Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|110|. Wanita Yang Beraksi Di Tengah Malam



Egbert bersikukuh untuk tidak membiarkan Emma tinggal. Selain karena kebenciannya yang mendalam pada wanita itu. Di sisi lain, ada perasaan tak aman dalam dirinya saat mantan kekasihnya itu berada di sekitarnya. Emma terang saja merasa begitu terkutuk. Ia sudah berusaha keras merayu Egbert. Bahkan mengingatkan Egbert akan betapa manisnya dulu ia memperlakukan nya. Tapi kenapa Egbert masih begitu bersikeras untuk tidak memperbolehkan nya tinggal?


Annette tentu saja senang karena Egbert menolak keras Emma menetap di kastil. Itu menunjukkan kalau Egbert tidak senang dengan keberadaan wanita vampir itu di sana. Meskipun ia tidak tau alasannya. Apakah itu karena tidak nyaman atau apa? Tapi yang pasti Annette merasa itu sedikit aneh.


Bagaimanapun Egbert memiliki masa lalu yang istimewa dengan Emma. Tapi kenapa sikapnya begitu dingin pada mantan kekasihnya itu? Apakah mereka tidak putus dengan baik-baik?


"Sayang, biarkan dia tinggal"


"Tidak, dia tidak bisa"


"Sayang, ini permintaan ku.." Annette mengusap pundak Egbert lembut. Matanya yang tersenyum, secara halus mengingatkan Egbert kalau ia harus menuruti semua ucapannya dalam seminggu ini.


"Baiklah, dia boleh tinggal" Begitulah keputusan itu dibuat.


Emma tidak tau apakah harus merasa senang atau tidak. Karena jelas Egbert mengizinkan nya untuk tinggal itu atas permintaan dari Annette. Bukan atas dari inisiatifnya sendiri.


"Terimakasih Egbert, sekarang aku dapat tenang" Emma terlihat tersenyum dalam kelegaan.


"Tidak perlu berterimakasih padaku. Berterimakasih lah pada istriku. Aku memperbolehkan mu tinggal itu karena permintaannya" Ucapa Egbert begitu dingin. Bagai batuan es runcing yang langsung menusuk jauh ke dasar hati Emma.


Memaksa kan seulas senyum di wajahnya, Emma menoleh pada Annette, "Terimakasih" Itu kaku dan wajah cantiknya jelas sangat tertekan ketika mengucapkannya.


"Sama-sama" Suara Annette terdengar begitu merdu dan senyum nya muncul begitu cantik di permukaan.


Emma sangat kesal melihatnya, tanpa kata ia langsung pergi meninggalkan ruang kerja Egbert.


"Kenapa kau memperbolehkan nya tinggal? Bukannya ini tidak akan nyaman bagimu?"


Tadi saja sudah bukan main cemburu. Tapi masih mengizinkannya tinggal? Egbert berpikir kalau Annette merasa kasihan, namun sepertinya tidak.


"Kau tidak tau?" Annette menoleh pada Egbert dengan senyuman yang sangat lebar lagi memuaskan.


"Tau apa?"


"Aku baru saja menang melawannya" Sekali lagi Annette menerbitkan senyumnya, bibir kecilnya melengkung tinggi ke atas dengan sangat menawan.


Egbert hanya mengerutkan keningnya sesaat. Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir Annette.


......................


Hari-hari berlalu dengan sangat damai. Annette mulai beradaptasi sepenuhnya menjadi nyonya kastil yang hanya tau memanjakan diri dan menikmati kemewahan. Biar begitu, ia tetap memerankan perannya sebagai seorang ibu seperti biasa. Ia bangun awal dan menyiapkan segala keperluan Aldrich. Namun bedanya urusan antar-jemput, itu sudah dilakukan oleh George.


Pagi harinya, di meja sarapan. Aktivitas keluarga kecil itu berjalan normal seperti biasanya.


Annette memeriksanya dengan cemas, "Egbert, ada apa ini? Apa ini berhubungan dengan pingsannya Aldrich waktu itu?"


Egbert meletakkan gelas yang berisi darah kelinci yang baru diminum nya sedikit di atas meja, melihat kearah Aldrich, "Ku rasa tidak"


"Lalu kenapa Aldrich bisa gatal-gatal seperti ini? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan lagi, ini sudah semenjak beberapa hari yang lalu. Bukannya hilang, gatal-gatal nya terlihat semakin parah"


"Nanti akan ku panggil kan dokter Robbin kemari. Kau tidak perlu begitu panik. Gatal-gatal tidak akan membuatnya mati"


"Egbert, bagaimana bisa kau bersikap seperti itu pada putramu sendiri?" Annette jelas terlihat tak senang. Egbert sungguh sosok ayah yang buruk sejauh ini.


Aldrich hanya melirik Egbert dengan tatapan dinginnya, biar begitu ia tetap mengatakan sesuatu untuk membuat ibunya tenang, "Sudah ma, tidak perlu begitu cemas. Pria sial*n itu benar. Gatal-gatal seperti ini tidak akan membuat ku mati"


Egbert baru saja meraih gelas nya, bersiap untuk menenggak nya. Tapi ia membatalkan niatnya itu dan menatap tak senang pada Aldrich, "Kapan kau akan berhenti memanggilku pria sial*n? Aku adalah papa mu. Biarpun kau tidak senang dengan kenyataan itu, setidaknya jadilah sedikit lebih sopan"


Aldrich mengacuhkan Egbert. Ia menghabiskan segelas darah kelinci nya dan turun dari kursi, "Maa, aku pergi"


Menyaksikan itu, Egbert menggenggam erat gelas ditangannya, menekan segala ketidaksenangan nya atas sikap Aldrich.


Di samping itu, Emma hanya mendekam di kamarnya hampir seharian penuh. Ia jarang keluar dan membiarkan pelayan sesekali datang membawa beberapa botol darah hewani ke kamarnya pada saat ia lapar. Ia enggan berada dalam posisi yang canggung dengan berada di meja makan yang sama dengan Egbert dan keluarga kecilnya.


Sejauh ini perilakunya, benar-benar seperti seorang tamu asing yang hanya numpang tinggal di rumah. Ia juga tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan.


Annette berpikir itu aneh. Ia pikir wanita vampir itu akan pergi diam-diam merayu suaminya di belakangnya. Tapi hal tersebut tidak terjadi. Ia yang tidak mau ambil pusing, tidak ingin terlalu memikirkannya.


Tanpa sepengetahuan Annette. Diam-diam Emma mulai memperhatikan keseharian mereka. Ia tidak pernah mendapati interaksi yang hangat antara Egbert dan putranya. Dua orang itu seperti medan magnet yang bersamaan kutub, saling tolak-menolak kehadiran satu sama lain.


Hal yang paling mengejutkan, itu adalah Annette yang ternyata tidak tidur sekamar dengan Egbert. Informasi tersebut, akhirnya telah memantapkan hatinya untuk beraksi malam ini.


Emma duduk di depan meja rias, menyisir rambut hitamnya. Wajahnya yang tersenyum, menatap pantulan dirinya di cermin, itu terlihat penuh sesuatu saat berucap, "Egbert, mari bernostalgia dengan ku malam ini"


Di tengah malam, tepat pukul dua belas malam tepat. Kastil sudah menjadi begitu sunyi. Annette sudah lama pergi tidur di kamarnya dan begitu pun Aldrich yang kini sudah membiasakan diri tidur di kamarnya sendiri.


Emma keluar dari kamarnya dan mengendap-endap menaiki anak tangga, menuju ke kamar Egbert yang ada di lantai dua. Malam itu ia mengenakan gaun tidur bewarna merah transparan yang terbuat dari serat kain yang cukup tipis. Seluruh tubuhnya sudah di semprot parfum mawar yang menggoda. Bibirnya yang penuh itu sudah dipoles lisptik merah gelap yang menyihir.


Masuk kedalam kamar Egbert, ia menapak langkah demi langkah dengan sangat pelan untuk menghindari suara meskipun barang sedikit. Ia tau betapa sensitif nya Egbert dalam tidurnya ketika mendengar sebuah suara.


Tanpa malu, Emma merangkak naik ke atas ranjang besar Egbert. Hal yang dulu sering dilakukannya dan setelah sekian lama, akhirnya ia dapat melakukannya lagi.


Merasakan pergerakan kecil di ranjang nya, Egbert mengerutkan keningnya dan langsung terjaga dari tidurnya. Ia tidak langsung membuka mata, hanya memasang penjagaan. Saat ketika sebuah tubuh lembut datang menghimpit dadanya. Detik itulah aroma mawar yang tajam, menusuk rongga hidungnya. Seketika tubuhnya membeku.


"Pangeran ku..."