Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|68|. Pergi Bersama Mencari Aldrich



Pagi datang dan cahaya matahari menembus tirai kamar yang belum di singkap. Egbert yang sangat sensitif dengan sinar tersebut, mengerutkan kening dan matanya berkedip terbuka. Langit-langit asing menyambut retinanya. Beban berat namun hangat yang bersandar di tubuhnya, membuatnya mengalihkan pandangannya ke bawah.


Egbert melihat seorang gadis manusia, tertidur pulas tepat di atas dadanya. Dada bidangnya yang kekar seakan menjadi bantal yang nyaman buat gadis itu terlelap dalam mimpi indah. Wajah cantiknya yang polos tanpa sentuhan make up, bulu mata lurusnya yang sedikitpun tidak bergerak, deru nafasnya yang pelan seiring mulut kecilnya yang sesekali datang membuat gerakan 'eum' dan 'nyam'— tanpa sadar Egbert terbuai dalam keindahan intim yang menyambut awal paginya.


Melihat tangan kecil gadis itu yang melingkari pinggangnya, Egbert sama sekali tidak keberatan. Mendapati kecantikan kecil yang masih terlelap itu, sesekali datang menggosok-gosok pipinya di atas permukaan dadanya yang masih terlapisi pakaian, rasanya itu begitu manis. Membuat Egbert teringin menekan kepala gadis itu dan melekap kan nya selamanya di sana.


Di samping itu jauh dari pintu kamar yang perlahan di dorong terbuka, tampak si kecil Aldrich yang diam-diam mengintip. Bola mata hitam besarnya menyala merah dengan pemandangan dua orang dewasa di sana yang tertidur bersama dalam satu selimut.


Bibir kecilnya memberengut seiring gigi-gigi dalam mulutnya bergemelutuk tak senang. Kemudian ia menutup kembali pintu dan pergi dengan perasaan teramat marah pada ibunya.


"Jadi, mama lebih memilih pria sial*n itu ketimbang diriku?" Monolog nya, tampak jelas kekecewaan tercetak di wajah kecilnya yang rupawan.


Semakin tinggi matahari naik dan seiring sinarnya yang kian kentara menembus tirai kamar. Itu mendarat di wajah tirus Annette, membuatnya berangsur-angsur terjaga dari tidur nyenyak nya.


"Hoamm.." Annette menguap panjang dan kepalanya masih terkulai malas di atas...


Sesaat Annette mengumpulkan kesadaran penuhnya dan berpikir, 'Sejak kapan bantal ku padat dan sekeras ini?'


Mengangkat kepalanya, retinanya terus berjumpa dengan raut wajah Egbert yang kembali dingin seperti biasa, "Kau akhirnya bangun" Ucap pria itu.


"Ah.." Annette spontan menjauh dari tubuh vampir tampan itu dan tertunduk malu, "M-maaf"


Semalam Egbert memang meminta untuk ditemani tidur. Tapi entah bagaimana ia berakhir dalam posisi yang begitu intim sampai pagi. Seakan mereka pasangan suami-istri yang baru terbangun dari malam yang panjang.


Tapi...


'Bukankah sebenarnya kita berada dalam hubungan tersebut?'


Karena biarpun lima tahun lalu ia melarikan diri dari Egbert. Namun ia pergi dengan menyandang status sebagai istri dari Egbert.


"Aku lapar, berikan aku darah mu" Ucap Egbert. Suaranya kembali terdengar acuh, tidak lagi lirih seperti tadi malam yang siap membuat hati Annette tersentuh— karena kali ini... itu hanya membuat Annette langsung kehilangan minat untuk menyambut awal paginya.


"Nanti" Annette mengeluarkan kedua kakinya dari bawah selimut, "Saya harus menyiapkan segala keperluan anak saya dulu"


Sebelum Annette bisa beranjak dari tempatnya, pergelangan tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh Egbert, "Tapi aku sudah lapar"


"Putra saya harus segera pergi ke sekolah, jadi saya tidak bisa melayani anda sekarang dan membuatnya terlambat" Ujar Annette, yang sebetulnya terlalu malas membuat perseteruan kecil di awal pagi— karena itu membuat mereka semakin terlihat seperti pasangan yang sudah lama merasakan manis dan pahitnya hubungan.


"Kau adalah pelayan darah ku, jadi kau harus mengutamakan aku lebih dari apapun, karena aku adalah tuan mu" Jelas Egbert, terang saja ia merasa kesal karena Annette tidak mendahulukannya.


"Sekalipun anda adalah tuan saya, tapi saya juga menyandang status sebagai ibu dari anak saya. Jadi antara tuan dan anak, tentu saja saya akan lebih mengutamakan anak— lebih dari apapun" Tukas Annette, penuh penekanan mencetuskan finalnya.


"Tapi—"


"Setelah saya menyiapkan segala keperluannya dan mengantarkannya pergi ke sekolah, anda dapat memiliki waktu saya sepenuhnya, bagaimana?" Annette tau ia tidak akan pernah menang melawan kehendak pria itu. Jadi alih-alih terus menolak, lebih baik membujuknya dengan benar.


Itu tidak buruk. Karena ia dapat menikmati darah lezat itu seharian. Membayangkannya saja Egbert sudah tidak sabar.


Annette dapat bernafas lega karena Egbert tidak menahannya lagi. Ia pun bangun dan bergegas keluar dari kamarnya. Pergi bersih-bersih seadanya di kamar mandi— mencuci muka dan menggosok gigi. Ia pun keluar dari kamar mandi dan mendatangi kamar putranya.


"Sayang, kau sudah bangu—" Setelah mendorong luas pintu, yang Annette lihat hanya kasur lesehan dengan selimut dan bantal yang sudah terlipat rapi.


"Aldrich?" Spontan Annette berlari memutari rumah kecilnya, tapi tidak seperti semalam. Pagi itu ia sama sekali tidak menemukan batang hidung Aldrich di manapun.


"Anak ini, kemana sebetulnya dia pergi?" Annette memasang tampang frustasi di wajah dan menggigit bibirnya cemas. Hal seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya, mungkinkah karena semalam...


"Aku terlalu keras meneriakinya?"


Tanpa ba-bi-bu Annette berlari ke dalam kamarnya dan mengambil jaket dan celana longgar untuk di pakai. Tanpa menanggalkan piyamanya, ia berpakaian lengkap dua lapis karena terburu-buru pergi untuk mencari Aldrich.


"Kenapa kau berpakaian seperti itu? Kau ingin lari pagi atau menyiapkan segala keperluan putra mu?" Tanya Egbert, yang duduk di atas kasur lesehan sambil bersandar manis ke dinding menanti Annette datang melayani nya dengan darah lezatnya.


"Putra saya tiba-tiba tidak ada di rumah, jadi aku harus pergi mencarinya" Ucap Annette dengan suara nafas memburu khawatir.


"Apa?" Egbert menjauhkan punggungnya dari dinding kamar yang dingin dan berucap, "Lalu aku bagaimana? Kapan kau akan melayani ku jika kau pergi menca—"


"Bisakah kau berhenti mendesak ku?" Potong Annette dengan raut wajah marah, "Putra ku hilang sekarang, sekalipun kau makhluk berdarah dingin, tapi bagaimana jika itu adalah putra mu yang hilang? Apa kau akan tetap se-apatis ini?" Bicara Annette, tanpa menggunakan kata sebut 'saya' dan 'anda' yang biasanya selalu ia lakukan sebagai bentuk formalitas antara tuan dan pelayan.


Egbert beberapa saat terdiam. Putra?


'Aku sama sekali tidak memiliki seorang putra'


'Kecuali benih yang tumbuh dalam rahim gadis manusia yang ia tidak tau apakah lahir atau tidaknya ke dunia dengan selamat'


Melihat Egbert yang diam tanpa mengatakan apapun, Annette tidak meladeninya lagi. Segera ia membuka pintu hanya untuk mendengar suara acuh tak acuh datang dari belakang...


"Aku temani kamu mencarinya" Egbert pun bangun berdiri, memperbaiki sedikit kekusutan pakaiannya dan merogoh kunci mobil dalam saku celananya.


"Ayo!"


Annette beberapa saat terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa.


Itu bagus Egbert datang mencari Aldrich bersamanya. Karena bagaimanapun, dia adalah ayah dari putra nya. Jadi sudah seharusnya pria itu menaruh peduli terhadap Aldrich.


"Kemana kita akan mencarinya?" Tanya Egbert yang memegang setir kemudi.


Annette menggigit bibir bawahnya cemas, "Aku tidak tau" Geleng Annette lemah.