Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|140|. Siapa Bilang Kau Tidak Berharga?



Egbert membawa tubuh kecil Annette ke bawah selimut. Annette sedikit terkejut mendapati tubuhnya yang tiba-tiba tidak lagi dipeluk Egbert, tapi sudah jatuh memukul ranjang yang empuk.


"Kenapa tidak perlu? Bukannya katamu panas?" Setelah meletakkan tubuh kurus Annette di bawah selimut, tangan Egbert menyusup kedalam, "Biar ku bantu menanggalkannya untukmu"


Daun telinga Annette memerah panas, "Egbert, tidak perlu.."


Egbert sudah mengangkat gaun rumahan yang dikenakan Annette naik keatas paha, "Kenapa? Jangan bilang kau malu padaku?"


"Itu—emp"


Begitu cepat Egbert menunduk dan mengecup bibir Annette.


"Tidak perlu malu, aku adalah suamimu. Eum?"


Annette merasa tak berdaya, biar begitu tetap mengucapkan keluhannya, "Tetap saja. Ku pikir sedikit tidak nyaman jika aku—"


"Aku berjanji tidak akan melakukan apa-apa"


Sekali lagi wajah Annette memerah panas, "B-bukan begitu juga maksud ku.."


"Lalu apa hum?" Sambil berbicara, Egbert terus mendorong gaun putih Annette ke atas. Hingga tanpa sadar gaun tersebut sudah melewati perutnya.


"Aku—" Annette merasa begitu frustasi.


'Terang saja aku malu!'


Annette ingin meneriakkan hal itu. Tapi sayangnya tidak terluap kan.


Gerakan yang terakhir, Egbert menarik gaun tersebut hingga keluar sepenuhnya dari tubuh Annette.


Deg!


Jantung Annette hampir melompat keluar. Entah karena dia tidak fokus atau gerakan Egbert yang terlalu pelan hingga dia terlambat menyadari kalau gaun putih di tubuhnya...


"Sudah terlambat" Egbert mengangkat gaun putih Annette yang kini sudah ada di tangannya, "Aku sudah selesai menanggalkan nya untukmu"


Annette tidak dapat menggambarkan betapa luar biasa malunya dia sekarang. Menarik selimut, dia semakin menenggelamkan tubuhnya ke sana.


"Dasar mesm—"


Cup!


Tadinya Annette ingin mengumpat betapa 'mesum' nya Egbert. Tapi aksinya langsung gagal ketika Egbert mengecup bibirnya lagi.


"Syukurlah ini hangat" Jempol Egbert yang besar, mengusap bibir Annette lembut.


Annette terkesiap. Detak jantungnya berdegup keras.


"Aku sungguh takut ini menjadi dingin" Katanya lagi, masih mengusap bibir kecil Annette seperti terus memastikan apakah permukaannya masih merah dan hangat.


Egbert sangat takut bibir itu akan berubah menjadi pucat dan dingin tanpa darah seperti yang ada dalam mimpinya. Mengingatnya saja, mata Egbert menjadi redup dalam kesenduan. Bola matanya bahkan sedikit bergetar, seperti tak sanggup membayangkan jika hal tersebut terjadi.


Annette tertegun dengan pemandangan itu. Mulutnya terkatup rapat tidak berkata apa-apa.


Kemudian Egbert menjatuhkan kepalanya di atas bantal tempat Annette tidur, membuat posisi wajah mereka begitu dekat. Egbert menarik lengan telanjang Annette yang berada di bawah selimut dan memeluknya manja. Matanya menatap lurus ke mata Annette, "Aku sangat lelah.."


Beberapa saat mata Annette menatap tak berkedip, "Sepertinya kau butuh istirahat"


"Karena itu aku ingin tidur sekarang, tapi.."


Setiap kali berbicara nafas berat Egbert berhembus ke wajah Annette. Membuatnya menjadi lebih gugup, "Tapi apa?"


Egbert menjatuhkan kepalanya dengan manja ke atas pundak Annette yang lembut, "Kau harus temani aku"


Annette mengatur tarikan nafasnya, agar itu tetap teratur, "Baik, aku temani"


"Kau tidak boleh pergi" Tangan Egbert yang memeluk lengan Annette itu semakin mengerat kan pegangannya.


Annette terlihat tegang. Dia sama sekali tidak terbiasa dengan sikap Egbert yang sedikit...


"Iya, aku tidak pergi"


"Janji?" Egbert mendongak keatas. Matanya yang membesar saat menuntut itu sangat mirip seperti Aldrich yang berusia empat tahun yang menyuruhnya berjanji akan sesuatu.


Itu.. cukup menggemaskan!


"Janji" Annette tersenyum lembut.


Egbert merasa tenang. Dengan begitu dia memejamkan matanya dan jatuh tertidur sambil menghirup aroma tubuh Annette yang manis.


......................


Tindakan manis dan bermanja-manja Egbert itu masih terus berlanjut hingga hari menjelang malam.


Pada saat jam makan malam tiba. Egbert meletakkan Annette di atas pangkuannya dan tangannya memeluk erat pinggang kecilnya. Seperti itu, Egbert menemani Annette yang sedang makan malam.


"Egbert, tidak bisakah aku menggunakan kursi yang lain saja?"


Annette merasa sangat malu diperlakukan demikian. Belum lagi dengan para pelayan yang berlalu lalang di sekitar meja meletakkan makanan dan air. Annette tau diam-diam mereka mencuri pandang dan menunduk dengan wajah menahan senyum.


"Tidak. Kau harus duduk di sini dengan ku"


"Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini?" Annette mengambil sendok dan garpu, mengaduk nasi di piring, "Rasanya seperti kau akan melihat ku melarikan diri"


Egbert menunduk kan kepalanya kebawah, mencium tengkuk Annette.


Deg!


Annette yang baru saja menyuap sesendok nasi ke dalam mulut, gerakannya terus tertahan.


"Aku takut seseorang akan mengambil mu dariku"


Annette menurunkan bahunya sedikit ke bawah, menjauh dari kepala Egbert yang masih begitu dekat dengan lehernya. Kemudian dia tertawa ringan, untuk sedikit menetralkan suasana yang canggung.


"Hahaa.. memangnya siapa yang akan mengambil ku darimu? Belakangan ini semenjak tinggal di kastil mu, aku tidak pernah lagi terlibat sosialisasi dengan dunia luar. Belum lagi beberapa waktu lalu aku sempat menetap di istana mu yang di Merland" Ucap Annette. Dia menyuap sesendok nasi kedalam mulut dan mengunyah nya pelan.


"Di samping itu, aku tidak sebeharga itu hingga seseorang ingin memperebutkan aku"


Fakta dia gadis sebatang kara yang tidak punya apa-apa. Siapa yang akan melakukannya? Kecuali dia seorang putri konglomerat atau wanita pengusaha yang kaya raya. Itu mungkin saja.


Cup!


Mulut Annette yang sibuk mengunyah itu membeku mendapati kecupan kilat Egbert di bibirnya.


"Siapa bilang kau tidak berharga?"


Annette mengedipkan matanya dan menatap kearah Egbert yang juga sedang menatap padanya.


"Kau adalah istriku. Posisi mu sekarang adalah putri mahkota sementara. Kelak segera kau akan menjadi permaisuri kekaisaran Merland"


Annette tertegun, di sela-sela kunyahan nya yang terakhir.


Annette mendapati Egbert memegang ujung dagunya lembut dan berucap,"Hal yang bahkan lebih berharga dari batu berlian ratusan milyaran. Ah, bukan— hal yang bahkan tak ternilai harganya ini..." Tatapan Egbert memandang sepasang mata hitam Annette dalam, "Siapa yang tidak tergoda mengambilnya hum?"


Bulu mata Annette bergetar.


Egbert menarik dagu Annette maju ke depan dan mencium bibirnya lembut. Bersamaan itu Egbert membatin, 'Karena itulah mulai sekarang, aku akan menjagamu dengan sangat hati-hati'


'Tidak!'


Egbert berpikir itu masih kurang.


'Aku akan lebih ekstra hati-hati dari yang sebelum-sebelumnya'


Egbert memperdalam ciumannya. Dia puas merasakan permukaannya yang hangat.


Annette terkesiap. Dia bahkan tak dapat menghitung telah berapa kali Egbert menciumnya hari ini, seperti terus memastikan sesuatu.


Egbert menarik wajahnya dan jempolnya mengusap bibir Annette yang berminyak itu menjadi sedikit lembab memerah, "Makanlah yang banyak, kau terlalu kurus"


Egbert mencubit lembut pinggang ramping Annette, sedikitpun tidak ada lemak di sana.


Annette yang sudah membatu seperti lupa waktu dan sekitar itu, hanya mangut dengan tatapan polos nya yang cukup penurut, "En"


Kemudian dia melanjutkan makan malamnya dengan terus membiarkan Egbert memangkunya.


Tidak hanya berlaku manja dan manis, tapi Egbert juga sangat melayaninya. Ketika Annette hendak meraih gelas ingin minum, Egbert sudah mendahuluinya. Dia memegang gelas tersebut, meletakkan ke bibir Annette dan membantunya minum secara perlahan. Gerakannya di buat sehati-hati mungkin agar Annette tidak tersedak.


Annette hanya membiarkan saja Egbert melakukannya. Jika menolak pun percuma. Karena Egbert pasti akan bersikeras melakukannya.


"Apa itu sungguh tuan Egbert?" Ucap Zeta dengan suara rendah. Bersama Mikha dia bersembunyi di balik dinding, mengintip diam-diam ke ruang makan.


"Sepertinya bukan" Mikha menatap tak berkedip kearah pemandangan itu.


Zeta menoleh kearah Mikha, "Kalau bukan tuan lalu siapa?"


Bola mata hitam Mikha membesar, "Apa jangan-jangan itu hantu yang sedang menjelma menjadi tuan kita?"


"Ekhem!"


Imajinasi liar Mikha langsung buyar ketika Mary datang dan menepuk pundak dua orang itu.


"Eh, kepala pelayan Mary.." Keduanya tersenyum canggung.


"Kalian berdua sepertinya cukup senggang, apa perlu saya berikan—"


"Ah, sepertinya sampah di dapur belum saya buang. Kalau begitu saya permisi dulu kepala pelayan Mary.." Zeta berambus cepat ke dapur.


Mata Mary kini tertuju kearah Mikha.


"Itu.. sepertinya saya lupa mengangkat jemuran di luar. Saya akan mengangkatnya sekarang"


Dengan begitu Mikha pun segera lenyap dari sana.


Mary menghela nafas, "Ah, mereka ini benar-benar..."


Sebelum pergi, tatapan Mary jatuh kearah ruang makan. Di sana dia melihat pemandangan yang harmonis dan begitu manis. Begitu saja bibirnya melengkung ke atas tersenyum tulus berucap, "Ah, akhirnya aku dapat melihat pemandangan yang bisa membuatku menjadi diabetes.."


Mary tertawa kecil hingga sudut matanya berair. Dia merasa bahagia untuk Egbert dan Annette yang sepertinya sudah saling menerima satu sama lain.


......................