
Annette membuka matanya setelah cukup lama terbuai dalam mimpi. Mengucek-ngucek matanya, kelopak matanya berkedip dan menoleh ke sekeliling. Annette dikejutkan dengan kamar yang tiga kali lipat lebih luas dari kamarnya di kastil Egbert. Desainnya mewah, memadukan emas mengilap dan merah yang gemerlap. Tirai jendela yang berat dan berumbai dalam bordiran benang emas. Ranjang besar bertiang dengan batu permata merah di atasnya. Karpet merah terbentang memenuhi lantai ruang.
Meja berkaki emas, sofa besar khas kerajaan kuno dan segala furniture yang berbahan dasar kayu gaharu. Menjadikan ruangan ini kaya dalam aroma eksotis manis yang hangat dan esensi musk hutan liar yang dingin. Itu cukup sempurna sebagai aroma pengantar tidur yang membawa kesan alam bebas.
Segalanya agak gelap menciptakan kedinginan khusus untuk seorang raja penyendiri. Tepat secercah oranye senja melintasi kaca jendela, struktur ruangan seketika hanyut dalam kesepian yang melankolis.
"Kau sudah bangun?"
Annette menoleh, menemukan Egbert tampil segar dalam jubah mandinya yang longgar. Rambutnya setengah basah, tetesan air berjatuhan melewati kulit pucat nya yang bersih. Otot dadanya tersingkap jelas di sebalik jubah putih yang dibiarkan terbelah di bagian atas.
Glek!
Annette menelan saliva nya, mendapati dirinya tertegun mengagumi pemandangan yang menyegarkan itu, "Eum"
Bibir Egbert tersenyum lurus, menanggapi tatapan mata Annette yang terlalu jelas dalam mengagumi tubuhnya.
"K-kita sudah di negri mu?" Annette bersuara, setelah akal sehatnya kembali.
Egbert mengambil handuk kecil dan berjalan mendatangi ranjang, "Ya" Duduk di pinggir ranjang, tepat di samping Annette berbaring. Egbert menyerahkan handuk itu kepada Annette, "Bantu aku keringkan rambutku"
Annette separuh bangun dan bersandar ke kepala ranjang. Kesegaran tubuh Egbert yang baru siap mandi itu menggelegak masuk ke hidungnya. Kesegaran lavender bercampur dalam maskulinitas pria— telah menghasilkan ketajaman aroma yang sempurna untuk dinikmati. Membuat Annette merasa ingin merapat ke punggung tegap Egbert dan mendekapnya lembut dari belakang.
Menelan segala kesegaran itu untuknya seorang.
Sesaat Annette tersadar, 'Ah, apa yang ku pikirkan' Daun telinga Annette memerah mengenang pikiran konyolnya yang memalukan.
"Keringkan sendiri! Bukannya kau tidak punya tangan. Jadi gunakan itu!" Annette terdengar sedikit ketus. Jelas ia masih marah karena Egbert telah membawanya ke sana tanpa persetujuan darinya.
"Aku tidak tau cara mengeringkan rambut ku dengan handuk"
Egbert berbohong.
Annette menoleh dan mendapatkan kebohongannya, "Lalu selama ini siapa yang melakukannya? Apa para pelayan di kastil?" Bibirnya berkedut dalam senyum mengejek.
"Di kastil aku menggunakan hair dryer. Tapi di sini tidak ada benda seperti itu. Dalam beberapa hal, masih banyak sekali teknologi bangsa kami yang masih tertinggal jauh dari kemajuan kalian para manusia"
"Lalu siapa yang melakukannya untukmu selama kau disini?" Annette menautkan sepasang alisnya.
"Itu para pelayan yang melakukannya"
Egbert berbohong kesekian kalinya di balik tatapan polosnya.
Padahal sebenarnya Egbert selalu melakukannya sendiri. Itu karena ia benci tangan-tangan asing yang datang melayaninya. Tapi tidak tau kenapa, akhir-akhir ini bersama Annette, tiba-tiba saja ia merasa ingin wanita itu datang mengurusnya dengan sedikit lebih intim.
"Para pelayan?"
"Em" Egbert mengangguk pelan, "Tapi sekarang aku adalah pria yang sudah menikah. Sangat tidak etis bagi bangsa kami jika para pelayan menyentuh tuan mereka yang sudah beristri"
Annette menatap beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas, berucap, "Kau ini seorang pangeran atau apa? Kenapa hanya mengeringkan rambut saja tidak bisa..haa"
Annette mengambil handuk dari tangan Egbert dan pergi bertumpu dengan lututnya tepat dibelakang punggung Egbert untuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah, "Membungkuk lah sedikit"
Egbert membungkuk dengan patuh.
Annette meletakkan handuk kecil itu di atas rambut Egbert dan mulai sibuk menggosok. Gerakannya tidak cepat ataupun lambat. Membuat Egbert dapat menikmati setiap gosokan nya dengan baik. Kepalanya sedikit termaju-maju ke depan, setiap kali Annette datang menggosok ringan. Egbert tidak bisa membantu, tapi hatinya menjadi hangat dan begitu saja ia terbuai.
Tok..tok...
"Siapa?" Egbert bertanya, sedang matanya terpejam menikmati perawatan dari Annette.
Annette masih terus menggosok dan sekilas melirik kearah pintu yang diketuk.
Egbert mengenali suaranya. Itu tak lain adalah madam Belinda.
"Masuk"
Di sisi lain Annette tercengang.
Apa katanya tadi?
Yang mulia?
"Kenapa berhenti?"
"Huh?"
Pintu di dorong terbuka dan Belinda berjalan masuk kedalam. Mata tuanya sejenak terkejut, melihat seorang wanita yang sedang mengeringkan rambut Egbert dengan handuk. Keduanya terlihat seperti pasangan suami-istri yang harmonis. Belinda tersenyum lembut, "Maaf mengganggu anda berdua"
"Tidak apa-apa madam, sebenarnya ada apa kau datang kemari?" Egbert tersenyum ketika berbicara.
Itu membuat Annette tertegun. Ia tidak pernah melihat Egbert datang berbicara begitu lembut, bahkan tersenyum dengan sangat ekspresif pada seseorang.
"Tuan Sean baru saja tiba di luar istana membawa seorang anak kecil bersamanya. Dari kelihatannya, tuan Sean tampak sangat kesulitan menanganinya sehingga menyuruh saya untuk cepat-cepat menghubungi anda"
"Saya mengerti. Katakan padanya untuk menunggu, aku masih harus berpakaian lebih dulu" Egbert masih dalam jubah mandi longgar nya. Tentu tidak mungkin ia keluar mengenakan hal itu di tubuhnya.
Belinda mengangguk mengerti, "Baik, saya akan memberitahunya. Kalau begitu saya permisi yang mulia"
Sebelum pergi, tak lupa Belinda tersenyum kecil pada Annette. Ia masih belum begitu mengenal seperti apa wanita itu. Meskipun ia telah mengatakan ketidak beratannya, namun biar begitu ia masih perlu memastikan lebih jauh. Apakah niat gadis manusia itu benar-benar tulus dalam mencintai Egbert?
Jika ia menemukan ketulusannya. Baru ia akan mengakui kedudukan wanita itu dengan penghormatan yang sama seperti ia menghormati Egbert.
"K-kenapa dia memanggil mu yang mulia?" Annette bertanya dengan bulu matanya yang bergetar, "Siapa sebenarnya dirimu di negri ini?"
Egbert bangun dari duduknya dan mengambil handuk dari tangan Annette. Kemudian ia membungkuk kan wajahnya tepat di hadapan wajah Annette, "Jika ku katakan aku adalah seorang kaisar, apakah kau akan percaya?"
"Kaisar.." Annette bergumam saat akal sehatnya belum pulih sepenuhnya. Tapi di detik berikutnya...
"Apaaa?" Pekikan histeris lolos dari mulutnya.
"K-kau seorang kaisar?" Bibirnya bergetar.
"Itu— jadi kau s-seorang kaisar?" Annette merasa sulit bernafas, saat memproses informasi yang sangat mengejutkan itu.
'Tidak mungkin..'
'Jadi selama ini aku telah menikahi seorang kaisar negri vampir?'
Annette kembali teringat dengan segala perlakuannya akhir-akhir ini. Bukan hanya ia pernah menyuruh pria itu memasak untuknya bahkan ia pernah membuatnya menenteng segala barang belanjaannya. Di samping itu...
Ia bahkan pernah mencium dan dengan sengaja menggigit bibirnya.
'Ah, tidakkk!'
'Bagaimana ini?'
Annette mengigit bibir bawahnya dengan segala ketakutan dan kekacauan yang melanda otaknya. Dari pengetahuan singkat nya, para rakyat terdahulu sangat tunduk terhadap kaisar. Mereka begitu sopan dan sangat menjaga tindak tanduk mereka. Salah-salah berbuat atau bersikap, bukan tidak mungkin leher mereka akan berakhir di tali gantungan.
Memikirkan itu, wajah cantik Annette seketika memucat.