Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|95|. Aku Adalah Nyonya Di Tempat Ini



Egbert benar-benar menonton salah satu video tutorial memasak di Y*uT*be dari siang hingga sore dan mempelajarinya dengan sangat baik. Tidak sampai di situ, ia berkutat dengan alat-alat dapur hingga hari menjelaing senja. Hanya demi mencoba yang terbaik, menyajikan sebuah makanan yang dapat dimakan seperti kata Annette.


Para pelayan yang berlalu lalang di sekitar dapur, tanpa sengaja melihat panorama itu, diam-diam mengagumi kesungguhan tuan mereka. Jika bisa mereka ingin sekali datang membantu, tapi mereka tak berdaya dengan aura tak bersahabat Egbert yang sukar di dekati.


Aldrich sudah kembali dari sekolah sejak tadi siang dijemput oleh George. Kini ia masih terkapar di atas ranjang setelah kekenyangan meminum darah ibunya.


Tepat di malam harinya, Egbert berhasil membuat hidangan steak yang dilengkapi beberapa irisan kentang dan jagung. Di atasnya di siram saus oriental dan sedikit potongan tomat dan paprika di tabur sebagai hiasan.


"Aku sudah memasak sesuatu yang benar-benar bisa di makan seperti katamu" Egbert meletakkan piring yang diatasnya ada penutup itu tepat di hadapan Annette, "Kali ini pasti akan memuaskan mu istriku.." Egbert memasang senyum dingin dengan matanya yang menyipit tajam menyiratkan— 'Jadi, kau harus menghabiskannya!'


Annette hanya tersenyum sebagai tanggapan, "Kalau begitu cepat buka, aku tak sabar ingin melihat apa yang kau masak kali ini"


Egbert menarik penutup piring dan sajian steak dengan tingkat kematangan sempurna menyambut retina Annette. Di lihat dari penampilan hidangan yang tersaji di depannya, itu tampak sangat lezat dan menggiurkan. Ia langsung mengambil pisau dan garpu, merasa tak tahan untuk segera mencicipi apakah rasanya akan sebaik penampilan yang terlihat.


Sesuap daging sudah lolos ke dalam mulut. Annette mengunyahnya pelan dan merasakan bumbu-bumbu pecah bersama tekstur daging yang cukup lembut. Itu sama sekali tidak buruk, kelezatan rasanya begitu cepat mendominasi lidahnya. Membuat tangannya bergerak cepat memotong dan menyuap nya sepotong lagi ke dalam mulut.


Egbert tersenyum puas melihat reaksi Annette kali ini, "Apakah enak?"


"En" Annette mengangguk dengan mulut kecilnya yang sibuk menguyah, "Rasanya benar-benar sempurna, kau sungguh berbakat menjadi seorang chef" Annette memuji Egbert dengan tulus.


Ia tidak akan mengira hasilnya akan selezat itu. Mengingat pria itu tidak punya keterampilan masak apapun dan baru saja mempelajarinya, tapi dapat menyajikan nya dengan pendekatan yang hampir sempurna. Itu sangat patut di apresiasi.


Annette memakannya dengan sangat lahap, sedangkan itu Egbert langsung pergi meninggalkan meja makan. Kini ia dapat dengan tenang melanjutkan pekerjaannya yang sudah tertunda setengah harian ini karena demi memenuhi permintaan istrinya.


Tepat pukul delapan malam, terdengar bel kastil berbunyi nyaring memecah kesunyian kastil yang sepi. Mary menautkan sepasang alisnya, bertanya-tanya siapa yang datang? Bagaimana pun ini sudah malam, mungkinkah dokter Robbin?


Mary pergi membuka pintu dan melihat seorang wanita dengan gaun hitam panjang berdiri di depan. Rambut hitam sepundak nya di biarkan nya tergerai dengan menawan. Membuat fitur wajahnya anggun dan mempesona.


"Malam!" Wanita itu mengangguk sopan kearahnya dengan sikap yang penuh bermartabat. Semakin di pandang lebih jauh,


Mary membalas dengan anggukan yang sama dan bertanya, "Maaf, anda ini adalah?"


Ia tidak bisa sembarang menerima tamu di kastil. Karena Egbert sangat sensitif terhadap orang asing yang asal saja menginjak kastil nya.


"Saya Emma. Seseorang mengirimkan saya alamat ke tempat ini. Katanya aku akan tinggal dalam beberapa hari ke depan di sini"


Mary mengedipkan matanya beberapa kali dan mencoba mengingat sesuatu. Rasanya tuan tidak pernah memberitahu tentang seseorang yang akan datang untuk menginap. Mungkinkah...


"Apa anda yakin telah datang pada alamat yang tepat?"


Mary menerima kertas tersebut dan melihat kalau itu adalah alamat yang sesuai dengan keberadaan kastil ini. Sekilas ia melirik wanita anggun didepannya itu. Kulit putihnya yang mencolok, menegaskan urat-urat hijaunya. Mata hitamnya yang sekilas berkilat merah, membuat Mary terkesiap akan fakta...


'Oh, ternyata wanita didepan ku ini adalah vampir'


'Jangan-jangan dia datang sebagai tamunya tuan Egbert?'


Segera Mary membuka lebar pintu dan mempersilahkan wanita itu masuk, "Anda dapat meninggalkan koper anda di sini. Saya akan menyuruh pelayan untuk datang mengambilnya"


"Kalau begitu maaf merepotkan anda"


"Tidak sama sekali nona" Mary tersenyum sopan dan menepuk tangannya. Mengirim sinyal kepada para pelayan untuk datang. Ia pun menyuruh salah seorang untuk pergi mengambil koper dan yang lain pergi menyiapkan kamar.


Emma berjalan ke depan dengan mata yang menyapu ke sekeliling. Ia tidak mengira Duke Rajeev akan memiliki kastil semewah ini di negri manusia. Ia terus mengambil langkah untuk melihat-lihat dan memperhatikan setiap detailnya. Dari lukisan yang bergantung di dinding, hingga jejeran keramik yang tak ternilai harganya.


Annette sudah selesai makan dan kembali ke ruang depan. Tapi di tengah jalan, ia tanpa sengaja berpapasan dengan salah seorang wanita yang sepertinya ia pernah melihatnya di suatu tempat.


Emma yang melihat kemunculan Annette langsung mengingat kalau itu adalah pelayan wanita yang pernah mengusirnya dari ruang kerja Egbert. Keningnya langsung berkerut tak senang, "kenapa kau bisa ada disini?"


Annette menautkan sepasang alisnya dengan pertanyaan wanita itu, "Harusnya aku yang bertanya, siapa kau sehingga bisa ada di sini?— ah sebentar..."


Tiba-tiba Annette mengingat sesuatu.


"Bukannya kau adalah wanita yang pernah diusir Egbert dari ruang kerjanya hari itu?"


Emma mengulum senyum tertekan di bibir, "En" Ia mengangguk tenang, "Dan kau adalah pelayan wanita di bar hari itu bukan?" Emma melipat kedua tangannya di depan dada meneruskan, "Jadi, kau juga bekerja sebagai pelayan di tempat ini?"


Annette membenci gestur tubuh wanita itu yang menunjukkan jelas jejak keangkuhan. Ia tidak tahan untuk tidak menyeringai bosan dengan pertanyaan yang baru saja diajukannya itu.


"Tidak"


Emma memperhatikan gaun rumahan yang dikenakan Annette. Gaun itu memang terlalu mewah untuk seukuran pelayan, "Lalu jika bukan pelayan, kenapa kau bisa ada disini?"


Mungkinkah itu adalah kecantikan yang dipelihara Duke Rajeev di kastil besar ini?


Annette tidak suka cara wanita itu menginterogasinya. Sedikit nada penghinaan, jelas tersirat dari suaranya. Menyikapi itu, tanpa ragu Annette menjawab dengan lugas, "Aku adalah nyonya di tempat ini. Jadi mengapa aku tidak bisa di sini?"


"Apaa?"