Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|133|. Akan Pergi Ke Sesuatu Tempat



Itu menjadi malam yang paling melelahkan bagi Annette selama ia tinggal istana bulan merah. Gaun yang entah berapa kilo beratnya, sudah ditanggalkan dari tubuhnya. Dia pergi berendam bersama para pelayan yang senantiasa memijat kepala dan pundak hingga tanpa sadar ia tertidur.


Mereka tau Annette pasti sangat kelelahan. Ragu untuk membangunkannya, salah seorang dari mereka pergi melapor kepada Egbert. Jika putra mahkota sungguh sangat menyayangi istrinya, laporan seperti itu pasti akan menjadi suatu hal yang perlu dilaporkan.


"Aku akan ke sana"


Egbert baru saja selesai berendam di pemandian air panas miliknya. Mengenakan jubah mandi sekenanya, dia langsung pergi menyusuri lorong-lorong taman yang gelap hingga masuk kedalam istana.


Setiba di kamar utama yang besar, dia berbelok menuju tempat pemandian. Di sana Egbert bertemu dengan beberapa pelayan yang masih menunggu di depan bak, menanti Annette yang masih belum terjaga dari tidur.


"Yang mulia putri mahkota tampak sangat kelelahan hingga jatuh tertidur. Kami tidak berani membangunkan nya"


Para pelayan itu membungkuk sopan sambil memberi penjelasan kepada Egbert yang baru saja datang.


Egbert mengangkat tangannya, melambai kearah pelayan tersebut, "Kalian semua boleh pergi"


"T-tapi putri mahkota, belum berpakaian yang mul—"


"Biar aku sendiri yang melakukannya"


Para pelayan beberapa saat terkesiap di posisi berdiri mereka. Bahkan beberapa dari mereka ada yang memerah malu membayangkan hal romantis apa yang akan terjadi. Dalam keterkejutan itu, mereka mematung diam. Hingga salah seorang dari mereka datang menyikut, menyadarkan satu sama lain.


Segera mereka membungkuk sopan dan mengundurkan diri dari sana.


Tempat pemandian pun menjadi hening.


Egbert mengambil beberapa langkah mendekati kolam pemandian dan bertekuk lutut dibawahnya. Egbert memperhatikan Annette yang menidurkan kepalanya dengan nyaman di pinggiran kolam pemandian. Rambutnya di gelung ke atas, memperlihatkan sepanjang garis leher jenjangnya dengan jelas.


Tulang selangka putihnya, tersembunyi di balik air dan tertutupi oleh kelopak-kelopak putih bunga vanili. Tatapan mata Egbert melembut saat punggung jari telunjuknya mengelus lembut wajah cantik Annette yang begitu pulas dalam tidurnya.


Egbert mencelupkan tangannya kedalam air, pergi mengangkat tubuh Annette dari sana. Tenggorokannya sempat tercekat saat tak dapat menahan panas melihat godaan yang ada dalam jangkauannya. Secepatnya dia membawa Annette ke kamar dan memakaikannya piyama dari serat sutra yang halus.


Menarik selimut hingga ke pundak Annette, Egbert pergi mengecup kening Annette. Mulutnya terbuka, mengatakan katanya yang begitu saja mengalir dengan sendirinya.


"Selamat malam istriku"


Pagi harinya Annette terjaga dalam pelukan erat seseorang. Membuka matanya perlahan, dia mendapati dada telanjang pria yang kotak-kotak memikat berada tepat di depan wajahnya. Sebelum-sebelumnya, pemandangan seperti itu pasti membuat Annette merasa malu.


Tapi pagi itu tidak lagi. Dia hanya menyusup lebih rapat kedalamnya. Menghirup dalam aroma tubuh suaminya.


Pergerakan kecil itu membuat Egbert terbangun. Mata Egbert berkerut dan memandang ke bawah. Melihat wajah alami Annette yang baru saja terjaga dari tidur, membuat hatinya merasa hangat.


"Pagi"


Suara berat Egbert, membuat Annette mengangkat kepalanya dan tatapan mereka bertemu.


"Pagi" Annette tersenyum.


Egbert membungkuk dan mengecup lembut kening Annette.


Hati Annette berdesir, merasakan manisnya.


"Hari ini..aku akan kembali ke negri manusia?" Annette bertanya.


Membuka percakapan pagi di atas ranjang. Seperti itu, mereka seperti pasangan suami-istri pada umumnya.


"En" Egbert menganggukkan kepalanya. Tangannya terangkat dari bawah selimut, pergi mengelus rambut kecoklatan Annette yang sedikit berantakan, "Tapi sebelum itu, kita akan pergi ke sesuatu tempat lebih dulu"


"Kemana?"


Cup!


Sekali lagi, Egbert mengecup manis kening Annette. Suara kecupannya menggema jelas di kamar besar yang hening.


"Kau akan tau nanti"


......................


Entah sudah berapa hari Aldrich berada di sekolah sihir Negri Merland. Aldrich tidak menghitungnya. Yang jelas suasana di sana sangat berbeda dengan taman kanak-kanak yang ada di dunia manusia.


Karena usia Aldrich masih berumur lima tahun, dia berada di gedung merah. Gedung khusus bagi para pemula.


Berbeda dengan sekolah Merland lainnya, sekolah sihir tidak ada yang namanya strata sosial. Karena anak-anak yang memenuhi tempat itu hampir kebanyakan dari masyarakat biasa dan sedikit dari kalangan bangsawan. Tidak hanya itu, penghuninya pun terbilang sangat sedikit.


Hanya berkisar lima puluh orang. Itu karena bakat seperti sihir adalah suatu hal yang terbilang langka.


Bersekolah di tempat itu, Aldrich seperti menemukan dunia yang diinginkannya. Tak ada anak-anak dengan cara berbicara mereka yang cadel, ingusan yang meleleh keluar dari hidung atau yang menyebalkan seperti jatuh sedikit sudah menangis.


Anak-anak yang seumuran dengan Aldrich di sana ada sekitar sepuluh orang dan mereka sudah berbicara dengan logat jelas seperti orang dewasa. Memang sepertinya kematangan anak-anak vampir jauh lebih pesat dari anak manusia.


Di sana Aldrich tinggal di asrama dan harus menderita alergi hampir setiap hari karena meminum darah hewani sebagai asupan sehari-hari. Sean sudah berpesan padanya untuk pergi mengambil obat alergi tiap kali itu habis di klinik kesehatan yang tersedia di sana.


Tok..tok..


Aldrich baru saja mengumpulkan baju-baju kotornya kedalam keranjang. Mendengar ketukan dari pintu, dia pergi membukanya.


"Ada apa?" Aldrich bertanya dengan ekspresi acuh di wajah.


Di depan sana berdiri seorang gadis kecil dengan rambut terkepang dua. Dia berbicara dengan wajahnya yang bersemu malu, "Kau mau pergi mengantarkan pakaian kotor mu hari ini?"


"En"


"Kalau begitu ayo kita pergi bersama"


"Baiklah sebentar!"


Aldrich pergi mengambil keranjang yang berisi baju kotornya dan keluar. Dia pun pergi ke penatu yang berada di samping gedung asrama bersama gadis kecil yang baru saja mengetuk pintu kamarnya.


Nama gadis itu Eloise. Rambutnya hitam pekat seperti tinta dan bola mata hijaunya teduh seperti daun muda. Kulitnya putih pucat seperti vampir pada umumnya dan banyak anak-anak lalaki seumuran Aldrich, suka dengan Eloise yang cantik.


Tapi Eloise selalu datang lebih dekat ke sisi Aldrich. Itu membuat banyak anak-anak yang tidak senang dengan Aldrich. Kedatangan anak baru itu, telah mencuri perhatian permata mereka.


"Awal bulan Agustus nanti, usia ku akan genap enam tahun" Ujar Eloise. Tangan kecilnya memeluk keranjang.


"Oh, ternyata kau lebih tua dua bulan dariku" Sikap Aldrich datar seperti biasa.


Padahal jika itu anak-anak lain, mereka pasti akan sangat antusias mendengar ulang tahunnya yang sudah dekat.


Sesampai di penatu, tidak ada yang namanya mesin cuci besar seperti di negri manusia juga tidak ada setrika listrik ataupun uap..Negri vampir memang masih banyak tertinggal dalam banyak hal. Di sana hanya ada kotak-kotak persegi yang dibuat dari kayu. Ukurannya berkisar sepanjang kulkas satu pintu di dunia manusia dengan lebar seperti mesin cuci kebanyakan.


Di dalamnya diisi pakaian-pakaian kotor, yang kemudian di tuangkan air dan sabun. Nantinya seorang penyihir dengan tenaga pembersih akan mengerahkan kekuatannya dan kotak persegi itu akan bergoyang-goyang hingga beberapa menit.


Sekitar tujuh menit, kotak kayu tersebut di buka dan pakaian-pakaian yang setengah basah dan sudah tercuci bersih itu di letakkan kedalam keranjang. Bibi pekerja di penatu nantinya akan datang mengambil keranjang tersebut dan menjemurnya di tali jemuran.


Untuk setrika, mereka masih menggunakan setrika arang. Karena biarpun itu sekolah sihir, tapi tidak semuanya bergerak dengan tenaga sihir. Karena kekuatan spesial yang dimiliki masing-masing penyihir berbeda.


"Bibi, kami datang membawa pakaian"


Suara manis Eloise memecah kesibukan para bibi pekerja di penatu. Salah seorang dari mereka pun mendatangi mereka.


"Ayo, kemari!"


Bibi tersebut berjalan ke meja dan mereka mengikutinya. Di sana bibi tersebut menanyakan nama mereka masing-masing dan menuliskannya di kertas post it berwana kuning.


"Berikan keranjang kalian"


Aldrich dan Eloise meletakkan keranjang mereka di atas meja. Bibi tersebut menempelkan kertas post it tadi di keranjang sesuai dengan nama pemilik.


"Baik, kalian boleh pergi"


"Terimakasih bibi" Eloise yang selalu bersikap manis, berterimakasih dengan senyum cerianya.


Bibi tersebut membalas senyumnya.


Melihat Aldrich yang sudah lebih dulu pergi, cepat-cepat dia mengejar.