
Aldrich sudah tertidur begitu lama. Dari sepulang sekolah ia berbaring di atas ranjang yang empuk, bersama air conditioner yang menyala, ia pergi tidur dengan nyaman. Kemewahan itu benar-benar meningkatkan kualitas tidurnya. Hingga tak sadar ia sudah menghabiskan setengah harian penuh dengan tiduran di atas ranjang.
Di pertengahan malam, Aldrich terjaga dari tidurnya. Ia mengucek-ngucek matanya yang masih diliputi rasa kantuk dan kemudian menoleh ke kanan-kiri, "Di mana mama?"
Aldrich mengelus tenggorokannya yang terasa kering. Ia merasa haus, tapi tidak menemukan ibunya ada di dalam kamar. Ia pun pergi turun dari ranjang.
Saat menginjak lantai, pikiran pertamanya langsung tertuju, "Jangan bilang mama tidur di kamar pria sial*n itu?" Aldrich mengerucutkan bibirnya tak suka. Segera ia pergi membuka pintu dan pergi meninggalkan kamar ibunya.
Karena itu sudah tengah malam, suasana kastil besar itu tampak hening. Tidak ada lagi aktivitas para pelayan. Mereka sudah lama menghentikan kesibukan dan pergi beristirahat. Lampu utama yang terang benderang di matikan, membuat segalanya menjadi gelap. Aldrich mendorong pintu kamarnya untuk membiarkan cahaya dari dalam sana keluar. Lalu ia mencari saklar lampu untuk menyalakan lampu-lampu kecil di lorong.
Cahaya kuning keremangan pun memenuhi lorong. Aldrich mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Di mana kamar si sial*n itu?"
Kastil ini sangat besar dan memiliki banyak kamar di dalamnya. Akan sangat merepotkan jika ia pergi mengecek satu-persatu. Tapi ketika melihat deretan anak tangga, firasat nya mengatakan kalau kamar Egbert ada di lantai dua.
Alhasil, Aldrich pergi menaiki anak tangga, menuju lantai dua.
Egbert berendam begitu lama di dalam bak pemandian hingga tanpa sengaja tertidur. Ia terjaga tepat pukul dua belas malam lewat. Ia bangun berdiri dari dalam bak air dan meraih jubah mandinya. Setelah mengeringkan tubuhnya dengan benar, ia pergi mengenakan jubah tidurnya yang bewarna coklat gelap.
Saat bersiap untuk pergi tidur, ia mendengar ketukan di pintu.
Tok..tok..
Egbert mengerutkan keningnya, "Siapa yang mengetuk pintu tengah malam buta seperti ini?"
Ketukan itu semakin keras dan tak sabaran. Kesal, Egbert keluar dari selimut dan menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang.
Di luar sana Aldrich berdiri di depan pintu dan terus mengetuk. Dari sepanjang pintu yang ada di lantai dua ini, setelah ia perhatikan, hanya pintu tersebut yang sedikit mencolok dan berbeda dari yang lain. Melihat kondisi istimewa itu, ia yakin itu adalah kamar utama.
"Aku yakin ini pasti kamar si sial*n itu!"
Tok..tok..
Aldrich lagi-lagi mengetuk dan terlihat tak sabar. Hingga pintu dibuka, ia melihat seorang pria dewasa menjulang di depannya, memasang ekspresi suram di wajahnya yang menggelap, "Apa yang kau lakukan?"
Aldrich melipat kedua tangannya di depan dada dan mendongak ke depan, "Di mana mama ku?"
"Dia tidak ada di sini, jadi pergilah!" Tepat ketika Egbert mencoba untuk menutup pintu, bocah kecil itu menahannya dengan cepat.
"Bohong!" Aldrich melotot tajam Egbert. Jelas ia tidak mempercayainya.
Egbert menghela nafas kasar, "Kau pergi memeriksa nya sendiri!" Ia terlalu malas berdebat dengan bocah keras kepala itu, sehingga membuka lebar pintu menyuruhnya untuk masuk dan melihat.
Aldrich melangkah ke dalam kamar Egbert tanpa sungkan. Itu cukup luas dan kondisinya lebih mewah dari kamar ibunya. Ranjang dengan tempahan khusus dan tirai putih yang menutupi, terlalu sayang untuk ditempati oleh pria lajang. Aldrich menyingkap tirai dan tak melihat ada siapapun di atas ranjang.
"Sudah ku katakan mama mu tidak ada di sini"
Aldrich menoleh kebelakang dan memasang ekspresi kesal nya, "Apa kau menyembunyikan nya di suatu tempat?"
Egbert menaikkan salah satu alisnya, "Menurutmu apa penting aku melakukan itu?"
Aldrich terdiam beberapa saat dalam pikirannya. Itu benar, apa pentingnya pria itu melakukannya? Bagaimanapun ibunya sudah setuju untuk tinggal dan ia pun begitu. Jadi, pria itu tidak punya alasan untuk menyembunyikan ibunya.
Egbert mengangkat bahunya acuh, "Aku tidak tau"
Aldrich menajamkan tatapannya, seakan ingin mencabik-cabik Egbert yang bersikap cuek dan tak peduli itu.
Apa dia sungguh suami mama ku?
Istrinya menghilang, tapi kenapa dia se-acuh ini?
"Mama ku tidak ada dikamarnya dan ia pun tidak ada di kamar mu. Kastil sudah sehening ini, lalu ia bisa berada di mana sekarang?"
Egbert mengerutkan keningnya dan diam.
"Aku tau kalau kau mempertahankan mama ku di kastil ini itu karena aku adalah putra mu"
Ucapan Aldrich itu membuat sepasang mata Egbert berkilat dengan cahaya yang tak terdeskripsi kan. Dia belum memberitahu nya, apakah Annette sudah mengatakan kebenarannya pada anak itu?
"Jadi ku peringatkan kau, jika kau bersikap setidak peduli ini pada mama ku, jangan harap aku akan tinggal lama di kastil mu"
Bibir Egbert berkedut samar dalam senyum tipisnya yang dingin. Ia tidak pernah menduga. Suatu hari akan datang di mana seseorang mengancamnya dengan sangat terus terang. Tapi ini sedikit mengejutkan. Mendapati itu adalah putra kandungnya sendiri yang melakukannya.
"Kau tidak perlu begitu cemas! Seharian ini dia telah menghabiskan banyak waktu dengan ku. Terakhir kali aku melihatnya di ruang kerja ku, sepertinya ia masih di sana"
Egbert berjalan keluar dari kamarnya, diikuti oleh Aldrich di belakangnya.
"Untuk apa mama ku berdiam begitu lama di ruang kerja mu?" Aldrich menautkan sepasang alisnya bingung.
"Kondisi ruang kerja ku sangat nyaman, barangkali ia tanpa sengaja jatuh tertidur di sana" Egbert berjalan di pertengahan lorong yang remang-remang di bawah cahaya lampu kuning yang berpendar. Aldrich ikut berjalan di sisinya.
"Bagaimanapun itu hanya ruang kerja, ranjang masih jauh lebih nyaman dari itu"
Egbert menoleh pada bocah kecil di samping nya, yang hanya memiliki tinggi badan sepinggang nya, "Kenapa kau cemas sekali?" Egbert merasa sikap cemas berlebihan bocah itu sedikit lucu, "Yakinlah tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada mama mu. Bagaimanapun kastil besar ku sangat aman, jadi apa yang perlu dikhawatirkan?"
"Bagaimana aku tidak khawatir? Mama tidak pernah seperti ini. Ia selalu memiliki kebiasaan untuk memastikan apakah aku haus atau tidak di pertengahan malam sebelum ia pergi tidur dengan nyenyak. Tapi baru saja aku terbangun dan tidak melihat ia ada samping ku?" Semenjak menempati kastil besar itu, ia selalu pergi tidur di kamar ibunya. Padahal para pelayan sudah menyiapkan kamar khusus untuk nya, tapi ia menolak untuk tidur di sana.
"Jika kau sungguh menyayangi mama mu, kau harus menghentikan kebiasaan mu itu. Apa menurutmu baik memiliki ketergantungan pada darah mamamu sendiri?"
"Kenapa tidak? Mama juga tidak keberatan soal itu"
"Kau sungguh anak yang tidak peka"
"Lalu apa kau cukup peka sebagai suami nya?" Ujar Aldrich yang tak mau kalah.
Egbert tidak berkata apa-apa lagi. Memilih menuruni anak tangga dengan tenang. Ia tidak memiliki kebiasaan adu mulut untuk sesuatu yang tidak penting, tapi bersama bocah itu, konyol nya ia melakukannya.
Tepat di anak tangga terakhir, Aldrich membelalak kan matanya saat sebuah aroma yang tak asing menyapa indra penciumannya. Itu adalah sesuatu yang berbau pekat dari besi basah yang terkena hujan dan manis asam yang begitu kentara seperti ceri segar.
'Aroma ini...'
'Bukankah ini aroma darah Annette?'