
"Sepertinya ada yang salah dengan diriku" Ucap Egbert kemudian setelah terdiam begitu lama dalam pandangan jauhnya yang menatap dahan dan ranting pohon yang ada diluar jendela.
"Ya, memang ada yang salah dengan dirimu. Apa kau baru menyadarinya hum?" Tukas Sean. Ia telah menyerahkan gelas pada seorang pelayan yang baru saja berjalan masuk kedalam kamar.
"Tolong bawakan gelas lain"
"Baik tuan Sean" Pelayan tersebut mengangguk dan dengan sopan berjalan keluar dari kamar.
Di luar sana pelayan tersebut bertemu dengan Mary, yang terus berjalan sambil memperhatikan layar tablet.
Mengangkat kepalanya sebentar, tatapannya langsung bertemu dengan seorang pelayan yang baru saja keluar dari kamar Egbert dengan membawa segelas darah yang belum habis diminum, Mary langsung menahan pelayan tersebut, "Kau mau kemana?"
"Meletakkan ini di tempat cuci piring" Pelayan tersebut mengangkat gelas berisikan darah, menunjukkannya pada Mary, "Dan tuan Sean meminta untuk dibawakan gelas lain"
"Kalau begitu bawa lima buah gelas" Ucap Mary.
"A-apa?" Pelayan tersebut tampak terkejut. 'Apa yang akan dilakukan dengan lima buah gelas? Bukankah Tuan Sean meminta gelas lain untuk dirinya sendiri?'
Begitulah pikir pelayan tersebut.
"Sudah lakukan saja" Tukas Mary.
Persoalan Egbert yang akhir-akhir ini kesusahan mengkonsumsi darah karena tidak memenuhi ekspektasi lidahnya itu, baru dia seorang saja yang tau.
Karena itulah semalam ia bergadang untuk mencari tau kualitas setiap darah hewan dari segi rasanya. Guna menemukan beberapa darah yang dapat ia siapkan untuk Egbert. Tapi sekeras apapun ia menelusurinya, tak ada artikel khusus yang dapat menjawab persoalan tersebut. Hingga sekarang ini, ia masih berusaha keras mencari informasi tersebut.
"Baik Kepala pelayan Mary" Pelayan tersebut mengangguk patuh dan berlalu pergi ke dapur.
Mary kembali berjalan sambil memperhatikan layar tablet nya. Baru saja ia mengajukan pertanyaan di sebuah forum;
'Apa di sini ada seseorang yang dapat memberikan referensi terkait darah binatang yang memiliki kualitas rasa yang baik?'
Sederet jawaban pun berdatangan;
'Aku tidak pernah menemukan pertanyaan yang begitu tidak berguna'
'Apa kau kurang kerjaan? Tolong jangan menyampah di forum, tidak semua orang disini begitu luang seperti mu'
'Wkwk, darah hewan? Yang benar saja! Apa akhir-akhir ini orang-orang mulai mengkonsumsi darah hewani huh?'
'Aku tidak tau. Aku hemophobia*'
'Hapus pertanyaan tidak penting mu, jangan merusak ketertiban di forum'
Membaca deretan jawaban itu, bukan main Mary kesalnya.
"Apa orang-orang ini berpikir aku cukup luang bermain-main, huh?"
Mereka tidak tau bagaimana ia sangat kesulitan mengatasi kasus yang dihadapinya saat ini. Tak lain itu adalah menemukan beberapa darah hewan kualitas premium yang dapat memuaskan lidah tuannya.
'Aku tidak pernah meminum darah hewan kecuali ular. Tapi setelah meminumnya itu tidak enak sama sekali, walau aku punya satu teman yang mengatakan rasanya biasa saja. Barangkali kau tertarik untuk mencoba?'
Mary tersenyum membaca jawaban itu. Terus saja ia pergi ke ruang kerjanya dan mulai mengatur beberapa hal untuk memesan darah ular.
Di samping itu Pelayan tadi sudah kembali dengan lima gelas dan menyerahkannya kepada Sean.
"Aku hanya butuh empat, kembalikan satu ini untukmu" Ucap Sean, melihat hanya ada empat botol tersisa yang belum dicoba oleh Egbert.
"Baik tuan Sean" Setelannya pelayan tersebut pun pergi meninggalkan kamar. Dalam hati ia merasa bersyukur mengikuti perintah Mary, atau mungkin ia sudah berapa kali bolak-balik hanya untuk mengambil gelas baru.
"Tapi kenapa tuan Sean membutuhkan gelas sebanyak itu?" Pikirnya sambil berlalu pergi ke dapur untuk menyelesaikan beberapa hal yang perlu di bereskan.
"Coba yang ini" Sean menyerahkan segelas darah dari botol kedua.
Egbert menyesapnya sedikit dan langsung menjepit sepasang alisnya berujar, "Buruk sekali, darah apa itu?"
Sean hanya membuang nafas berat dan mengambil gelas tersebut, lalu memberikan gelas lainnya dengan botol darah ketiga.
"Terlalu pahit" Egbert langsung menyerahkan gelas tersebut kepada Sean, menolak meminumnya lebih jauh.
Hingga botol ke empat dan kelima, tak ada satupun dari kelima botol darah premium itu yang dapat memuaskan lidah Egbert.
"Padahal botol kelima ini sangat enak, darah bercampur wine yang telah di simpan ribuan tahun di gudang. Harganya sangat mahal dan madam Belinda pasti sangat berusaha keras menemukannya. Tapi kau masih saja berkata tidak enak"
Egbert tidak berkata-kata apa. Ia hanya membiarkan Sean mengambil botol darah yang telah bercampur wine itu dan menikmatinya langsung dari mulut botol.
"Ah, nikmat sekali. Bahkan darah rusa favorit ku kalah jauh dengan ini" Katanya dan menenggak botol tersebut lagi.
Sampai beberapa saat keadaan menjadi hening dan Egbert muncul dengan pemikiran yang berhasil membuat Sean tersedak dengan minumannya.
"Sepertinya aku perlu tinggal beberapa hari di negri Merland untuk mengkonsultasikan masalah ku ini dengan psikolog di negri kita"
Karena bagaimanapun konflik nya adalah terkait 'darah' dan tidak mau meminumnya karena rasanya yang 'kurang memuaskan'. Tentu tidak mungkin menggunakan jasa psikolog manusia untuk perihal tersebut.
"Kau yakin akan menemui psikolog?" Tanya Sean, bukannya ia menolak keras ide itu. Hanya bagaimana pun status Egbert adalah kaisar negri Merland, hanya ia belum dapat duduk di singgasana karena belum memenuhi berbagai persyaratan yang diajukan kaisar sementara sebelum penobatan nya dilakukan.
"Apa kau tidak takut orang-orang dari faksi paman mu akan menjadikan ini sebagai titik kelemahan mu?" Terang Sean lagi.
Karena orang-orang tersebut pasti akan menyebarkan rumor bahwa calon kaisar mereka adalah seseorang dengan penyakit jiwa. Karena tidak seperti di dunia manusia yang mulai berpikiran terbuka pada hal-hal seperti konsultasi masalah ke psikolog, yang mana itu adalah sesuatu hal yang normal dilakukan saat seseorang buntu pada masalah dan merasa membutuhkan jasa tersebut dalam membantu menyelesaikan konflik dalam diri serta orang sekitar.
Sebaliknya, orang-orang di negerinya masih berpikiran sempit soal itu. Mereka masih cenderung berpikir seseorang yang datang ke tempat-tempat seperti itu tak lain adalah seseorang dengan gangguan jiwa.
"Aku akan melakukannya secara rapi. Kau tidak perlu khawatir" Ucap Egbert. Karena jika ia tidak bertemu dengan psikolog, mungkin konfliknya yang tidak cocok pada darah manapun akan terus berlanjut hingga tak mungkin jika ia akan mati karena kekurangan asupan.
"Terus cari gadis manusia itu dan temukan benih ku yang dibawa kabur olehnya" Ucap Egbert, yang selalu saja merasa kesal tak tergambar mengingat Annette yang begitu berani kabur saat hamil anaknya, "Dan jangan lupa menyampaikan setiap perkembangan dari pencarian kepadaku. Laporkan paling tidak sehari sekali atau dalam seminggu lima kali"
*Hemophobia: sebutan untuk seseorang yang phobia terhadap darah.