
"Beberapa hari yang lalu kau membawa dokter Robbin ke dunia manusia, apa kau sakit?"
Yang bertanya adalah kaisar Anthony, seorang pemimpin bangsa vampir yang mendapatkan takhta dengan menjebak kaisar sebelumnya yang tak lain adalah ayah dari Egbert. Rubah tua itu membingkai kaisar sebelumnya hingga terjebak dalam hukuman mati. Sang permaisuri sebelumnya yang merupakan ibu daripada Egbert, rela mati bersama karena cinta.
Saat itu Egbert yang berusia lima tahun dan merupakan seorang pangeran mahkota, mau tak mau di desak naik takhta. Tapi karena alasan umur dan minimnya pengetahuan, kepemimpinan sementara pun di serahkan pada pamannya yang tak lain orang yang sekarang ini sedang duduk megah di atas singgasana yang di gilainya.
"Em" Hanya dehaman itu saja sebagai jawaban dari Egbert.
Tampak mata Anthony berkilat dingin. Sikap acuh dan arogan keponakannya itu, selalu membuat Anthony merasa ingin membunuhnya.
"Dokter Robbin sampai tinggal di sana seminggu lamanya, seberapa parah sakit mu?" Sekilas itu tampak seperti percakapan biasa antara paman dan keponakan. Memang di hadapan Egbert, aura kaisar yang berkuasa dalam diri Anthony sedikit meredup.
"Tidak begitu parah sampai memerlukan perhatian khusus dari paman" Jawab Egbert yang kini berbicara sedikit banyak. Ia menolak memanggil rubah tua itu 'yang mulia' dan enggan tunduk padanya.
Karena untuk Egbert, di depannya itu bukanlah Kaisar yang harus ia hormati. Melainkan seorang paman yang begitu tak tahu malunya menikmati tempat yang sebenarnya bukan miliknya.
"Ah, baguslah kalau begitu" Tangan Anthony yang memegang lengan kursi, diam-diam terkepal memendam amarah dan kebencian.
"Apa ada hal lain?" Tanya Egbert kemudian. Ia dapat merasakan atmosfer buruk pamannya yang memenuhi sekitar— itu penuh kebencian dan permusuhan.
"Akhir tahun nanti tepat di malam purnama, usia mu akan genap dua puluh satu tahun"
Egbert yang mendengar itu, sejejak senyum dingin muncul di mata merahnya yang menyala.
"Saat itu masa peralihan kepemimpinan akan berakhir dan posisi ini akan ku serahkan padamu" Ujar Anthony, walau jelas dalam hatinya tidak berkata demikian.
Hal tersebut jelas di ketahui oleh Egbert yang sedari tadi menahan bibirnya untuk tidak bergerak membentuk senyum mencemooh.
"Tapi sebelum itu ada syarat yang harus kau penuhi. Pernikahan dan keturunan yang sah"
Sebelum Anthony menduduki takhta, ia membuat perjanjian peralihan kekuasaan sementara. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan itu dan ingin memiliki takhta sepenuhnya. Namun sayangnya tidak semudah itu. Ada prosedur dan tekanan dari berbagai faksi, mau tak mau ia pun membuat perjanjian tersebut. Di mana ia akan menyerahkan takhtanya kepada pemilik yang sebenar, tepat ketika Egbert mencapai usia genap dua puluh satu tahun, sudah menikah dan memiliki keturunan yang sah.
"Apa kau perlu bantuan ku untuk menyiapkannya untuk mu?"
Membantu?
Egbert tertawa dingin dalam hati. Ia sungguh tidak tau bagaimana orangtuanya dulu dapat terjebak dengan permainan licik rubah tua itu. Tapi melihat wajah wibawa tak berdosa nya, itu memang terlihat cukup tulus.
Namun biar begitu, Egbert tidak cukup naif sampai terperdaya begitu saja.
"Tidak perlu"
"Apa kau yakin?" Tanya Anthony "Hanya beberapa bulan yang tersisa sebelum akhir tahun dan upacara penobatan mu tidak dapat dilakukan selama kau belum memenuhi persyaratan" Ucap Anthony.
Karena selama Egbert belum menikah dan memiliki keturunan, tahkta tersebut hanya akan terus berada di bawah kendalinya.
"Aku masih betah bermain di negri manusia. Paman bisa tenang dan duduk lah lebih lama di singgasana"
Bosan terus melayani rubah tua itu berbicara, Egbert pun langsung mengatakan apa yang paling ingin Anthony dengar.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Paman tidak dapat memaksa mu" Jawab Anthony dan tersenyum begitu puas.
......................
Setelah pergi meninggalkan ruang pertemuan dengan kaisar, Egbert berjalan pergi ke istana 'bulan merah'. Yang mana kediaman khusus untuk putra mahkota. Ia tumbuh besar di tempat itu dengan perawatan seorang pelayan kepercayaan ibundanya. Wanita itu sudah tua tapi masih sangat setia menunggu kepulangannya setiap saat ke istana.
Tampak wanita tua dengan rambut tersanggul rapi, tergopoh-gopoh menyambut kedatangannya. Ia berpakaian formal yaitu seragam kepala pelayan yang dilengkapi dengan bros emas di bagian atas dadanya sebagai lencana senioritas dan kehormatan khusus yang mengartikan, wanita tua itu memiliki wewenang tertinggi dalam mengurus istana 'Bulan merah'.
"Eum" Angguk Egbert dengan seulas senyuman yang mencapai dasar matanya.
Berhasil membuat pelayan-pelayan lain yang mengintip, diam-diam memandang iri pada wanita tua itu karena satu-satunya orang yang mendapatkan senyum penuh ketulusan dari Egbert.
"Aku sudah menyiapkan pemandian air hangat dengan campuran garam himalaya dan minyak esensial lavender Prancis dari negeri manusia yang anda sukai. Apa anda berniat mandi sekarang?"
Seperti biasa, wanita tua itu selalu hafal rutinitas pertamanya jika menginjak kan kaki ke istana. Tak lain itu adalah berendam di pemandian favoritnya.
"Eum" Angguk Egbert lagi masih mengulas senyum yang begitu lebar di wajah tampannya.
"Kalau begitu aku akan menyuruh pelayan untuk membantu mu bersiap-siap"
Wanita tua itupun dengan semangatnya pergi memanggil para pelayan, sedang Egbert sudah pergi ke tempat pemandian kesayangannya berada. Itu tak lain di sebuah taman belakang dengan perlindungan tembok yang tinggi dan atasan yang terbuka.
Tok..tok...
"Masuk" Ucapnya.
Pintu pun di buka dan dua orang pelayan berjalan masuk kedalam.
"Yang mulia, kami di utus madam Belinda untuk melayani anda"
Sebagai jawaban, Egbert terus merentangkan kedua tangannya ke atas. Menyuruh mereka untuk bergegas membantunya menanggalkan baju.
Dua pelayan itupun dengan gugup mulai menarik turun mantel panjang yang Egbert kenakan dan kemudian berlanjut melepas kancing baju Egbert satu-persatu. Keduanya tampak menahan nafas saking gugupnya. Hingga ketika pakaian terakhir di tanggal kan, pemandangan tubuh pria telanjang dengan otot sempurna yang sangat menawan mata itu berhasil membuat mereka siap sesak kehabisan nafas.
"Untuk bagian ini biar aku yang mengurusnya" Ucap Egbert dingin, tangannya langsung menahan tangan seorang pelayan yang hendak menanggalkan celananya.
"M-maaf yang mulia, pelayan bodoh ini sudah tidak sopan"
Egbert hanya mengangkat tangannya dan menyuruh mereka pergi menunggu di luar. Keduanya pun mengangguk dan berjalan mundur sesopan mungkin pergi keluar. Mereka pun menunggu di luar tanpa berani mengintip.
Saat itu Belinda datang membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas darah kelinci muda kesukaan Egbert.
"Berikan ini pada yang mulia" Ucapnya pada mereka.
"Maaf madam Belinda, kami tidak punya keberanian untuk masuk. Yang mulia menyuruh kami untuk menunggunya di luar" Ucap salah seorang dari mereka.
"Aku mengerti" Ucap Belinda. Ia pun menyuruh dua orang itu untuk minggir dan pergi mengetuk pintu seraya mengatakan bahwa itu dirinya.
Egbert langsung mengizinkannya masuk.
Di dalam sana Belinda melihat Egbert yang sudah berendam di dalam air. Bagian atas dadanya yang menonjolkan otot-otot itu telah bermandikan sinar rembulan dari langit malam, membuatnya begitu indah di pandang mata.
Malam itu adalah fase bulan kuartal pertama, tapi sinarnya yang tak kalah terang dari bulan purnama masih, itu jatuh begitu cantik di atas setiap inci kulit wajah Egbert yang pucat dan bersih.
"Aku membawa kan segelas darah kelinci favorit mu. Ini baru saja di sembelih, rasanya masih segar dan hangat"
"Terimakasih madam Belin.."