
Pagi hari itu datang dengan suasana yang sama. Annette dalam pelukan Egbert dan lengan kekar Egbert membungkus hangat tubuh kecilnya di bawah selimut. Dua orang itu membuka mata, sama-sama terjaga dari tidur dan menatap satu sama lain tanpa kecanggungan.
Annette mengangkat tangannya, mengelus rahang keras Egbert, "Lihat, kau masih baik-baik saja kan?"
Egbert hanya diam, matanya menatap dalam setiap inci wajah Annette yang sedikitpun tidak berminyak dan bahkan tak ada air liur kering di sudut bibirnya.
"Sudah kukatakan padamu, dia itu putramu. Mau benci sekalipun, yakinlah dia tidak akan mencelakai kamu yang adalah ayah kandungnya"
Egbert membungkuk ke bawah. Membuat Annette memejamkan matanya dan merasakan kecupan dari bibir dingin Egbert yang mendarat di atas keningnya.
Annette sadar, akhir-akhir ini Egbert begitu sering mengecup keningnya. Apa yang dikatakan madam Belinda hari itu benar?
Pria berdarah dingin yang berada dibawah selimut yang sama dengannya itu, yang tak lain adalah suaminya—sebenarnya mencintai dirinya?
"Aku mengerti. Aku hanya sedikit berhati-hati"
Annette membuka matanya dan tatapan matanya langsung bertemu dengan wajah tampan Egbert, "En, aku tau"
Sekali lagi Egbert membungkuk dan mengecup kening Annette, "Aku harus kembali ke Merland sekarang. Mungkin kita akan lama tidak saling bertemu"
Egbert melepas Annette dari kukungan lengan kokohnya dan keluar dari selimut. Annette membeku, merasa sedikit kehilangan. Melihat pria bertubuh tegap itu sudah bersiap menanggalkan jubah tidurnya dan mengganti nya menjadi jubah mandi.
Annette bertanya sebelum Egbert pergi ke kamar mandi, "Apa kau sungguh tidak mencintai ku?"
Egbert baru saja selesai berganti menjadi jubah mandi, mengikat tali juba mandinya dan berbalik, "Ku pikir, kita sudah pernah membahas ini"
Secara halus Egbert seperti mengatakan, 'Jadi tidak perlu membahasnya lagi'
Annette tersenyum kecil sambil menelan rasa pahit di hatinya, "Baiklah, lain kali aku tidak akan menanyakan nya lagi"
Selesai bersiap-siap Egbert sudah pergi ke Merland. Karena terlalu banyak menggunakan tenaga dalamnya akhir-akhir ini, dia pun mengirimkan pesan kepada madam Belinda untuk mengirimkan kereta kuda. Dia tidak memungkinkan untuk menggunakan lari cepatnya sebagai vampir, mengingat dia perlu berehat dari hal itu sejenak.
Tidak butuh waktu lama hingga kereta kuda datang dan Egbert naik kedalamnya. Kereta kuda pun langsung bergerak ke istana bulan merah. Sepanjang perjalanan, entah kenapa Egbert merasa lelah. Dia pun tertidur.
Hingga sesampai di istana bulan merah, Egbert dikejutkan dengan kehadiran Sean yang berlari mendatanginya. Gerakannya yang tergesa-gesa dan sekujur leher dan pelipis nya yang di basahi keringat. Egbert menduga pasti dia sudah berlari cepat dari gerbang perbatasan hingga ke istananya.
"Hah..haa Egbert"
"Ada apa sikap terburu-buru mu ini?" Tanya Egbert dengan sepasang alis bertekuk, "Tidak seperti dirimu yang biasanya"
Sean selalu menjadi orang yang paling tenang dan santai. Tentu saja Egbert mengerutkan alisnya bingung melihat Sean yang terlihat tak karuan seperti itu.
"Ini gawat"
Kelopak mata Egbert langsung terangkat lebih lebar dengan sorot mata serius, "Apa sesuatu yang buruk baru saja terjadi?"
"Annette..hah.haa"
Mata Egbert terbuntang lebar, "Ada apa dengan Annette?"
"Dia..hah..haa" Sean belum selesai dengan nafas lelahnya yang tersengal-sengal.
Egbert langsung memegang kedua pundak Sean dan bertanya dengan suaranya yang terkesan tak sabaran, "Cepat katakan padaku ada apa dengannya?"
Sean langsung mengatur nafasnya dan berbicara dengan lancar, "Orang-orang Duke Rajeev sepertinya mengikuti mu semalam ketika kau kembali ke negri manusia. Baru saja selepas kau pergi, orang-orang itu datang ke kastil dan menyergap Annette. Para pelayan di kastil mu sudah di buat pingsan oleh mereka. Agaknya mereka membuat mereka tertidur menggunakan ramuan penidur"
Urat-urat hijau langsung menyembul di punggung tangan Egbert saat mata hitamnya menyala merah dengan cahaya dingin penuh hawa membunuh.
Biar begitu, Egbert tetap terkendali dan tenang, "Cepat siapkan semua ksatria yang kita miliki, aku harus segera menjemput istriku"
Egbert yakin, betapa Annette sangat ketakutan sekarang. Membayangkannya saja, dia merasa tak tahan untuk segera menghancurkan seseorang yang sudah beraninya menyergap istrinya.
Sean langsung mengerahkan sekolompok ksatria dan tanpa kuda, mereka menggunakan tenaga dalam mereka dengan berlari cepat menuju kediaman Duke Rajeev. Yang harusnya membutuhkan sekitar sehari semalam jika berkuda, tapi menjadi hanya lima jam karena mereka berlari cepat tanpa henti.
Setiba di duchy, di mana satu-satunya duchy yang ada di Merland. Egbert langsung memerintahkan para ksatria nya melawan para penjaga. Dia dan Sean langsung bergerak masuk kedalam.
"RAJEEVVV" Teriakan keras Egbert, mengejutkan semua pelayan yang ada di dalam.
Mereka yang tengah sibuk bekerja, langsung tersentak dan menghentikan pekerjaan mereka.
Sean sadar kalau Egbert telah kehilangan kendalinya. Sean langsung mendatangi salah seorang dari mereka dan berkata dengan tatapan dinginnya, "Bawa kami ke tuan kalian"
"T-tapi tuan duke—" Pelayan itu tampak berdiri dengan gemetaran. Dia sama sekali tidak mengenal siapa Sean dan siapa Egbert. Karena pelayan sepertinya yang jarang terlibat dalam pergaulan kelas atas sama sekali tidak mengenal mereka.
Tapi melihat kedatangan mereka yang begitu asal dan berani ke kediaman Duke Rajeev. Dia yakin dua orang itu bukan sembarang orang yang dapat dia usik.
Tapi bagaimana Duke Rajeev belum memberi perintah apapun kepada mereka.
"Atau barangkali kau ingin kami memporak-porandakan kastil tuan mu ini?" Ancam Sean.
"B-baik, saya akan membawa kalian menemui tuan Duke" Pelayan tersebut memutuskan dengan cepat dan langsung membawa Egbert dan Sean ke sebuah kamar yang letaknya paling sudut dan sedikit terasing dari pintu-pintu kamar yang lain.
Saat pelayan itu membuka pintu kamar tersebut, pemandangan di dalam langsung membuang darah dalam tubuh Egbert mendidih.
Pelayan yang berdiri di depan pintu tak tahan dengan tekanan dari aura membunuh Egbert yang kuat, segera melarikan diri dari tempat itu.
Sean juga sama terkejutnya dengan Egbert. Di dalam sana dia melihat Annette tergeletak tak berdaya di atas lantai yang dingin. Gaun luarnya sudah terbuka, hanya sedikit pakaian yang tersisa di tubuhnya. Kulit luarnya yang terbiarkan terbuka, penuh lebam biru dan memar. Rambut coklat keemasannya yang berantakan telah menyebar ke lantai dan menyembunyikan seluruh wajahnya.
Suara keras itu menyentak Sean. Ketika dia menoleh, saat itu dia melihat Egbert sudah menendang Rajeev dengan tendangan yang sangat keras hingga pria itu terbanting ke dinding dan memuntahkan seteguk darah.
"Kau apakan istriku huh?" Egbert menarik kerah baju Rajeev. Wajah tampan nya terlihat begitu murka seperti akan membludak dengan api amarah, "Beraninya kau menyentuhnya!"
Bug!
Egbert meninju keras wajah Duke Rajeev yang tampak begitu memuakkan di matanya.
Duke Rajeev meringis sebentar dan sedetik kemudian, "Pftt.."
"Bwhahaa.." Dia meledak dengan tawa.
Egbert mencengkram erat kerah baju Rajeev, hawa membunuhnya semakin kuat dan mengudara.
"Aku tidak menduga istrimu adalah manusia" Rajeev tersenyum menyeringai.
"..."
"Setelah puas dengan tubuhnya, aku menggigit lehernya dan saat itu lidahku mengecap sesuatu yang..."
Bug!
Egbert meninju keras wajah itu lagi dan kali ini bibir pria itu terkoyak dan mengeluarkan darah hitamnya di sudut.
"Beraninya kau—"
"Begitu lezat" Potong Rajeev yang tetap mempertahankan senyum menyeringainya di sudut bibir, "Darahnya sangat luar biasa. Kelezatan nya bahkan telah mengalahkan anggur darah dari koleksi simpanan ku yang ada di gudang" Matanya menyala dengan hasrat penuh kepuasan melanjutkan, "Ah, bukan hanya itu. Tubuhnya ternyata tidak kalah enak dengan darahnya. Itu manis, lembut dan membuat ku menggila— membuat ku berhasrat kuat untuk menghancurkan—ukh"
Belum selesai Rajeev berkata-kata, Egbert sudah lebih dulu mencekik lehernya dengan membabi buta. Hingga pada akhirnya pria itu mati dan Egbert langsung menghempaskan tubuhnya ke lantai.
Sean ingin mendatangi Annette, memeriksa kondisinya. Tapi melihat penampilannya yang begitu terbuka, dia merasa tak pantas. Sean pun pergi mengambil selimut putih yang ada di kamar itu dan menutupi tubuh Annette terlebih dulu. Baru kemudian dia menepikan helaian rambut yang menutupi wajahnya dan memeriksa nafasnya dengan meletakkan jari telunjuknya di ambang hidung Annette.
"Bagaimana keadaannya?" Egbert langsung bersimpuh di samping tubuh Annette. Tangannya yang bergetar mengangkat tubuh kurus yang menyedihkan itu keatas pangkuan.
"Tidak mungkin.."
"Apanya yang tidak mungkin?"
Sean tidak berani berbicara. Dia bangun dan memilih untuk pergi keluar, membiarkan Egbert mengetahuinya sendiri.
Egbert dengan wajah panik menepuk-nepuk wajah Annette yang pucat pasi dan tanpa darah.
"Annette.."
"Annette cepat buka matamu.."
"Annette jika kau tak ingin Aldrich membunuhku cepat buka matamu.." Saat itu suara Egbert terdengar bergetar.
"Annette.." Mata Egbert memanas, setelah sekian lama. Hari itu untuk pertama kalinya dia menangis dan meraung keras.
"Annetteee.."
Meneriakkan nama istrinya dengan lolongan yang paling menyedihkan. Isak tangisnya pecah dan Egbert memeluk erat tubuh Annette yang sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Saat itu bayang-bayang wajah Annette yang duduk di atas tempat tidur datang bertanya padanya dengan tatapan penuh kesenduan, "Apa kau sungguh tidak mencintaiku?"
"Ku pikir, kita sudah pernah membahas ini" Dan jawaban dinginnya yang langsung menghancurkan harapan wanita cantik itu dalam kepasrahan yang menyedihkan.
Suara ketidakberdayaannya pun mengudara bersama senyum pahitnya kala berucap, "Baiklah, lain kali aku tidak akan menanyakan nya lagi"
Ingatan pagi itu terlintas bagai sebilah pisau tajam yang mengiris hatinya hingga tak bersisa. Egbert menangis lebih keras dan meraung dalam sejuta penyesalan yang tak terungkapkan.
"Annette, maafkan aku.."
"Aku mohon maafkan aku.."
Mengecup dalam bibir wanita itu yang sudah memucat dan dingin tanpa darah. Egbert berbisik lirih bersama tangisnya yang masih belum habis.
"Aku mencintaimu..."
"A-aku mencintaimu Annette"
"Aku mencintaimu.."
Pengakuan yang lebih seperti rintihan kesakitan itu terdengar hingga ke telinga Sean yang berdiri diluar dekat pintu. Dia menghela nafas berat, merasa sedih untuk Egbert. Saat itu dia sadar, betapa Egbert sangat mencintai Annette, istri manusianya.
Egbert lagi-lagi menepuk wajah Annette, berharap wanita itu membuka matanya. Dia bahkan sampai memberinya nafas buatan. Tapi sayangnya...mata wanita itu tidak kunjung terbuka.
"Annette kenapa kau tidak bangun juga..?"
"Annette..aku mencintaimu, jadi ku mohon bangunlahhh"
"Annette.."