Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|116|. Membopongnya Dan Membawanya Pergi



"Itu..bisa kah kau lepaskan ini dulu" Sean mencoba tersenyum dalam gugupnya. Sesaat ia merasa sesuatu yang dingin menjalar dari belakang punggungnya. Seakan ada yang menatapnya dari belakang hingga menembus nya.


Sean tak tahan untuk tidak menggigil. Ia menoleh, mencari-cari dari mana esensi membeku kan itu berasal. Ketika matanya bertemu dengan tatapan membunuh Egbert. Sean menggigit bibir bawahnya, bertanya-tanya dalam hatinya, mimpi apa dia semalam sehingga terjebak di antara dua orang yang menjeratnya dalam situasi mematikan ini.


"Tidak bisa!"


"Itu.. dibelakang mu—"


"Jangan coba-coba mengalihkan perhatian ku, cepat jawab aku, apa itu kau?" Annette menghentak keras kerah Sean. Membuat wajah gugup Sean kian dekat dengan wajahnya. Tersisa beberapa senti lagi, ujung hidung mereka pasti akan bertemu. Tatapan Egbert menghitam melihatnya.


Sean dapat merasakan tekanan yang begitu kuat dibelakangnya dan didepannya juga tak kalah kuat. Dalam dua tekanan itu, Sean tak dapat menahannya lagi.


"Baik-baik aku menyerah" Sean mengangkat kedua tangannya tak berdaya, mengakui apa yang telah ia lakukan, "Itu aku"


"Jadi itu kau!" Annette menggertak kan giginya marah, tangan nya nya memegang kerah kemeja Sean siap meremas nya kuat-kuat.


Terdengar suara langkah kaki dari belakang. Mata Annette berkedip terkejut saat sebuah tangan besar pria datang meraih lembut pinggangnya. Lengan kokoh itu menarik tubuh kecilnya jatuh ke dada keras, yang ketika ia mendongak. Mata Annette membulat, "Eg-bert"


Seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah. Annette langsung melepaskan kerah baju Sean, "Sejak kapan kau di sini?"


Annette tidak tau kenapa ia begitu gugup. Padahal harusnya sekarang ia meluapkan kemarahan yang sama pada Egbert yang diam-diam selama ini telah bekerja sama dengan Sean, mantan dosen nya dulu. Tapi cara posesif Egbert yang menahannya di bawah lengan kokoh nya, membuat Annette linglung di tempat.


"Baru saja. Apa aku menganggu kalian?" Sekilas Egbert melirik ke arah Sean. Ia memberikan tatapan tajamnya.


Sean langsung mengulum bibirnya rapat ke dalam, tidak tau apakah harus menangis atau tertawa dengan tatapan membunuh Egbert, "Ah, Egbert ini tidak seperti yang kau lihat. Jadi tolong jangan salah paham" Sean mencoba menjelaskan.


"Kenapa aku harus salah paham? Aku tau istriku sedang memarahi mu"


"Ah, hahaha" Sean sangat menyesal. Jika ia tau akan dihadapkan pada situasi menyulitkan ini, ia pasti tak akan datang ke kastil.


"Jika kau tau lepaskan aku" Annette keluar dari bawah lengan besar Egbert yang berat itu, "Aku masih belum selesai meluapkan amarahku padanya" Mata Annette yang berapi-api menatap Sean seakan siap membakarnya hidup-hidup.


Sean seharusnya tidak perlu takut. Tapi mengingat identitas Annette, ia sadar kalau tidak bisa sembarang memperlakukannya. Jadi ia hanya bisa tersenyum dan bersabar.


"Sayang, kau boleh memarahinya, tapi tidak diizinkan menyentuhnya" Egbert membelai rambut coklat panjang Annette dari belakang. Mengelusnya dengan sangat lembut.


Sean terperangah. Sesaat menjadi ragu akan apa yang baru saja dilihatnya.


"Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya? Sebegitu takutnya kau jika aku melukai anak buah mu huh?" Annette berbicara dan menggerutu.


"Bukan begitu"


"Kalau bukan begitu lalu apa?"


"Aku hanya tidak ingin istri ku menyentuh pria lain selain aku. Itu saja"


"Apa?" Separuh wajah Annette menjadi merah padam. Ia sungguh tidak mengerti lagi. Egbert mengatakan tidak mencintainya. Tapi saat-saat seperti ini, sikap cemburuan nya itu sangat membuat salah paham.


"Aku ingin menyentuh siapa, itu bukan urusanmu. Seperti yang pernah ku katakan, selama kau tidak mencintai ku, maka kau tidak berhak mengatur-atur aku!"


Egbert menghela nafas berat, "Tapi aku adalah suamimu. Mau aku mencintaimu atau tidak—"


Annette menekan telunjuknya di depan bibir dingin Egbert. Membuat Egbert terdiam.


"Aku tau. Tapi selama aku belum menjadi istri yang dicintai, maka aku hanya menganggap status mu sebatas nama— tidak lebih"


Egbert beberapa saat mengedipkan matanya. Ia kehilangan kata untuk melawan.


Sean hampir saja bertepuk tangan. Sudah lama sekali ia mengikuti Egbert, tapi tidak pernah sedikitpun ia bertemu dengan seseorang yang bisa menaklukkan kepribadian arogan nya. Kaisar sementara saja bahkan menahan diri untuk tidak melawannya.


Mungkin dulu sekali pernah. Itu adalah Emma, mantan kekasih Egbert. Tapi melihat Annette dapat melakukan hal yang sama, sepertinya Annette akan segera mengisi kekosongan di hati Egbert.


Annette mendapati kedua kakinya tidak lagi menyentuh lantai saat Egbert mulai memanggul tubuh kecilnya seperti karung di atas pundak, "Egbert, cepat turunkan aku"


"Tidak, kita akan pergi ke negriku sekarang"


"Apaa?"


Sean yang mendengarnya juga ikut terkejut. Yang benar saja, Egbert ingin membawa istrinya yang manusia ini ke negri mereka?


Para pelayan sudah terlalu lama menonton, mereka tersenyum-senyum melihat tuan mereka yang cemburu ternyata cukup lucu. Mereka bahkan tergelak kecil melihat cara tuan mereka membopong nyonya dan membawanya dengan paksa keluar dari kastil.


Mary menghela nafas dengan senyuman. Ia senang melihat dua orang itu menjadi lebih harmonis. Menoleh pada Sean yang masih berdiri kebingungan, Mary berucap, "Tuan Sean, kedatangan anda hari ini adalah sesuatu yang baik"


Sean tertawa, "Begitu kah?"


Rasanya tidak tuh!


Aku hampir pingsan di tempat karena tekanan dua orang itu!


"Ya" Mary tersenyum tulus.


Di dalam mobil Annette sudah duduk di bangku depan dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang. Egbert menyalakan mesin mobil dan begitu cepat mereka pergi meninggalkan kastil.


"Egbert apa-apaan ini? Cepat hentikan mobilnya"


Egbert tersenyum, tidak mengindahkan Annette, ia hanya fokus menyetir.


"Egbert, jangan bercanda! Bagaimana bisa kita pergi sedang Aldrich masih belum pulang sekolah"


"Dia akan menyusul. Sean akan membawanya nanti"


"Tidak, Egbert. Bukannya aku belum setuju? Kenapa kau tiba-tiba membawa ku pergi begitu saja" Annette menggeram frustasi.


"Jika aku menunggu persetujuan mu, tidak tau kapan kita bisa pergi"


"Egberttt.." Annette menjerit keras. Padahal saat itu mereka sudah di tengah jalan besar. Tidak tau apakah jeritan nya akan terdengar sampai keluar.


"Jika kau tidak menghentikan mobilnya, aku akan melompat keluar"


Egbert tersenyum bosan, "Silahkan lakukan!"


"Kau— kau pikir aku bercanda" Dada Annette naik turun, itu kembang kempis seiring nafasnya yang diburu amarah.


"Aku tau kau tidak"


"Baik, kalau begitu lihat" Annette mulai memegang pintu, "Jika kau masih tidak berhenti, aku akan membuka ini dan melompat keluar"


"Sebelum kau melakukannya, aku akan lebih dulu menabrak mobil ini ke mobil yang ada didepan"


"A-apa?" Mata Annette berkibar cemas.


"Silahkan lakukan jika kau tak percaya" Egbert mengedipkan sebelah matanya dengan seulas senyum penuh kemenangan.


"Si*al" Annette mau tak mau mengumpat. Ia tidak punya pilihan, akhirnya bersandar lemas dan pasrah pada takdirnya yang akan segera bertandang ke negri para vampir.


......................


Saya tau, pasti sudah banyak dari para pembaca yang menginginkan kapan tuan vampir kita yang dingin ini jatuh cinta pada istrinya dan sudah mengidamkan kapan momen romansa mereka akan bersemi. Saya juga begitu, jadi mari bersabar sedikit lagi sebelum melihat romansa terpanas mereka yang akan segera datang!