Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|40|. Tidak Seratus Persen Manusia



Setelah mengatakan itu, Parker bergegas keluar dari kamar agar Annette dapat leluasa menyusui bayinya. Annette naik ke atas ranjang dan berbaring tepat di samping bayinya yang terus saja menangis tak henti-henti. Ia mulai melepaskan kancing bajunya dan kemudian menyusui bayinya dengan masih sedikit canggung.


Tapi reaksi bayinya tetap sama. Itu persis sama seperti di rumah sakit. Penolakan. Dalam kebingungan harus berbuat apa, mendadak Annette menyadari sesuatu.


"Apa jangan-jangan..." Annette menatap lamat-lamat pada wajah bayinya yang putih pucat. Ketika ia mengelus pipinya, rasanya dingin seperti tanpa darah. Itu mengingatkannya pada tekstur kulit Egbert yang khas.


"Ah, yang benar saja? Masa dia harus ku beri darah.." Annette mengetap kan bibirnya frustasi. Tapi mengingat itu adalah darah dagingnya, di samping benih yang berasal dari seorang vampir. Bagaimanapun sebagai ibu, ia harus tetap mengupayakan apapun demi bayinya.


Annette pun turun dari ranjang dan bergegas keluar menemui Parker.


"Kau sudah selesai menyusui bayi mu?" Tanya Parker yang sedang berselonjor di sofa panjang dengan ponsel di tangan. Melihat kedatangan Annette, fokusnya terus beralih pada gadis itu.


"Belum"


"Lalu kenapa kau keluar? Apa ada masalah?" Parker langsung meluruskan punggungnya ke kepala sofa, berhenti berselonjor.


Annette menggeleng.


"Apa kakak ada pisau?" Tanyanya kemudian.


"Pisau?" Parker menautkan sepasang alisnya heran, "Buat apa? Kau ingin memasak sekarang? Tapi belum ada bahan apapun di dapur"


"Ah, bukan" Annette langsung menggelengkan kepalanya.


"Lalu buat apa?"


"Itu.." Annette menggigit bibir bawahnya dalam kebingungan apakah harus mengatakannya pada Parker atau menyembunyikannya saja. Tapi mengingat beberapa hari kedelapan ia akan tinggal di kediaman pria itu, rasanya tak mungkin ia menutupinya.


"Bisa kakak pinjamkan saja dulu? Nanti akan ku beritahu alasannya" Tutur Annette.


Meskipun masih diliputi keheranan, Parker hanya mengangguk mengiyakan. Ia pun pergi ke dapur dan mengambil sebuah pisau yang ia bawa dari rumah. Kemudian ia menyerahkannya pada Annette.


"Ini"


Annette mengambil pisau tersebut.


"Sebenarnya apa yang akan kau buat dengan benda tajam itu?" Parker tak dapat menahan diri untuk tidak penasaran.


Annette mengajak Parker untuk ikut bersamanya ke kamar. Di sana ia langsung di kaget kan dengan reaksi Parker yang terus berlari mendekati ranjang, "Kenapa kau meninggalkannya begitu saja? Bagaimana jika bayi mu berguling dan jatuh ke bawah?" Ucapnya. Suaranya sedikit meninggi, terdengar seperti seorang dokter yang menegur pasiennya yang menunda-nunda berobat.


"Ah, aku tak tau" Sesaat Annette merasa bersalah. Ia sadar betapa cerobohnya ia.


"Annette, aku mengerti ini adalah pengalaman pertamamu mengurus bayi. Aku pun mengerti kau tidak siap dengan perubahan peran ini, tapi cobalah untuk belajar, hum?" Tukas Parker, kali ini suaranya terdengar jauh lebih lembut. Ia juga sedikit menyesal karena tadi kesannya sudah seperti menggertak Annette.


"Eum" Angguk Annette.


"Lalu, buat apa pisau itu?" Tanya Parker.


Annette tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia menggores telapak tangannya dan darah segar pun merembes keluar.


"Apa yang kau lakukan?" Terang saja Parker yang melihat itu membelalak kan matanya terkejut.


Annette masih tidak berkata apa-apa. Ia pergi mendatangi bayinya yang masih menangis dan meneteskan darah segar yang mengucur dari telapak tangannya itu ke mulut mungil bayinya yang terbuka.


"Kau—" Parker beberapa saat ternganga melihat panorama itu.


"Lihatlah.." Annette menyungging kan senyum di bibir ketika melihat bayinya yang mulai berhenti menangis.


"Dia tidak lagi menangis" Annette mendekat kan telapak tangannya ke mulut mungil itu dan membiarkan bayinya menghisap darahnya lebih puas.


Parker kian ter-pelongo, "Tidak, k-kenapa bayi mu mengkonsumsi darah?" Ucapnya yang masih sama sekali tidak mengerti dengan situasi yang terjadi tepat di depannya itu.


"Aku tidak pernah menemukan fenomena ini selama aku bergelut di dunia medis. Aku bahkan tidak pernah mempelajari kelainan yang seperti ini, sebenarnya..."


"Bisakah kakak menyimpan ini sebagai rahasia di antara kita berdua saja?" Potong Annette. Ia tentu maklum dengan reaksi Parker. Karena manusia normal mana yang tidak terkejut melihat apa yang dilakukannya tadi.


"..."


"Aku akan mengatakan semua alasan di balik aku melakukan ini selama kakak mau menyimpannya sebagai rahasia di antara kita berdua saja" Ucap Annette lagi.


"Baiklah" Angguk Parker setuju.


"Sebenarnya, bayiku ini tidak seratus persen manusia" Ucap Annete, sekilas ia melirik pada bayinya yang masih menghisap telapak tangannya persis seperti seorang bayi yang sedang menyusui asi ibunya.


"Tidak seratus persen manusia?" Tampak kening Parker berkerut dalam.


Annette mengangguk. Ia tidak tau berapa persen gen manusianya menurun pada bayinya itu. Karena satu-satunya yang mirip antara ia dengan bayinya hanyalah mata hitamnya yang bulat besar persis seperti miliknya.


Sedangkan kulit putih pucatnya yang dingin seperti tanpa darah, juga rambut kuning jagung nya yang bertolak belakang dengan warna rambutnya yang coklat keemasan. Di tambah penolakannya meminum asi miliknya. Sekilas dari itu saja, ia dapat tau kalau bayinya itu lebih di dominasi oleh gen vampir, yaitu dari Egbert.


Tapi yang membuatnya terheran-heran, rambut kuning jagung itu sangat bertolak belakang dengan rambut Egbert yang hitam pekat seperti miliknya.


"Jika tidak seratus persen manusia, memangnya masih ada apa lagi?" Tanya Parker, melihatnya yang terdiam begitu lama ia pun tak sabar bertanya lebih lanjut.


"Vampir"


"Apaa?"


......................


Egbert pergi bersama Sean ke sebuah pelosok desa. Di mana di desa tersebut ada sebuah hutan yang merupakan tempat di mana gerbang penghubung antara dunia manusia dan vampir berada.


Hanya tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengaksesnya karena wujud gerbang tersebut transparan. Itu hanya akan muncul jika di aktifkan oleh bangsa mereka yang dapat mengaksesnya. Untuk dapat melewati gerbang tersebut, para vampir harus memiliki kartu pass.


Kartu tersebut di rancang khusus oleh para vampir yang terlahir dengan energi supernatural. Tak lain itu adalah bakat bawaan lahir yang terbilang sangat langka. Populasi mereka hanya hitungan jari dan mereka harus mengabdikan diri pada kekaisaran dengan bersumpah kematian. Yang mana sumpah yang jika mereka melanggarnya, mereka akan mati.


"Aku akan turun di sini" Ucap Egbert. Karena tidak memungkinkan jika mobil tetap terus memasuki hutan yang di padati pepohonan besar dan tinggi.


Sean menghentikan mobilnya dan Egbert langsung melepas sabuk pengamannya. Kemudian Egbert keluar dari mobil dan di ikuti oleh Sean.


"Ingat untuk mencari gadis manusia itu!" Titah Egbert pada Sean sebelum pergi ke dalam hutan.


"Eum" Angguk Sean yang tak berdaya menolak.


Setelah mengatakan itu, Egbert berlari ke dalam hutan dengan kecepatan larinya yang mengalahkan seekor cheetah. Sesampai tepat di titik gerbang penghubung.


Egbert mengeluarkan kartu aksesnya dan menempelkannya ke udara kosong tepat di titik gerbang penghubung berada. Tidak butuh waktu lama hingga sebuah gerbang muncul.


Egbert mendorong pintu gerbang tersebut dan ia pun lenyap dari dunia manusia. Tepat setelah kepergiannya, gerbang yang ada di hutan manusia tadi, kembali memudar dan lenyap.