
Parker harus kembali pulang ke kediamannya karena ia terlupa membawa ponselnya. Menghentikan mobilnya di depan halaman, keningnya berkerut tatkala melihat seorang pria dengan mantel hitam panjang selutut berdiri tepat di pintu rumah dinasnya.
Ini bukan musim dingin, tidak kah terlalu aneh melihat seseorang berpakaian setebal itu di musim panas?
Parker membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil.
Di samping itu Egbert masih berdiri di depan pintu dengan posisi ragu-ragu. Haruskah ia mengetuk atau menyelinap diam-dia? Ia bingung antara keduanya. Tepat ketika ia akan memutuskan dan tangannya yang sudah siap memegang gagang pintu hendak membukanya, namun...
"Maaf, anda siapa ya?"
Sebuah suara dari arah belakang telah menahan pergerakannya.
Egbert menarik tangannya dari gagang pintu dan dengan santainya memasukkannya ke saku mantel hitamnya. Ia dengan tenang berbalik dan menatap tanpa suara pada seorang pria yang berdiri tepat didepannya.
"Saya baru saja pindah kemarin ke rumah ini. Kalau boleh tau anda ada keperluan apa ya datang kemari?" Tukas Parker. Ia mencoba tersenyum ramah dan menepis rasa curiganya pada pria yang berpakaian cukup tebal di musim panas seperti ini.
"Bukan apa-apa" Setelah mengatakan itu, Egbert pun berlalu pergi dari kediaman tersebut yang beberapa saat lalu berhasil mencuri perhatiannya karena aroma darah yang familiar begitu saja datang mengetuk indra penciumannya.
Aroma darah yang sembilan puluh sembilan persen seperti darah istri kecilnya— Annette.
"Aneh sekali" Gumam Parker yang melihat punggung Egbert yang berangsur-angsur lenyap dari halaman rumah dinasnya.
Ia pun pergi membuka pintu dan mendapati itu tidak terkunci. Berjalan ke ruang tamu, ia melihat Annette yang sedang memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut bayinya. Ibu muda itu tampak begitu hanyut memandangi bayi mungilnya yang tampak begitu bersemangat menghisap jari telunjuknya.
Bayi lelaki itu terlihat membuka matanya dan menatap lurus tepat ke wajah sang ibu. Sama sekali tidak ada jejak senyuman di wajah kecil itu yang masih merah itu. Hanya ada keheningan dan mata besarnya yang tampak berkedip beberapa kali.
"Aku tidak pernah melihat fenomena neonatal smiling* pada bayi lelakimu" Parker ingat saat melihat bayi Annette yang terlelap pulas di tabung inkubator, mahkluk kecil itu sama sekali tidak ada senyum dalam tidurnya.
Padahal umumnya bayi memiliki refleks senyum dalam tidur mereka di minggu-minggu awal kelahiran.
Ucapan Parker tersebut telah menyentak Annette yang sedari tadi sibuk merenungi bayi kecilnya. Ia pun mengangkat kepalanya kearah Parker. Melihat pria itu tersenyum simpul padanya.
"Tidakkah dia terlalu dingin untuk ukuran seorang bayi?"
Annette tertawa kecil merespon ucapan Parker tersebut, "Ya. Padahal aku ingin sekali melihatnya tersenyum" Ucap Annette, tangan kirinya pergi mengelus lembut pipi bayinya yang halus. Berkat ucapan Parker itu, ia tersadar bahwa sejauh ini ia tidak pernah melihat bayinya itu tersenyum dalam tidurnya.
Paling hanya menangis bentuk alarm tubuhnya ketika haus dan tertidur pulas ketika puas menghisap darah. Saat terjaga seperti ini, bayinya itu hanya menatapnya kosong tanpa emosi apapun yang muncul di raut wajahnya.
"Kenapa kakak kembali? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" Tanya Annette kemudian pada Parker.
"Ya. Aku melupakan ponsel ku"
"Aah.." Annette hanya tersenyum mengangguk dan Parker pun berjalan pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya yang ternyata masih di charge. Mengetuk layar, ia melihat daya ponselnya sudah terisi penuh. Ia pun mencabut pengisi daya dan menyelipkan benda pipih itu ke saku bajunya.
Berjalan keluar ia pun teringat perihal pria aneh yang tadi berdiri tepat di depan pintu kediamannya.
"Eum. Ku pikir orang gila sekalipun tidak akan melakukannya" Karena rasanya akan terlalu gerah berpakaian dua lapis musim panas yang terik.
"Aku menanyakan apa keperluannya dan ia malah menjawab bukan apa-apa dan terus pergi begitu saja. Menurut mu, apa motif pria tersebut?"
Annette menautkan sepasang alisnya dan berpikir, "Entahlah, tapi rasanya itu sangat mencurigakan" Jawab Annette.
"Aku pun berpikir begitu" Parker menganggukkan kepalanya sependapat dengan Annette, "Lain kali jangan lupa mengunci pintu setiap aku pergi dan jangan membukanya untuk orang asing. Letak rumah ini sedikit jauh dengan penduduk desa, aku khawatir jika terjadi sesuatu dengan mu dan bayi mu" Ujar Parker.
Annette merasa tersentuh mendapati sikap Parker yang datang begitu tulus mengutarakan kekhawatirannya padanya.
"Aku mengerti" Angguk Annette. Cukup patuh melaksanakan nasehat Parker itu.
......................
Egbert sudah duduk di dalam mobil yang di kemudikan oleh Sean. Saat itu Sean memasang tampang mengeluh sepanjang jalan karena terpaksa harus mengakhiri sesi mengajarnya lebih hanya untuk pergi menjemput Egbert.
"Tidak bisakah kau menyewa supir pribadi khusus untuk melayani perjalanan pulang-pergi mu?" Tukas Sean yang sekilas menatap ke kaca spion depan, melihat pantulan wajah Egbert yang duduk di kursi belakang. Pria itu terlihat acuh dan memandang keluar jendela.
"Kau punya cukup banyak uang manusia di tangan mu dengan jumlah nominal yang tak terhitung banyaknya. Jadi kenapa kau harus se-pelit ini untuk kebutuhan mu sendiri?" Lanjutnya lagi.
"Aku tidak membutuhkan jasa supir. Aku terbiasa menyetir sendiri" Ucap Egbert yang sekilas melirik ke spion depan melihat pantulan wajah Sean yang ada terpantul di sana.
"Tapi di saat-saat seperti ini kau memerlukannya. Jadi kenapa tidak memperkejakan seorang saja untuk itu? Ku rasa itu tidak akan menguras uang yang kau punya"
"Bukan setiap hari aku menggunakan jasa mu ini, kenapa kau cerewet sekali?"
Jawaban Egbert itu membuat Sean tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya menghela nafas berat dan mengatupkan mulutnya dengan wajah masam.
"Apa kau sudah menemukannya?"
"Belum. Aku sudah mengerahkan orang-orang ku untuk mencari keberadaan istri kecil mu itu, tapi masih tidak ada kabar sampai sekarang"
"Aku tau kau telah membaca banyak buku di pustaka nasional Merland. Jadi aku ingin menanyakan sesuatu padamu, apa setiap aroma darah manusia itu berbeda atau ada dari mereka yang mirip?"
Tetap fokus menyetir, Parker menjawab pertanyaan Egbert, "Buku yang membahas terkait aroma darah manusia sama sekali tidak ada di perpustakaan semenjak era sistem pengasingan diberlakukan"
Karena setelah sistem pengasingan berlaku, informasi tentang darah manusia sudah banyak dilupakan dan jarang dari bangsa mereka yang melakukan penelitian untuk itu karena mengingat pasal-pasal yang tertera pada sistem pengasingan.
......................
*Neonatal smiling: Kondisi di mana beberapa minggu pertama setelah bayi lahir, bayi tersenyum tapi bukan sebagai bentuk respon akan sesuatu atau rasa senangnya. Melainkan itu adalah refleks senyum yang telah mereka miliki sejak dalam rahim sang ibu yang berasal dari rangsangan bagian subkortikal otak.