lihat?"


Melihat-lihat apa? Setiap kali Annette mengatakan ketertarikannya, Egbert pasti akan membeli semuanya.


"Tidak" Annette menggeleng, "Lutut ku sudah sangat sakit. Kita pulang saja"


Padahal sebenarnya Annette masih sanggup untuk bergerak. Tapi ia terlalu takut jika mereka berlama-lama di sana, bukan tak mungkin Egbert akan memborong seluruh pasar. Itu jelas sangat mungkin melihat cara berbelanja nya yang seperti membeli satu bungkus permen.


Seakan di matanya, semua bukanlah apa-apa.


......................