
Annette yang baru saja jatuh tertidur lagi, perlahan kesadarannya kembali hanya untuk melihat aktivitas para pelayan yang datang untuk membersihkan tubuhnya. Mereka berjumlah empat orang. Satu pergi membuka tirai jendela kamar dan yang lain pergi menyiapkan kelambu putih yang menutupi ranjang tempatnya berbaring.
Itu membuat cahaya matahari pagi dengan bebas masuk dan memenuhi setiap sudut kamar yang luas.
Sebagian sinar keemasannya yang hangat, jatuh bersimbah di atas wajah Annette yang putih pucat tak ber-maya. Matanya pun sedikit menyipit karena silau.
"Selamat pagi nyonya"
Sapa keempat orang pelayan itu dengan bibir melebar menyuguhkan senyum santun.
Annette mengedipkan matanya seraya bersenandung ringan.
"Maaf mengganggu waktu tidur anda, kami datang atas perintah tuan Egbert yang menyuruh kami untuk membersihkan tubuh anda" Ucap salah seorang pelayan yang tidak begitu dikenalnya.
Sejauh ini ia hanya mengenal Mary, Zeta dan Mikha.
Annette merespon dengan mengedipkan matanya seraya bergumam kecil.
Keempat pelayan itupun pergi membuka simpul yang mengikat tangan Annette ke tiang ranjang. Setelahnya tubuh kurus Annette diangkat dan di bawa ke bak mandi mewah dan besar milik Egbert. Bentuknya bulat, cukup untuk menampung lima orang dewasa didalamnya. Pinggirannya berlapis kayu jati yang di ukir cantik sedemikian rupa— menambahkan nilai estetikanya.
Di dalam sana uap air hangat menguar ke udara membawa aroma kelopak mawar yang bertaburan di dalam air bersama harum manis susu vanilla.
Tubuh Annette perlahan di letakkan ke dalam bak pemandian. Jika ia cukup sehat dan bertenaga, ia pasti sudah mengusir ke empat pelayan itu dan mengatakan dengan tegas ia akan mandi sendiri. Tapi tubuhnya benar-benar lemah sekarang dan para pelayan yang di utus Egbert untuk memandikannya itu pasti jenis pelayan khusus yang memiliki ilmu beladiri yang mumpuni.
Alhasil, ia hanya bisa pasrah menerima perawatan mereka.
Tapi rasanya tidak buruk. Salah seorang menggosok lembut punggungnya dan yang lain memijit pelipisnya. Pelayanan yang memanjakan itu membuat kelopak mata Annette memberat dan ia pun jatuh tertidur.
Entah berapa menit berlalu, sadar-sadar dirinya sudah berada di atas ranjang dengan gaun rumahan bewarna putih polos. Tubuhnya terasa segar dan penuh akan aroma mawar yang harum berpadu susu vanila yang manis.
Tak lupa dengan kedua tangannya yang kembali di ikat ke tiang ranjang. Melihat itu Annette menghela nafas pelan.
"Aku sudah selemah ini, tapi ia masih saja mengikat ku"
Saat itu pintu kamar terbuka dan meja kereta makanan di dorong masuk kedalam oleh Zeta dan Mikha.
"Ya ampun nyonya.." Seru keduanya, menatap tak tega pada dirinya yang terikat menyedihkan di ranjang.
Menanggapi itu, Annette hanya mengulas senyum kecil.
"Kenapa tuan Egbert tega sekali melakukan ini pada anda?" Zeta menyentuh kain sutra yang mengikat tangan Annette. Ia merasa ingin melepas simpul nya, karena tak tega dengan Annette. Namun di satu sisi, ia begitu takut jika Egbert akan murka padanya nanti.
"Itu pasti karena tuan takut jika nyonya Annette kabur lagi" Tukas Mikha, menatap Annette dengan tatapan prihatin. Tapi sama seperti Zeta, ia juga tak berdaya untuk berbuat apa-apa.
Di atas sana sudah tersaji segelas susu vanilla hangat. Roti sandwich dengan telur, tomat, selada dan keju. Semangkuk oatmeal yang bercampur aneka potongan buah dan juga terdapat sebotol obat penambah darah.
"Kata tuan Egbert kondisi anda sangat lemah, jadi anda harus sarapan sedikit lebih banyak dari biasanya, untuk mengisi energi anda kembali" Tukas Mikha.
"Tidak" Annette akhirnya bersuara.
"Aku tidak makan" Ucapnya.
Langsung membuat Mikha dan Zeta saling bertukar pandang.
"Tapi nyonya, bagaimanapun anda harus sarap—"
"Katakan pada tuan kalian, aku hanya akan sarapan jika dia memberikan aku izin untuk pergi melihat putra ku sekarang. Tapi jika tidak, aku tak akan menyantap apapun hidangan yang sudah kalian sajikan"
"T-tapi nyonya.."
Annette sudah memejamkan matanya. Menegaskan bahwa ia tidak mau mendengar apapun alasan.
Zeta menghela nafas berat, "Baik, kalau begitu saya akan pergi menyampaikan pesan anda ini pada tuan Egbert"
"Pergilah. Aku akan menunggu di sini menemani nyonya" Ujar Mikha.
"Em"
Zeta pun segera ke lantai bawah, mendatangi Egbert yang tengah bersantai di sofa ruang tengah. Pria itu duduk menyilang kan kaki sambil membaca koran.
"Tuan"
"Ada apa? Pandangan Egbert sedikitpun tidak teralihkan dari koran ditangannya.
"Nyonya menolak sarapan"
Egbert seketika berhenti membaca.
"Kata nyonya ia hanya akan sarapan jika anda memberikannya izin untuk melihat putranya sekarang"
Egbert melipat koran tersebut, tidak lagi lanjut membaca. Kemudian ia bangun dan tanpa kata bergerak cepat menuju lantai dua. Zeta berjalan dibelakangnya dengan perasaan was-was.
'Aduh, semoga saja tuan Egbert tidak marah dengan nyonya'