
"Bohong" Annette meremas gaun baju rumahan nya, gugup. Menatap jauh ke dasar mata Egbert yang segelap malam, ia tidak dapat melacak emosi apapun di sana. Itu hanya dingin yang terasing dan acuh.
Egbert merasa atmosfer ruang kerjanya menjadi sedikit berbeda. Ada jejak emosi manusia yang sangat tidak nyaman mengitarinya. Menatap wanita didepannya yang hanya diam memberinya tatapan sejuta rasa luka dan takut. Ia menghela nafas berucap, "Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku"
Tepat ketika Egbert baru saja hendak bangun dari sofa, ia kembali mendengar suara wanita itu yang kali ini berujar dengan tegas, "Kau tidak akan ku izinkan mengambil Aldrich dari ku"
Egbert yang sudah setengah berdiri, mendengar sejurus kalimat penuh penegasan itu, memutuskan untuk duduk kembali.
"Aku tau perubahan sikap mu yang tiba-tiba. Pasti karena kau telah mengetahui kalau Aldrich adalah putramu, aku benar bukan?" Ada senyum masam di sudut bibirnya ketika mengatakan itu.
Egbert diam dalam keheningan. Memilih hanya menatap sepasang mata redup di sana dengan bola mata besar yang bergetar sendu.
"Aku katakan padamu. Aku tidak akan pernah mengizinkannya. Sekalipun kau harus mengancam nyawa ku seperti lima tahun silam, kali ini aku tidak akan takut"
Tidak ada keraguan dari suaranya yang penuh dengan sarat keyakinan. Tapi Egbert dapat merasakan jiwa wanita itu yang gelisah.
Egbert bangun dan membungkuk tepat di depan wajah Annette, "Kau yakin?" Jempol dan telunjuknya menjepit dagu kecil Annette. Memberi tatapan datar ke sepasang bola mata yang bergetar resah.
Annette menahan nafas. Matanya turun ke bawah melihat bagaimana pria itu menekan ujung dagunya. Tidak ada kekuatan yang dikerahkan, hanya rasa dingin yang membuat darahnya berdesir cemas dari dalam.
"Apa kau yakin tidak akan takut?"
Suaranya terdengar bagai semilir angin di kutub Utara. Yang berhembus bersama kristal-kristal salju yang dingin.
Annette merasakan ujung jari Egbert menjauh dari dagunya, mendapati itu perlahan meluncur kebawah, menelusuri lekukan leher jenjangnya yang kurus. Annette menelan liur dalam ketakutan.
Gerakan kecil menelannya tertangkap dalam retina Egbert. Membuat Egbert sedikit tergoda dengan keindahannya. Leher wanita itu sangat kurus dan kulitnya sangat tipis. Ia bertanya-tanya bagaimana jika sepasang taring tajamnya menyobek nya hingga ke dasar tulang...
Akan seperti apa rasanya?
Merasakan hawa berbahaya itu, Annette mengepalkan tangannya dan tak tahan untuk tidak bertanya, "A-apa yang coba kau lakukan?"
Bibir Egbert meringkuk dalam senyum dingin, "Jadi kau takut?"
"Aku tidak—"
Nafas Annette terus tersendat, tatkala Egbert sudah menelengkan kepalanya tepat di depan lehernya. Jantung nya berdetak tak karuan melihat mulutnya yang terbuka, memperlihatkan sepasang taring yang siap menggigit.
Annette memejamkan mata dalam kepasrahan. Melihat reaksinya itu, sepasang mata Egbert tersenyum dalam hiburan.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menggigit leher mu sampai mati" Egbert mengelus lembut leher Annette, menyayanginya seperti manekin.
Gugup, Annette membuka matanya. Pandangannya langsung bertemu dengan tatapan tanpa emosi Egbert.
Merasakan wanita itu yang tidak begitu bereaksi akan sentuhan magis nya, membuat Egbert berpikir. Sepertinya leher bukan area sensitif wanita itu.
"Bagaimanapun kau adalah istri ku dan ibu dari putraku. Sekalipun lima tahun lalu yang ku inginkan hanyalah putra, tapi sekarang ku pikir, tidak ada salahnya memiliki keduanya" Egbert sudah kembali duduk di sofa tunggal.
Membuat Annette dapat bernafas dengan leluasa tanpa harus tertekan setengah mati karena perbuatan vampir sialan itu.
"Aku tidak tau kenapa kau bisa berubah pikiran begitu. Tapi jika itu karena kau menginginkan darahku.." Annette memberi Egbert tatapan tajamnya, "Aku tidak mau menjadi budak darah mu lagi"
"Kalau begitu kau tidak perlu menjadi budak darah ku. Cukup jadi istri ku saja. Tapi dengan syarat, kau harus tinggal dengan ku"
Semudah ini?
Annette nyaris tidak percaya akan apa yang baru saja didengar nya. Karena bagaimanapun bagi vampir itu, ia hanyalah santapan yang teramat lezat. Yang teramat sangat sayang jika di lewat kan.
Tapi baru saja pria itu berkata...
"Aku tidak bisa mempercayai mu begitu saja"
Cukup lima tahun lalu ia terluka karena kebodohan dan kenaifannya. Ia tidak ingin merasakan luka yang sama lagi.
"Bagaimana jika nanti kau terus menganiaya aku sebagai istri mu?"
"Em. Bagaimana jika kau mengikat ku di ranjang mu lagi? dan membiarkan kamu datang menggigit hanya untuk memuaskan rasa dahaga mu"
"..."
"Cukup lima tahun lalu aku terjebak dalam tipu daya mu. Sekarang tidak lagi"
Egbert merasa, keadaan ini mulai menekan kesabarannya. Ia benci terlibat terlalu jauh dalam emosi manusia yang sangat kanak-kanakan. Tapi jika sekarang ia tidak menyakinkan Annette, bukan tidak mungkin wanita ini akan melarikan diri darinya lagi seperti lima tahun silam.
"Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan agar kau percaya padaku?"
Annette mengedipkan matanya, "Kau sungguh baru saja memintaku untuk..."
"Em" Egbert mengangguk malas. Ia sungguh ingin semua ini selesai dengan cepat.
Annette berpikir beberapa saat.
Meskipun penderitaannya tidak akan pernah terbayarkan, tapi tidak ada salahnya jika ia dapat memanfaatkan situasi ini dengan benar untuk sedikit memuaskan hatinya.
Ya...
Kali ini aku harus memberi pria berdarah dingin itu pelajaran.
Annette menekan senyum penuh skema nya dan berucap dengan antusias, "Seminggu"
"Aku ingin selama seminggu ini kau harus menuruti semua perkataan ku"
"..." Mata Egbert menggelap.
"Jika kau dapat melakukannya dengan benar, maka aku akan dapat merasakan ketulusan mu. Tapi jika tidak, aku hanya bisa mengatakan semua ucapan mu tadi itu hanya omong kosong belaka"
Egbert tertawa dingin dalam hati. Ia adalah seorang putra mahkota terhormat di negeri nya. Ia tidak pernah tunduk dan apatah lagi itu untuk menuruti ucapan orang-orang di sekitar nya. Termasuk kaisar sementara sekalipun, ia tidak akan merendahkan martabatnya untuk itu.
Tapi wanita manusia ini dengan sangat beraninya meminta nya untuk...
"Lupakan saja jika kau tidak mau. Kalau begitu aku per—"
"Baik"
Annette membelalak kan matanya, menelan kegirangannya dalam hati, "Kau serius?"
"Em" Egbert bersenandung malas.
"Kalau begitu berikan tangan mu.."
"Buat apa?"
"Cepat berikan saja.."
Egbert mengulurkan tangannya kepada Annette.
"Baik, kalau begitu sepakat" Annette menyambut tangan Egbert dan menggenggam nya dalam kesepakatan.
"Karena kita sudah sepakat. Jadi kau tidak boleh menarik ucapan mu lagi" Senyum merekah ruah di wajah cantiknya yang tampak sangat kesenangan.
Egbert menatap tangannya yang di genggam Annette. Merasakan telapak tangan lembut yang sedikit ada kapalan itu menekan telapak tangannya, sejenak jiwanya bergetar dalam suatu hasrat yang asing.
"Kalau begitu aku pergi"
Ketika Annette menarik tangannya, ada rasa kehilangan yang samar di telapak tangan Egbert.
"Silahkan lanjutkan pekerjaan mu"
......................