Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|42|. Mendadak Tidak Menyukai Darah Kelinci



Setelah meletakkan gelas yang berisikan darah kelinci segar di dekat pemandian, Belinda permisi keluar dan memberi privasi sepenuhnya untuk Egbert berendam seorang diri di dalam sana tanpa gangguan siapapun.


Egbert merasa sangat tenang berendam dalam air hangat yang bercampur garam himalaya, di tambah semerbak aroma lavender Prancis menguar ke udara bersama uap yang melambung. Pikiran Egbert cukup dibuat rileks karenanya.


Ia mengambil gelas dan menyesap cairan merah kental itu. Alasannya menyukai darah kelinci adalah karena rasa manisnya yang meninggal kan rasa asam samar di ujung. Tapi tidak tau kenapa di lidahnya kini agak lain.


"Kenapa rasanya kurang enak?" Padahal itu rasanya masih sangat segar dan hangat. Asam dan manisnya pun lebih pas dan sedikit berbeda dengan kelinci di kota manusia yang dijual di pasaran.


Egbert sangat pemilih akan sesuatu termasuk darah yang dikonsumsinya harus lah bersifat premium dan benar-benar memuaskan lidahnya. Ia pun meletakkan gelas itu dan memanggil pelayan yang ada di luar.


"Iya yang mulia?"


"Ganti minuman ini, rasanya sedikit kurang enak"


"Baik yang mulia"


Pelayan itupun keluar dan melaporkannya pada Belinda bahwa Egbert menginginkan darah kelinci baru.


"Aneh sekali, padahal yang mulia sangat menyukai darah kelinci hutan yang di pelihara di istana" Gumam Belinda. Karena sejauh ini itu tidak pernah mengecewakan lidah pangeran mereka.


"Suruh tuan Helio menyembelih kelinci yang lain. Carikan yang paling muda, rasanya akan jauh lebih manis dan asamnya akan lebih segar"


"Baik madam Belin"


Pelayan tersebut pun segera pergi menemui Helio. Yang tak lain adalah pria muda yang bertugas mengurusi kebun dan peternakan di istana putra mahkota. Setelah mendapatkan pesan tersebut, Helio segera menyembelih kelinci yang termuda dan menampung darahnya. Kemudian ia menyerahkannya kepada pelayan untuk diberikan pada Egbert.


"Kenapa rasanya masih tidak enak?" Keluh Egbert. Itu memang terasa manis dan asam yang cukup sesuai dengan seleranya. Tapi lagi, ia merasa seperti ada yang kurang.


"Apa ini kelinci hutan yang di pelihara istana?"


"Benar yang mulia"


"Ganti! Aku masih merasa darah kelinci ini kurang memuaskan lidahku"


Alhasil setelah menyembelih kesepuluh kalinya, Egbert masih tidak merasakan sedikitpun dari kesepuluh kelinci itu dapat memuaskan lidahnya. Terang saja itu membuat Helio dan Belinda di dera kebingungan.


"Apa preferensi Anda terhadap darah sudah berubah yang mulia?" Taya Belinda kemudian. Karena mereka tidak pernah mengubah jenis kelinci di peternakan istana. Harusnya rasa mereka masih sama kecuali selera Egbert yang mengalami perubahan.


"Tidak"


"Tapi yang mulia bagaimana mungkin dari kesepuluh kelinci tadi, tak ada satu darah mereka pun yang dapat memuaskan lidah anda"


"Aku pun tidak mengerti mengapa bisa begitu"


Ini bisa gawat jika ia kehilangan seleranya pada darah kelinci yang sejauh ini apapun jenis mereka, selalu membuatnya candu. Bisa-bisa ia akan kesusahan mencari preferensi darah baru yang sesuai dengan hasrat lidahnya.


"Besok carikan jenis kelinci baru, mungkin aku sudah mulai bosan dengan darah kelinci hutan"


......................


"Jadi maksud mu, suatu malam kau di culik, tak taunya kau sudah berada di sebuah kastil dan di paksa menjadi pengantin wanita seorang vampir dan itulah kenapa anak yang kau lahir kan tidak seratus persen manusia, begitu?" Ucap Parker, menarik kesimpulan dari apa yang telah diceritakan Annette padanya.


"Tapi bagaimana bisa itu mungkin?" Tukas Parker yang jelas sulit mempercayai apa yang di ceritakan Annette barusan, "Vampir itu jelas tidak ada, bagaimana mungkin itu bisa—"


"Aku tau kakak bakal sulit mempercayai hal ini. Aku pun awalnya begitu. Tapi jika kakak masih tidak percaya, kakak bisa melihat contohnya pada bayi ku" Ucap Annette sambil menoleh kearah bayi mungilnya yang kini sudah tertidur pulas setelah mengkonsumsi darahnya.


"Lalu bagaimana kau akan membesarkan nya? Apa kau akan terus memberikan darahmu hingga dia dewasa?" Tanya Parker kemudian. Walaupun masih sulit mencerna informasi itu, tapi bayi mungil Annette yang segera tertidur setelah kenyang meminum darah telah menjawab keraguannya.


"Aku tidak punya pilihan lain. Sepertinya aku harus melakukan itu" Ucap Annette, matanya melirik pada telapak tangannya yang meninggal kan bekas luka karena sayatan pisau, "Karena itulah satu-satunya makanan mereka" Selain darah, vampir tidak dapat mengkonsumsinya. Jikapun bisa, itu tidak akan berarti apa-apa bagi tubuh mereka.


Annette masih mengingat jelas perkataan Egbert di malam pria itu memberikan kejutan untuknya.


"Kami vampir tidak bisa makan makanan kalian para manusia. Tapi kami bisa makan sesuatu selain darah seperti hati. Tapi itu tidak berarti apa-apa bagi tubuh kami"


"Itulah kenapa untuk bertahan hidup, kami tetap harus mengkonsumsi darah. Tidak seperti manusia yang mempunyai banyak hal untuk di makan, tubuh kami hanya menerima itu sebagai asupan"


Jika mengingat malam yang penuh suasana romantis itu, Annette merasa sangat manis dan bergetar pahit bersamaan. Andai saja ia tidak cukup naif berpikir itu adalah ketulusan Egbert untuknya. Karena nyatanya, itu hanyalah bagian dari skenario Egbert agar membuatnya terbuai akan cinta sesaat hingga dengan begitu ia dapat tunduk di bawah kendalinya.


"Kamar ini pakai saja untuk mu. Aku akan memakai kamar yang lain" Ucap Parker yang kini sudah berdiri dan bersiap untuk pergi keluar dari kamar.


"Kak Parker"


Panggilan Annette membuat langkah Parker terhenti.


"Ya?"


"Boleh aku meminjam satu pakaian kakak?"


Annette sungguh menyesal karena hari itu ia kabur tanpa membawa beberapa potong pakaian. Itu karena ia tidak berpikir akan tetap hidup hingga berubah peran menjadi seorang ibu.


"Eum. Nanti aku akan membawanya kepada mu"


"Terimakasih kak"


Dan begitulah kehidupan baru Annette Annette dimulai. Menjadi seorang ibu dan pembantu yang bekerja di kediaman seorang dokter lajang.


Keesokan harinya, Annette sudah bangun awal dan bersih-bersih sekenanya. Menggelung rambut panjangnya ke atas, Annette tampil begitu memikat dengan kemeja putih besar longgar milik Parker yang hanya menutup separas paha nya saja. Ia pun pergi menggendong bayinya yang masih tertidur dan beranjak ke dapur.


Annette pun berkutat di dapur sambil menggendong bayinya. Ia mengambil panci dan merebus air untuk menyiapkan dua gelas susu. Setelahnya ia pergi meletakkan piring dan menata dua lembar roti di atasnya.


Parker baru saja siap mandi dan mendengar aktivitas dari dapur. Langkah kakinya pun begitu saja tergerak ke dapur. Di sana ia melihat pemandangan seorang gadis muda yang tampak begitu mempesona dengan kemeja yang hanya menutupi separas paha sehingga menonjolkan kaki jenjang putihnya yang mulus, itu berhasil membuat Parker sesaat menegang dan menelan saliva nya.


Panorama itu kian menakjubkan melihat gadis itu yang sama sekali tidak kerepotan berkutat dengan aktivitasnya, padahal ia sedang menggendong bayi. Parker pun beberapa saat bergeming dengan perasaan samar yang menyusup ke hatinya.


"Kakak sudah selesai mandi?" Tanya Annette. Ia terkejut mendapati Parker yang entah kapan sudah berdiri di sana dengan jubah mandi coklat tua yang membungkus tubuh kekarnya. Tetesan air berjatuhan dari rambutnya yang masih setengah basah, membuat wajah tampan itu segar dan begitu menyenangkan di mata.


"Eum"


"Aku sudah menyiapkan sarapan buat kakak" Ucap Annette.


"Kalau begitu aku bersiap-siap dulu"