
Egbert hanya memasang tampang tak peduli. Itu membuat Sean mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia sungguh tidak ingin kembali ke negerinya. Ia nyaman di dunia manusia dan menjalankan peran nya sebagai pengajar profesional di sebuah institusi bergensi. Tapi hanya karena ia gagal menemukan Annette dan bayinya, masa izinnya dari manusia begitu saja di cabut?
"Aku sudah memberi mu waktu lima tahun. Tapi dalam kurun waktu selama itu kau tak bisa menemukannya. Lebih baik kau kembali ke negri Merland dan asah insting vampir mu yang sudah tumpul itu karena terlalu lama di dunia manusia"
"Egbert, kota J sangat luas. Mengandalkan insting vampir ku semata untuk menemukan Annette, itu tak ubahnya seperti mencari jarum di dalam jerami" Ucap Sean, "Jadi, tidak bisakah kau mengerti kesulitan ku, hum?"
"Harusnya kau tak melepasnya dengan mudah hari itu ketika kau menemukannya. Jadi sulit apa?" Ujar Egbert tanpa tahu menahu kesulitan Sean, "Kau saja yang tak pandai memanfaatkan kesempatan"
"Kau—" Sean mengangkat jari telunjuknya kearah wajah tampan Egbert. Mulutnya menggeram, ingin marah. Tapi terakhir ia hanya menekannya kuat-kuat untuk tidak melakukannya.
Egbert hanya pergi menyilang kan kedua kakinya, memasang tampang acuh. Matanya menatap lurus ke depan, memfokuskan objek ke dinding kastilnya yang berlapis marmer hitam.
"Tapi aku sungguh tidak mengerti. Jelas-jelas Annette tidak tau kalau aku adalah vampir seperti mu. Alih-alih melarikan diri, harusnya ia dengan naif mengikuti ku waktu itu?" Pungkas Sean.
Mengingat apa yang di tawarkan nya hari itu adalah untuk membuat Annette kembali ke kampus. Ia pun datang sambil mengatakan kalau ia adalah utusan yang dikirim kampus untuk memberinya informasi tersebut. Ia ingat dengan jelas bagaimana Annette mengangguk dengan polosnya dan mengatakan akan mengikutinya. Tapi kenapa yang terjadi...
"Mau se-naif dan sebodoh apapun seorang gadis, mereka akan lebih waspada ketika statusnya telah berganti menjadi seorang ibu" Tutur Mary yang datang dan menyela percakapan dua orang itu. Ia membawa nampan yang di atasnya ada se-teko darah rusa untuk untuk Sean dan kelinci untuk Egbert. Ia menata dua teko itu di atas meja bersama dua gelas kosong.
"Jadi maksud kepala pelayan Mary, waktu itu Annette menangkap keganjilan dari kedatangan ku, sehingga ia memutuskan untuk melarikan diri?" Tanya Sean yang masih begitu tak mengerti, "Tapi kenapa ia harus melarikan diri, dia bahkan tidak tau identitas vampir ku"
Mary mengulum rapat bibirnya dan tersenyum menjawab, "Ya, Annette memang tidak mengetahui identitas anda adalah vampir. Tapi kulit putih pucat anda yang menegaskan urat-urat hijau itu sama persis seperti milik tuan Egbert. Apa Annette tidak akan menyadari ini?"
"..." Sean terdiam dengan dahi berkerut dan berpikir.
"Kedatangan anda hari itu juga pasti membuatnya curiga. Ia tinggal di suatu tempat yang bahkan tak ada seorangpun yang mengetahuinya. Tapi suatu hari ia mendapati anda tiba di depan pintu kediamannya dan mengatakan kalau anda adalah utusan kampus yang datang untuk menawarkan kesempatan untuknya berkuliah lagi. Tuan Sean, siapa yang tidak curiga melihat orang yang tidak pernah diberitahu alamat tempatnya tinggal, tapi mendapati seseorang itu muncul di kediamannya?"
Mendengar apa yang dituturkan Mary itu, bibir Egbert berkedut dengan senyum dingin, "Bagaimana hum? Masih tidak sadar dimana letak kebodohan mu?"
Sean terdiam seribu bahasa mencerna apa yang telah dikatakan Mary, mengabaikan pertanyaan menohok Egbert, ia pergi menatap wajah Mary berujar "Ya, anda benar Kepala pelayan Mary. Kenapa aku bisa melakukan kesalahan kecil seperti itu!"
Mary menarik kedua sudut bibirnya tersenyum lebar berujar, "Mungkin pada hari itu anda terlalu meremehkan Annette sebagai gadis naif yang dapat dengan mudah anda kelabui. Jadi anda tidak menjangkau hal-hal seperti ini akan terjadi"
Mendengar itu Sean menganggukkan kepalanya dengan sangat setuju, "Ya kau benar. Aku terlalu meremehkan nya hari itu"
"Karena kau sudah sadar akan kebodohan mu itu. Pergi renungkan kesalahan mu di kediaman Marquis Wood"
Itu tak lain adalah kediaman keluarga Sean. Yang paling malas Sean tinggali. Karena Ayahnya Marquis Bernard Wood, berada di jalur faksi kaisar sementara. Sedangkan ia berada di faksi putra mahkota.
Sebagai putra dari Marquis Bernard Wood, harusnya ia mengikuti sang ayah. Tapi ia malah melakukan sebaliknya. Berkat itulah hubungan mereka terbilang cukup dingin antara ayah dan anak.
"Salin lah sepuluh buku yang ada di pustaka pusat Merland. Tulis tangan menggunakan tinta dan bulu ayam. Semakin cepat kau menyelesaikannya, semakin cepat pula kau mendapatkan kembali izin tinggal mu di negri manusia"
"Baik, aku pergi sekarang"
Sekalipun tugas menyalin itu cukup membuat tangan pegal. Tapi menghabiskan hari-harinya di pustaka jauh lebih baik dari pada tinggal di kediamannya.
......................
Malam harinya Annette merias dirinya senatural mungkin dengan polesan bedak tipis dan sentuhan lipstik merah ceri di bibir kecilnya. Kemudian ia menata rambut panjang nya sedemikian rupa hingga kemudian ia sembunyikan di bawah wig rambut pendek berwarna hitam gelap yang membuat penampilannya terlihat imut dan segar.
Itu membuat penampilan dewasa dan keibuannya sedikit tersamarkan.
Kemudian ia mengenakan blus biru muda lengan panjang dengan kerah konservatif yang dipadukan rok putih span selutut. Annette mengambil tas tangan putihnya dan berjalan keluar dari kamar.
"Semprotan merica?" Begitu saja Annette sudah di hadang putra kecilnya yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada, menginterogasinya.
Annette mengulum senyum kecil menjawab, "Sudah disini" Ia menepuk tas putih yang dipegangnya.
"Kejutan listrik?"
"Ah, sepertinya mama meninggalkannya di kamar"
Putra kecilnya itupun mengangkat kepalanya kearah pintu kamarnya, menyuruhnya untuk pergi mengambil.
"Oke" Angguk Annette dengan senyum tak berdaya ia pun pergi mengambil alat kejut listrik itu.
Sesudahnya ia memasukkannya kedalam tas dan kembali keluar.
"Maa, tidak bisakah aku ikut dengan mu?" Tukas Aldrich. Suara kanak-kanaknya terdengar memohon dan itu cukup menggemaskan.
"Tidak perlu. Mama akan pulang sangat terlambat dan kamu anak kecil harus tidur cepat. Jadi berdiam saja di rumah, oke?" Bujuk Annette lembut. Ia tau putra kecilnya itu mencemaskan nya. Tapi dunia malam terlalu tidak pantas untuk di datangi anak kecil yang masih terlalu murni dan polos.
"Sudah kuduga. Mama pasti akan menentangnya"
Annette dapat mendengar Aldrich yang menghela nafas berat. Membuat sosok kecilnya terlihat begitu dewasa untuk ukuran anak lima tahun. Sekilas pemandangan itu membuat Annette ter-kikik kecil.
"Kalau begitu, mama bawa sapu tangan ini bersama mu" Aldrich menyodorkan sapu tangan miliknya yang memiliki motif boneka beruang kesukaannya.