
"Jadi, dia sudah diangkat menjadi kaisar?"
Rajeev duduk di ruang kerjanya. Dia baru saja menyesap teh darah bercampur aroma melati. Itu sedikit memberinya perasaan tenang dan rileks.
"Itu benar" Jawab Javier. Dia duduk di sofa yang ada di ruang kerja.
Tok..tok..
"Yang mulia"
Rajeev meletakkan cangkir dan mengangkat kepalanya kearah pintu.
"Masuk"
Pintu di dorong terbuka dan seorang pelayan muda berjalan masuk kedalam dengan sopan.
"Ada apa?" Melipat kedua tangannya di atas meja, Rajeev langsung mengajukan alasan kedatangannya.
"Ada seseorang yang ingin menemui anda. Dia mengatakan dirinya adalah putra dari Marques Wood"
Rajeev tersenyum dingin, "Persilahkan dia masuk"
Bagaimanapun dia harus tetap bersikap sopan bukan?
Pelayan itu membungkuk sopan sebelum keluar dan segera pergi untuk mempersilahkan Sean masuk.
"Jadi, ada alasan apa kau datang ke kediaman ku?"
Sean menyunggingkan senyum di bibir, "Aku bahkan belum duduk. Tapi anda sudah bertanya saja apa tujuan ku.."
"..." Mata Rajeev yang menatap Sean itu tenang tanpa ekspresi khusus.
Sean langsung duduk di salah satu sofa tunggal tanpa perlu menunggu di persilahkan. Dia melanjutkan dengan senyum santainya, "Duke Rajeev, aku tidak mengira anda adalah seseorang yang tidak sabaran"
Rajeev memaksa kan senyum samar di bibirnya yang berkedut sedikit, "Ku pikir kesabaran ku sudah habis untuk sesuatu hal yang sangat penting"
Sean mengulum bibirnya ke dalam. Dia sangat paham sesuatu yang sangat penting apa itu. Yang tak lain dan tak bukan...
"Apa itu sudah habis sepenuhnya?"
"..." Mata Rajeev memberi Sean tatapan yang mendalam.
"Jika belum, ku saran kan untuk menyudahinya. Karena aku tidak ingin anda menyia-nyiakan kesabaran anda yang berharga"
Tangan Rajeev yang berada di atas meja itu perlahan terkepal, "Sudah terlalu banyak rumor buruk tentang ku. Jadi, ku pikir tidak perlu menjaga tata krama yang sedemikian rupa. Karena itu, silahkan anda ke poinnya saja. Tidak perlu bertele-tele"
Sean tau rumor buruk apa saja yang menyebar di masyarakat terkait Duke Rajeev. Dia di gosip kan sebagai penguasa yang haus akan kekuasaan. Saking hausnya dia, pria itu memilih untuk tidak menikah karena tidak ingin memiliki pewaris yang kelak akan merebut tempat nya.
Dia juga dikenal sebagai pria liar yang suka bersenang-senang dengan wanita. Tapi tidak sembarang wanita yang dapat merangkak ke ranjangnya. Itu hanya beberapa yang dipercayai nya saja. Seperti para pelayan nya dan kecantikan yang dipeliharanya— Emma.
"Baik, aku juga tidak ingin terlalu lama di sini" Sean mengeluarkan amplop coklat dari balik mantel merah bata nya.
Dia meletakkannya di atas meja.
"Ini adalah bukti transaksi perdagangan ilegal yang anda lakukan baru-baru ini, beberapa laporan penyuapan yang telah anda lakukan dan selebihnya anda dapat melihatnya sendiri"
Rahang Rajeev seketika mengeras. Javier mengambil amplop itu dan memeriksa lembaran kertas yang ada di dalamnya. Setelah memastikannya, dia mengangkat pandangannya kepada Rajeev.
'Sepertinya kita tidak dapat melanjutkan rencana kita'
Mengerti maksud tatapannya, mata Rajeev berkilat dingin.
"Aku ke sini untuk menyampaikan amanat Baginda kaisar. Dia menyuruhku untuk menyampaikan beberapa hal untukmu"
"..."
"Semalam adalah momen yang sangat mengecewakan. Paman kepercayaan Baginda telah melakukan pemberontakan terhadapnya. Dia tau itu bukan satu-satunya. Tapi dia tau itu akan menjadi yang terakhir. Untuk itu dia berpesan pada anda, 'Aku tau kau seseorang yang sangat menjaga kehati-hatian. Maka tetaplah seperti itu. Karena seringnya mereka yang sangat berhati-hati, akan terus stabil di jalannya"
Sudut atas bibir Rajeev bergerak-gerak ketika mendengar itu. Dia sangat mengerti apa maksud yang sangat di tekankan dalam pesan itu.
Jangan memilih jalan yang ceroboh seperti mantan kaisar sementara atau kalau tidak posisinya akan dipertaruhkan.
"Aku mengerti" Rajeev tersenyum simpul, "Sampai kan balasan ku untuk Baginda. Aku akan terus berhati-hati dan akan selalu begitu"
Melihat amplop coklat yang tergeletak di atas meja. Dia tidak punya pilihan lain. Jalan hati-hati yang harus diambilnya adalah...
Berhenti.
"Baik, akan saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi tuan Duke"
Sean turun dari kereta dan pemandangan pertama yang menyambut nya adalah seorang wanita muda dengan gaun coklat tua polos. Rambut coklat keemasannya yang panjang sudah di pangkas rapi se- telinganya. Di atasnya ada topi bundar yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Melindungi kulit pucat nya dari sinar terik matahari.
Wanita itu tampak sedang menyirami tanaman dengan gembor ditangannya.
Jantung Sean berdetak kencang. Langkah kakinya terlalu berat untuk bergerak dan tenggorokan nya telah tercekat untuk berbicara.
Merasakan kehadiran seseorang, wanita yang berparas meneduhkan itu mengangkat wajahnya.
Dia bergeming.
Dua orang itu saling bersitatap dalam hening.
Satu detik..
Dua detik..
Tiga detik..
"Bagaimana kabarmu?"
"Kabarmu baik?"
Setelah saling melempar pertanyaan yang sama, keduanya pun tergelak canggung.
"Di luar cukup panas. Sepertinya kau baru saja melakukan perjalanan panjang. Mari beristirahat sebentar didalam"
"Maaf, merepotkan mu kalau begitu"
"Tidak sama sekali"
Wanita itu tersenyum cerah dan hati Sean berdesir.
Di dalam rumah kecil itu, Sean melihat tatanan dalam nya rapi dan sederhana. Tak ada kemewahan, tapi Sean dapat merasakan ketenangan didalamnya.
Juga sedikit rasa kesepian...
Ragu-ragu, Sean bertanya, "Kau tidak kembali ke kediaman mu?"
Camellia menggeleng, "Setelah dipulangkan dari istana kekaisaran semalam, aku langsung memutuskan untuk mengasingkan diri di suatu tempat"
Saat menatap mata cantik itu memaksakan seulas senyum tenang, hatinya merasa sakit.
"Baginda kaisar yang baru sangat murah hati. Dia memulangkan kami dengan beberapa hadiah mewah. Aku telah menjualnya beberapa dan membeli tempat sederhana ini"
Camelia menuangkan es ke dalam gelas kosong dan mengambil botol darah ayam. Dia menuangkan nya kedalam gelas yang sudah berisi es tersebut.
"Maaf, aku tidak punya darah rusa kesukaan mu. Itu terlalu mahal untuk dibeli" Camelia meletakkan gelas tersebut di atas meja, "Semoga kau tidak keberatan dengan darah ayam"
Sean tersenyum, "Tidak sama sekali"
Sean mengangkat gelas yang dingin dan menyesapnya sedikit. Rasanya sangat biasa. Biar begitu itu terasa luar biasa di lidahnya. Barangkali itu karena yang menyajikan nya adalah seseorang yang...
"Sean"
"Ya?" Sean langsung menatap tepat ke wajah Camelia. Matanya di penuhi senyuman kebahagiaan.
"Apa kau masih memiliki perasaan padaku?"
Deg!
Apa itu terlalu jelas?
Melihat reaksinya, Camelia menebak itu benar.
Sean masih memiliki perasaan terhadapnya.
"Maaf, aku tidak dapat membalas perasaan mu. Biar bagaimanapun, tidak memungkinkan bagi kita untuk memulai kembali"
"Kenapa?" Suara Sean terdengar serak dan parau.
Bulu mata Camelia bergertar, pangkal hidungnya terasa asam dan pekat.
"Kau paling jelas apa alasannya. Jadi tolong jangan mendesak aku untuk menjelaskan.." Camelia menundukkan kepalanya, menatap lantai rumah nya yang hanya berupa polesan semen kasar, "Karena itu hanya akan menyakiti ku"
Seperti itu, cinta pertama Sean benar-benar berakhir.