Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|27|. Darah Istriku Lebih Manis



Dari siang hingga malam, Annette terus di berikan cairan infus. Tak lupa dengan pil penambah darah dan beberapa asupan makanan sekalipun ia lagi-lagi memuntahkannya. Pagi harinya, Annette sudah jauh lebih bertenaga. Ia pergi mandi dan bersiap ke kampus. Karena ia ada kelas tepat pukul sepuluh pagi, jadi ia tidak begitu terburu-buru.


Tapi sebelum itu, ia terjebak dengan baju-baju yang tak lagi muat di tubuhnya yang kini tampak jelas berbadan dua.


"Huft, apa yang harus aku pakai?" Saat itu Annette berdiri di depan lemari dengan handuk putih membungkus tubuh mungilnya. Tangannya mencari dan memilah pakaian-pakaian yang kira-kira dapat dipakai nya.


"Ini terlalu sempit"


"Terlalu kecil"


"Sangat pas-pasan di badanku"


"Dan ini..."


Setelah memilah-milah hampir seluruh isi lemari, Annette tidak kunjung mendapatkan satu yang pas.


Hingga ia mendengar pintu terbuka dan kepalanya terus menoleh ke belakang.


"Nyonya" Sapa Zeta dengan seulas senyum sopan di wajahnya.


"Em" Angguk Annette, menatap bingung pada Zeta yang berjalan masuk kedalam dengan kedua tangannya yang penuh akan tentengan paper bag.


"Apa yang kau bawa?"


Setelah kewalahan membawa barang-barang itu di tangannya, Zeta segera melemparkan semua bawaannya itu ke atas ranjang.


"Ini adalah pakaian khusus ibu hamil yang tuan Egbert siap kan untuk anda nyonya"


"Apa?" Segera Annette mendatangi ranjang dan mengambil salah satu paper bag itu. Annette membuka nya dan melihat sebuah gaun dengan desain khusus menyesuaikan perut ibu hamil. Ia mengambilnya dan merasakan tekstur kain itu sangat halus.


"D-dia yang menyiapkan nya?"


'Dia' yang Annette maksudkan adalah Egbert.


"Benar nyonya. Tuan Egbert yang menyiapkan semua ini" Angguk Zeta dengan seunggah senyum semangat, "Pagi-pagi sekali tuan keluar untuk membeli semua barang-barang ini. Tampak sekali kalau tuan sangat memperhatikan anda nyonya" Ucapnya lagi.


Berhasil membuat Annette tersenyum-senyum di tempat. Sebagai gadis dua puluhan yang minim pengalaman dalam menjalin hubungan. Terlebih gadis sebatang kara seperti dirinya, ketika mendapatkan perhatian-perhatian seperti ini tentu saja cukup membuat hatinya luluh.


"Kau tau dia ada di mana sekarang?" Annette menggigit bibir bawahnya, menahan rasa senang dan manis yang tak tergambarkan.


Zeta langsung tersenyum penuh sesuatu seakan tau niat Annette yang tiba-tiba menanyakan keberadaan Egbert, "Tuan sedang ada keperluan di luar"


"Ah, ku kira dia sedang di kastil" Annette tampak mendesah kecewa. Baru saja ia berpikir untuk berlari dalam pelukan pria itu sambil mengucapkan kata terimakasih dengan nada yang manis dan manja.


Egbert saat ini sedang berada di apartemen Sean. Setelah membeli beberapa pakaian bumil untuk Annette, ia segera mengirimkan barang-barang itu ke kastil dan ia bergegas pergi ke kediaman Sean.


Hari itu Sean tidak ada jadwal mengajar pagi, jadi ia menghabis kan waktu luangnya dengan membaca beberapa buku karangan klasik. Tapi aktivitasnya terhenti karena kedatangan Egbert.


"Aku sudah melakukan seperti apa yang kau katakan" Ucap Egbert yang duduk di sofa dengan kedua kaki menyilang santai, "Membeli beberapa kebutuhannya dengan tangan ku sendiri"


"Apa saja yang sudah kau beli?" Sean datang dari arah dapur membawa satu teko darah rusa favoritnya bersama dua gelas cangkir kosong yang kemudian ia tata sedemikian rupa di atas meja.


"Bukan gaun bumil semua kan?" Tanya Sean dengan tatapan membelalak terkejut. Untuk urusan seperti itu, terkadang ia suka mawas pada Egbert.


"Aku membelinya gaun yang menyesuaikan perut besarnya, memilihkan piyama yang nyaman untuknya dan juga pakaian penghangat buat jaga-jaga jika dia merasa kedinginan pada awal bulan musim dingin nanti" Papar Egbert. Sebenarnya ia bisa saja menyuruh seseorang untuk menyiapkan semua itu tapi atas desakan Sean dengan alasan kuatnya...


Egbert pun mau tak mau menyiapkan semua keperluan itu dengan tangannya sendiri.


"Bagus" Sean tersenyum lugas sebagai bentuk apresiasi nya. Sangat jarang mendapati Egbert yang dingin, acuh dan apatis— mau mendengarkan pendapatnya dan bahkan melakukannya.


"Tapi.." Egbert menajamkan tatapannya. Sekilas itu dalam dan penuh pemikiran, "Menurut ku melakukan hal-hal seperti ini hanya akan membuat gadis manusia itu salah paham"


Beberapa hari lalu ia memberikan perhatian kecil saja, Annette sudah datang dengan pemikiran kalau dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu.


"Yah tidak masalah" Sean tampak berkedik bahu menunjukkan itu bukan suatu masalah sama sekali. Mungkin perawakannya tidak dingin seperti Egbert, tapi sifat tidak pedulian nya pada manusia adalah beberapa karakter umum yang dimiliki oleh bangsa mereka.


"Kau hanya perlu menjaga perasaan gadis itu sampai ia cukup bertahan dan melahirkan anakmu. Setelahnya terserah kau mau buat apa, mencampakkannya atau membuangnya, dia tidak punya pilihan selain menerimanya" Ucap Sean lagi dengan senyum tak berdosa.


Egbert tampak menerbitkan senyum dingin dan ber-decih mendengar itu, "Aku bertanya-tanya, bagaimana reaksi para anak didik mu itu jika tau dosen mereka setidak berperasaan ini"


Sean hanya menyungging sudut bibirnya dengan seulas senyum tak peduli, "Mereka terlalu naif untuk mengetahui karakter ku yang sebenarnya"


Sean mengambil teko dan menuangkan cairan merah segar itu ke dalam cangkir. Aroma darah rusa manis menyeruak masuk kedalam penciuman nya, "Kau mau?" Sean mengangkat cangkir kearah Egbert, menawarkan.


"Ini darah rusa yang masih baru. Rasanya cukup segar"


"Kau tidak tau ya? di dunia manusia rusa adalah salah satu binatang yang dilindungi" Ucap Egbert, tangannya menerima cangkir yang diberikan Sean.


"Lalu kenapa?" Sean kini mengangkat teko dan menuangkannya ke cangkir miliknya, "Selama aku punya cukup uang, segalanya dapat di kendalikan secara aman"


Sean mengangkat cangkir dan senyum liciknya terbit ketika permukaan keramik itu mulai menutupi sebagian wajahnya ketika ia pergi meminumnya.


"Ah, manis sekali" Ucapnya setelah menyesap darah rusa itu sedikit ke mulutnya.


Egbert baru saja meminumnya sedikit dan memperhatikan reaksi Sean yang membuatnya menatap geli, "Darah istri ku masih jauh lebih manis daripada ini"


"Huk..huk.." Sean langsung terbatuk-batuk ketika mendengar itu. Meletakkan cangkir di meja, ia menatap Egbert penuh ketidakpercayaan, "Kau.."


"Kau pernah mencicipi darahnya?"


"Eum" Angguk Egbert. Setelah menyesap sedikit minuman itu, ia langsung meletakkan cangkirnya di meja. Ia tidak terlalu suka darah rusa karena terlalu manis dan pekat.


Itu berbeda dengan darah Annette yang manis lembut nyaris membuatnya candu.


"Woah, kau beruntung sekali" Tatapan Sean jelas terlihat iri, "Aku sudah bekerja di dunia manusia bertahun-tahun, tapi tidak ada setetes darah mereka yang pernah ku cicipi"


"Itu karena kau selalu berhati-hati" Selain tipikal konservatif, Sean juga cenderung menaati peraturan yang ada. Semenjak 'sistem pengasingan' larangan meminum darah manusia pun di terapkan.


"Lalu bagaimana setelah kau mencicipinya?" Tanya Sean kemudian.


"Apa kau dapat mengendalikan dirimu?" Adanya pelarangan meminum darah manusia bukannya tanpa sebab. Karena pada darah manusia ada zat yang sifatnya seperti nikotin pada rokok. Jika di konsumsi sekali saja langsung dapat menyebabkan kecanduan dan bahkan ketergantungan.