
Brakk!
Pintu kamar di dorong terbuka, menyentak Annette dari tidurnya. Mengucek matanya, Annette terkejut mendapati putranya tak lagi ada di dekapan. Ia langsung bangun dari baringan dan menoleh kearah pintu. Di sana ia melihat Egbert berdiri sambil membopong tubuh kecil Aldrich yang tak sadarkan diri.
Menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya, seketika Annette bangkit berdiri.
"Siapa kau sebenarnya?" Aura dingin menyelimuti sekujur tubuh Egbert yang berdiri di hadapan pintu, memblokir cahaya lampu ruang tamu dari sepenuhnya masuk kedalam kamar.
Detak jantung Annette memburu drastis. Ia kehilangan kendali akan tubuhnya, merasakan kaki dan tangannya bergetar seiring keringat dingin yang mulai mengucur, "Kembali kan putraku" Dalam ketakutan yang membumbung tinggi itu, Annette masih berani mengulurkan tangannya ke depan, hendak meraih bayi kecilnya yang sudah ia besarkan dengan penuh cinta dan kasih.
"Putramu?" Bibir Egbert berkedut, membentuk senyum dingin yan membunuh, "Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?" Itu terdengar penuh tekanan dan ancaman.
Seakan jika Annette tidak menjawab pertanyaan yang kedua kalinya keluar dari bibir se-kaku es itu, maka detik itu pula tubuhnya akan hancur dalam hunusan matanya yang membara api dan darah.
Merasakan itu, kini tak hanya tangan dan kakinya saja yang bergetar, tapi sekujur tubuhnya telah berada di titik kekacauan yang sangat tak terkendali, "A-aku—"
Sepasang mata Egbert menyipit tajam, mendapati seuntai rambut tersisip keluar dari potongan rambut hitam pendek gadis itu. Menajamkan tatapannya, ia dapat melihat sejumput rambut coklat keemasan yang begitu familiar, jatuh menjuntai melewati pundak gadis tersebut.
Mengeraskan rahang nya, Egbert berkata dengan penuh kecaman, "Jadi, itu kau!" Sepintas mata hitamnya menyala merah...
Membuat Annette tercekat di tempatnya berdiri.
"Gadis manusia yang telah begitu lancang membawa kabur benih ku" Katanya lagi. Suaranya terdengar penuh dengan gelora amarah yang tertahan.
Sepasang mata Annette berkibar tak karuan, kepalanya menggeleng-geleng penuh penentangan, "A-aku tidak mengerti maksud mu"
Egbert mendengus dengan penafian tersebut. Matanya yang menggelap, itu terlapisi kabut hitam, seakan siap menyulut Annette dalam pusaran nya, "Sudahi sandiwara mu—" Ucapnya, sepercik es keluar dari matanya yang sedikitpun tidak berpaling dari objek didepannya, "Annette!" Sejurus nama itu keluar dari mulutnya, Egbert berlari secepat bayangan ke belakang tubuh Annette dan menarik rambut palsu yang membingkai wajahnya.
"A-ahh.." Refleks Annette menjerit, ketika rambut palsunya di tarik dan rambut aslinya yang coklat keemasan langsung menjuntai indah ke punggung.
"Ini apa?" Egbert mengangkat wig hitam pendek itu kearah wajah Annette, "Huh, aku sungguh bodoh karena tidak menyadari keberadaan mu sejak awal"
Tubuh Annette seketika limbung, kehilangan keseimbangan dan nyaris saja terjatuh. Tapi kedua lututnya bersikukuh untuk bertahan, "T-tidak.." Bibir Annette bergetar tidak percaya, "B-bagaimana bisa kau mengetahuinya?"
Bukankah sejauh ini aku sudah sangat hati-hati?
Tapi bagaimana bisa dia..?
"Karena kau sudah melahirkan dan membesarkannya dengan sehat..."Mengatakan itu, mata Egbert melirik sekilas pada bocah kecil yang digendongnya ke pundak, "Alih-alih menghukum mu atas pelanggaran perjanjian, sebagai gantinya aku tidak akan memperhitungkannya dengan mu" Ujar Egbert, "Anggaplah itu kompensasi dariku karena kau sudah merawat dan menjaganya dengan baik"
"Dan sekarang, aku akan mengambil anak ini pergi bersamaku"
"Tidak bisaa.." Gentar suara Annette memekik menentang, "Atas dasar apa kau mengambilnya dari ku?" Sekalipun suara nya gemetaran karena takut, tapi ada rasa marah yang membuncah di dalamnya.
"Atas dasar apa katamu?" Sepasang alis Egbert menjepit tajam, "Dia adalah benih yang ku tanam dalam dirimu. Yang kemudian kau bawa lari dan kau sembunyikan bertahun-tahun dariku. Sekarang aku hanya ingin mengambil apa yang adalah milik ku, sudah sejelas itu, tapi kau masih bertanya atas dasar apa?"
"Em" Angguk Annette. Kini ketakutan dan keberanian telah bercampur aduk menguasai dirinya, "Aku bertanya, atas dasar apa kau membawa pergi putra ku?"
"Putramu?" Egbert mengembangkan senyum mencemooh di bibir.
"Ya" Lantang Annette menjawab, "Tidak hanya benih mu, tapi dia juga adalah darah daging ku. Dalam tubuhnya tidak hanya seratus persen gen vampir milik mu, tapi juga ada milik ku. Dan yang terpenting, dia adalah bayi yang sudah susah payah ku lahir kan, yang sejauh ini sudah ku rawat dengan penuh kasih dan cinta, jadi.." Mengatakan itu, tampak dada Annette naik turun, memburu dengan amarah dan kesedihan.
"Kau tidak berhak mengambilnya dari ku"
"Tidak peduli aku berhak atau tidak, selama anak ini adalah bayi vampir dari benih yang ku tanam dalam dirimu" Mata Egbert menyipit dengan senyum dingin, "Aku lah yang paling berkuasa atasnya— atas putra ku sendiri" Ucap Egbert penuh penekanan dan final yang sudah di putuskan.
Annette menggelengkan kepalanya menolak. Panik dan cemas ia mengulurkan tangannya siap merebut putranya kembali dari tangan pria itu. Tapi Egbert sudah lebih dulu berlari cepat dari jangkauan nya. Hingga sepintas bayangan cepat melaju pergi meninggalkan kamarnya.
Meninggalkan kekosongan...
Kesunyian...
kehampaan...
Dan kesendirian.
"Tidaakk" Jerit Annette seiring langkah kakinya yang berlari dan mengejar hingga keluar dari pintu rumahnya.
"Kembalikan putraku.."
"Kembalikaaann.." Lolong nya yang sudah tersungkur jatuh di teras rumah, menatap malam hening yang hanya di lewati tiup riuh hembusan angin dan goyangan pepohonan yang mendayu-dayu.
"Kembalikan putraku..."
"Ku mohon kembalikan dia padaku.."
"KEMBALIKAN DIA PADAKUUU"