
Annette merasakan dirinya merinding mendengar kalimat itu meluncur begitu natural nya dari mulut Egbert. Namun seketika ia tersentak, melihat Aldrich di depannya yang sudah memasang wajah murung dan suram. Annette menggigit bibir bawahnya merasa agak tertekan, 'Ah, aku belum memberitahu Aldrich kebenaran nya'
"Maa, kau bodoh!"
Deg!
Annette mengedipkan matanya, bingung dan tak percaya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan pendengaran nya? Kenapa tiba-tiba putranya mengatai dirinya bodoh?
"Bisa-bisanya kau menikahi pria sial*n seperti dia!" Aldrich melemparkan tatapan tajamnya kearah Egbert. Gigi geraham nya saling menggigit, seakan ingin menelan pria yang sedang memangku ibunya itu bulat-bulat ke dalam perutnya.
Annette menghela nafas pelan dan sekilas menoleh ke belakang, melihat pada wajah Egbert yang hanya memasang senyum tak berdosa nya seperti biasa, "Apa menurut mu mama cukup berkenan menikah dengan pria kejam seperti dia?" Annette mengatakan itu sambil menatap jauh ke dasar mata Egbert.
"Jika bukan karena pria ini yang memaksa mama sampai mat—" Annette gagal menyelesaikan kalimatnya. Ketika Egbert begitu cepat melayangkan sebuah kecupan di bibirnya.
Membuat bola mata hitam Annette membesar dengan otot wajahnya yang mengeras. Setelah bibir dingin itu menjauh dari bibirnya, Annette segera menyuarakan keberatannya, "Kenapa kau tidak tau malu sekali? Aldrich sedang melihat kita" Ucapnya dengan suara rendah.
Egbert menekuk kan bibirnya dengan sebuah senyuman yang penuh skema. Tangannya terulur ke depan, membelai lembut wajah Annette hingga jari-jemarinya menyentuh daun telinga wanita itu, menekan titik sensitif nya.
Annette refleks memiringkan kepalanya, menjauh dari sentuhan itu. Mengepalkan tangannya, ia menggeram dengan suara rendah, "Sebenarnya apa yang coba kau lakukan?"
Annette mengangkat tangannya dan menjauhkan jari-jari Egbert dari bermain di sekitar telinganya.
Egbert membungkuk ke depan, mulutnya jatuh tepat di ambang telinga Annette, berbisik "Mainkan peran suami-istri yang penuh kasih"
Nafas hangat Egbert yang membelai daun telinganya, sedikit membuat darah dalam tubuhnya berdesir panas,"Kenapa aku harus melakukannya?"
Aldrich yang seperti orang ketiga di tempat itu, matanya masih tak lepas dari memandangi interaksi intim antara dua orang dewasa di depannya. Merasa di abaikan, ia mengerucut kan bibirnya tak suka. Jika dua orang itu terus bersama seperti ini, bukan tak mungkin di masa depan perhatian ibunya akan terbagi dan yang terburuk—ibunya akan terlupa dan mengabaikan keberadaannya.
Aldrich langsung merasa tak aman dengan kemungkinan terburuk itu.
'Tidak!'
'Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi'
Aldrich memutar keras otaknya untuk merebut perhatian ibunya kembali.
"Mama.."
Panggilan dari putranya itu, langsung membuat Annette menoleh dan melihat raut wajah mungil itu merengek, "Aku haus"
"Kamu haus? Baik kalau begitu mama akan memberikan mu minum" Annette pun bangun dari duduknya. Tapi Egbert lagi-lagi menahan pinggang kecilnya.
"Egbert, lepaskan!"
Egbert menggelengkan kepalanya, menolak. Ia pun turut mengencangkan lilitan tangannya di perut Annette.
"Aku akan memanggil pelayan untuk membawakannya darah kelinci"
Annette berusaha meleraikan tangan pria itu yang melilit perutnya, "Tapi Aldrich terbiasa minum darahku"
"Mulai sekarang ia harus belajar menghilangkan kebiasaan itu" Ucap Egbert, matanya sekilas melirik kearah Aldrich. Ia merasa cukup terhibur melihat reaksi bocah satu itu yang seakan siap meledak ketika mendengar ucapannya tadi.
"Iya sayang, sebentar ya" Annette memasang senyum tertekan.
Kemudian ia kembali melonggar kan lilitan tangan Egbert dari perutnya. Tapi sekuat apapun ia mengerahkan tenaganya, tetap saja ia gagal. Annette berjuang lagi dan gagal lagi. Pria itu benar-benar membuat Annette bernafas lelah karena ketidakberdayaannya.
'Tidak ada cara lain!'
'Sepertinya aku harus membujuk Egbert bagaimanapun caranya'
Annette menolehkan kepalanya ke samping, tepat ke telinga kanan Egbert, kemudian berbisik, "Egbert, katakan apa yang kau inginkan agar kau mau melepaskan ku?"
Annette Sungguh merasa kasihan dengan putra kecilnya. Karena pria vampir satu ini, ia jadi tidak begitu leluasa mengurus kebutuhan putranya.
"Aku.." Tatapan mata Egbert menurun ke bawah, tertuju tepat ke bibir kecil Annette yang merah gelap seperti ceri matang.
"Ingin memakan bibir mu malam ini"
"Egbert, serius lah sedikit!" Annette benar-benar akan menjadi gila menghadapi pria vampir yang kerap dijuluki 'sial*n' oleh putranya.
"Aku serius" Mata Egbert tidak terlihat bercanda sama sekali, "Aku sungguh ingin mengenyam bibir kecil mu"
Blush!
Wajah Annette seketika memerah padam. Tidak tau apa karena marah pada kegilaan Egbert yang selalu suka semaunya atau barangkali malu menghadapi sikap deduktif nya.
"Mamaaa" Kali ini Aldrich merengek sedikit lebih panjang.
Annette sadar kalau Aldrich sudah sangat tidak sabar. Mendapati Egbert yang sepertinya benar-benar tidak akan melepaskannya, ia pun tidak memiliki ospi lain— selain dengan berat hati menuruti permintaan pria itu.
"Baik, aku setuju" Angguk Annette, dengan tidak berdayanya. Ia sungguh tak dapat membayangkan bagaimana nasib bibir kecilnya malam ini.
"Baik, aku akan menantinya" Egbert tersenyum puas dan melepaskan lilitannya dari perut Annette.
Saat itu Mary datang membawa dokter Robbin ke taman. Melihat Annette yang baru saja bangun dari pangkuan Egbert, itu membuat Mary berpikir, 'Sepertinya sudah ada sedikit kemajuan dalam hubungan pasangan itu'
"Tuan" Sapa Mary sopan, "Ada sesuatu yang ingin dibicarakan dokter Robbin dengan anda"
"Yang mulia" Robbin membungkuk sopan menyapa Egbert.
Egbert mengangguk menerima sapaan itu, kemudian berucap, "Mari kita berbicara di ruang kerja ku"
"Baik yang mulia"
Setelah semua orang pergi dari taman. Annette mendengar putranya mengatakan, "Maa.."
"Ya?"
"Ayo kita kabur dari sini"
......................