Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|102|. Wanita Itu Adalah Istriku



"Tapi Sus, saya benar-benar butuh seorang dokter untuk ikut dengan saya sekarang"


"Maaf, tapi di rumah sakit kami tidak menyediakan layanan tersebut. Jika anda memiliki pasien yang sedang sakit, anda dapat membawanya langsung kemari"


"Tapi sus, ini benar-benar darurat. Tidak bisakah saya mengundang satu orang dokter saja untuk pergi?"


"Saya mengerti, tapi hal tersebut tidak ada dalam layanan kami. Jika anda tetap memaksa, anda dapat pergi ke rumah sakit lain yang menyediakan layanan tersebut"


"Tapi sus—"


"Ada apa ini?"


Begitulah awal mula Parker bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang terus memohon membutuhkan seorang dokter untuk pergi dengannya.


"Begini dok, wanita ini terus mendesak saya untuk menyediakan seorang dokter ikut dengannya. Hanya saya tidak bisa melakukannya, hal tersebut tidak ada dalam layanan rumah sakit kita"


"Kalau begitu biarkan aku ikut dengannya"


"Tapi dok—"


"Tolong minta dokter Andrew untuk menggantikan tempat ku.."


"Tapi dok ini—"


"Saya pergi!"


Kebaikan Parker sudah tidak diragukan lagi. Dia bahkan dijuluki dokter berhati emas. Itu tak lain karena ia selalu berbesar hati untuk membantu pasien nya. Pernah suatu ketika seorang pasien dari keluarga yang kurang mampu, tidak memiliki kecukupan biaya. Ia dengan murah hati melunasi biayanya. Hanya sayangnya, dokter tampan nan murah hati itu masih lajang.


Parker tidak akan pernah menduga, setelah sekian lama. Akhirnya ia kembali dipertemukan dengan gadis itu lagi. Seorang ibu muda yang hampir bunuh diri dan diselamatkan olehnya.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Parker menurunkan stetoskop nya dari telinga ke leher. Tepat ketika ia berdiri tegak untuk menyampaikan hasil pemeriksaannya, retinanya tanpa sengaja menangkap dua titik hitam yang begitu mencolok di leher Annette.


Mengulurkan tangannya, ia mencoba menyentuhnya. Ia ingin memastikan bekas luka apa itu. Hanya aksinya langsung di gagalkan oleh seseorang.


"Jangan menyentuhnya" Suara dingin itu terdengar penuh sarat akan posesivitas.


Tangan Parker tertahan di udara dan menoleh pada si pemilik suara, "Maaf, jika saya tidak boleh menyentuhnya, lalu bagaimana saya bisa memeriksanya?"


Egbert memperhatikan tata letak stetoskop yang bergantung di leher Parker itu tidak lagi terhubung di kedua telinganya, berucap, "Bukannya anda sudah melakukannya"


"..."


"Jika pun harus menyentuhnya, cukup sentuh di pergelangan tangannya saja untuk memeriksa denyut nadinya, dan selebihnya..kau bisa menggunakan benda yang bergantung di leher mu itu" Egbert mengangkat kepalanya kearah stetoskop Parker.


"Di sini yang dokter saya atau anda?"


"..." Egbert membekukan tatapannya yang sedingin es.


"Anda tidak perlu memberitahu saya bagaimana cara harus memeriksa. Saya dokter disini dan saya tau apa yang harus saya lakukan. Saya juga memiliki kode etik, jadi anda tidak perlu khawatir saya akan melakukan hal-hal yang tidak pantas pada wanita ini" Parker tersenyum sekenanya pada Egbert dan menoleh sekilas pada Annette yang masih berbaring dengan mata terpejam.


Mengerutkan keningnya dalam, Egbert tidak tau kenapa ia bisa merasa ada sesuatu yang tidak mengenakkan nya terhadap dokter manusia didepannya itu.


"Wanita itu adalah istri ku. Sebagai suaminya, aku memiliki pola pikir yang konservatif. Itu kenapa aku tidak menoleransi sentuhan apapun. Tidak peduli kau memiliki kode etik atau apa lah itu, bagiku— istri ku hanya aku seorang yang dapat menyentuhnya"


Tidak pernah ia duga, di abab modern ini masih ada suami yang memiliki pola pikir selayaknya di era kekaisaran dulu. Yang mengharuskan seorang tabib memeriksa seorang wanita tanpa boleh menyentuhnya. Sehingga hanya dapat menggunakan lapis kain di atas pergelangan tangan untuk merasakan denyut nadinya.


"Jika seperti itu, kedepannya anda tidak perlu memanggil dokter. Anda dapat memanggil tabib kekaisaran terdahulu yang dapat mengikuti ketentuan anda itu"


Meskipun Parker mengatakannya dengan sangat lugas dan serius, tapi Egbert dapat menangkap jejak cemoohan dari ucapan dokter muda tersebut. Bibirnya hanya bertekuk keatas dalam senyuman dingin, enggan mengucapkan sepatah katapun.


Mary yang sedari tadi menyimak percakapan antara tuannya dan dokter muda itu, terus memijit pelipisnya pusing. Ia sungguh tidak habis pikir dengan tuannya. Bagaimana bisa tuannya mengatakan sesuatu yang konyol seperti itu pada seorang dokter yang jelas-jelas sudah melakukan sumpah pada pekerjaan nya sebagai tenaga medis profesional.


Mary hanya dapat mengelus dada dan menghela nafas panjang untuk tuannya.


"Maaf dok, kalau boleh saya tau, bagaimana keadaan nyonya kami?" Mary memutuskan untuk bertanya, menggantikan tuannya yang sepertinya dalam mood buruk.


Parker langsung mengalihkan pandangannya pada wanita empat puluhan itu dan berucap dengan senyum formal dibibir, "Pasien mengalami anemia, itu kenapa ia jatuh kehilangan kesadaran. Hanya saya melihat, pasien sepertinya tidak memiliki riwayat anemia sebelumnya" Mengatakan itu, tatapan Parker melirik kepada Egbert.


Ia tentu saja ingat dengan rahasia besar Annette yang pernah diungkapkan lima tahun lalu padanya. Hal besar yang sangat tidak masuk akal, tapi ia melihat kenyataan nya sendiri melalui bayi yang dilahirkan nya.


Jika begitu...


Apa didepan ku ini adalah vampir?


"Pasti ada penyebab khusus sehingga membuat pasien tiba-tiba mengalami hal tersebut"


Barangkali...


Itu karena vampir didepannya itu baru saja habis-habisan menghisap darahnya.


Parker masih mengingat dua titik hitam yang mencolok di leher mulus Annette, yang dicurigainya sebagai bekas gigitan taring.


"Untuk saat ini, biarkan saja pasien beristirahat" Parker memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sneli nya, "Nanti awal pukul delapan pagi, saya akan kembali untuk membawa obat dan memeriksa nya kembali"


"Baik dokter, saya mengerti" Angguk Mary, "Sebelumnya saya berterimakasih banyak karena anda sudah mau repot-repot untuk ikut dengan saya kemari"


Parker mengangguk dan menyunggingkan senyum tulusnya di bibir.


"Kalau begitu, mari saya antar anda kembali ke rumah sakit. Bagaimanapun ini masih pukul setengah dua pagi, tidak ada taxi sama sekali yang beroperasi"


"Kalau begitu, maaf merepotkan anda"


"Tidak sama sekali dok.."


Setelah mengantarkan dokter manusia itu pergi, Egbert yang sedari tadi diam di sudut, langsung bergegas mendatangi Annette dan duduk di sampingnya berbaring.


Memegang tangan wanita itu lembut, ia masih merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mengingat dokter muda tadi. Insting nya begitu saja membuatnya berpikiran. Kalau dokter itu..


"Kenapa aku merasa.."


"Dokter manusia itu seperti mengenal identitas asliku?"


......................